span 1 span 2 span 2

News

Pindah Agama Urusan Pribadi: Siapapun Tidak Berhak Menghakimi
Oleh : Aldrian Risjad
29 Juli 2019
Dibaca Normal 5 Menit

News Overview

Keberagaman Agama
Sumber: pixabay.com

Di Indonesia, perihal kepercayaan, Tuhan mana yang disembah, nabi yang dijunjung, dan kitab yang dijadikan pedoman memiliki dua kaki yang berpijak di dua ruang: ruang privat dan ruang publik. Posisi agama di kedua ruang tersebut cukup dilematis, mengingat ritual agama dipertanggungjawabkan secara privat; kita menanggung dosa sendiri jika tidak melaksanakan kewajiban yang diperintahkan dalam agama.

Lucunya, mulai dari pilihan agama yang dianut hingga cara kita beragama seringkali masuk ke dalam perdebatan ruang publik. Belum mau berhijab, dijadikan landasan untuk menceramahi. Pindah agama, dijadikan landasan sebagai bahan cacian massal dan ‘sambutan surga’ di sisi yang lain; komunitas agama yang merasa mendapatkan anggota baru. Memang kita harus saling mengingatkan, tapi jangan sampai melangkahi garis yang memisahkan saran dan penghakiman.


Faktor Sosio-Kultural yang Mendistorsi Ruang Privat dan Publik
 

Terkait kegemaran masyarakat kita yang kerap kali menembus masuk hingga ke ranah privat, dapat dijawab dengan melihat melalui perspektif Ilmu Sosiologi. Menurut Amika Wardhana yang merupakan seorang sosiolog dari UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), komunitas masyarakat Asia memang memiliki kecenderungan yang tinggi terhadap tradisi yang bersifat kolektif; lain halnya dengan masyarakat barat yang cenderung individualis.

Dampak dari tradisi kolektif yang melekat dalam keseharian kita adalah keinginan yang lebih besar untuk adanya keseragaman. Termasuk di dalamnya, keseragaman dalam beragama.

Oleh sebab itu, fenomena dimana salah seorang anggota masyarakat beragama tertentu memutuskan untuk pindah agama sering menjadi masalah yang diperdebatkan di ruang publik karena ada ketidakseragaman dalam komunitas. Hal ini dapat menjelaskan bagaimana orientasi masyarakat Indonesia terhadap keseragaman menyebabkan pilihan agama yang seharusnya ada di ruang privat menjadi sebuah agenda publik.

Sebagian memang beranggapan bahwa agama tidak dapat dipisahkan dari ruang publik. Jika dipisahkan, ada kekhawatiran bahwa agama tersebut akan kehilangan fungsi sosialnya. Namun, lagi-lagi kita harus mengingat bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat multikultural yang tentunya memiliki beragam cara menyembah Tuhan. Terkait dengan kebijakan publik, seharusnya nilai agama yang diimplementasikan lebih berupa rasionalisasi; bukan merupakan atribut keagamaan yang spesifik.

Hebohnya Jagat Media Sosial Atas Perpindahan Agama Selebriti
 

Baru-baru ini, timeline media sosial kita dihebohkan dengan berbagai berita bertopik sama namun dengan ratusan judul yang berbeda: Deddy Corbuzier kini memeluk agama Islam. Entah memang berita penting atau justru dipenting-pentingkan, kita jadi dipaksa tahu akan pilihan Deddy memeluk agama Islam.

Deddy Corbuzier
Sumber: akamaized.net

Respon masyarakat pun kebanyakan bernada positif dan mengapresiasi keputusan Deddy untuk memilih agama islam sebagai kepercayaannya. Dalam kolom komentar video berjudul “Detik-Detik Deddy Corbuzier Masuk Islam, Ucapkan Kalimat Syahadat” yang dirilis di kanal YouTube Tribun Jogja Official, kita dapat melihat komentar-komentar positif dari warganet terkait mualafnya Deddy Corbuzier.

Baca juga: Hagia Sophia: Saksi Sejarah Perkembangan Agama di Kota Istanbul

Salah satunya adalah seperti yang dilontarkan oleh pengguna YouTube dengan username SEMUA ADA DISINI, “alhamdulillah..yang suka umat islam nambah like nya mana”. Perkataannya atas rasa syukur penambahan jumlah masyarakat islam juga membuktikan pernyataan Amika terkait budaya kolektif masyarakat Asia.

Lain halnya dengan Deddy Corbuzier, fenomena Salmafina Sunan yang pindah agama dari agama Islam ke Kristen menuai kecaman dari publik. Dalam kolom komentar video berjudul “Ternyata Sebelum Pindah Agama Salmafina Sunan Sudah Tunjukan 5 Pertanda Akan Pindah Agama” terdapat beberapa komentar yang bernada negatif.

Salah satu pengguna YouTube bahkan memberi komentar berbunyi “Efek duit berlebih semuanya jadi bebaaas….bapake ndak bisa ndidik” yang seakan menyalahkan ayahnya atas berpalingnya Salma dari agama Islam.

Salmafina Sunan
Sumber: klimg.com

Pada dasarnya, baik isu pindah agama Deddy Corbuzier maupun Salmafina Sunan sama-sama mengundang partisipasi publik yang besar. Permasalahannya, Deddy Corbuzier cenderung mendapatkan respon yang positif dan Salmafina mendapatkan respon yang negatif, bahkan cenderung menghakimi.

Jika ditelisik lebih dalam, fenomena ini juga terjadi atas ketimpangan yang didasari oleh dominannya masyarakat Islam atas masyarakat beragama lain. Ditambah lagi, masyarakat Islam Indonesia merupakan bagian dari masyarakat Asia yang notabene memiliki kultur kolektif. Praktik ‘perpindahan’ agama menjadi suatu praktik yang pelik karena memiliki pengaruh terhadap komunitas agama tersebut.

Dalam konteks Deddy dan Salma, perpindahan agama mereka menjadi perbincangan publik karena ada rasa ‘bertambah’ serta ‘berkurang’-nya bagian dari komunitas agama Islam; dimana hal tersebut menjadi penting di kehidupan masyarakat Indonesia dengan kultur kolektif.

Kamu tipe introvert apa extrovert? yuk tes minat bakat di kinibisa


Selain sebagai sebuah pilihan yang ada di ranah privat, kebebasan pilihan beragama juga diregulasi oleh pemerintah melalui Undang-Undang, tepatnya Pasal 28E ayat (1) Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang berbunyi:

“Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali”.

Jika berpedoman terhadap ayat tersebut, tentu harusnya kita menyadari bahwa kebebasan beragama merupakan suatu hal yang dimiliki oleh setiap warga negara. Selain itu, dalam Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 juga ditegaskan bahwa hak untuk beragama merupakan bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM). Maka dari itu, kami berharap bahwa setiap individu memiliki kesadaran yang kuat akan hal ini, sehingga kebebasan pilihan beragama tetap menjadi hak dasar; tanpa tekanan sosial dari manapun.

0 Comments