span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Juna Rorimpandey: Menjadi Chef Karena "Kecelakaan"
Oleh : Halimah Nusyirwan
17 Juli 2018

Highlight

Saya ini bukti hidup bagi siapapun yang tidak pernah sekolah chef tapi ingin menjadi seorang chef. Semua mungkin terjadi.

Sosok Juna Rorimpandey
Sosok Juna Rorimpandey
Sumber: scdn.net

Chef Juna mulai dikenal sejak kemunculanya sebagai juri Master Chef Indonesia season pertama. Pesona dan pribadinya yang terkesan “galak” sukses menarik perhatian masyarakat Indonesia kala itu. Namun dibalik kesuksesannya tersebut, Juna menyimpan cerita mengenai perjalanan berkariernya di bidang kuliner yang rupanya bukanlah keinginan awalnya saat muda dulu. Seperti apa kisah Chef Juna dalam perjalanannya hingga menjadi seorang celebrity chef saat ini? Simak kisahnya bersama Kinibisa!



"Kitchen is where I belong to."

Kabur dari Indonesia
 

Juna, chef Indonesia yang diakui kehebatannya.
Juna, chef Indonesia yang diakui kehebatannya.
Sumber: cloudfront.net

Juna yang memiliki nama asli Junior Rorimpandey ini adalah seorang celebrity chef yang lahir di Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 20 Juli 1975. Ia mulai dikenal khayalak ramai sejak kemunculannya di Master Chef season pertama ketika ia menjadi salah satu juri bersama Chef Marinka dan Chef Vindex. Kehadiran Juna di industri kuliner dan entertainment Indonesia sukses membuatnya dikenal masyarakat Indonesia. Bahkan, banyak wanita yang menyukai sosok Juna yang dikenal dengan sikap galaknya saat menjari juri acara masak tersebut.

Berkarier di dunia kuliner bukanlah hal yang pernah terpikirkan oleh Juna sebelumnya. Ia mengaku bahwa dulu ia pernah berkuliah di Indonesia dengan mengambil jurusan perminyakan di Universitas Trisakti. Akan tetapi usahanya tersebut gagal dikarenakan kenakalannya sendiri pada saat itu yang menurut dia sudah melewati batas. Akhirnya untuk keluar dari kehidupan lamanya tersebut, Juna memutuskan untuk pindah ke Amerika, lebih tepatnya ke Houston, Texas, pada tahun 1997 dan melanjutkan Pendidikan di sekolah penerbangan dengan berbekalkan uang dari hasil penjualan motor Harley Davidson kesayangannya.

“Waktu saya kuliah di Jakarta, itu saya super bandel dan parah deh pokoknya udah kriminal. Sampai akhirnya decide untuk get away from that life, saya ke Amerika dengan visa student. Waktu itu saya jual motor saya just to pack my bags dan sekolah pilot di Amerika,” ungkap Juna di video wawancaranya dengan BANANANINA (02/02/2017).

Perjuangan Juna untuk hidup di negeri Paman Sam tersebut rupanya bukanlah usaha yang mudah dan tidak selalu menyenangkan. Ketika ia berhasil mengemban Pendidikan di sekolah pnerbangan disana dan hampir memulai karier sebagai pilot, ia harus merelakan pendidikannya tersebut dikarenakan tidak adanya biaya sekolah. Krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 dulu rupanya berdampak pada kehidupan Juna di Amerika Serikat karena keluarganya yang mengalamai kesusahan ekonomi untuk membiayai sekolah Juna.

“Waktu itu udah dapat private pilot, license, sama instrument reading tapi dana tersendat untuk dapat commercial license,” ungkapnya saat menjadi Bintang tamu di acara Tonight Show (13/04/2015).

Kenyataan pahit tersebut lantas tidak membuat Juna putus asa. Ia kemudian bekerja apapun yang bisa menghasilkan duit untuk bertahan hidup di Amerika. Bahkan ia harus bisa bertahan tinggal di Amerika Serikat sebagai imigran gelap atau ilegal dikarenakan visa pelajarnya yang sudah habis.

“Jadi illegal dulu hampir 6 bulan. Udah gitu selama 6 bulan itu kan scrambling kerjaan yang bisa menghasilkan uang. Akhirnya landing jadi waiter di restoran. Nah 2 minggu kemudian mereka kekurangan orang di kitchen baru mulai training disitu. Jadi awal mula pun masih illegal. Tapi karena mungkin berbakat dan karena rasa takut ya kan susah tadinya itu kerjanya keras semua akhirnya dapat kerjaan yang setidakya dibawah ataplah di restoran gitu. Jadi berusaha sungguh-sungguh. Ternyata membuahkan hasil dan ownernya restorannya sampai sponsor greencard buat permanent residence,” kata Juna di Tonight Show (13/04/2015).

Kerja kerasnya untuk bertahan hidup di sana yang membawa Juna ke dunia kuliner. Ia bahkan mengakui bahwa keterlibatanya di dunia kuliner merupakan hasil dari sebuah “keterpaksaan” demi bisa bertahan hidup di sana.

“Anak bandel mau membenahi hidup pilihannya cuma dua. You join the military or or you work in the kitchen. Is it my passion at first enggak tapi karena saat itu terus doing something, dan saat itu kita didorong oleh rasa takut kan. Takut dalam artian awal-awal saya kan illegal immigrant jadi untuk dapat pekerjaan yang bagus itu udah bersyukur-syukur gitu. Dibanding nyemen, nembok  kan biasanya. Jadi kita dikasih tes sesuatu kita harus langsung bisa.” Kata Juna dikutip dari video wawancara bersama BANANANINA (02/02/2017).

Ketika ia bekerja di dapur restoran Jepang tersebut, ia menunjukkan bakat dan kemauan yang tinggi untuk belajar. Kegigihannya dalam menekuni dunia kuliner rupanya berbuah hasil ketika ia diangkat menjadi kepala chef di retoran jepang tersebut pada tahun 2002 dan ia menjadi executive chef ketika ia bekerja di Uptown Sushi pada tahun 2013.  

Tak hanya mendalami masakan Jepang, Juna juga akhirnya memutuskan untuk bergabung ke restoran Perancis yang terkenal di sana yang bernama The French Laundry pada tahun 2004. Restoran yang dikenal dengan peraturan ketat dan standar masakan yang tinggi tersebut, membuat Juna terbentuk menjadi Chef yang disiplin dan tegas.

“Saya pernah dilatih di restoran terbaik di dunia, sekarang terbaik di Amerika, The French Laundry. Di sana benar-benar sadis. Tidak ada waktu istirahat untuk merokok, makan siang sambil bekerja, mau ke toilet lebih dari dua kali saja sudah dipelototi oleh chef. Potongan 2mmx2mm ya benar-benar harus tepat. Saat saya jadi chef di Jack Rabbit saja memotong bahan masakan pakai penggaris.” Ujarnya dikutip dari Yahoo (05/04/2013).

Semenjak saat itu, Juna menemukan dunianya dan memutuskan untuk focus di dunia masakan. Nama Juna pun semakin dikenal di dunia perkulineran Amerika dan hal tersebut akhirnya sampai di telinga orang-orang Indonesia.

Master Chef Indonesia dan Hell’s Kitchen Indonesia
 

Juna saat di acara Hell's Kitchen Indonesia.
Juna saat di acara Hell's Kitchen Indonesia.
Sumber: tabloidbintang.com

Setelah bertahun-tahun merintis karier sebagai chef di Amerika Serikat hingga mendapatkan pengakuan dari berbagai chef dunia, Juna akhirnya memutuskan untuk kembali ke tanah air dan mengelola restoran di Jakarta dengan temannya. Restoran tersebut bernama Jack Rabbit yang menjadi salah satu restoran yang banyak dikunjungi oleh masyarakat Jakarta. Prestasi serta pengalaman yang ia bawa dari Amerika tentu menjadikannya sasaran para pebisnis kuliner Indonesia, tak terkecuali tim Master Chef Indonesia yang saat itu sedang mencari chef untuk menjadi juri di acara tersebut.

“Penampilan saya yang berbeda dengan chef pada umumnya, membuat mereka tertarik untuk menjadikan saya juri Master Chef. Selain itu, tim saya di Jack Rabbit (restoran yang dikelola Juna waktu itu) terkenal disiplin. Sehingga mereka merasa saya cocok untuk acara tersebut,” ujar Juna dikutip dari BANANANINA (01/02/2017).

Debut televisinya dalam acara tersebut rupanya mengundang perhatian masyarakat Indonesia. Chef yang hobi naik motor Harley Davidson ini bahkan memiliki banyak fans yang suka dengan penampilannya di ajang kompetisi masak yang menjadi hits tersebut. Akan tetapi, sikap dan cara bicaranya yang tajam tersebut juga mengundang haters yang tidak suka dengan gaya Juna tersebut yang terkesan terlalu jahat dan tidak punya hati. Juna sendiri sebenarnya tidak bermaksud menunjukkan imej seperti itu, ia hanya bermaksud untuk mendidik dan mendisiplinkan para kontestan Master Chef Indonesia yang tentunya hal tersebut akan berguna untuk kemajuan para kontestan.

Setelah tampil di musim pertama Master Chef Indonesia, Juna akhirnya kembali menjadi juri untuk musim kedua acara tersebut. Menjadi juri selama 2 musim tentu menjadikannya celebrity chef yang digemari khalayak ramai. Namun, para penonton setianya harus kecewa ketika Juna memutuskan untuk meninggalkan acara yang membesarkan namanya tersebut. Ia keluar dari Master Chef Indonesia dikarenakan ia mendapatkan tawaran untuk bergabung di acara Hell’s Kitchen Indonesia yang saat itu ia akui bahwa ia sudah melewati berbagai tahap audisi untuk bergabung di acara tersebut. Ia pun juga mengakui bahwa ia lebih menyukai Hell’s Kitchen Indonesia dibandingkan Master Chef Indonesia karena ia merasa dirinya bisa menjadi diri sendiri ketika di acara tersebut, seperti yang dilansir BANANANINA (01/02/2017).

“Sebenarnya saya ikut audisi untuk “Hell’s Kitchen” musim kelima. Saya sudah sampai tahap penyaringan ketiga. Saya benar-benar dites di hadapan Gordon. Saat diwawancara, saya ditanya, ‘Apa alasanmu ingin ikut Hell’s Kitchen?’. Saya kemudian jawab, ‘Sama seperti slogan Hell’s Kitchen, saya ingin merasakan panasnya suasana dapur.’ Bukan suhunya, tapi tekanannya. Selama ini saya chef, tapi orang-orang pasti memuji, tidak ada yang berani mengatakan yang sebenarnya. Saya ingin mengetes diri saya di standar yang lebih tinggi. Kalau menang kan dapat Rp2,4 miliar, tapi saya bilang, ‘Simpan saja uang itu kalau saya menang.’” Katanya dikutip dari Yahoo (04/05/2013).

Correlate, by Chef Juna Rorimpandey
 

Juna saat memasak di restoran miliknya.
Juna saat memasak di restoran miliknya.
Sumber: idntimes.com

Kesuksesannya di acara masak pertelevisian Indonesia tentu merupakan suatu pencapaian besar untuk Juna. Chef yang merintis karier belasan tahun di Amerika ini juga tergabung di Indonesian Chef Association (ICA) ini memiliki mimpi terbesar yaitu membangun restoran miliknya sendiri. Sebelum ini, Juna selalu bekerja di restoran milik orang lain sebagai executive chef seperti ketika ia bekerja di Amerika dan Indonesia. Impiannya tersebut akhirnya terealisasikan ketika ia membangun restoran yang bernama Correlate pada tahun 2016 yang berlokasi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Restoran ini menyajikan masakan gabungan Perancis dan Jepang yang merupakan spesialisasi Chef Juna. Ia bahkan mengambil nuansa 2 musim dari 2 negara tersebut. Ia juga menggunakan tema eklektik yang menggambarkan bahwa tidak ada Batasan atau peraturan khusus dalam makanan di restorannya itu.

“Saya ambil tema musim semi dan musim gugur. Di Perancis, musim apa yang paling enak? Jawabannya, ya, musim gugur. Sedangkan di Jepang, terkenal musim yang paling indah adalah musim seminya dimana bunga sakura bermekaran.” Katanya dikutip dari CNN Indonesia (09/06/2017).

Juna pun mendedikasikan focus dan waktunya untuk membangun restorannya tersebut. Ia bahkan sampai tidak mau mengunakan makanan atau barang jadi untuk masakan di restorannya itu dan lebih memilih untuk membuat semua bahannya sendiri.

“Saya paling anti untuk membeli barang jadi. Semua yang disajikan di sini seperti es krim, salad dressing, roti, chocolate pralin, kita benar-benar buat dari nol. Correlate harus menjaga kualitas yang kita berikan dari awal. Malah, harus bisa meningkat lagi,” ujarnya dikutip dari CNN Indonesia (09/06/2017).

baca juga: kisah inspiratif Arnold Poernomo

Sayangnya Juna mengumumkan bahwa restorannya tersebut tutup secara permanen pada bulan November 2017 melalui Instagram restorannya dan fanpage Facebooknya. Juna tidak memberi tahu orang-orang mengenai alasan dibalik tutupnya restoran Correlate namun ia mengatakan bahwa keputusan tersebut sudah dipertimbangkan baik-baik dengan melihat segala perhitungan dan pertimbangan yang ada.

Saat ini Juna disibukkan dengan kegiatan Off Air nya dan berkeliling ke berbagai negara seperti yang terlihat di akun Instagramnya. Ia pun juga masih aktif berkarya di dunia kuliner Indonesia. Chef yang pernah menikah dengan wanita bule pada tahun 2007 tersebut juga sudah pernah tampil sebagai bintang iklan untuk berbagai produk yang berhubungan dengan makanan. Ia bahkan juga pernah memiliki acara memasaknya sendiri yang bernama Arjuna (Ala Resep Juna) yang pernah ditayangkan di Global TV.


Banyak hal yang bisa dipelajari dari perjalanan kisah seorang Juna Rorimpandey. Ketekunan serta kerja kerasnya untuk bertahan hidup akhirnya menyadarkan dirinya akan passion yang terpendam dalam dirinya. Perjalanan yang dirasakan Juna pun tidak lah mudah dan selalu dipenuhi kebahagiaan. Namun, hal tersebut justru menjadi pengalaman berharga bagi dirinya yang mengantarkan Juna pada keberhasilannya saat ini. Simak kisah tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!