span 1 span 2 span 2

News

Jeroan: Enak sih, Tapi Buat Kesehatan?
Oleh : Aldrian Risjad
12 Juli 2019
Dibaca Normal 3 Menit

News Overview

Gulai Tunjang
Sumber: detik.net.id

Dari beragamnya suku dan kebudayaan di Indonesia, banyak di antaranya yang menyajikan menu masakan jeroan sebagai makanan khasnya. Sebut saja, gulai tunjang pada masakan Padang, momoh yang merupakan makanan khas Kendal, Jawa Tengah, ataupun soto babat yang disebut-sebut sebagai salah satu makanan khas Betawi.

Hingga kini, masakan jeroan juga umum ditemui di dapur-dapur rumah tangga masyarakat dari desa hingga perkotaan. Di Indonesia, eksistensi dan kelahiran masakan jeroan dapat dikatakan merupakan sumbangsih dari kebijakan pemerintah untuk melakukan impor jeroan sapi; guna menekan harga daging sapi lokal.

Meski tidak semua orang menyukai masakan jeroan, cukup banyak masyarakat kita yang menggemari masakan jeroan. Tidak jarang pula, mereka memakan jeroan dalam kadar yang agak berlebihan sehingga menimbulkan potensi penyakit-penyakit tertentu.


Dampak Memakan Jeroan Secara Berlebihan
 

Salah satu dampak yang paling dahulu terjadi selepas memakan jeroan adalah meningkatnya kadar kolesterol dalam tubuh. Umumnya, orang-orang akan merasakan pusing di kepala dan pegal di bagian pundak serta leher selepas memakan jeroan ataupun makanan berkolesterol lainnya.

Selain kolesterol, jeroan juga memiliki kandungan lemak jenuh yang tinggi. Kolesterol dan lemak memang dibutuhkan oleh tubuh, namun jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan akan menyebabkan penumpukan kolesterol serta lemak dalam tubuh; yang dapat membentuk plak pada pembuluh darah sehingga pemuluh darah menyempit dan memicu terjadinya penyakit jantung. Penyakit ini biasa disebut sebagai aterosklerosis dalam dunia medis.

Jantung
Sumber: heartuk.org.uk

Anjuran Kadar Memakan Jeroan
 

Secara umum, jeroan dianjurkan untuk dimakan dalam jangka waktu yang tidak terlalu sering; terutama bagi orang-orang yang sudah dewasa. American Heart Association (AHA) menganjurkan manusia usia dewasa untuk tidak mengonsumsi makanan berkolesterol lebih dari 5 persen jumlah total kalori yang dikonsumsi sehari.

Selain kolesterol, konsumsi lemak – terutama lemak jenuh – juga harus diperhatikan mengingat kandungan lemak yang juga tinggi dalam jeroan. World Health Organization (WHO) merekomendasikan asupan lemak pada orang dewasa tidak lebih dari 30 persen asupan total energi per hari. Angka tersebut cukup sesuai dengan kadar yang direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan RI melalui Angka Kesehatan Gizi (AKG), yaitu sekitar 75 gram lemak bagi wanita dan 91 gram lemak bagi pria per harinya.

Kacang-kacangan
Sumber: kompas.com

Dari berbagai macam jeroan yang dapat dimakan, masing-masing memiliki kadar kolesterol dan lemak yang berbeda; juga dipengaruhi oleh cara masaknya. Oleh karena itu, sebaiknya tetap mengikuti anjuran-anjuran baik dari AHA, WHO, ataupun Kementerian Kesehatan RI sebagai panduan untuk memakan jeroan.

Selain resiko kesehatan atas kandungan kolesterol yang tinggi dalam jeroan, kolesterol juga memiliki manfaat baik bagi kesehatan. Kolesterol yang baik bagi tubuh disebut sebagai High Density Lipoprotein (HDL) yang berperan dalam mobilisasi kolesterol dari bagian tubuh lain untuk memasuki hati.

Baca juga: Manfaat Olahraga Untuk Kesehatan Otak

Kolesterol yang terbawa bersama HDL akan diproses dalam hati, kemudian dipecah dan dihilangkan oleh tubuh melalui proses pencernaan. Kolesterol HDL dapat ditemukan pada makanan-makanan, seperti kacang-kacangan, ikan, buah berserat tinggi, kedelai, dan juga minyak zaitun.


Selain dengan menjaga pola makan yang sehat, kita juga harus membiasakan olahraga secara teratur dan tidur yang cukup agar fungsi metabolisme kita dapat bekerja dengan optimal. Jangan juga mengharamkan segala makanan berkolesterol, ya!

0 Comments