span 1 span 2 span 2

News

Maraknya Kajian dan Hijrah di Indonesia: Dampak Dakwah Via Medsos?
Oleh : Aldrian Risjad
07 Agustus 2019
Dibaca Normal 5 Menit

News Overview

Hijrah
Sumber: tstatic.net

Jika dahulu anak muda selalu identik dengan kenakalan remaja, kini terdapat sebagian – yang cukup besar – dari golongan masyarakat muda yang justru senang mendekatkan dirinya dengan Tuhan. Salah satunya adalah anak-anak muda yang aktif menghadiri kajian keagamaan hingga melakukan hijrah secara islami – mensejajarkan diri dengan prinsip-prinsip, aturan, serta anjuran dalam agama Islam.

Fenomena ini sebenarnya bukanlah fenomena yang baru terjadi di masa sekarang; hanya saja, tren ini terus berlangsung dan diamplifikasi via media sosial. Hijrah yang kini menjadi tren pun didefinisikan oleh Dr. Munirul Ikhwan, dosen pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebagai konsep yang menyatakan menjadi ‘muslim’ saja tidaklah cukup. Menjadi muslim haruslah melaksanakan segala kewajiban yang dilaksanakan serta menjadikan Rasulullah SAW sebagai role model – dengan menjalankan sunnah nabi.

Najib Kailani yang juga merupakan seorang dosen pascasarjana di UIN Sunan Kalijaga, menyatakan bahwa istilah hijrah muncul sejak tahun 1990-an. Istilah tersebut muncul ketika komunitas kajian-kajian islam di kampus mengadakan liqo dan halaqah (pembinaan agama). Atas sikap represif pemerintahan Soeharto terhadap gerakan Islam, tren hijrah pun menguat setelah Indonesia memasuki masa reformasi di akhir 1990-an.

Kini, gerakan kaum muda ke arah hijrah melalui kajian juga banyak terjadi melalui berbagai komunitas baik komunitas online maupun komunitas fisik. Komunitas Kajian Musawarah (Muda Sakinah Mawaddah Warahmah) merupakan salah satu dari banyaknya komunitas kajian Islam populer dan juga diinisiasi beberapa tokoh populer seperti Dude Herlino, Teuku Wisnu, Dimas Seto, dan juga Arie Untung.

Tidak dapat dipungkiri, kehadiran komunitas kajian yang demikian tentu memiliki kontribusi terhadap maraknya fenomena kajian dan hijrah di Indonesia; lebih lagi komunitas kajian yang dihadiri selebriti. Selain itu, cukup banyak di antaranya yang ditengarai oleh akses internet dan media sosial.


Akses Literatur Kajian Islam Populer Melalui Internet dan Medsos
 

Kajian Musawarah
Sumber: tstatic.net

Berkaitan dengan Komunitas Kajian Musawarah, para anggota kajian tersebut kerap kali membagikan materi kajian mereka melalui media sosial. Melalui media sosialnya, Arie Untung kerap membagikan materi dari kajian tersebut dan berbagi ilmu pada para pengikutnya di media sosialnya. “Ketika kita datang dengan seratus orang masing masing punya followers seribu aja maka seolah-olah dia memberikan ilmu pada seribu (orang), jadi multiple amal sih sebenernya mau dijalankan sama anak-anak ini,” ujar Arie Untung.

Selain pada Komunitas Kajian Musawarah, Komunitas Terang Jakarta yang juga merupakan ‘Komunitas Anak Muda Hijrah’ kerap membagikan informasi tentang kajiannya melalui situs resminya, yaitu terangjakarta.com. Situs ini juga menyediakan ruang diskusi antara anggota komunitas dalam kolom “Tanya Jawab”. Namun, kolom Tanya Jawab menyajikannya dalam bentuk artikel karena diskusi antara anggota terjadi dalam grup WhatsApp Terang Jakarta.

Terang Jakarta juga menyebarkan ‘semangat hijrah’-nya melalui tagar #HIJRAHKU dan merangkum cerita beragam orang dari beragam latar belakang akan hijrahnya – atau ‘hidayah’ yang didapat. Biasanya, #HIJRAHKU diramaikan dengan cerita orang-orang yang dulunya memiliki kebiasaan yang bertentangan dengan agama seperti senang bermabuk-mabukkan, lalu mendapatkan momen hidayah dan senantiasa berhijrah.

Kemunculan Figur Ustaz Seleb dan Medsos
 

Berbicara tentang ustaz, ustaz seleb dan medsos memiliki peran yang besar dalam (membentuk) keislaman masyarakat – lantaran pengikutnya yang banyak. Salah satu figur ustaz seleb yang sangat tersohor adalah Aa’ Gym yang cenderung memiliki gaya ceramah yang personal dan apolitis.

Kamu tipe introvert apa extrovert? yuk tes minat bakat di kinibisa

Beriringan dengan peningkatan kepercayaan masyarakat pada media sosial, ustaz yang berdakwah melalui media sosial pun akhirnya bermunculan. Felix Siauw juga merupakan salah satu pendakwah medsos yang sangat sukses dan kini memiliki 3 juta pengikut di Twitter. Setelah sukses dengan bukunya Yuk, Berhijab dan Udah Putusin Aja! yang berhasil diangkat ke layar lebar, kini Felix Siauw melebarkan corong dakwahnya ke medium yang sedang ngetren: Podcast.

Adanya ustaz yang berdakwah melalui media sosial menawarkan cara baru yang sebelumnya tidak dapat dilakukan: merespon dakwah secara interaktif dan langsung. Pada kolom komentar dakwah online Ustaz Zakir Naik, kita dapat hampir selalu menemukan perdebatan atau diskusi keagamaan yang dilakukan oleh para netizen. Hal ini cenderung berbeda dengan era belajar keagamaan sebelumnya yang justru menuntut kepatuhan – dan hal ini juga yang melanggengkan dakwah via medsos.

Fenomena kajian dan hijrah ini juga bukannya tanpa kritik. Najib Kailani menilai meluasnya praktik hijrah yang kini menguat dapat berujung pada menguatnya konservatisme. Hal itu ia lontarkan atas dasar fenomena kajian dan hijrah masa kini yang dikemas secara ringan dan menciptakan narasi hitam putih – alasannya, generasi muda tidak ingin dibingungkan dengan segala keambiguan dan beragam tafsirannya.


Fenomena hijrah dan kajian yang kini sedang marak pada dasarnya merupakan tren yang terbilang positif dalam kacamata keagamaan dan moralitas. 

0 Comments