span 1 span 2 span 2

News

Mengenal 7 Tuntutan Mahasiswa Gunadarma yang Bikin Ribuan dari Mereka Demo Kampusnya Sendiri
Oleh : Vitorio Mantalean
10 Maret 2020
Dibaca Normal 5 Menit

News Overview

Gunadarma Demo
Sumber: klimg.com

Sempat lihat video-video tentang demonstrasi mahasiswa Universitas Gunadarma, Senin (9/3/2020) kemarin? Bagaimana pendapatmu?

Keren? Seru? Atau apalagi yang terlintas di benakmu?

Sepintas, demo mahasiswa Gundar kemarin tampaknya seru. Bagaimana tidak, ada ribuan mahasiswa tumpah ruah di plaza Kampus D Gunadarma, Jalan Margonda Raya, Depok. Mereka meneriakkan yel-yel perlawanan, membentangkan spanduk-spanduk protes, dan yang paling bikin merinding: jumlahnya banyak banget!

Kalau kamu lihat juga, mahasiswa-mahasiswa Gundar ini sempat long march, lho, terutama mahasiswa Gundar dari Kampus Kelapa Dua. Mereka jalan kaki, berarak-arak memenuhi jalan sampai ke Kampus Margonda. Definsi turun ke jalan.

Di plaza Kampus Margonda, ribuan mahasiswa Gundar itu ternyata mahasiswa dari semua kampus Gundar yang ada di seluruh dunia, termasuk Karawaci, Serpong dan Kalimalang, Bekasi. Sejauh itu mereka rela bolos, lalu pergi mendemo kampusnya sendiri.

Oh, jadi demo kampusnya sendiri? Kirain demo soal omnimbus law dll.?

Iya, mereka mendemo kampusnya sendiri karena Gundar dianggap punya banyak celah dalam sistemnya yang merugikan para mahasiswa.

Apa saja? Ini empat tuntutan utama mereka.


Sistem Pembayaran “Pecah Blanko” Versi Baru
 

Gunadarma Unjuk Rasa
Sumber: ugnews.gunadarma.ac.id

Gundar punya sistem “pecah blanko” atau cicilan pembayaran kuliah per semester. Awalnya, sistem ini maksudnya “baik” karena berniat membantu mahasiswa dan orangtuanya yang kesulitan membayar uang kuliah secara tunai di awal semester.

Masalahnya, pihak kampus mengubah sistem cicilan pertama-kedua dari 50-50, menjadi 70-30. Tentu saja, tak semua orang punya kemampuan finansial yang cukup buat membayar 70 persen biaya kuliah di awal semester. Apalagi, konon, kuliah di Gunadarma butuh lebih dari Rp 10 juta per semester.

Di samping itu, ancaman sanksinya juga enggak masuk akal. Mahasiswa yang enggak mampu bayar 70 persen biaya kuliah di awal semester bakal dianggap cuti. Lalu, kalau mereka mampu melunasi cicilan pertama tapi gagal melunasi cicilan berikutnya, mereka enggak bisa melihat nilai mereka, kemudian terancam tidak bisa melanjutkan kuliah di semester berikutnya.

Transparansi Anggaran
 

Mahasiswa Gundar pun menganggap bahwa uang kuliah yang sistem pembayarannya membebani itu tidak menghasilkan apa-apa. Soalnya, fasilitas kampus mereka masih belum bagus. Mereka pun mendesak pihak kampus agar buka-bukaan soal pengelolaan anggaran universitas. Soalnya, menurut mahasiswa, kampusnya tidak mencantumkan kejelasan soal biaya kuliah.

Mereka menuntut pihak kampus membeberkan semua anggaran secara rinci, termasuk biaya perkuliahan, dana kemahasiswaan, melalui situs online yang dapat diakses oleh mahasiswa.

Bentuk BEM Universitas
 

Mahsiswa Gundar juga mendesak kampusmya menerapkan seluruh statuta kampus secara lengkap. Jangan tebang pilih, seperti mengabaikan pelaksanaan pasal-pasal yang dianggap tidak menguntungkan bagi rektorat kampus.

Soalnya, dari ratusan pasal Statuta Universitas Gunadarma Pasal 218 ayat 2 yang mengatur soal keberadaan lembaga mahasiswa tingkat universitas enggak dijalankan. Maka, jangan heran kalau Gundar enggak punya Senat Mahasiswa Universitas (SMU) atau Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEMU).

Kejelasan Program Sertifikasi Profesi
 

Gini. Gundar itu katanya punya program sertifikasi profesi buat mahasiswa. Program ini menarik, karena nantinya mahasiswa bakal mengantongi sertifikat tanda ia menguasai dasar-dasar suatu profesi. Yah, walaupun program ini enggak gratis, tapi idenya cukup cemerlang.

Yang jadi masalah, program ini dijalankan dengan cara yang agak-agak semrawut. Menurut mahasiswa, ada banyak ketidakjelasan yang bikin mahasiswa gundah, mulai dari tenaga pengajar, anggaran, dan kualitas ilmu yang mereka peroleh.

"Sertifikasi profesi ini bermula pada mahasiswa angkatan 2017 yang terdiri sari 8 modul, dengan 1 modul tiap semesternya Rp.600.000,00." Kata Aliansi Mahasiswa Gunadarma dalam pernyataan sikapnya. Itu artinya, satu semester mereka mesti bayar (lagi) Rp 4,8 juta buat ikut program ini.

Tapi, mereka menyayangkan tenaga pengajar yang tidak berasal dari penyelenggara sertifikasi profesi.

"Tenaga pengajar berupa dosen dan asdos/aslab, bukan berasal dari BNSP sebagai penyelenggara sertifikasi profesi. Lalu, salah satu jurusan ada yang tidak mendapatkan pelatihan sertifikasi profesi, sedangkan tiap semester biaya tersebut tetap dibayarkan," tulis mereka.

Tiga Tuntutan Tersisa
 

Gunadarma Kampus
Sumber: bp.blogspot.com

Tersisa tiga tuntutan lagi dari empat tuntutan utama. Itu artinya, mereka membawa 7 tuntutan buat rektorat Gundar dalam demo besar-besaran kemarin.

Tiga tuntutan itu, yang pertama adalah mereka mendesak pihak kampus agar melahirkan kebijakan-kebijakan yang sebelumnya telah dibahas bersama mahasiswa. Mereka merasa, kebijakan-kebijakan yang lahir selama ini sepihak belaka. Salah satunya soal perubahan sistem “pecah blanko” tadi.

Kedua, mereka juga minta supaya pihak kampus menciptakan pemerataan fasilitas di 5 kampus Gunadarma yang tersebar di berbagai daerah. Soalnya, ada kampus yang bagus banget, seperti Kampus D di Margonda Depok, dan ada kampus yang biasa-biasa saja seperti Kampus Gundar di Kalimalang.

Di Kampus D Margonda Depok pun, tak semua fasilitasnya dalam keadaan bagus.

Terakhir, Aliansi Mahasiswa Gunadarma juga menuntut kampus mereka meninjau kembali segi kesejahteraan sivitas akademika mereka. Maksudnya, kesejahteraan dosen dan karyawan. Menurut mereka, banyak dosen dan karyawan yang mengeluh lantaran gaji yang mereka terima tidak sesuai dengan UMR/UMK.


Banyak juga ya? Kalau kamu, sudah pernah belum mendemo kampus sendiri?

Seperti yang kalian lihat di Gundar, demo tak selulu berakhir dengan vandalisme atau perusakan-perusakan, bukan? Demo justru bisa menjadi saluran aspirasi yang tepat buat menciptakan sistem yang sehat dan disepakati bersama. Setuju?

0 Comments