span 1 span 2 span 2

News

Perbedaan Penggambaran Kaum Mayoritas dan Minoritas di Media Dunia
Oleh : Halimah Nusyirwan
25 Juli 2019
Dibaca Normal 5 Menit

News Overview

" The media's the most powerful entity on earth. They have the power to make the innocent guilty and to make the guilty innocent, and that's power. Because they control the minds of the masses."  - Malcolm X

Seperti yang tokoh dunia ini katakan, media memiliki kuasa dalam mengatur opini dan pandangan masyarakatnya. Maraknya pemberitaan media mengenai berbagai hal, menghasilkan sudut pandang yang berbeda-beda pula.

Namun, banyak masyarakat yang cenderung sangat percaya dengan apa yang diberitakan oleh media dan tidak mencerna informasi tersebut dengan sikap yang lebih kritis. Dampak dari pemberitaan media ini juga membentuk stigma tertentu bagi beberapa kelompok masyarakat, tergantung kondisi sosial masyarakat atau negara tersebut. 

Lalu bagaimana framing media di berbagai negara, seperti negara Barat dan Asia, terutama Indonesia, dalam memberitakan berbagai kelompok masyarakat pada khalayak umum? Stigma apa saja yang terbentuk dari pemberitaan media tersebut? Dan bagaimana media berkaitan dengan kebencian yang tercermin dari masyarakatnya?


Framing Media di Negara Barat
 

trump
Sumber: cnn,com

Negara adidaya, seperti Amerika Serikat, memiliki media-media besar yang terkenal. Contohnya yaitu FOX News, CNN, BBC, dan lain sebagainya. Media-media tersebut memiliki peran penting dalam pembentukan pandangan seluruh lapisan masyarakatnya.

Seperti yang kita tahu, Amerika merupakan negara multikultural dengan ragam etnisitas dan ras yang tinggal di setiap kotanya. Akan tetapi, menurut sejarah Amerika Serikat itu sendiri, ras Orang Putih mengklaim sebagai ras superior dan yang memiliki kedudukan tertinggi dibandingkan ras lainnya.

Maraknya isu rasisme yang ada di Amerika Serikat tak luput dari peran media yang memberitakannya. Penggambaran kaum minoritas di Amerika, seperti Latin, Asia, Afrika, Rusia, dan juga Muslim atau Arab, yang dilakukan oleh media melalui pemberitaannya berhasil membentuk stigma tertentu yang bertahan dari generasi ke generasi. 

Ras Orang Hitam atau Afrika sering dikaitkan dengan imej memprihatinkan dari sisi kesehatan, ekonomi, dan pendidikan. Hal ini membuat banyak orang menganggap bahwa orang Afrika terkesan berpendidikan rendah dan selalu membutuhkan bantuan dari orang lain. Terlebih lagi, penggambaran negara Afrika yang buruk juga membuat banyak orang enggan untuk mengunjungi negara tersebut. Pada faktanya, Afrika tidak seperti yang digambarkan oleh media-media tersebut.

Trevor Noah, komedian asal Afrika Selatan yang kini sukses meniti karier di Amerika, kerap menjelaskan di berbagai acara Stand Up Comedy-nya bahwa negaranya tidaklah seperti apa yang digambarkan oleh media Amerika. Ia juga mengatakan bahwa ia menerima banyak perlakuan “berbeda” karena pemberitaan tersebut, seperti ketika kasus Ebola di Afrika yang dulu marak diperbincangkan.

Hal yang sama terjadi pada Arab dan Muslim. Ketika terjadi kejadian pengeboman gedung WTC pada tanggal 11 September 2001, media secara gencar memberitakan dan mengklaim bahwa pelaku atau otak dibalik kejadian tersebut tak lain adalah kelompok muslim radikal yang bernama Al-Qaeda.

Baca juga: Definisi dan Ciri Panjat Sosial

Banyaknya media yang memberitakan hal tersebut sukses membuat masyarakat percaya bahwa Muslim adalah pelaku sesungguhnya dan mereka bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Padahal, sampai saat ini, pelaku dari pengeboman gedung tersebut masih belum bisa dibuktikan kebenarannya oleh pihak yang berwenang.

Semenjak kejadian tersebut, Islam dan kaum Muslim dicap sebagai teroris oleh masyarakat dunia. Selain itu, media juga selalu menggambarkan orang-orang Arab dengan kesan brutal dan kejam. Mereka erat dikaitkan dengan bom dan sifat emosional yang akhirnya kesan tersebut tertanam di benak masyarakat dunia.

Efek dari hal tersebut membuat orang-orang takut untuk bepergian ke negara Timur Tengah atau hanya sekedar berteman dengan orang Arab, dikarenakan kesan radikal dan ekstrimis yang mendominasi imej mereka di portal media.

Framing yang dilakukan oleh media tersebut membangun stigma buruk pada negara Timur Tengah. Bahkan, banyak dari film Hollywood yang juga semakin memperkuat stigma itu dengan penggambaran kaum Arab sebagai musuh mereka atau sebagai pelaku dari banyaknya kasus kejahatan dalam cerita di film-film Hollywood.

Framing Media di Indonesia
 

salmafina
Sumber: akamaized.net

Tak hanya dunia Barat, Indonesia juga mengalami hal yang serupa dalam pemberitaan kasus kaum minoritasnya. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana media membedakan perlakuan mereka saat pemberitaan antara kaum minoritas, seperti pada ras dan agama tertentu, dengan kaum mayoritas yang dalam konteks ini adalah Muslim.

Baru-baru ini, masyarakat Indonesia digemparkan oleh pemberitaan mengenai Salmafina dan Deddy Corbuzier yang berpindah agama. Perbedaan cara media memberitakan kedua kasus tersebut sangatlah berbeda dan cenderung bias. Ketika Deddy Corbuzier pindah dari agamanya yang dulu, yaitu Kristen ke Islam, banyak portal media yang bersikap positif dengan keputusan Deddy dan mereka juga memberikan kesan bahwa apa yang Deddy lakukan adalah sesuatu yang sangat mulia. 

Berbeda halnya dengan kasus Salmafina. Ketika ia berpindah agama dari Islam ke Kristen, banyak media yang memberitakannya dengan kesan “berdosa”. Tak sedikit pula dari media-media tersebut yang mengungkit “aib” atau kesalahan-kesalahannya dengan mengaitkan hal tersebut dengan keputusannya berpindah agama.

Perlakuan yang berbeda serta penggambaran yang bertolak belakang antara dua public figure ini seakan menunjukkan diskriminasi dengan menyudutkan salah satu pihak dikarenakan pihak tersebut termasuk ke dalam kaum minoritas, yang dalam kasus ini adalah agama Kristen. 

Seperti yang kita ketahui, Indonesia merupakan negara yang mayoritasnya adalah penduduk Muslim atau beragama Islam. Dengan contoh pemberitaan kasus Salmafina, menunjukkan bahwa terdapat bias atau pemihakan satu sisi saja yang dilakukan oleh media-media Indonesia.

Contoh lainnya adalah penggambaran pada kaum disabilitas. Di Indonesia, kaum disabilitas digambarkan sebagai kaum yang menginspirasi, namun kerap dijadikan objek tertawaan dan terkesan perlu dikasihani, seperti dalam artikel Framing Media: Dalam Memberitakan Penyandang Disabilitas. Penggambaran tersebut menghasilkan stigma yang sama persis dengan apa yang diinginkan media dalam pemberitaan mereka.

Kaum minoritas seakan identik dengan hal-hal yang kurang positif yang tentunya berbeda dengan imej kaum mayoritas. Pandangan dan pendapat masyarakat sukses dibentuk oleh apa yang mereka lihat di media sehingga menjadi sebuah fakta yang dipercaya oleh banyak orang. 

Kebencian yang Merajalela
 

hate
Sumber: swncdn.com

Perbedaan pemberitaan media mengenai kaum mayoritas dengan kaum minoritas berhasil melahirkan stigma tertentu pada masyarakat di berbagai dunia. Stigma yang terbentuk ini sebenarnya merupakan akar dari banyaknya masalah yang terjadi saat ini.

Perlakuan diskriminasi yang didapatkan oleh orang-orang Muslim dan Afrika di Amerika, serta perlakuan dan reaksi masyarakat pada kasus Salmafina, merupakan dampak dari pemberitaan media yang selalu berkesan negatif dan menyalahkan kelompok tersebut. Tak jarang pula, banyak orang yang membenarkan perlakuan buruk mereka karena mereka “termakan” oleh media dan merasa harus memberikan pembalasan atas “dosa" atau "kejahatan” yang sudah mereka lakukan. 

Munculnya “virus” kebencian di berbagai dunia juga merupakan hasil dari framing media yang ada. Pemberitaan negatif tersebut memupuk rasa benci yang akhirnya melebar seperti virus yang menular dan menggerogoti banyak orang, yang pada akhirnya melahirkan diskriminasi, rasisme, dan kasus kejahatan dengan mengatasnamakan kebenaran yang memecah belah dunia dengan menghilangkan persatuan dan kedamaian antar masyarakatnya.


Sebagai masyarakat modern yang cerdas, ada baiknya kita selalu kritis dalam menyerap informasi yang diberitakan oleh media diluar sana. Banyak dari pemberitaan tersebut yang tidak benar dan hanya menampilkan dari satu sudut atau sisi cerita saja, tanpa berusaha melihat dari sisi lainnya. 

Maka dari itu, apa yang diberitakan oleh media belum tentu selalu benar dan kita harus berhati-hati dalam membedakan berita yang beredar di sekitar kita. Jadilah masyarakat yang memiliki pandangan terbuka dan bijak agar dunia ini tidak lagi dipenuhi oleh kebencian yang membabi buta.

0 Comments