span 1 span 2 span 2

News

Polemik Kebun Binatang Indonesia: Penyiksaan Satwa dan Ketidaknyamanan Fasilitas
Oleh : Avellino Dwido
09 Juli 2019
Dibaca Normal 6 Menit

News Overview

Kebun binatang masih sering dijadikan alternatif wisata untuk mengisi liburan akhir pekan oleh banyak orang. Kebun binatang biasanya memiliki harga tiket masuk yang relatif murah sehingga dapat lebih mudah dijangkau oleh masyarakat kalangan menengah kebawah.

Namun sayang sekali banyak kebun binatang, khususnya yang ada di Indonesia, memiliki kondisi yang mengenaskan. Permasalahan kebun binatang di Indonesia yang itu-itu saja selalu menjadi polemik. Seakan-akan perdebatan tentang hewan yang disiksa serta fasilitas kebun binatang yang sangat tidak nyaman tak pernah menemui akhir.

Pihak pemerintah pun seolah menyalahkan takdir sebagai sebab kematian hewan-hewan dalam kebun binatang tanpa adanya aksi strategis dalam menghadapi masalah tersebut.


Gajah Dirantai
Sumber: dailymail.co.uk

Kebun Binatang
 

Sejatinya, kebun binatang merupakan fasilitas pemeliharaan hewan sebagai sarana konservasi dan pengembangbiakan satwa liar di luar habitatnya. Dengan pemeliharaan dan pengembangbiakan satwa liar tersebut diharapkan agar spesiesnya tidak punah. Selain itu, berdirinya kebun binatang juga dapat dijadikan sebagai pusat riset, pendidikan, dan sarana rekreasi.

Dasar hukum pendirian kebun binatang di Indonesia sendiri diatur oleh pemerintah pusat dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 35/1997 tentang Pembinaan dan Pengelolaan Taman Flora Fauna di daerah dan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 479/Kpts – II/1998 tentang Lembaga Konservasi Tumbuhan dan Satwa Liar.

Macan Sumatera
Sumber: dailymail.co.uk

Permasalahan Pada Kebun Binatang di Indonesia
 

Terdapat kurang lebih 58 kebun binatang yang terdaftar di Indonesia. Kebun binatang tersebut tersebar di beberapa kota seperti Bali, Bandung, Batam, Bekasi, Bintan, Bogor, Bukit Tinggi, Flores, Jakarta, Jambi, Lahat, Malang, Medan, Palembang, Pasuruan, Pematangsiantar, Semarang, Surabaya, Surakarta, dan Yogyakarta. Dari sekian banyak kebun binatang tersebut, hanya empat saja yang memiliki nilai baik dari pemerintahan.

Namun sayang, bukannya hidup lebih sejahtera dan dapat berkembangbiak dengan baik, satwa-satwa yang ada di kebun binatang tidak jarang justru memiliki keadaan sebaliknya. Satwa langka yang harusnya bisa dikembangbiakan di dalam kandang justru mengalami petaka dan jumlahnya malahan semakin berkurang.

Keadaan hewan mengenaskan dan terlantar serta hewan-hewan kelaparan karena kurangnya asupan makanan dan minuman. Kandang tempat tinggal para hewan juga tidak sesuai habitat aslinya, sempit dan kotor. Perlakuan petugas kebun binatang pun seringkali kasar.

Baca juga: Pentingnya Vaksin Bagi Hewan

Kebanyakan petugas kebun binatang cenderung tidak perhatian terhadap hewan, bahkan seakan tidak peduli terhadap perilaku pengunjung yang suka melempar makanan dan sampah sembarangan ke kandang hewan.

Fasilitas perawatan dan pemeliharaan hewan pun terbatas terkait tidak adanya dokter hewan yang berakibat kematian para hewan.

Biaya tiket masuk kebun binatang yang murah pun seringkali menjadi alasan dibalik terlantarnya hewan-hewan di kebun binatang. Tiket murah berdampak pada tidak tertutupnya biaya operasional yang dibutuhkan untuk mengurus kebun binatang, mulai dari pembelian pakan, memberi upah para petugas, dan perawatan kandang. Tidak jarang kebun binatang di Indonesia memiliki pemasukan yang tidak sesuai dengan pengeluaran dan mengalami defisit anggaran.

Sebenarnya kebun binatang dapat menjadi bisnis yang menguntungkan jika dikelola secara profesional dan tetap harus diiringi dengan rasa kepedulian terhadap hewan, sehingga hewan tidak terlantar dan bisnis dapat tetap berjalan.

Gajah Mati
Sumber: tirto.id

Kebun Binatang di Indonesia yang Mengenaskan
 

Terdapat beberapa contoh kasus kebun binatang di Indonesia dengan keadaan yang mengenaskan di dalamnya, berikut adalah sedikit gambarannya:

Kebun Binatang Taman Remaja Bengkulu – Terdapat seekor buaya yang terlihat mengenaskan dengan kandang yang hanya berisi sedikit air kotor dan banyak sampah disekelilingnya. Tidak hanya buaya, kandang hewan lainnya juga banyak sampahnya serta terdapat bau busuk yang tercium. Sebagian binatang bahkan hanya diikat dengan tali. Burung yang terluka pun tidak diberikan upaya pengobatan.

Kebun Binatang Bandung – Pada 2016 lalu seekor gajah dalam kebun binatang tersebut mati, setelah sebelumnya lumpuh selama sepekan. Beruang disana pun terlihat terlantar, kurus, dan kelaparan, bahkan mereka ‘mengemis’ makanan dari para pengunjung. Beberapa beruang pun sempat bertarung berebut makanan yang justru menimbulkan bekas luka baru.

Kebun Binatang Bandung ini memang seringkali diberitakan terkait dengan kondisinya yang mengenaskan. Petisi untuk menutup kebun binatang ini pun sudah banyak dilakukan oleh masyarakat, hingga organisasi para pecinta hewan.

Kebun Binatang Surabaya (KBS) – Terdapat beberapa kasus kematian hewan pada kebun binatang ini. Seperti jerapah yang mati pada 2012 lalu dengan 20 kilogram plastik di perutnya, lalu singa yang mati dengan sling baja yang menjerat lehernya, dan singa lainnya pun mati karena perutnya membusuk disebabkan oleh daging yang dimakannya setiap hari mengandung formalin.

150 pelikan juga berdesakan dalam satu kandang. Bahkan kebun binatang ini menyita perhatian para pecinta binatang internasional setelah sempat diliput oleh media internasional The Dodo dan Daily Mail. KBS pun dijuluki sebagai “zoo of death” karena keadaannya yang sangat mengenaskan dengan 4000 satwa tinggal di lahan 15 hektar dan kasus kematian hewan yang tinggi.

Burung Pelikan
Sumber: dailymail.co.uk

Tanggapan Pemerintah Terkait
 

Terkait Kebun Binatang Bandung, Ridwan Kamil selaku walikota Bandung mendorong publik untuk memboikot Kebun Binatang Bandung yang pengelolaannya buruk sebagai sanksi. Namun bertolak belakang, tanggapan Deddy Mizwar selaku Wakil Gubernur Jawa Barat hanya sebatas ‘semua makhluk bernyawa pasti akan mati’. Bahkan menurutnya Kebun Binatang Bandung tidak perlu ditutup, tapi dibantu pengelolaannya agar menjadi baik.

Upaya yang dapat dilakukan pemerintah diantaranya adalah mengawasi dengan ketat untuk memastikan setiap kebun binatang yg ada di Indonesia dikelola dengan baik dan kondisi sehat. Pengawalan juga perlu dilakukan untuk audit operasional, pakan, dan keuangan.

Sehingga hasil audit dapat dijadikan acuan untuk melakukan evaluasi dalam melakukan pengelolaan kedepannya. Apakah kebun binatang tersebut akan di akuisisi, di merger oleh sesama pengelola kebun binatang, atau mungkin harus ditutup karena saking tidak layaknya?


Semoga pemerintah segera bertindak untuk mengatasi masalah ini sehingga usai sudah polemik kebun binatang di Indonesia. Tidak hanya pemerintah, kita sebagai masyarakat juga dapat bertindak dengan berkunjung ke kebun binatang sesekali sehingga perputaran uang dalam kebun binatang tersebut tetap berjalan dan diharapkan hewan di dalamnya pun turut sejahtera.

Tapi ingat ya, jangan sesekali melempar apapun ke dalam kandang hewan yang ada disana dan tetap jaga kebersihan!

0 Comments