span 1 span 2 span 2

News

Stigmatisasi Cingkrang dan Cadar: Sesat Pikir Anekdotal?
Oleh : Pradhana Abhimantra
17 Januari 2020
Dibaca Normal 7 Menit

News Overview

Cadar dan Niqab
Sumber: dutchreview.com

Belum lama ini, Menteri Agama Fachrul Razi sempat menjadi sorotan karena wacananya terkait pelarangan niqab atau cadar dan celana di atas mata kaki alias cingkrang untuk dipakai siapapun dalam lingkungan instansi pemerintah.


Terkait wacana ini bahkan akhirnya sampai ditanggapi oleh Presiden, "Kalau saya, namanya cara berpakaian sebetulnya pilihan pribadi-pribadi. Pilihan personal atau kebebasan pribadi setiap orang," kata Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (1/11).

Dapat Sebabkan Diskriminasi
 

Celana Cingkrang
Sumber: tempo.co

Komnas HAM menyatakan penggunaan cadar dan celana cingkrang merupakan ekspresi beragama yang harus dihormati. Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengatakan stigmatisasi cadar dan celana cingkrang sebagai radikalis beresiko menimbulkan diskriminasi di tengah masyarakat.

Lebih jauh Taufan memaparkan kepada wartawan, "Ada banyak orang dengan celana cingkrang atau cadar tidak radikal apalagi ikut dalam kegiatan terorisme. Cara pandang ini bisa menimbulkan dampak diskriminasi kepada orang yang menggunakannya."

Sesat Pikir Anekdotal
 

Ada banyak sekali jenis dari logical fallacies atau sesat pikir. Salah satu yang paling umum adalah yang disebut dengan anecdotal fallacy. Sesat pikir anekdotal adalah ketika seseorang yang melandaskan argumennya pada bukti yang anekdotal. Maka kini pertanyaannya: apa yang dimaksud dengan “bukti yang anekdotal”? 

Bukti yang anekdotal adalah bukti (evidence) yang didasarkan sebatas pada pengalaman pribadi di dari seseorang atau segelintir jumlah kecil orang. Bukti yang seperti demikian tidaklah cukup untuk digunakan sebagai landasan argumen yang yang pantas untuk setiap keadaan atau situasi.

Sebagai contoh:
Siska berkata bahwa berpergian dengan cara naik pesawat itu adalah berbahaya karena dulu Siska pernah mengalami kecelakaan pesawat, sehingga naik mobil adalah cara yang lebih aman.  

Argumen Siska ini mengandung sesat pikir anekdotal karena hanya berdasarkan pengalamannya sendiri, maka dia menyimpulkan bahwa naik pesawat lebih berbahaya ketimbang misalnya menyetir naik mobil.

Padahal, bila melihat kepada statistik riset maka ditemukan bahwa sebenarnya naik pesawat jauh lebih aman dibandingkan naik mobil dan jauh lebih sedikit jumlah kecelakaan yang terjadi.

Untuk menghindari sesat pikir ini maka kita tidak boleh membuat argumen hanya berdasarkan bukti yang berlandaskan pengalaman yang terbatas (hanya dialami satu atau sedikit orang). Bila kamu melakukannya, maka kamu itu adalah sesat pikir anekdotal. 

Diskriminasi Terhadap Cingkrang dan Cadar sebagai Sesat Pikir Anekdotal
 

Berpikir bahwa orang-orang yang berbusana dengan celana cingkrang ataupun cadar sebagai teroris, radikalis, atau apapun sebutannya dengan pemahaman bahwa mereka “berbahaya” adalah termasuk dari sesat pikir yang sebelumnya dijelaskan.

Argumennya mungkin karena banyaknya teroris yang yang berpenampilan seperti itu, namun jelas ini tidaklah cukup untuk menjadi ‘bukti’ atau landasan argumen untuk mendiskriminasi pengguna cadar dan cingkrang sebagai "berbahaya”. 

Untuk memahami hal ini, mari kita membuat perbandingan. Di penjara, begitu banyak narapidana pembunuhan, dan kebanyakan dari mereka mereka memiliki tato pada tubuhnya.  Apakah lantas ini dapat dijadikan landasan pikir bahwa semua orang yang bertato pasti adalah pembunuh?

Apakah kita kemudian akan melihat semua musisi punk sebagai pembunuh, karena mereka juga kebanyakan memiliki tato? Tentu tidak bukan? Maka menjadi salah untuk mempersepsikan orang-orang yang memilih untuk bercadar ataupun memakai celana cingkrang. Seperti itulah memahami sesat pikir anekdotal dalam diskriminasi terhadap cadar dan cingkrang ini.

Sebatas Ekspresi Agama yang Tidak Membahayakan Siapapun
 

cadar
Sumber: redaksiindonesia.com

Berbusana mengenakan celana yang panjangnya tidak melebihi mata kaki, memelihara jenggot, mengenakan busana lebar dan menutup aurat (diantaranya cadar) dalam Islam merupakan bagian dari apa yang di dianjurkan untuk dilakukan karena dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Muslim memahaminya sebagai sunnah, yakni segala suatu yang (1) dicontohkan (2) diperintahkan dan (3) disetujui Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. 

Lebih parah dari sekedar kepada mereka yang bercadar dan cingkrang, bahkan agama Islam pun ada yang memperolok sebagai “agama terorisme”, “agama kekerasan”, dan tuduhan lainnya yang dangkal landasannya. Alasannya kebanyakan didasari karena pelaku aksi-aksi terorisme beragama Islam.

Padahal, perlu ditelusuri apakah mereka para pelaku terorisme ini pemahaman agamanya memang benar ataukah sesat? Bisa jadi mereka gagal paham tentang agamanya, sehingga berlaku demikian yang kemudian justru merusak nama Islam. Dan perilaku segelintir orang ini, tidak dapat dijadikan bukti untuk berargumen tentang bahayanya Islam dan pengikutnya.

Bila menelusuri secara objektif apa yang diajarkan dalam Islam, maka sebenarnya perilaku terorisme tersebut jelas bertentangan dengan larangannya sebagaimana tertuang dalam Al Quran dan Hadist:

“Sesungguhnya barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya”.[al-Mâidah/5:32]
“Siapa yang membunuh kafir Mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun” [Hadist Riwayat Bukhari].

Bila mempelajari kepada agamanya dan bukan orangnya, maka Islam tidak membolehkan berbuat zalim kepada siapapun tanpa sebab yang syar’i (sesuai aturan Agama).

Berpikir Lebih Adil dan Cerdas

"Saya tidak melarang pakai cadar atau celana cingkrang. Karena saya sendiri suka pakai celana cingkrang, kalau sedang di rumah dan ke masjid. Saya bilang, pakai cadar dan celana cingkrang bukan ukuran untuk ketaqwaan," ucap Fachrul.


Sebagaimana cadar dan celana cingkrang bukan ukuran untuk ketaqwaan (kepatuhan iman) seseorang seperti ucapan Sang Menag, pilihan busana tersebut juga bukan ukuran “berbahaya” atau tidaknya seseorang yang mengenakannya. Tunggu bahasan tentang jenis sesat pikir lainnya, hanya di Kinibisa.com!

0 Comments