span 1 span 2 span 2

News

Mengapa Aksi Bullying Di Media Sosial Lebih Menyeramkan Dibandingkan dengan Dunia Nyata?
Oleh : Barlyant Vici Wijaya
26 November 2019
Dibaca Normal 6 Menit

News Overview

CyberbullyingSumber: gcflearnfree.org

Media sosial adalah sebuah media online dengan para penggunanya mampu berpartisipasi, berbagi pengalaman, hingga menciptakan konten dan opini. Kini media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat sebagai penopang interaksi dan relasi.

Di sisi lain media sosial tidak hanya berdampak postif, tak jarang media sosial dapat memberikan dampak negatif kepada para penggunannya, contoh nyatanya adalah prilaku bullying. Bullying yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti penindasan atau intimidasi adalah prilaku di mana satu orang atau lebih, yang mencoba untuk menyakiti dan mengontrol orang lain dengan cara kekerasan, baik verbal ataupun non verbal.

Perilaku bullying sendiri ada karena seorang individu atau kelompok merasa posisi status mereka lebih tinggi dari orang lain, sehingga objek dari bullying hanya dijadikan bahan untuk kepuasan batin dari para pelaku bullying. Lalu kenapa aksi bullying di media sosial lebih menyeramkan dibandingkan dengan dunia nyata? Berikut penjelasannya:


Tidak Benar-Benar Nyata
 

Cyberbullying
Sumber: pcdn.co

Berbeda dengan tindakan bullying yang terjadi secara online, pelaku bullying yang melakukan aksi bullying secara nyata bisa dilihat langsung oleh korban bullying tersebut. Ini justru sangat berbeda dengan prilaku bullying yang dilakukan secara online melalui media sosial. Pelaku bullying online hanya nyata secara digital, namun tidak nyata secara fisik.

Pelaku dari bullying online juga bisa sangat abstrak dan butuh effort lebih jika ingin menemukan siapa pelakunya. Ini karena di dalam dunia digital semua orang bisa dengan mudah memanipulasikan data-data mereka menjadi fiktif. Tak jarang para pelaku bullying yang ada di media sosial adalah orang-orang yang sebenarnya melakukan aksi tersebut hanya karena ‘iseng’ saja.

Dapat dikatakan orang-orang yang melakukan bullying di media sosial adalah orang-orang pengecut, orang yang tidak berani berhadapan langsung dengan objek bullying secara fisik di dunia nyata. Mereka memiliki keberanian minim, yang hanya mampu melakukan tindakan tersebut dibalik layar gawai pintar dan laptopnya saja.

Potensi Lebih Membahayakan
 

Media sosial sucks
Sumber: wtop.com

Dampak terburuk dari aksi bullying yang ada di media sosial adalah membuat korban menjadi depresi hingga bunuh diri. Ini karena bullying yang terjadi di media sosial ibarat kayu bakar, jika kayu bakar yang terkena api sedikit saja bisa membuat api yang lebih besar.

Ini sama halnya dengan bullying yang terjadi di media sosial, apabila aksi tersebut dilakukan secara terus menerus oleh banyak orang, maka semua orang di seluruh dunia bisa ikut melakukan aksi bullying dengan menggunakan media sosial. Bahkan efek yang ditimbulkan dari bullying yang dilakukan di media sosial justru lebih berat.

Ini karena pelaku bullying di media sosial tidak hanya dilakukan oleh individu saja, namun bisa kelompok dengan skala yang besar dari berbagai jenis kalangan di dalamnya. Belum lagi masalah penyelesaiaan yang lebih sulit jika dibandingkan dengan prilaku bullying secara langsung.

Pelaku bullying di media sosial belum tentu bisa ditemukan secara langsung karena memang dilakukan di dalam dunia virtual. Ini menjadi sangat berbahaya karena mediasi belum tentu bisa dilakukan jika hanya dengan menggunakan interaksi sekunder saja. Tak jarang para korban dari bullying di media sosial bisa sangat mengalami depresi, hingga menimbulkan perilaku bunuh diri.

Beberapa Aksi Bullying di Media Sosial
 

bully not okay
Sumber: independent.co.uk

Bullying yang dilakukan di media sosial sudah banyak membuat korban mengalami kecemasan berlebih, depresi, dan bunuh diri. Namun dari banyaknya korban yang sudah ada, ternyata pelaku bullying masih ada yang belum menyadari bahwa tindakan yang mereka lakukan adalah prilaku bullying di dalam media sosial.

Mengomentari bentuk fisik orang lain atau lebih dikenal dengan istilah body shaming adalah perkataan yang sering dilontarkan ketika seseorang terlalu gemuk atau kurus, dan tidak sesuai dengan bentuk badan ideal yang sudah dikonstruksikan di masyarakat.

Ras seseorang juga sering menjadi target bullying di media sosial, seperti melontarkan sifat-sifat stigma tertentu pada suatu ras, yang padahal sifat-sifat tersebut juga ada di banyak orang, dan tidak melekat pada satu ras tertentu saja. Selain itu merendahkan hobi seseorang juga sering dilakukan di media sosial, yang mana itu termasuk dari perilaku bullying.

Dan yang paling sering terjadi di media sosial Indonesia sebagai bagian dari perilaku bullying adalah, mengomentari orientasi seksual dan ekspresi gender seseorang karena dianggap tidak menjalankan sesuatu yang diharapkan oleh masyarakat. Akibatnya perilaku bullying di media sosial dengan mencampuri dan menghakimi urusan pribadi seseorang terjadi.


Bullying di media sosial nyatanya sudah banyak memakan korban, salah satunya yang baru-baru terjadi adalah artis Korea sekaligus mantan personel F(x) yang bernama Sulli memutuskan untuk bunuh diri karena mengalami depresi berat akibat komentar-komentar negatif di media sosial miliknya.

Di Indonesia sendiri artis seperti Gandhi Fernando, Andhika mantan personel Kangen Band, dan Marshanda juga pernah mengalami depresi dan hampir melakukan bunuh diri karena mendapatkan bullying di media sosial.

0 Comments