span 1 span 2 span 2

News

Micin Tidak Ada Pengaruhnya Terhadap Kebodohan Manusia
Oleh : Barlyant Vici Wijaya
07 Oktober 2019
Dibaca Normal 5 Menit

News Overview


Sumber: drtaylorwallace.com

Kalian mungkin sudah tidak asing lagi dengan yang namanya micin atau Monosodium Glutamat (MSG). Berfungsi sebagai penguat rasa hingga menambah nafsu makan, micin digadang-gadang menjadi biang kerok dari berbagai macam penyakit seperi stroke dan kanker.

Mengaku saja deh pasti kalian sering mendengar kata-kata “makanya jangan kebanyakan makan micin, nanti jadi lemot” iya kan? Atau justru kata-kata tersebut keluar dari mulut kalian? Ejekan seperti ini sering dilontarkan ketika sedang marah ataupun bercanda.

Sebenarnya ironis melihat banyak orang menyalahkan micin sebagai biang kerok dari segala kerusakan yang ada di tubuh manusia. Namun, apakah kalian tahu jika micin sebenarnya tidak ada pengaruhnya terhadap kebodohan manusia? Bahkan pakar kesehatan juga mengakui hal itu lho.


Sehari Cukup 6 Gram
 


Sumber: images.wsj.net

Nyatanya apapun yang dikonsumsi secara berlebihan pasti tidak baik untuk tubuh, begitu juga dengan micin. World Health Organization atau WHO membuat aturan untuk batas konsumsi micin yang hanya diperbolehkan 6 gram dalam sehari.

Selain itu Menteri Kesehatan Indonesia juga menerapkan aturan yang sama, yaitu membatasi warganya untuk mengonsumsi Monosodium Glutamat (MSG) paling banyak hanya 5 gram dalam sehari.

Tetapi menurut dari beberapa survei yang ada, nyatanya masyarakat Indonesia dalam sehari hanya mengonsumsi micin sebanyak 0,6 gram saja, ini masih sangat jauh dari batas konsumsi yang dianjurkan oleh WHO dan Kementerian Kesehatan Indonesia.

Glutamat Sendiri Ada di Beberapa Makanan
 


Sumber: i0.wp.com

Glutamat adalah senyawa alami yang berbahan dasar dari alam, fungsingnya untuk memperkuat rasa umami untuk indra pengecap manusia. Senyawa glutamat sendiri pertama kali ditemukan pada tahun 1908 oleh ilmuan Jepang bernama Kikunae Ikeda melalui rumput laut.

Baca juga: Makanan Penurun Kolesterol

Pada saat itu lah Ikeda membuat senyawa ini untuk tetap stabil dengan menggabungkannya bersama natrium, sehingga menjadi bentuk kristal yang kita ketahui sekarang guna untuk ditaburkan pada masakan yang lebih dikenal dengan nama micin.

Namun glutamat sendiri ternyata juga ada di berbagai makanan alami seperti daging, ikan, susu, wortel, kentang, tomat, jamur dan bawang putih yang akan mengeluarkan kandungan glutamat saat proses pemasakkan. Selain itu olahan makanan yang mengadung glutamat lainnya adalah keju, kecap, dan kaldu ayam.

Reputasi Stigma MSG
 


Sumber: cdn-a.william-reed.com

Jurnal Kesehatan New England tahun 1968 pernah menerbitkan surat atas keluhan dari seorang dokter ketika setelah makan di restoran chinese food yang pada saat itu kerap kali terkenal mencampurkan semua masakannya dengan tambahan micin atau MSG.

Tidak lama kemudian, hampir semua penduduk dunia menjadi hati-hati dengan penyedap rasa micin tersebut. Sindrom kepada restoran Chinese food pun muncul, orang-orang banyak menghindari masakan yang mengandung MSG karena percaya dengan biang kerok yang dimiliki dari kandung micin atau MSG tersebut.

Usut punya usut pemahaman tentang MSG yang dapat membahayakan tubuh ternyata hanya cocoklogi alias tanpa kajian yang matang. Nyatanya sampai saat ini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan efek negatif bagi tubuh dari mengonsumsi MSG dengan takaran normal.

Sekalipun orang yang mempunyai tubuh sensitif hingga alregi terhadap MSG, mereka tidak akan merasakan apapun ketika meyantap makanan yang mengandung micin atau MSG selama mereka tidak mengetahuinya.

Ini artinya hanya ada efek psikologis dari sugesti masyarakat, bahkan BPOM Amerika Serikat pernah mengatakan bahwa MSG sampai saat ini adalah jenis bumbu makanan yang aman dikonsumsi.

Justru Micin Mempunyai Manfaat
 


Sumber: cdns.klimg.com

Micin atau MSG yang terdiri dari natrium sebanyak 12 persen, glutamat sebanyak 78 persen, dan air sebanyak 10 persen, justru memiliki jumlah natrium atau garam yang tidak sebanyak dari garam dapur itu sendiri, yang sebanyak 36 sampai 39 persen.

Juga harus kalian tahu mengonsumsi natrium atau garam yang berlebihan bisa menyebabkan hipertensi, stroke, dan penyakit kardiovaskular. Mengurangi konsumsi garam dengan micin dapat membuat kalian terhindar dari penyakit tersebut.

Bahkan sejak tahun 2013 semua rumah sakit mengganti garam dapur mereka dengan micin, karena dianggap memiliki kandungan natrium yang lebih rendah. Sehingga pasien yang terkena penyakit hipertensi tetap aman dalam mengonsumsinya.

Baca juga: 5 Makanan Tinggi Kolesterol

Micin juga dipercaya dapat mempercepat halusnya makananan saat dikunyah hingga saat diolah di dalam lambung dan usus. Selain itu bagi mereka yang terkena penyakit gastritis atrofik kronik, micin atau MSG dapat membantu meningkatkan produksi cairan lambung.

Tidak berhenti sampai di situ, berdasarkan penelitian Kenji Toyama dari Universitas Kanagawa, Jepang. Micin dianggap dapat meningkatkan asupan kandungan gizi pada makanan karena dapat menambah nafsu makan, yang ini akan berdampak dengan kualitas hidup lansia yang meningkat.

Penelitian ini melibatkan sekiranya ada 11 lansia yang dilakukan uji coba di rumah sakit selama dua bulan. Lansia tersebut diberikan bubur dengan tambahan micin atau MSG sebanyak 0,5 persen, yang kebenarnya bisa kalian cek sendiri di artikel Biological & Pharmaceutical Bulleting tahun 2008. 

Intinya micin atau MSG masih aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan efek biang kerok selama kalian mengonsumisnya tidak secara berlebihan. Maka sudah tidak ada hubungannya jika kalian mengejek teman kalian lemot karen mengonsumsi micin atau MSG.

Lagi pula anak generasi 90an dan 2000an micin itu adalah teman, yang selalu mewarnai dan menemani dalam setiap makanan ringan kesukaan. Tanpa micin, masa kecil kalian mungkin akan berbeda, bukan?

0 Comments