span 1 span 2 span 2

News

Gerakan #MeToo dalam Melawan Pelecehan dan Kekerasan Seksual
Oleh : Halimah Nusyirwan
10 Januari 2019
Dibaca Normal 5 Menit

News Overview

Banyak kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi pada wanita di berbagai belahan dunia. Tak hanya wanita, laki-laki pun tak luput menjadi korban pada beberapa kasus yang ada. Kejadian-kejadian seperti ini tentu meresahkan banyak pihak masyarakat dikarenakan dampak yang terjadi pada para korban tersebut. Akan tetapi, sikap bungkam para korban kasus ini lebih mengkhawatirkan sehingga muncullah gerakan-gerakan sosial yang berusaha menjadi jalan keluar bagi masalah ini, yang salah satunya dikenal dengan gerakan #MeToo.


Kemunculan Gerakan #MeToo
 

#MeToo
Sumber: freepik.com

Gerakan #MeToo merupakan gerakan untuk melawan atau gerakan anti kekerasan seksual serta pelecehan seksual yang terjadi pada siapapun, terutama perempuan, dan di manapun. Pada tahun 2017, gerakan ini berawal dari tagar #MeToo yang saat itu mulai viral di internet semenjak aktris Amerika, Alyssa Milano menyuarakan kritiknya serta ajakannya untuk menggunakan hashtag #MeToo setelah berita mengenai kasus pelecehan yang dilakukan oleh produser film Amerika yang bernama Harvey Weinstein muncul dan tersebar di dunia maya. Harvey sendiri dituduh atas pelecehan, kekerasan, dan pemerkosaan yang ia lakukan selama ini dibalik industri hiburan Hollywood. Selama ia berkarir di industri perfilman, Harvey sudah memiliki puluhan korban dan banyak dari mereka yang kini berani melaporkan serta menuntut ia untuk perbuatannya tersebut.

Tagar #MeToo sendiri sebenarnya sudah diperkenalkan oleh Tarana Burke sekitar tahun 2006 ketika ia membuat kampanye “Empowerment Through Empathy” untuk mendukung women of color yang mengalami kekerasan seksual, khususnya mereka yang hidupnya kurang mampu. Setelah mendengarkan kisah seorang gadis berumur 13 tahun yang menjadi korban pelecehan seksual. #MeToo akhirnya kembali dipopulerkan oleh Alyssa dan hingga kini tagar tersebut menjadi salah satu gerakan atau kampanye besar yang selalu diperjuangkan oleh orang-orang di berbagai negara.

Kasus Kekerasan Seksual di Berbagai Belahan Dunia
 

#MeToo
Sumber: bwbx.io

Kasus pelecehan dan kekerasan seksual banyak terjadi di negara konflik dan berkembang. Somalia, Irak, Afganistan, Afrika, Suriah, dan India hanyalah beberapa negara yang memiliki persentase kekerasan dan pelecehan seksual yang tinggi dari banyaknya negara di dunia yang juga memiliki tingkat kasus yang serupa. Negara-negara tersebut malah menyalahkan korban dengan menyatakan bahwa apa yang terjadi pada mereka adalah hasil perbuatan mereka sendiri. Banyak dari para korban di negara-negara tersebut yang akhirnya memilih untuk bungkam dan tidak menceritakan tindak kejahatan tersebut pada orang-orang, bahkan keluarga terdekat sekalipun. Keadaan yang memprihatinkan seperti ini mengundang reaksi keras dari masyarakat dunia, terutama para aktivis yang membela hak korban seperti orang-orang yang mendukung gerakan #MeToo.

baca juga: Parasocial Relationship: Hubungan "Khusus" antara Artis dengan Penggemarnya

Kasus pelecehan dan kekerasan seksual memang banyak terjadi di berbagai negara konflik dan berkembang. Tetapi, negara maju seperti Amerika pun juga memiliki kasus dengan persentase yang cukup besar terjadi di negara tersebut. Di Amerika, kasus seperti ini paling banyak terjadi di tempat kerja dan institusi pendidikan. Banyak wanita yang dilecehkan oleh para bos mereka dan juga rekan kerjanya serta banyak pelajar yang dilecehkan oleh pengajar atau petinggi sekolah mereka serta teman-teman sesamanya.  Akan tetapi, diantara para korban tersebut hanya sedikit dari mereka yang berani menyuarakan dan melaporkan hal tersebut pada pihak berwajib karena mereka takut akan dipecat dari pekerjaan mereka akibat tuduhan pencemaran nama baik perusahaannya. Minimnya dukungan yang ditujukan untuk para korban semakin menyudutkan dan membungkam mereka untuk tetap diam dan tidak melapor.

Kasus Kekerasan Seksual di Indonesia
 

#MulaiBicara
Sumber: magdalene.co

Di Indonesia sendiri kasus pelecehan dan kekerasan seksual juga marak terjadi di tengah masyarakat. Masih ingat dengan kasus pemerkosaan gadis SMP yang bernama Yuyun? Ia tewas diperkosa oleh 14 pemuda dengan rentang usia 13 - 23 tahun. Selain Yuyun, Indonesia juga semat digemparkan dengan kasus pemerkosaan di angkutan umum pada tahun 2011. Tak hanya itu, kasus terbaru yang belum lama ini terjadi lagi adalah kasus pemerkosaan yang terjadi pada mahasiswi UGM ketika menjalani KKN.

Alih-alih dibela dan diperjuangkan haknya, para korban kasus-kasus tersebut disalahkan oleh oknum-oknum tertentu dengan menganggap bahwa apa yang terjadi pada mereka adalah hasil perbuatan mereka sendiri atau bisa dibilang sebagai kesalahan mereka sendiri. Yuyun disalahkan karena melewati perkebunan seorang diri yang mengakibatkan dirinya menjadi korban 14 kejahatan pemuda. Korban angkutan umum tahun 2011 juga terkesan disalahkan dengan alasan mengundang kejahatan dengan pakaian yang dipakainya saat itu.

Reaksi dan sikap menyalahkan korban seperti ini mendapat reaksi keras dari masyarakat karena menganggap bahwa korban menjadi penyebab utama atas apa yang terjadi dan patut disalahkan dibandingkan dengan para pelaku. Sikap perwakilan pemerintah yang menyalahkan korban ini tidak membantu para korban kasus serupa untuk berani menyuarakan pengalaman mereka. Selain itu, banyak korban yang merasa tidak terbantu dan malah disudutkan atau tidak nyaman ketika melaporkan kasus, seperti pemerkosaan, oleh para penyidik dan polisi yang dianggap bertindak kurang pantas mengingat mereka berhadapan pada korban yang baru saja mengalami kejadian traumatik. Bahkan banyak dari keluarga korban kasus seperti ini yang malah dikucilkan oleh keluarga mereka sendiri karena dianggap membuat malu dan mencorengkan nama baik keluarga.

Baca juga: Maraknya Body Shaming di Tengah Masyarakat

Tindakan dan sikap para petinggi negara dan keluarga yang tidak suportif pada para korban hanya membuat kasus-kasus seperti ini semakin banyak terjadi karena tidak beraninya para korban untuk melaporkan dan meminta bantuan atas apa yang terjadi pada mereka. Petugas negara yang seharusnya melindungi masyarakat juga banyak yang tidak menanggapi dan menangani kasus ini dengan sebaik-baiknya sehingga banyak para korban yang merasa percuma untuk mengadukan pelecehan dan kekerasan yang terjadi pada mereka dan memilih untuk diam dan pasrah dengan apa yang terjadi.

Kasus-kasus seperti ini tentu meresahkan warga, terutama para perempuan yang merasa bahwa Indonesia kini tidak lagi aman bagi mereka dan anak cucu mereka. Apa yang terjadi pada korban dari dua kasus tersebut hanya menunjukkan betapa buruknya perlindungan masyarakat di tanah air tercinta. Hal ini erat kaitannya dengan budaya seksis serta victim blaming yang masih tertanam di tengah masyarakat kita. Maka dari itu, gerakan-gerakan seperti #MeToo kini mulai dikenal di Indonesia,  salah satunya adalah #MulaiBicara sebagai bentuk protes pada apa yang terjadi dengan para korban kasus ini serta sebagai bentuk dukungan untuk para korban agar mereka tidak merasa semakin dirugikan, sendiri atau justru disalahkan. Meskipun gerakan ini lebih dikenal dan terdengar di negara-negara asing, namun gerakan #MeToo kini mulai terlihat di Indonesia setelah masyarakat sadar betapa buruknya dampak dari kasus-kasus ini pada masyarakat Indonesia.


Hal ini menunjukkan bahwa kasus pelecehan dan kekerasan seksual tidak pandang bulu dan negara sebab dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Sering terjadinya kasus-kasus ini membuat banyak pihak masyarakat yang merasa harus bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk menghentikan ini dan membantu para korban agar bicara guna menghentikan para pelaku untuk terus melanjutkan tindak kejahatannya.

0 Comments