span 1 span 2 span 2

Seni, Desain, & Industri Kreatif

Hakim

Deskripsi

Hakim merupakan aparat penegak hukum yang memiliki kewenangan oleh undang-undang untuk mengadili atau memutuskan suatu perkara. Tugas hakim secara fungsional di pengadilan melaksanakan dan menggali keadilan serta berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan agar tercapainya peradilan yang dikehendaki oleh undang-undang. Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, hakim harus berpegang teguh dengan kode etiknya yaitu berperilaku adil, berperilaku jujur, berlaku arif dan bijaksana, bersikap mandiri, berintegritas tinggi, bertanggung jawab, menjunjung tinggi harga diri, berdisiplin tinggi, berperilaku rendah hati, serta bersikap profesional.

Berbagai profesi terkait

  • Hakim

Kisaran Pendapatan

Gaji pokok diberikan tiap bulan sesuai dengan jenjang karier dan masa jabatan. Ketentuan dan besarnya serupa dengan besaran gaji pokok PNS.

Untuk masa kerja 0 - 16 tahun gaji pokoknya sebesar:

  • Golongan III a = Rp 2.064.100 sampai dengan Rp 2.787.000
  • Golongan III b = Rp 2.151.400 sampai dengan Rp 2.870.600
  • Golongan III c = Rp 2.242.400 sampai dengan Rp 2.956.700
  • Golongan III d = Rp 2.337.300 sampai dengan Rp 3.045.400
  • Golongan IV a = Rp 2.436.100 sampai dengan Rp 3.136.800
  • Golongan IV b = Rp 2.539.200 sampai dengan Rp 3.230.900
  • Golongan IV c = Rp 2.646.600 sampai dengan Rp 3.348.900
  • Golongan IV d = Rp 2.758.500 sampai dengan Rp 3.490.600
  • Golongan IV e = Rp 2.875.200 sampai dengan Rp 3.638.200

Untuk masa kerja 18 - 32 tahun gaji pokoknya sebesar: 

  • Golongan III a = Rp 2.909.300 sampai dengan Rp 3.929.700
  • Golongan III b = Rp 2.996.600 sampai dengan Rp 4.047.600
  • Golongan III c = Rp 3.086.500 sampai dengan Rp 4.169.000
  • Golongan III d = Rp 3.179.100 sampai dengan Rp 4.294.100
  • Golongan IV a = Rp 3.274.500 sampai dengan Rp 4.422.900
  • Golongan IV b = Rp 3.473.900 sampai dengan Rp 4.692.300
  • Golongan IV c = Rp 3.746.900 sampai dengan Rp 4.978.000
  • Golongan IV d = Rp 2.758.500 sampai dengan Rp 3.490.600
  • Golongan IV e = Rp 2.875.200 sampai dengan Rp 3.638.200

Selain gaji pokok, hakim juga mendapat tunjangan jabatan yang diberikan setiap bulan tergantung pada jenjang karier, wilayah penempatan, tugas, dan kelas pengadilan. Berikut adalah besaran tunjangan yang diperoleh dari seorang hakim:

  • Pada Pengadilan Tinggi, Dilmiltama, dan Dilmilti, Kepala atau Ketua mendapatkan tunjangan sebesar Rp 40,2 juta. Sementara Wakil ketua sebesar Rp 36,5 juta dan Hakim Utama sebesar Rp 33,3 juta. 

  • Pada Pengadilan Kelas IA Khusus, Ketua atau Kepala mendapatkan tunjangan sebesar Rp 27 juta. Sementara Wakil Ketua sebesar Rp 24,5 juta dan Hakim Utama sebesar Rp 24 juta.

  • Pada Pengadilan Kelas IA, Ketua atau Kepala mendapatkan tunjangan sebesar Rp 23,4 juta. Sementara Wakil Ketua sebesar Rp 21,3 juta dan Hakim Utama sebesar Rp 20,3 juta.

  • Pada Pengadilan Kelas IB, Ketua atau Kepala mendapatkan tunjangan sebesar Rp 20,2 juta. Sementara Wakil Ketua sebesar Rp 18,4 juta dan Hakim Utama sebesar Rp 17,2 juta.

  • Pada Pengadilan Kelas II, Ketua atau Kepala mendapat tunjangan sebesar Rp 17,5 juta. Sementara Wakil Ketua sebesar Rp 15,9 juta dan Hakim Utama sebesar Rp 14,6 juta.


Kualifikasi

Gelar Sarjana Hukum; Pendidikan Pascasarjana Hakim; Sertifikat Mahkamah Agung.



Keahlian dibutuhkan

Sebagai sosok pengadil dalam sebuah persoalan hukum, seorang hakim harus memiliki banyak kemampuan agar keputusan yang ia tetapkan bersifat objektif dan sesuai aturan. Penguasaan ilmu hukum tentu jadi kewajiban bagi seorang hakim. Namun, di luar itu ia harus mampu berperilaku adil, jujur, dan bijaksana. Sifat ini ia wajib miliki agar ia dapat memutuskan perkara secara adil dan tidak dipengaruhi pihak mana pun.

Dalam menangani sebuah perkara, seorang hakim harus kritis dalam menggali keterangan para peserta sidang. Dalam hal ini, pengetahuan di bidang psikologi perlu dimiliki supaya ia dapat menguji kejujuran peserta sidang melalui gaya bicara atau bahasa tubuhnya. Ia juga harus pandai menganalisis fakta-fakta tersebut supaya dapat membuahkan keputusan yang tepat. Dalam tahap ini, Kemampuan penalaran deduktif dan induktif juga harus dimiliki seorang hakim.

Seorang hakim juga dituntut untuk berani mengambil keputusan walaupun keputusan yang ia ambil dapat membahayakan dirinya. Sebab, sepanjang sejarah banyak kasus pembunuhan hakim karena kecewa dengan putusannya. Meski begitu, ia juga harus bertanggung jawab atas keputusan yang ia tetapkan.

Sementara itu, dalam memimpin sidang seorang hakim harus memperhatikan keselamatan dan keamanan peserta dan pengunjung sidang. Sebab, tak jarang ada sidang yang berakhir dengan kericuhan. Untuk itu, ia wajib memiliki sensitivitas dan kepekaan sosial. Kedua hal ini juga dapat ia manfaatkan dalam menganalisis perkara yang ia tangani.



Instansi pekerjaan

  • Mahkamah Agung