span 1 span 2 span 2

News

Generasi Melek Politik x WALHI: Isu Lingkungan Alam Indonesia di Tengah Polemik PilPres 2019
Oleh : Halimah Nusyirwan
04 Oktober 2018
Dibaca Normal 5 Menit

News Overview

Ditengah maraknya berita PilPres 2019, Generasi Melek Politik (GMP), yang berada dibawah naungan Youth Initiative for Political Participation, bekerja sama dengan WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) mengadakan diskusi bersama pada hari Sabtu, 22 September 2018 yang berlokasi di Ke:Kini Ruang Bersama, Cikini, Jakarta Pusat, dengan mengusung tema “2019 General Election: No Matter What’s Your Political Spectrum Is – Environmental Issues Should Be On The Front!”.



Sumber: Dok. Kinibisa

Dalam diskusi yang berbentuk talkshow ini menghadirkan para narasumber ahli di bidangnya, yaitu Belinda Pritasari (Miss Earth Indonesia 2015 dan Putri Bahari Kep. Seribu 2014), Khalisa Khalid (Kepala Departemen Kampanye dan Perluasan Jaringan Walhi), Saras Dewi (Kepala Program Studi Filsafat Universitas Indonesia dan Aktivis Lingkungan), dan Belinda Sahadati Amri (Political Analyst of YIPP) sebagai moderator acara tersebut.

Acara ini membahas isu lingkungan secara umum yang terjadi di Indonesia. Masalah lingkungan di Indonesia sudah menjadi isu besar selama beberapa tahun ini. Bahkan, Indonesia kini sudah masuk kategori darurat ekologis dengan menjadi negara dengan penyumbang asap terbesar di dunia. Melihat masalah lingkungan yang dihadapi oleh Indonesia saat ini rupanya tidak lepas dari pengaruh serta peran politik. Maka dari itu, GMP X Walhi mengadakan acara ini untuk membangun awareness anak muda untuk sadar bahwa isu lingkungan ini penting dan perlu dimasukkan dalam agenda politik Indonesia.

Dosen Filsafat UI, Saras atau yang kerap disapa Yayas, menyampaikan salah satu isu lingkungan yang terjadi yaitu, Reklamasi Teluk Benoa yang terjadi di Pulau Dewata, Bali. Reklamasi ini merupakan hasil dari penyalahgunaan wewenang politik oleh para pemangku jabatan. Masalah yang terjadi di Teluk Benoa ini mengalami penolakan dari warga Bali atas proyek yang berakibat pada kerusakannya konservasi dan lingkungan perairan Teluk Benoa. Mengutamakan keuntungan dan mengesampingkan dampaknya pada lingkungan, tentu merugikan berbagai pihak demi keuntungan ekonomi semata.

Kepala Departemen Kampanye WALHI, Khalisa, juga menyampaikan hasil riset mengenai kondisi alam Indonesia. Ia mengatakan bahwa Indonesia memiliki sumber kekayaan alam yang berlimpah. Namun, tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah bagaimana caranya menjaga kekayaan tersebut dari ancaman kerusakan dan kepunahan. Alam Indonesia kini menjadi sumber uang akibat “obral-obralan’ izin yang dilakukan oleh oknum-oknum pemegang wewenang yang tak bertanggung jawab. “Semua hal ini karena pemberian izin yang luar biasa dari pemerintah pusat maupun dari pemerintah daerah,” katanya.

Bencana ekologis yang terjadi juga merupakan hasil salah urus yang berdampak pada rusaknya kekayaan alam, hilangnya habitat hewan yang berujung pada konflik manusia dan satwa, serta kerugian besar pada masyarakat yang tidak mampu untuk berobat dan anak-anak yang masih rentan. Sebagai paru-paru dunia, tentu bencana ekologis seperti kebakaran hutan yang seringkali terjadi di Kalimantan dan Sumatera, tak hanya membawa kerugian yang sangat besar untuk negara, tapi juga merugikan negara lain yang terkena dampaknya.


Sumber: Dok. Kinibisa

Pada diskusi ini juga dibahas mengenai isu sawit yang sempat marak dibicarakan masyarakat Indonesia, khususnya pada masa PilPres 2019 yang kini sedang menjadi topik hangat di masyarakat. Berubahnya fungsi kawasan lingkungan menjadi kawasan ekonomi, seperti yang terjadi pada kasus sawit di Indonesia memang tak dipungkiri sebagai sumber uang terbesar ekonomi negara.

Akan tetapi, banyak masyarakat, khususnya yang peduli dengan lingkungan, melihat sawit sebagai bisnis yang lebih banyak memberikan kerugian untuk masyarakat dan negara daripada keuntungan. Banyak dari perusahaan sawit tersebut yang tidak bertanggung jawab dengan bisnisnya. Hal ini terjadi dikarenakan adanya ketidak pedulian para politisi indonesia yang menjadikan sumber energi terbarukan seperti sawit dan batu bara sebagai peluang untuk ber”pesta” korupsi.

Para pembicara juga membahas pentingnya peran anak muda dalam sistem politik tanah air. Melihat masalah-masalah yang terjadi pada lingkungan Indonesia, diperlukan adanya partisipasi dalam bentuk kepedulian untuk lebih “melek” dengan kondisi politik Indonesia, khususnya para calon Presiden 2019 nanti. “Kita mengajak temen-temen untuk bersama-sama mengelaborasi agenda politik lingkungan ini,” ucap WALHI dalam misi keadilan ekologis untuk Indonesia yang lebih baik.


Sumber: Dok. Kinibisa

Besarnya dampak dari suara dan peran anak muda diharapkan dapat memperbaiki masalah yang ada untuk menuju Indonesia yang lebih baik. Maka dari itu, melalui acara ini GMP X WALHI bertujuan menjadikan masalah lingkungan untuk menjadi salah satu fokus agenda elektoral utama para politikus, terutama Capres 2019 nanti guna menuju Green Governance. Para generasi muda juga diharapkan untuk lebih peduli dengan keadaan alam sebagai salah satu contohnya, yaitu dengan melihat langsung keadaan alam Indonesia yang sebenarnya serta menggunakan suara mereka dalam politik praktis.

1 Comments

Hamzah Zakaria 19 November 2018 10:37:24

wagilaseh keren ini