span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Joey Alexander: Masa Depan Jazz Indonesia
Oleh : Nanda Aulia Rachman
05 Mei 2018

Highlight

Dia (Hancock) berkata bahwa ia mempercayai saya saat itu dan pada saat itu juga saya bertekad untuk mendedikasikan diri saya sepenuhnya kepada jazz.

Joey
Josiah Alexander Sila, pianis jazz muda asal Indonesia yang sempat menjadi salah satu nominasi pada ajang Grammy Awards.
Sumber : mondaviarts.org

Musik jazz bukanlah sebuah musik yang baru bagi pendengar musik Indonesia. Dari sekian banyak musisi jazz tanah air yang berprestasi, Kinibisa akan menyorot satu tokoh yang berhasil menorehkan satu prestasi luar biasa di kancah dunia dalam usianya yang terbilang sangat muda. Ia adalah Joey Alexander, Joey yang sudah mencuri perhatian dunia sebagai prodigi jazz masa depan.



"Aku sangat terkejut dan bahagia soal ini (nominasi Grammy), aku masih tidak percaya dengan dua nominasi itu."

Josiah Alexander Sila atau yang kita kenal dengan Joey Alexander, adalah seorang pianis jazz muda berbakat kelahiran Denpasar, 25 Juni 2003. Ia merupakan musisi Indonesia pertama yang berhasil menembus jajaran chart musik dunia, Billboard 200. Album My Favorite Things milik Joey berhasil menempati peringkat 174 pada tahun 2015.

Terobosan Joey
 

Anak dari pasangan Denny Sila dan Farah Leonora Urbach ini mulai dikenalkan oleh jazz sejak ia masih berada dalam kandungan. “Kata mereka (orang tua Joey) aku sudah didengari berbagai musik jazz sejak aku masih di kandungan,” ujar Joey dikutip dari Time (06/10/2016).

Kecintaan ayahnya terhadap musik klasik dan jazz, serta darah musisi dari ibunya saudara perempuan Nafa Urbach, penyanyi asal Indonesia mungkin menjadi salah satu alasan dibalik bakat pemuda yang hobi berenang ini. Joey kecil mulai mendengarkan lagu-lagu Thelonious Monk dan Louis Armstrong sejak ia berumur tiga tahun. Tiga tahun kemudian, ia mulai mempelajari piano dan keyboard dengan arahan ayahnya.

bersama orang tua
Joey Alexander (kanan) bersama kedua orang tuanya Denny Sila dan Farah Leonora Urbach.
Sumber: pinimg.com

Setelah mempelajari dasarnya, Joey mulai fokus mempelajari jazz dengan otodidak. Ia melakukan jam session bersama musisi lainnya. Selain itu ia kerap mendengarkan dan berlatih lewat berbagai rekaman Jazz milik ayahnya. Tak beberapa lama, untuk mengembangkan karir jazznya, Joey dan keluarga pindah ke Jakarta untuk bermain dengan musisi jazz kenamaan Indonesia.

Pada tahun 2011 ia mendapatkan kesempatan untuk bermain di depan salah satu musisi favoritnya, Herbie Hancock. UNESCO mengundang Joey untuk bermain solo piano kepada pianis dunia itu saat kunjungannya ke Indonesia. Menurut Joey, ini merupakan salah satu momen krusial dalam karirnya. “Dia (Hancock) berkata bahwa ia mempercayai saya saat itu dan pada saat itu juga saya bertekad untuk mendedikasikan diri saya sepenuhnya kepada jazz,” ujar Joey di laman pribadinya.

Joey juga berhasil memenangkan Master-Jam Fest pertama di Ukraina di usianya yang ke sembilan tahun. Kompetisi semua umur itu diikuti oleh 200 orang peserta dari 17 negara. Sekembalinya dari Ukraina, ia mulai sering diundang untuk bermain di banyak festival jazz di Jakarta dan juga kopenhagen, Denmark.

Overnight Sensation
 

penampilan joey di grammy awards 2016
Penampilan Joey di Grammy Awards 2016.
Sumber: indowarta.com

Satu hari, Wynton Marsalis, seorang musisi dan direktur artistik jazz di Lincoln Center, New York mengundang Joey untuk bermain di New York setelah dirinya takjub melihat permainan Joey di Youtube. Produser Joey sekaligus produser pemenang Grammy, Jason Olaine mencoba menggambarkan permainan Joey di Lincoln Center saat itu.

“Semua orang ternganga melihatnya (penampilan Joey). Kami saling menoleh dan melihat satu sama lain….. dan kami tertawa,” ujarnya yang berada disana sebagai direktur programming Lincoln Center waktu itu. Olaine merasa heran dan takjub di waktu yang sama.

”Saya sempat bertanya-tanya apakah pendengaran saya benar karena setengah tidak percaya akan kebolehan Joey. Dia lalu bermain aransemen lainnya, dan sangat menakjubkan, nadanya berbeda dan unik dari yang sebelumnya. Aku tidak pernah melihat hal ini (penampilan Joey) sebelumnya,” ujar Olaine dikutip dari NBC News (07/02/2017).

baca juga: belajar bermain piano

Penampilan Joey di Lincoln Center, diliput dan banyak dikutip oleh media Amerika sebagai overnight sensation. Pada tahun yang sama, Joey pindah bersama keluarganya ke Amerika Serikat untuk lebih mengembangkan sayapnya di dunia Jazz. Selain bermain di banyak festival Jazz, ia juga menghadiri banyak talkshow di media. Bahkan pada tahun 2016, ia mendapatkan kesempatan untuk bermain di depan penguasa negara adidaya itu, Barack Obama, di gedung putih pada International Jazz Day All-Star Global Concert.

Kehebatan Joey sudah diakui oleh dunia, setidaknya itu yang terlihat dari berbagai berita dan siaran pers berbagai situs berita. Joey tercatat sebagai salah sastu musisi jazz termuda yang pernah masuk dalam nominasi pemenang Grammy Award. Bahkan ia sudah dua tahun berturut-turut (2016 dan 2017) menasbihkan namanya sejajar dengan musisi-musisi jazz dunia, seperti Christian McBride dan John Scofield.

Tahun lalu, album perdana pemuda berusia 14 tahun ini berhasil dinominasikan dalam dua kategori, yaitu “Best Jazz Instrumental Album” dan “Best Jazz Improvised Solo”. Walau tak berhasil membawa piala, Joey sudah sangat senang dengan hanya menjadi seorang nominasi. “Aku sangat terkejut dan bahagia soal ini (nominasi Grammy), aku masih tidak percaya dengan dua nominasi itu,” jelas Joey kepada NBC News (07/02/2017)

Di tahun ini, ia mendapatkan nominasi Grammy ketiganya lewat Countdown, sebuah alunan legendaris dari John Coltrane dan juga judul album kedua Joey Alexander. “Joey telah mengalami jatuh bangun sebagai composer, improviser dan bandleader selama setahun terakhir ini. Kamu bisa menemukan permainan yang indah dan menginspirasi, aransemennya sangat mengalir pada seluruh bagian (album),” kata Jason Olaine, produser pemenang Grammy Award yang juga memproduksi kedua album Joey.

Bersama dengan ayahnya, Denny Sila, ia mengerjakan seluruh aransemen di album terbarunya itu. Album ini, menurut Joey, terinspirasi dari berbagai musisi jazz kenamaan, seperti Herbie Hancock. Lagu Hancock, Maiden Voyage, diaransemen ulang oleh Joey dan dimainkan bersama Chris Potter yang memainkan saksofon.

Membagi waktu dengan Jazz
 

belajar rendah hatiJoey Alexander belajar rendah hati dari orang tuanya.
Sumber: wordpress.com

Sebagai seorang anak yang sedang tumbuh, Joey punya triknya sendiri untuk membagi prioritas dan jadwalnya. "Aku selalu mempunyai waktu senggang untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Aku bermain video games, menonton film, berenang dan berlatih tinju bersama ayah,” ujar Joey dikutip dari NBC News (07/02/2017). Ia mengakui berlatih tinju juga dapat meningkatkan kemampuannya dalam jazz karena keduanya memiliki filosofi yang sama yakni menjadi kuat dan tahan banting.

baca juga: kisah inspiratif Iwan Fals

Bagi Joey Alexander, pengalaman yang paling berharga baginya adalah dapat bermain music bersama temannya. “Aku suka banget bermain untuk orang lain. Aku berharap mereka bisa senang mendengarkan permainanku. Semoga bisa menyentuh hati mereka,” ujar Joey. “Aku selalu berharap orang akan bahagia dan selalu berharap ketika mendengarkan karyaku,” kata Joey kepada NBC News (07/02/2017)

Di balik segala ketenarannya yang diperolehnya selama tiga tahun terakhir, ia tetap menjaga jati dirinya sebagai anak-anak. Ia tetap membumi dengan segala berkah yang ia peroleh. "Keluarga saya mengajarkan saya untuk selalu bersyukur dan menghormati orang lain. Itu membantu saya untuk selalu rendah hati dan selalu berintorspeksi diri,” ujar Joey dikutip dari NBC News (07/02/2017)

Kisah Joey di atas agaknya telah membuktikan bahwa tidak ada kata terlalu awal untuk mulai berjuang meraih mimpi. Di usianya yang baru menginjak belasan tahun, Joey sudah berhasil menjadi nominasi pada penghargaan Grammy Award, suatu prestasi terdengar sulit untuk dicapai. Siapkah kamu untuk mulai berjuang meraih mimpimu? Simak kisah tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!