span 1 span 2 span 2

News

Mengulik Fenomena Bunuh Diri di Kalangan Remaja Indonesia
Oleh : Halimah Nusyirwan
05 November 2018
Dibaca Normal 5 Menit

News Overview

Maraknya kasus bunuh diri yang terjadi di kalangan remaja Indonesia tentu mengkhawatirkan masyarakat kita. Munculnya kasus-kasus baru menunjukkan adanya masalah yang terjadi pada remaja-remaja masa kini. Dengan menilik kembali faktor-faktor penyebab terjadinya bunuh diri pada remaja Indonesia, diharapkan masyarakat dapat membantu mengurangi tingkat presentasi serta mencegah remaja-remaja kita dari tindakan bunuh diri.


Maraknya kasus bunuh diri yang terjadi di kalangan remaja Indonesia tentu mengkhawatirkan masyarakat kita. Munculnya kasus-kasus baru menunjukkan adanya masalah yang terjadi pada remaja-remaja masa kini. Dengan menilik kembali faktor-faktor penyebab terjadinya bunuh diri pada remaja Indonesia, diharapkan masyarakat dapat membantu mengurangi tingkat presentasi serta mencegah remaja-remaja kita dari tindakan bunuh diri.

Menurut laporan WHO pada tahun 2016, 79% dari seluruh kasus bunuh diri yang ada di dunia terjadi di negara yang memiliki kondisi ekonomi rendah dan menengah. Meskipun begitu, negara maju dan besar seperti Amerika juga tak luput dari fenomena ini. Bunuh diri merupakan sebuah fenomena global yang meresahkan masyarakat. Tak hanya di negara-negara besar seperti Amerika, Indonesia pun tidak luput dari fenomena ini dan bahkan termasuk dalam negara yang memiliki tingkat bunuh diri yang sering meningkat.

Masa remaja berperan penting pada perkembangan anak dalam pembentukan dirinya di masa depan. Banyaknya permasalahan yang terjadi di masa remaja tentu memiliki resiko tinggi pada terganggunya kehidupan mereka yang dapat berakibat pada kefatalan, salah satunya yaitu bunuh diri. Bunuh diri di kalangan remaja kini sudah menjadi fenomena yang banyak terjadi dan tidak lagi tabu untuk dibicarakan. Pada tahun 2012 sendiri, terdapat lebih dari 800.000 orang di dunia yang melakukan bunuh diri dan angka ini terus meningkat setiap tahunnya.

Bunuh diri sendiri menjadi penyebab nomor dua pada kematian orang-orang di dunia dengan rentang usia 15-29 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena bunuh diri sangatlah meresahkan bagi para remaja dan perlu untuk diketahui faktor-faktor penyebab apa saja yang memicu fenomena tersebut.  

Penyebab Utama Bunuh Diri
 

bullying merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya bunuh diri
Bullying Merupakan Salah Satu Faktor Penyebab Terjadinya Bunuh Diri
Sumber: freepik.com

Menurut teori bunuh diri Emile Durkheim dalam karyanya yang berjudul Suicide: A Study in Sociology, terdapat dua faktor penyebab bunuh diri, yaitu solidaritas sosial dan stabilitas sosial. Apa yang terjadi pada para remaja, khususnya remaja Indonesia, mayoritas disebabkan oleh faktor stabilitas sosial. Tiga faktor yang kerap menjadi penyebab utama dalam kasus bunuh diri remaja Indonesia adalah masalah cinta, keluarga dan bullying.

Dalam data dari Komnas Perlindungan Anak pada awal tahun hingga pertengahan 2012, terdapat 20 kasus bunuh diri yang terjadi pada anak-anak Indonesia berusia 13-17 tahun dan 8 kasus diantaranya disebabkan faktor putus cinta. Masalah percintaan yang dialami para remaja ini, seperti bertengkar dengan pacar dan putus cinta, membuat mereka tidak berpikir rasional dan terlalu larut dengan emosi mereka. Masa remaja sendiri dikenal sebagai masa transisi dimana gejolak emosional mereka terbilang belum stabil dan rentan berubah-ubah.

Dengan adanya masalah percintaan tersebut, remaja-remaja Indonesia cenderung tenggelam dengan emosi mereka sendiri sehingga mereka merasakan kesedihan yang mendalam dan memilih jalan pintas untuk keluar atau menyelesaikan masalahnya tersebut. Keputusan untuk mengakhiri hidup pun seakan menjadi jalan keluar terbaik untuk mengakhiri masalah-masalah mereka.

Contoh kasus yang sudah terjadi adalah kasus bunuh diri yang dilakukan oleh Muhammad Hidayatullah (18) dan Alfiannor (18) yang terjadi pada tahun 2017. Hidayatullah, atau yang kerap dipanggil sebagai Dayat, merupakan anak bungsu Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ia ditemukan tewas setelah gantung diri di sebuah rumah panggung yang terletak di dekat rumahnya yang berada di Jln. Andi Pangeran Pettarani pada hari Kamis (27/7/2017). Menurut laporan saat itu, Dayat bunuh diri setelah mengalami pertengkaran dengan kekasihnya yang bernama Apriani melalui video call Facebook saat itu.

Hal yang serupa juga terjadi pada remaja bernama Alfiannor yang bunuh diri dengan cara menggantungkan dirinya di sebuah rumah kosong dekat sebuah Pos Lantas Satui pada hari Jumat (5/5/2017). Alfi, nama panggilannya, mengalami putus cinta akibat ditinggal kekasihnya pindah ke Jawa. kesedihan serta kegalauan akibat ditinggall sang pacar membuat Alfi seakan “buta” dan memilih jalan pintas, yaitu kematian, untuk mengakhiri kesedihan hatinya tersebut. Keputusan yang diambil oleh kedua remaja ini tentu bukanlah jalan keluar terbaik dan merupakan sebuah kesalahan yang seharusnya dapat dicegah.

Faktor kedua yang menjadi faktor utama adalah keluarga. Didikan orang tua yang salah dapat menjadi salah satu penyebab yang berdampak buruk pada kondisi psikologis sang anak. Sikap orang tua yang suka memarahi anaknya dengan cara membentak dapat membuat sang anak menjadi tertekan dan bahkan depresi. Sama halnya dengan kondisi keluarga yang kurang harmonis juga dapat mempengaruhi psikologis anak akibat sering melihat orang tuanya bertengkar, baik secara verbal maupun fisik.

Penyebab-penyebab tersebut tanpa disadari membuat sang anak menyalahkan diri mereka karena merasa tidak cukup baik hingga menjadi penyebab kerusakan keluarganya sendiri. Sikap menyalahkan diri sendiri dengan apa yang terjadi di keluarga tersebut membuatnya menjadi pemurung dan merasa bahwa kematian adalah jalan terbaik untuk meringankan beban orang tuanya yang dapat membuat mereka lebih bahagia.

Faktor terakhir yang tidak kalah pentingnya adalah bullying. Bullying yang terjadi di sekolahnya dan media sosial sangat mempengaruhi kondisi remaja Indonesia. Menurut Menteri Sosial, Kholifah Indar Parawansa, pada tahun 2015 sebanyak 40 persen kasus bunuh diri yang terjadi pada anak-anak Indonesia diakibatkan oleh bullying yang mereka alami. Mereka tidak kuat menghadapi bullying yang terjadi sehingga mengganggu psikologis mereka. Bullying sendiri dapat menurunkan kepercayaan diri para remaja sehingga mereka merasa lemah dan frustrasi.

Sama halnya dengan bullying, cyberbullying juga menjadi penyebab bunuh diri remaja masa kini. Bullying yang dilakukan lewat media sosial atau internet ini semakin marak terjadi di kehidupan remaja Indonesia dengan menyerang korban secara mental dan banyak juga yang menyerang dengan perkataan yang sudah terlalu diluar batas kewajaran.

baca juga: Fenomena Bullying dan Bunuh Diri dalam 13 Reasons Why

Kata-kata serta perlakuan yang menyakitkan dari fenomena bullying ini membuat anak-anak atau remaja-remaja tersebut merasa tidak berguna dan memilih mati guna sebagai solusi dari penderitaan yang dialaminya dengan maksud menghentikan diri mereka dari merasakan kesakitan akibat bullying tersebut. Kasus bullying pun juga saat ini semakin bertambah dan hal ini kemungkinan terjadi akibat kurangnya totalitas dari peran orang tua dan sekolah dalam menindaklanjuti perilaku anak-anak tersebut ketika berada di lingkungannya.

Peran Masyarakat dalam Fenomena Bunuh Diri Remaja
 

Peran Masyarakat Sangat Penting dalam Mencegah Fenomena Ini
Peran Masyarakat Sangat Penting dalam Mencegah Fenomena Ini
Sumber: freepik.com

Maraknya kasus tersebut tentu tidak bisa diremehkan dan dianggap sebagai angin lalu saja. Hal ini hanya menunjukkan bahwa remaja-remaja Indonesia sedang berada dalam keadaan darurat dan penting bagi masyarakat semua untuk mengetahui penyebab serta informasi-informasi terkait dengan kasus tersebut. Keadaan remaja indonesia sendiri saat ini cukup memprihatinkan melihat lingkungan pergaulan dimana mereka tumbuh mempengaruhi mereka dalam berbagai aspek.

Fenomena bunuh diri yang terjadi di kalangan remaja Indonesia menunjukkan bahwa banyak remaja Indonesia yang menganggap bahwa bunuh diri sebagai solusi terbaik untuk keluar dari masalah-masalah yang ada. Para remaja ini merasa bahwa tidak ada yang mengerti apa yang mereka rasakan dan alami selama ini dan hal tersebut membuat mereka untuk cenderung mencari jalan keluar instan yang impulsif tanpa melakukan pemikiran yang panjang dan matang. Keberadaan teman dan orang tua atau guru seakan tidak dapat membantu mereka menyelesaikan masalah tersebut dan memilih untuk menyimpan masalah mereka sendiri hingga mereka tidak sanggup lagi.

Masa remaja sendiri juga kerap dianggap sepele dan tidak sebanding oleh sebagian orang dengan apa yang dialami oleh orang-orang dewasa. Hal ini jugalah yang membuat banyak remaja Indonesia merasa tidak dihargai dan diremehkan oleh masalah yang mereka alami.

Padahal, masa remaja sendiri memiliki resiko yang cukup besar  karena pada masa ini para remaja tersebut berada dalam kondisi sensitif dengan emosi yang bergejolak. Dengan kondisi yang sulit tersebut, jika tidak diberikan penyuluhan dan bimbingan yang tepat dan cukup, banyak remaja yang akan terjerumus pada pergaulan yang buruk serta hal-hal negatif lainnya.

Di masa inilah, peran masyarakat, khususnya peran orang dewasa, sangat besar dalam mencegah tingkat bunuh diri remaja yang semakin meningkat. Mereka dapat berperan sebagai penyelamat atau penasehat remaja-remaja tersebut untuk terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan serta memilih jalan keluar terbaik yang tidak akan merusak masa depan mereka. Dengan membangun komunikasi yang baik dengan para anak-anak atau remaja serta perhatian lebih dan khusus guna mengamati perkembangan mereka, diharapkan kasus-kasus bunuh diri yang terjadi pada remaja Indonesia dapat dicegah lebih cepat dan juga berkurang.

0 Comments