span 1 span 2 span 2

News

Ketika Rumput Tetangga Lebih Hijau, Apa yang Harus Dilakukan?
Oleh : Barlyant Vici Wijaya
07 Januari 2020
Dibaca Normal 5 Menit

News Overview

iri hati
Sumber: klimg.com

Sebagai orang Indonesia pasti kalian sering mendengar peribahasa “Rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri”. Rumput yang dimaksud bukan rumput yang sering kita lihat sehari-hari, melainkan rumput yang dimaksud adalah apa yang dimiliki oleh orang lain biasanya akan terlihat lebih indah daripada apa yang sudah diri sendiri miliki.

Mempunyai pemikiran seperti itu memang tidak ada salahnya, namun jika pemikiran seperti itu terus ada dan senantiasa membuat iri hati, bahkan menjadi penyakit hati. Itu sudah salah besar, yang harus segera diobati dengan mengumpulkan rasa syukur pada diri kalian.

Padahal jika kalian telisik lebih dalam, rumput tetangga tidak selalu lebih hijau dari rumput yang kalian miliki. Namun, naluri subjektif manusia sering kali mengaburkan hal-hal yang seharusnya bisa lebih ditelisik secara lebih dalam lagi. Lalu apa yang harus dilakukan ketika melihat rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri?


Kumpulkan Rasa Syukur
 

syukurSumber: greatmind.id

Kapan terkahir kali kalian bersyukur dengan apa yang sudah kalian punya, bersyukur dengan setiap pencapaian yang diri kalian sudah dapatkan? Nyatanya bersyukur bisa membuat diri kalian merasakan bahwa rumput yang kalian punya lebih tumbuh subur jika dibandingkan dengan rumput tetangga. Melalui bersyukur hidup kalian akan jauh lebih merasa tenang.

Apa yang kalian rasa rumput tetangga lebih hijau, itu karena kalian lupa untuk mengurus rumput kalian sendiri. Caranya bagaimana mengurus rumput sendiri agar terlihat lebih hijau dari rumput tetangga? Yaitu dengan cara bersyukur. Melihat ke atas boleh-boleh saja, namun kalian juga jangan lupa untuk melihat ke bawah, apa lagi lupa melihat diri sendiri.

Ini supaya hidup kalian bisa seimbang, coba banyangka jika kalian sering melihat ke atas tanpa diiringi dengan melihat ke bawah, pasti kalian akan terus menerus merasa hidup kalian kurang. Sebaliknya, jika kalian sering melihat ke bawah tanpa sering melihat ke atas, pasti hidup kalian akan begitu-begitu saja. Apa lagi jika kalian sering melihat diri sendiri tanpa diseimbangkan dengan melihat ke atas dan ke bawah, rasa narsis berlebih pasti akan tumbuh pada diri kalian.

Telisik Lebih Dalam
 

Yang menjadi masalah besar lainnya adalah sering kali tidak kritis dalam menyikapi sesuatu hal. Apa yang sebenarnya kalian lihat, belum tentu itu yang terjadi sebenar-benarnya. Banyak hal yang tidak semua orang ingin bagikan di masa sedih, sering kali orang-orang hanya ingin memperlihatkan sisi senangnya saja, dan menyembunyikan rasa sedihnya serapat mungkin.

Sebagai contoh, tetangga kalian mendapatkan pekerjaan sebagai pramugari di maskapai yang terkenal. Sedangkan kalian hanya bekerja sebagai karyawan swasta yang tidak cukup terkenal perusahaannya. Kalian jangan melihat dari sisi senangnya saja pekerjaan tersebut, tetapi kalian juga harus melihat dari sisi yang berbeda dari pekerjaan tersebut.

Seberapa capeknya porsi takaran sebagai pramugari jika dibandingkan tempat kalian bekerja. Seberapa banyak waktu luang yang bisa didapatkan dari pekerjaan pramugari dan pekerjaan kalian. Seberapa besar tingkat stress dan tekanan dalam pekerjaan sebagai pramugari dan tempat kalian bekerja.

Pentingnya menelisik lebih dalam di setiap aspek kehidupan sangat dibutuhkan dalam menjalani hidup. Ini berguna untuk selalu tidak berpikiran bahwa rumput tetangga akan selalu lebih hijau daripada rumput sendiri, bahkan yang terlihat hijau belum tentu rumputnya lebih sehat bukan?

 

Jangan Subjektif
 

rumput tetangga lebih hijau
Sumber: ytimg.com

Lagi-lagi masih datang dari diri sendiri, pemikiran subjektif yang dimiliki manusia memang selalu membuat diri sendiri selalu merasa benar. Setelah bersyukur dan menelisik lebih dalam di setiap aspek kehidupan, hal yang harus kalian lakukan agar terhidar dari pemikrian rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri adalah jangan berpikiran subjektif dalam melihat sesuatu hal yang terjadi.

Misalnya kalian melihat orang lain membeli mobil, kira-kira apa yang terlitas dipikiran kalian pertama kali? Apakah kalian merasa orang tersebut mempunyai banyak uang sampai akhirnya bisa membeli mobil? Tapi tunggu dulu, itu terlihat masih sangat subjektif bila hal tersebut belum banyak orang lain yang mengatakannya. Bisa saja pembelian mobil tersebut bersifat kredit atau utang, bisa jadi seluruh uang yang mereka punya habis ketika sudah membeli mobil.

Sebelum kalian semakin subjektif, coba kalian objektif dalam melihat fenomena pembelian mobil. Biaya bensin yang tidak sedikit, belum lagi biaya perawatannya, bayar pajak, hingga terkena macetnya hiruk-pikuk perkotaan. Mempunyai mobil tidak selalu lebih enak daripada orang yang mempunyai motor, atau bahkan tidak mempunyai kendaraan sama sekali. Jadi berhenti berpikir subjektif, sebelum pemikiran kalian bisa membuat kalian susah dikemudian hari.


Memang benar kita sebagai manusia sangat tidak terbatas dalam memiliki segala kemauan, makanya sering kali kita melihat rumput tetangga selalu lebih hijau daripada rumput kita sendiri. Namun apakah benar yang hijau itu akan selalu memberikan kebahagiaan secara utuh?

0 Comments