span 1 span 2 span 2

News

Nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam Film Rumah Merah Putih
Oleh : Aldrian Risjad
24 Juni 2019
Dibaca Normal 6 Menit

News Overview

Rumah Merah Putih
Sumber: iradiofm.com

Menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia tahun ini, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2019, Alinea Pictures merilis film bertemakan nasionalisme dan persatuan dengan judul Rumah Merah Putih. Menariknya, film ini juga mengangkat salah satu kejadian fenomenal di NTT pada HUT RI yang ke-73, yaitu peristiwa seorang anak sekolah bernama panggilan Joni yang memanjat tiang bendera guna memasang kembali tali bendera yang terputus - dan hampir menggagalkan upacara bendera.

Film ini sudah tayang di bioskop-bioskop sejak 20 Juni 2019 dan tentunya dapat anda saksikan di bioskop terdekat.


Sedikit Tentang Film Rumah Merah Putih
 

Film Rumah Merah Putih merupakan film yang bercerita tentang kehidupan masyarakat di Desa Silawan, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia. Dalam film ini, digambarkan bahwa pada setiap tahunnya menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia masyarakat Belu terbiasa untuk merayakannya dengan cara mengecat rumah mereka dengan warna merah putih.

Selain mengecat rumah dengan warna merah putih, film ini juga menggambarkan bagaimana perlombaan seperti panjat pinang juga biasa dilakukan untuk menambah kemeriahan dari Hari Kemerdekaan Indonesia.

Film ini disutradarai oleh Ari Sihasale dan diproduseri oleh Nia Zulkarnaen. Seperti film-film sebelumnya yang telah mereka kerjakan, mereka berusaha mengangkat narasi kehidupan masyarakat yang jarang diangkat atau belum diketahui masyarakat luas. Pada film Denias, Senandung di Atas Awan, mereka mengangkat kehidupan masyarakat Papua dengan tema pendidikan. Dalam film Rumah Merah Putih, mereka mengangkat kehidupan masyarakat NTT dengan tema nasionalisme dan toleransi.

Film ini juga memusatkan alur ceritanya pada perjalanan serta perjuangan Farel (Petrick Rumlaklak) dan Oscar (Amori De Purivicaco) dalam mendapatkan cat berwarna merah dan putih guna mengecat rumahnya untuk merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia. Setiap tahunnya, masyarakat Belu mendapatkan jatah cat berwarna merah dan putih yang dibagikan oleh pihak panitia 17 Agustus.

Namun, ketika Farel dan Oscar mendapatkannya, mereka tidak langsung pulang dan malah mengikuti lomba panjat pinang bersama dua orang kawannya, yaitu Anton dan David. Sayangnya, mereka mengalami kegagalan dan kalah dalam lomba panjat pinang tersebut. Permasalahan pun semakin rumit bagi Farel dan Oscar ketika mereka menyadari bahwa cat yang mereka miliki sudah hilang.

Baca juga: Tips Lolos SBMPTN

Mereka pun kemudian mencari hingga ke kota Atambua untuk mendapatkan cat pengganti, namun sayangnya cat yang mereka beli di Atambua bukan berwarna merah dan putih sehingga mereka pun harus mencari lagi.

Penyampaian Narasi Bhinneka Tunggal Ika
 

Selama film berlangsung, narasi mengenai kesatuan terus menerus disampaikan melalui dialog antar tokoh ataupun simbol-simbol.

Pada adegan dimana masing-masing tokoh anak menyebutkan namanya, mereka memperkenalkan diri dengan menggunakan sebuah format yang kurang lebih sama antara satu dengan tokoh yang lainnya: “nama, asal suku orangtua, ‘Saya Indonesia’”. Misalnya, seperti ketika salah seorang tokoh bernama Fransiska memperkenalkan dirinya dengan “Fransiska, Mama Rote, Bapa Bajawa, saya Indonesia”.

Adegan dimana masing-masing tokoh – tokoh anak-anak – menyebutkan namanya dan dilanjutkan dengan jargon “Saya Indonesia” cukup sering terjadi dalam film ini; seperti pada adegan ketika mereka sedang bermain, menjawab pertanyaan di kelas, hingga adegan dramatis di akhir film yang akhirnya menyuarakan “Kita Indonesia”.

Adegan Pevita Pearce Memeluk anak-anak
Sumber: akamaized.net

Sebagai seorang penonton, saya dapat menangkap maksud yang ingin disampaikan dari jargon – dan juga perkenalan nama menggunakan format – tersebut. Saya memahami bahwa sang pembuat film ingin menyampaikan pesan bahwa meskipun mereka berbeda latar belakang, mereka tetaplah ‘satu’, yaitu Indonesia.

Masalahnya, dialog perkenalan tersebut seringkali tidak pada tempatnya dan tidak natural. Misal, pada adegan dimana tokoh anak-anak sedang bersenda gurau, lalu salah seorang tokoh mulai memperkenalkan diri, tokoh lainnya pun mulai memperkenalkan diri secara berurutan dengan format yang sama.

Lalu, pada adegan di kelas dimana salah seorang anak menjawab pertanyaan dari gurunya, sontak ia pun meneriakkan dengan lantang namanya, asal suku orangtuanya, dan jargon “Saya Indonesia”. Pada adegan ini sangat terasa bahwa penempatan narasi Bhinneka Tunggal Ika tidak dilakukan dengan baik dan malah terlihat cringe.

Selain jargon “Saya Indonesia”, pembuat film ini juga memasukkan narasi nasionalisme melalui simbol cat merah dan putih sebagai identitas bangsa serta jargon “merah putih tidak bisa diganti”. Dalam film ini, ditunjukkan dengan jelas bagaimana ayah dari Farel sangat menekankan pentingnya warna merah dan putih, bahkan menempatkannya dalam posisi yang sakral. Ketika Farel menyerahkan cat yang ia beli – yang berwarna coklat – ke ayahnya, ayahnya pun langsung merespon dengan tensi yang tinggi sembari menekankan bahwa merah putih tidak bisa diganti.

Kemudian, jargon tersebut juga terdapat pada adegan dimana Farel dan Oscar sedang menjual cat coklat tersebut di Kota Atambua; tepatnya, di depan toko tempat mereka membeli cat tersebut. Saat itu, datanglah seorang perempuan bersepeda motor yang hendak membeli cat yang mereka jual. Sayangnya, ia tidak berminat untuk membeli cat berwarna coklat karena hanya mencari cat berwarna merah dan putih.

Lagi-lagi, terulang jargon merah putih oleh perempuan tersebut saat ia menolak membeli cat coklat dengan berkata “merah putih tidak bisa diganti”; yang diiringi dengan musik dramatis.

Masalah yang terjadi cukup mirip dengan yang terjadi pada penyampaian jargon “Saya Indonesia”, dimana penempatan dan penyampaian jargon tersebut tidak tepat guna. Pada dasarnya, penolakan yang dilakukan oleh perempuan yang hendak membeli cat tersebut sangatlah logis karena ia memang ingin membeli cat berwarna merah dan putih.

Baca juga: 

Namun, musik dramatis yang mengiringinya menegaskan bahwa maksud dari perkataannya bukan sekedar menyampaikan ketidak inginannya untuk membeli cat coklat, tapi juga menyampaikan pesan bahwa Indonesia, ataupun merah putih sebagai identitas Indonesia, tidak dapat digantikan. Padahal, yang Farel dan Oscar lakukan hanyalah menjual cat dan tidak ada niat untuk mengubah identitas bangsa Indonesia.

Poster
Sumber: medcom.id


Terlepas dari kekurangan film ini akan penyampaian narasinya, film ini unggul dalam hal sinematografinya yang mampu menangkap keindahan alam NTT. Selain itu, film ini juga memasukkan beberapa unsur kebudayaan sehari-hari dari masyarakat NTT dengan cukup baik, seperti penggambaran penggunaan mata uang yang tidak hanya menggunakan rupiah tetapi juga menggunakan dollar, dan juga budaya sabung ayam yang tidak ditunjukkan namun sempat menjadi bahan obrolan ketika Farel dan Oscar sedang menjual ayam.

Film ini juga membawa narasi yang penting – dan akan selalu relevan – di tengah masyarakat Indonesia yang kondisinya cukup terpolarisasi selepas Pemilihan Presiden 2019: Bhinneka Tungga Ika. Menurut Ari Sihasale selaku sutradara dari film ini, nilai-nilai positif dari masyarakat NTT merupakan alasan ia membuat film dengan latar NTT; juga dengan harapan masyarakat Indonesia secara luas dapat mengambil pesan moral dari film ini.

0 Comments