span 1 span 2 span 2

News

Milenial dalam Bekerja: Mengapa disebut "Kutu Loncat"?
Oleh : Halimah Nusyirwan
22 November 2018
Dibaca Normal 4 Menit

News Overview

Dominasi generasi milenial kini tentu tidak bisa dipungkiri lagi. Dengan pesatnya perkembangan teknologi serta informasi di era digital kini, tidak akan asing lagi jika para milenial lah yang menguasai serta menjadi generasi yang paling mengikuti era, mengingat rata-rata umur para milenial tersebut. Dengan mengenal karakteristik mereka dan alasan di balik label “Kutu Loncat”, diharapkan dapat membuat mereka menjadi pekerja yang efektif bagi perusahaan mereka.


Generasi Milenial merupakan generasi yang lahir di tahun 1980 hingga awal tahun 2000-an. Generasi ini juga dikenal dengan sebutan lainnya yaitu Generasi Y. Di jaman sekarang ini, para milenial mulai mendominasi perusahaan-perusahaan serta industri-industri yang bergerak di berbagai bidang di Indonesia. Hal ini tentu menunjukkan adanya perpindahan serta perkembangan generasi yang berbeda dari generasi sebelumnya. Jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, tentu hal ini akan sangat jauh berbeda. Perpindahan generasi ini juga memiliki ciri khas yang memiliki keunikan serta gayanya masing-masing, termasuk dalam lingkungan serta gaya bekerja mereka.

Ciri-ciri Milenial dalam Bekerja
 

Mengenal karakteristik milenial dalam bekerja.
Mengenal karakteristik milenial dalam bekerja.
Sumber: freepik.com

Untuk mengenal generasi milenial, akan lebih mudah jika kita mengetahui ciri-ciri mereka, khususnya dalam bekerja. Menurut laporan Ericsson yang dikutip dari KOMINFO, milenial identik dengan teknologi. Mereka kerap terlihat tidak lepas dari produk teknologi yang dimilikinya sehingga hal tersebut sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka. Hal ini juga berhubungan dengan konsumsi media sosial mereka. Para milenial dikenal dengan penggunaan media sosial yang bisa menghabiskan banyak waktu mereka dalam seharinya dengan tujuan yang beragam, seperti salah satunya yaitu pencarian berita terkini.

Milenial juga memiliki beberapa ciri negatif seperti yang dikutip oleh majalah Times. Diantaranya adalah banyaknya permintaan dan sikap percaya diri yang berujung pada narsisme. Permintaan yang kerap diajukan biasanya berhubungan dengan gaji dan cara mereka menyampaikan permintaannya. Mereka juga disebut memiliki kepercayaan diri yang terlalu tinggi sehingga membuat mereka bersikap “manja”, cenderung tidak menghargai orang lain dan selalu meminta pengakuan atas kemampuan mereka yang berakhir pada imej sombong.

Tak hanya itu, menurut penelitian Dale Carnegie Indonesia pada tahun 2016 yang berjudul “Employee Engagement Among Millennials”, hanya sebanyak 25% dari milenial yang fully engaged sedangkan presentasi tertinggi sebanyak 66% dari mereka yang hanya partially engaged (lebih berkonsentrasi pada penyelesaian tugas daripada kualitas).

Tentu ciri-ciri tersebut tidak dapat mewakili seluruh milenial yang ada. Ada pula beberapa ciri positif dari generasi ini, seperti tingkat kreatifitas yang lebih tinggi, multitasking, dan berjiwa bebas. Kreatifitas yang tinggi ini merupakan hasil dari perkembangan mereka yang tak lepas dari kemajuan era digital yang memudahkan mereka mengakses segala informasi sehingga dipenuhi dengan ide-ide baru yang fresh dan inovatif. Kelebihan lainnya adalah multitasking.

Hal ini menjadi nilai plus yang dimiliki para milenial sebagai modal mereka untuk bekerja. Dengan berbagai deadline serta tugas yang diberikan, milenial mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan mereka dengan baik sembari melakukan aktivitas lainnya. Memiliki jiwa yang bebas membuat milenial bersifat fleksibel dan dapat beradaptasi dengan cepat dan baik di lingkungan baru. Meskipun mereka berjiwa bebas, perlu diingat bahwa milenial memiliki visi misi serta nilai-nilai yang mereka pegang dengan jelas.

Mengapa disebut "Kutu Loncat"?
 

Dibalik label "Kutu Loncat".
Dibalik label "Kutu Loncat".
Sumber: freepik.com

Label “Kutu Loncat” ini muncul akibat perilaku milenial yang sering berganti pekerjaan dalam waktu singkat. Dikutip dari Tempo, menurut Meta Trisasanti (Executive Coach ICF dan Psikolog Industri dan Organisasi), para milenial melakukan hal tersebut dikarenakan perkembangan teknologi yang relatif cepat. Hal ini mempengaruhi cara bekerja mereka yang juga cenderung cepat sehingga melupakan proses dan fokus pada hasil yang ingin dicapai dan berakibat pada sifat yang tidak sabar.

Hal lainnya yang menjadi faktor “Kutu Loncat” ini yaitu sifat mereka yang suka mencari tantangan. Milenial cenderung bersifat “petualang” sehingga mereka selalu mencari tantangan dan kesempatan yang baru untuk mereka eksplorasi. Fakta mengenai banyaknya pekerja milenial yang tidak fully engaged pada perusahaan mereka juga bisa mempengaruhi fenomena ini dikarenakan masih banyak perusahaan yang belum memiliki kecocokan yang memadai karakteristik milenial ini sehingga membuat mereka memilih untuk “cabut” dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Membuat Pekerja Milenial yang Efektif
 

Membuat lingkungan bekerja yang nyaman dapat membantu milenial menjadi pekerja yang efektif.
Membuat lingkungan bekerja yang nyaman dapat membantu milenial menjadi pekerja yang efektif.
Sumber: freepik.com

Mempekerjakan milenial bukanlah hal yang perlu ditakutkan atau membawa kerugian. Justru dengan adanya generasi ini, mereka akan menjadi pekerja yang kompetitif dan dapat membantu perusahaan dalam berkembang lebih maju, khususnya di era digital ini. Untuk mencapai hasil tersebut, penting untuk membuat para milenial ini merasa nyaman dan cocok dengan tempat bekerja mereka.

Cara yang pertama adalah membuat lingkungan bekerja yang nyaman. Tidak adanya sistem hirarki dalam bekerja menjadi salah satu modal yang diperlukan untuk mencapai hal tersebut. Milenial lebih menyukai adanya kerja sama dan keterbukaan antara atasan dengan karyawan lainnya agar mereka dapat bertukar pikiran atau berbagi ide dengan lebih leluasa. Mereka juga cenderung tidak menyukai adanya peraturan yang terlalu mengikat atau kaku karena hal ini dipercaya dapat mengurangi efektifitas mereka dalam bekerja dan berinovasi.

Hal lainnya yang patut diingat dalam menciptakan hal ini adalah fleksibilitas jam kerja dan adanya fasilitas serta suasana kantor yang mendukung. Jam kerja yang terlalu kaku membuat para milenial kurang produktif dalam bekerja dan hasil yang diberikan pun menjadi kurang maksimal. Fasilitas serta suasana kantor yang mendukung juga dapat membuat mereka nyaman bekerja tanpa adanya beban/stres akibat jumlah pekerjaan yang diberikan. Hal ini juga dapat membantu mereka menciptakan ide atau gagasan baru yang akan berguna bagi perusahaan nantinya.


Bekerja dengan milenial bukanlah hal yang perlu ditakutkan atau dihindari lagi. Label “Kutu Loncat” pun tak lagi memiliki nilai atau kesan negatif yang melekat pada generasi ini. Dengan mengenal karakteristik mereka dalam bekerja, dipastikan dapat membantu orang-orang dalam mengenal dan membuat mereka untuk memberikan hasil terbaik dari versi mereka untuk tempat dimana mereka bekerja.

0 Comments