span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Tities Sapoetra: Kerja Keras dan Tata Krama adalah Kunci Kesuksesannya
Oleh : Halimah Nusyirwan
20 Agustus 2018

Highlight

Kalian harus percaya sama diri kalian sendiri.

Tities Sapoetra memulai kariernya sebagai model di dunia entertainment.
Tities Sapoetra memulai kariernya sebagai model di dunia entertainment.
Sumber: cdn.popbela.com

Pasti banyak dari kalian yang mengenali wajah artis yang dulu suka tampil di layar televisi ini. Kariernya sebagai artis membuat nama Tities dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai aktor dan model yang berbakat. Tak hanya terjun ke dunia entertainment, Tities kini disibukkan dengan profesi barunya sebagai fashion designer Indonesia yang sudah menorehkan prestasi membanggakan untuk bangsa. Simak kisah inspiratif seorang Tities Saputra hanya di Kinibisa!



"First impression itu penting banget. Tahu bagaimana kita bisa dicintai orang, disukai orang, itu penting banget."

Menjadi Kepala Keluarga Sedari Muda
 


Tities Sapoetra menghabiskan masa sekolahnya dengan sibuk bekerja.
Sumber: instagram.com

Tities Sapoetra merupakan artis yang sudah memulai karier sejak awal tahun 2000-an. Kemunculannya di industri entertainment Indonesia sukses melambungkan namanya di tengah-tengah masyarakat. Dengan bakat yang sudah dipupuk sedari kecil akhirnya berhasil membuat Tities meraih impiannya untuk menjadi salah satu artis ibu kota.

Kisah perjalanan awal Tities rupanya menyimpan cerita yang penuh perjuangan. Kondisinya dulu mengharuskan ia menjadi kepala keluarga di saat masa pertumbuhan membuat Tities harus dewasa sebelum waktunya. Ia bercerita bahwa masa-masa SMP dan SMA-nya dulu tidaklah seindah yang orang lain alami.

Tities mengisi hari-harinya di sekolah dengan bekerja sebagai model dan sibuk dengan kegiatan Paskibra dan ke-OSIS-annya. Ia sering kali mengikuti berbagai perlombaan modeling sejak ia masih kecil dan hal ini membuat Tities mendapatkan tawaran untuk menjadi guru di salah satu sekolah modeling terbesar di kota Surabaya.

“Kalau orang bilang masa-masa SMP, SMA itu masa-masa paling indah kan. Nah aku tuh nggak sama sekali. Karena di saat aku SMP, SMA itu aku sudah harus bekerja which is aku kayak kalau dari SMA tepatnya itu udah mewakili bokap aku untuk jadi kepala keluarga. Jadi aku lulus SMA harus kerja pada saat itu,” ceritanya.

baca juga: kisah inspiratif Dana Maulana

“Aku kan sering ikut modeling yah dulu waktu di Surabaya dan sering menang juara satu akhirnya aku diangkat oleh salah satu sekolah modeling di Surabaya. Namanya Hayumi Modeling School. Itu salah satu modeling school terbesar di Surabaya. Aku sebagai teacher disitu. Nah pas SMA kelas 1, aku di hire sama mereka buat jadi guru disana. Jadi ya gitu kegiatannya tuh bener-bener padet banget. Aku pulang sekolah harus ngajar. Jam 12 atau 1 aku ngajar, terus di sekolahan aku juga Paskibra dan OSIS juga,” lanjut Tities.

Mengadu Nasib di Ibu Kota
 

\
Sosok Tities Sapoetra.
Sumber: instagram.com

Setelah lulus dari bangku sekolah, Tities pun melanjutkan pendidikannya dengan berkuliah di Jakarta. Sejak jaman sekolah, dirinya sudah menabung untuk mewujudkan impiannya yang ingin mengadu nasib di ibu kota. Keinginannya untuk hijrah ke Jakarta rupanya didasari oleh impiannya untuk menjadi seorang artis yang sudah ia rencanakan sedari dulu. Terlebih lagi dengan bakat dan passion-nya di dunia entertainment sejak kecil tersebut akhirnya membuat Tities berencana untuk melanjutkan karier serta pendidikannya di Jakarta.

“Jadi pas lulus SMA kelas 3, aku akhirnya keluar dari Surabaya pindah ke Jakarta. Itu aku memang ijinnya ke keluarga adalah untuk kuliah. Tapi sebenernya mau jadi artis,” ujar Tities sembari tertawa.

baca juga: kisah inspiratif Clara Tan

Setibanya ia di Jakarta pada tahun 2002 menjadi titik awal perjuangan Tities yang sesungguhnya. Dengan bermodalkan tabungan yang dikumpulkan selama ini dan keyakinan pada diri sendiri, Tities berjuang seorang diri tanpa meminta bantuan keluarga. Ia memutuskan untuk berkuliah di Universitas Moestopo dengan jurusan Komunikasi atau lebih tepatnya Public Relation. Tities bercerita bahwa dulu ia melakukan semuanya sendiri mulai dari mendaftar kuliah, mencari kos-kosan hingga mencari pekerjaan untuk membantu biaya hidupnya.

“Yang paling penting itu kita harus percaya sih sama diri kita sendiri. Ya selain doa orang tua, yang bikin aku bisa akhirnya kayak istilahnya dulu takut-takut sama Jakarta sampe akhirnya bisa menaklukkan Jakarta istilahnya, itu karena aku yakin. Yakin aku pindah ke Jakarta, yakin aku bakal bisa ikutan syuting dan jadi artis, bisa ikutan cover boy. Itu semuanya sesuai dengan apa yang aku inginkan,” ungkapnya.

Keputusannya untuk mengambil kuliah dengan jurusan tersebut juga dikarenakan impiannya yang tak lain ingin menjadi artis. Menurutnya, ilmu komunikasi atau Public Relation merupakan ilmu yang tepat demi mendukung kariernya kedepan kelak.

“Aku pengen jadi artis. Aku pengen jadi designer. Pendidikan apa yang bisa..cocok untuk cita-cita aku jangka panjang itu, yaitu Komunikasi. Bagaimana aku bisa membawa diri di hadapan orang, menjadi orang yang dicintai. Menjadi orang yang dibutuhkan,” katanya.

Impiannya tersebut sayangnya sempat tertunda karena kondisi Tities yang sibuk bertahan hidup dan bekerja pada saat itu. Di awal-awal perkuliahannya, Tities harus menahan keinginannya untuk syuting dan melanjutkan karier modeling-nya dan bekerja serabutan. Hari-harinya pun disibukkan dengan bekerja dan juga tugas-tugas kuliahnya. Karena hal itulah, niat Tities untuk menjadi artis sempat surut dan ia pun menjadi tidak percaya diri.

“Awal semester 1, 2, 3 itu masih belum syuting kan. Wah gila sih aku kerja serabutan banget. Kuliah aku dapetnya pagi, siang itu aku jadi SPB (Sales Promotion Boys). Itupun SPB kan ada grade-nya ya. Ada A, B, C, D, bahkan ada yang E which is aku mulai dari E. Itu kayak jual-jual minuman energy drink di pom bensin, terminal-terminal, itu aku lewatin semuanya sampe aku mungkin dibilang nggak pinter, tapi aku tekun, aku rajin. Itu yang membedakan orang pinter dengan orang rajin. Sampe aku akhirnya naik jadi SPB kelas A yang jualannya Marlboro gitu-gitu. Pada saat itu aku juga udah melupakan yang namanya pengen syuting karena udah kayak kepentok butuh uang kan untuk bayar kuliah” tuturnya.

Memang sudah rejekinya, teman kosannya kala itu melihat foto-foto Tities saat menjadi model di Surabaya yang ia pajang di kamar kosannya. Bakatnya tersebut membuat temannya ini mengajak Tities untuk bertemu dengan kenalannya kala itu. Hal itu pun akhirnya membuka kesempatan Tities untuk kembali mengejar impiannya berkarier di dunia entertainment.

“Ini bener-bener kayak doa yang diijabah gitu ya. Jadi tetangga kosan aku, namanya Dila, itu salah satu orang yang berjasa di hidup aku. Dia temen sebelah kamar aku. Dia kan tahu tuh foto-foto aku di kamar, ada piala-piala juga” ungkap Tities.

One day rumahnya dia dibikin photoshoot sama manajemen artis. Dia nelfon aku tuh dari rumah, ‘Eh tis lu mesti kesini. Gua mau kenalin lu ke mba Nina. Dia manajer artis, lagi nyari artis, lu pasti cocok sama dia.’ Aku bilang ‘Duh kayaknya nggak deh Dil karena aku baru pulang kerja nih. Lusuh nggak ada baju juga buat ketemu orang.’ Pokoknya banyak alasan lah. Aku tutup telfon kan. Dijemput dong sama dia. Trus akhirnya pasrah udah dijemput masa aku nggak menghargai,” lanjutnya.

Pertemuan kala itu membuat sang manajer artis, mba Nina, melihat potensi yang dimiliki oleh Tities. Bahkan ia percaya Tities akan berhasil kedepannya dengan berkarier di dunia entertainment. Sejak pertemuannya tersebut, Tities semakin berusaha untuk mengikuti berbagai casting yang ada. Casting pertamanya saat itu adalah menjadi model iklan KFC dan tanpa ia duga, Tities berhasil mendapatkan proyek tersebut sebagai pemeran utama. Tak hanya itu, Tities juga akhirnya dapat mewujudkan impiannya untuk bergabung di Extravaganza ABG yang merupakan tontonan favoritnya sedari ia masih di Surabaya dulu.

“Jadi waktu itu aku dikasih tahu mba Nina kan , ‘Ada casting nih Extravaganza ABG, kamu katanya mau nih.’ Terus aku yang ‘Malu nih mba nggak pede’. Terus tahu nggak sih yang ngantri siapa? Waktu itu Olga belum jadi apa-apa. Ruben juga belum jadi apa-apa. Yang udah ngetop itu Raffi  sama Laudya Chintya Bella. Casting semua dalam satu ruangan. Tahu nggak sih diruangan aku cuma sendirian, mereka lagi pada lomba ngelucu. Kayak latihan gitu lho. Dan yang diumumin hari itu duluan itu aku,” kenang Tities yang memang dekat dengan teman-teman di programnya tersebut.

Debut Tities di layar lebar ditandai dengan keikutsertaanya menjadi salah satu pemain di film Hantu Bangku Kosong (2006). Tities dapat bergabung dikarenakan salah satu pihak Production House yang tertarik ketika melihat foto Tities di majalah. Ia pun dipanggil untuk melakukan casting dan berhasil mendapatkan peran di film tersebut. Akhirnya Tities semakin dikenal dan dicintai masyarakat Indonesia atas bakat akting mumpuninya. Terlebih lagi kala itu film Hantu Bangku Kosong (2006) termasuk salah satu film horror terbaik di masanya.

“Itu kan first movie aku. Langsung dapetnya horror dan pada saat itu horror lagi naik daunnya. Itu era sebelum yang esek-esek muncul. Abis Kuntilanak (2006), film yang bagus keduanya adalah Hantu Bangku Kosong (2006). Jadi waktu itu kita bisa jualan tuh satu juta penonton. Itu udah banyak banget buat saat itu,” ujarnya yang pernah beradu akting dengan Agnes Monica ini.

Beralih Profesi Menjadi Fashion Designer
 

Tities Sapoetra saat berkolaborasi dengan Make Over.
Tities Sapoetra saat berkolaborasi dengan Make Over.
Sumber: instagram.com

Setelah sukses mengejar impian untuk berkarier di dunia entertainment, kini Tities disibukkan dengan profesinya sebagai fashion designer. Untuk membangun kariernya tersebut, Tities merelakan pekerjaannya sebagai artis untuk fokus menjadi perancang busana di Indonesia.

“Aku terakhir syuting itu 4 tahun lalu. Itu stripping Ramadhan di SCTV. Aku sebenernya kontrak eksklusif sama SCTV dan sampe sekarang sebenernya belum selesai. Akhirnya baru beberapa bulan lalu aku ngehadap ke mereka, ngerayu, akhirnya mereka mau menghanguskan kontrak aku,” cerita Tities.

Ia pun bercerita betapa berat keputusannya untuk meninggalkan dunia yang membesarkan namanya tersebut.

“Karena sebenernya mereka masih pengen aku syuting. Supaya akting biar barengan gitu lah tapi nggak bisa nyatanya. Karena fashion tuh aku kan baru berkarya baru tiga tahun, kayak butuh fokus banget dan kalau syuting, aku melibatkan diri aku sendiri tapi kalau di workshop aku, aku melibatkan banyak tim yang istilahnya kalau di industri akting kan pemerannya banyak jadi fokusnya nggak cuma di aku. Ini (fashion) kan fokusnya di aku. Jadi kalau aku tinggal-tinggal kasian,” lanjutnya.

Keputusannya untuk berkarier di bidang ini bukanlah hal yang tiba-tiba. Tities bercerita bahwa dirinya sudah mengenal dunia tata busana sejak ia kecil dikarenakan sang ibu yang berprofesi sebagai fashion designer baju pengantin. Hal ini membuat Tities akhirnya juga bermimpi untuk menjadi fashion designer dan kini ia berhasil mewujudkan impiannya tersebut.

“Aku ngomong sama nyokap dan dibolehin jadi designer tapi aku harus sekolah dulu. Karena kan mama bisa ngajarin cuma kan beda ya. Pelajaran jaman dulu sama sekarang tuh beda banget. Akhirnya aku masuk sekolah di Susan Budihardjo satu setengah tahun. Terus aku ambil fashion business di Instituto Di Moda Burgo setahun. Udah deh abis itu langsung nyemplung (ke dunia fashion),” tutur designer yang memulai debutnya di tahun 2015 ini.

Saat ini Tities sudah memiliki 3 lini busana. Akan tetapi, Tities mengaku bahwa hanya 2 labelnya yang masih aktif hingga sekarang yaitu TS the Label dan Tities Sapoetra. Dua label fashion-nya ini tentu memiliki perbedaaan dan ciri khas masing-masing. TS the Label lebih mengusung tema monokrom dan plain sedangkan yang satu lagi, yaitu Tities Sapoetra, mengambil tema yang playful serta colourful. Desain-desain baju untuk dua fashion label-nya tersebut datang dari berbagai hal yang menjadi inspirasinya.

“Kalau yang Tities Sapoetra itu aku inspirasinya dari pas aku liburan. Jalan-jalan ke luar negeri ataupun lagi di dalam negeri pun juga. Misalkan di Bali, kan banyak banget lukisan-lukisan yang di pinggir-pinggir jalan, nah itu yang bisa menginspirasi aku juga sih. Terus keindahan alam dan aku banyak sekali mengangkat tema-tema perempuan karena kedekatan aku sama ibu, itu yang selalu aku tuh menganggap kalau wanita itu bahkan lebih powerful dari laki-laki. Aku kan liat mama papa aku kan divorce kan jadi kayak mama aku ngegedein anak-anaknya tuh sendiri jadi buat aku perempuan itu sangat iconic banget,” kata Tities.

Kesuksesan labelnya juga terlihat dari berbagai kolaborasi yang ia lakukan dengan berbagai brand. Kolaborasinya bersama Make Over merupakan kolaborasi paling berkesan bagi Tities dikarenakan kesamaan visi dan misi mereka yang akhirnya membuat Tities nyaman dan senang bekerja sama dengan brand tersebut. Bahkan, dalam waktu dekat Tities akan terbang menuju Paris untuk melakukan fashion show di Paris Fashion Week 2018 bersama dengan Make Over.

Tities juga menorehkan prestasi lainnya yang membanggakan nama designer Indonesia. Ia dipilih sebagai satu-satunya designer dari Asia dan mengalahkan designer lainnya dari berbagai negara seperti Thailand dan Malaysia, untuk dipercayakan membawa license Nickelodeon US yaitu campaign Spongebob Gold. Terpilihnya Tities untuk kerjasama ini bukanlah tanpa alasan. Ia mengaku bahwa tim Nickelodeon kala itu senang dengan karya dan kepribadiannya yang akhirnya membuat Tities dipilih diantara banyaknya designer dari berbagai negara tersebut.

“Aku satu-satunya designer dari Asia yang dipercaya untuk membawakan license-nya mereka si Nickelodeon US. Jadi Nickelodeon ini kan punya campaign namanya Spongebob Gold. Spongebob ini kan karakter yang udah tua bahkan semua orang tahu kan. Nah dia ingin me-refresh dengan cara menggandeng komunitas-komunitas, salah satunya komunitas fashion,” ucap Tities.

 “Aku disuruh bikin konsep, dan aku kan lumayan deket sama fashion blogger Indonesia ya yang top-topnya dan aku bermain dan bersahabat sama mereka. Itu yang membuat Nikelodeon US tertarik sama aku. Ketika aku tanya ke mereka ‘Why me?’ kenapa lo milih gue sedangkan banyak banget designer yang bagus-bagus dan senior. Dia bilang first impression. First impression dia terhadap aku tuh bener-bener yang kayak...ya dari awal dia udah seneng aja. Itu yang jadi poin plus. Kalau karya pasti semua bagus lah tapi menurut dia first impression mereka ketemu aku tuh udah kayak seneng aja,” lanjutnya.

Sebagai seorang designer tentu Tities memiliki target yang ingin ia capai baik dalam kehidupan maupun pekerjaan. Ia bercerita bahwa dirinya memiliki notes yang bertuliskan target jangka panjangnya dan salah satu tagetnya adalah go international. Harapan dan impian Tities pun terjawab sudah dengan kesempatannya untuk ikut serta menampilkan karya-karyanya di kancah internasional seperti Paris Fashion Week di bulan September mendatang yang menandai langkah besarnya di dunia fashion.

Meskipun kini ia sudah sukses, Tities masih memiliki cita-cita yang belum tersampaikan, yaitu ia ingin membuat film dan menjadi seorang produser. Hal ini termotivasi oleh kecintaannya di dunia akting yang sudah membesarkan namanya tersebut. Untuk mengawalinya, kini Tities sudah memiliki management artisnya sendiri yang terdiri dari orang-orang yang dulu bekerja dengannya ketika masih di dunia entertainment.

Selain itu, Tities juga berkeinginan untuk membuat kosmetik brand-nya sendiri. Namun hal tersebut sempat tertunda oleh modal yang cukup besar dan kurangnya ilmu serta pengalamannya untuk memulai bisnis tersebut.

“Bingung aja gitu belum pernah bisnis di make up, terus kayak gimana nih caranya. Nah ternyata aku akan di hire oleh Make Over dan salah satu job desc aku, aku harus punya lini make up sendiri tapi by Make Over,” tuturnya.

Harapan Tities Untuk Generasi Muda Indonesia
 

Tities Sapoetra
Tities Sapoetra
Sumber: instagram.com

Sebagai seniman serta designer muda, Tities selalu mengingat satu hal yang merupakan suatu aspek terpenting yang telah membawanya sukses sampai saat ini. Hal tersebut adalah tata krama. Menurutnya, anak-anak jaman sekarang sudah banyak yang melupakan hal tersebut dan justru mendewakan digital di kehidupan sehari-harinya. Ia juga mengingatkan para designer dan generasi muda untuk tidak sombong dengan karyanya sendiri karena hal itu dapat menutup potensi untuk bekerja sama dengan orang lain.

“Tata krama sih. Itu yang miris banget sih di era sekarang ini kayak hampir semua orang melupakan hal itu. Apalagi kita kerja di industri profesional kayak gini ya. Tata krama tuh udah sangat dilupakan kayak nggak dipake, dibuang,” ucapnya.

“Kita sebagai manusia itu lah tadi..first impression itu penting banget. Tahu bagaimana kita bisa dicintai orang, disukai orang, itu penting banget. Bahkan anak-anak jaman now melupakan hal itu. Apalagi sekarang digital itu sangat marak sekali. Mereka sangat mendewakan yang namanya followers. Itu sebenernya hal yang sangat nggak baik ya. Kalau jaman aku dulu ya kalau lu mau sesuatu ya lu harus face to face. Lu mau ngerayu orang lu harus face to face. Terus ketemu orangnya nggak melalui digital. Memang nggak semuanya seperti itu. Teman-teman aku banyak kan yang digital tapi aku banyak sekali melihat bahwa industri ini juga udah mendewakan yang namanya digital dan followers. Aku hidup dalam hal tersebut juga tapi jangan sampe itu menghilangkan yang namanya tata krama kita sebagai orang, apalagi anak muda,” ujar designer yang hobi jalan-jalan ini.

Ia juga berpesan bahwa tak ada lagi alasan untuk kita bermalas-malasan dalam mengejar cita-cita. Terlebih lagi mengingat jaman yang kini sudah dipenuhi oleh internet dengan akses yang mudah.

“Di era sekarang, di era digital, mempunyai peluang yang sangat luas. Jadi udah nggak ada alasan lagi untuk kalian bemalas-malasan dan berhenti untuk mengejar cita-cita kalian,” ucapnya.

Percaya pada diri sendiri dan sikap optimis juga menjadi kunci kesuksesan serta sikap yang dibutuhkan untuk berhasil membangun hal yang diimpikan.

“Yang mesti di garis bawahi adalah believe. Kalian harus percaya sama diri kalian sendiri. Itu modal utama sih. Dan banyak mereka yang tidak percaya sama diri mereka sendiri. Kayak mereka nggak tahu memulainya seperti apa. Takut gagal, takut nggak laku bajunya, ini itu. Optimis aja dan tata krama, lagi. Bener-bener pesan dari orang tua juga sih. Lu punya itu tuh udah kayak bisa membawa lu kemanapun. Ingetin lu saat di atas. Nengok kebawah bukan untuk pamer tapi lebih ke pengen ngajak dibawah untuk naik barengan ke atas. Itu kan kalau kita nggak punya tata krama kita nggak akan kepikiran dengan hal-hal kayak gitu,” ujar Tities.

baca juga: kisah inspiratif Della Dartyan

Tities juga berbagi pendapatnya mengenai arti kesuksesan. Bagi Tities, kesuksesan itu adalah ketika ia bisa menjadi inspirasi untuk banyak orang. Baginya itu lah arti kesuksesan yang sebenarnya. “Sukses itu bukan dari gue punya uang atau punya harta gitu sih. nggak sama sekali. jauh daripada itu. menurut aku, sukses itu ketika tetangga aku misanya menginspirasi aku, itu adalah orang yang sukses. sukses menurut aku tuh sangat universal dan menurut aku orang-orang yang meginspirasi adalah orang yang sukses,” tutup designer yang mengartikan fashion sebagai jati diri tersebut.


Cerita perjalanan seorang Tities Sapoetra dapat menginspirasi banyak orang. Sosoknya mengajarkan banyak hal yang patut di contoh dan di ingat dalam menjalani kehidupan. Kerja keras serta tekad yang kuat telah membuat Tities berada di posisinya sekarang sebagai seorang designer dan artis papan atas Indonesia. Kesuksesan yang ia dapatkan juga tak membuatnya lupa akan pentingnya tata krama yang kini sudah semakin hilang diantara generasi masa kini. Simak kisah inspiratif lainnya di Kinibisa!