span 1 span 2 span 2

News

Fenomena Cross Hijaber yang Membahayakan, hati-hati!
Oleh : Barlyant Vici Wijaya
04 November 2019
Dibaca Normal 5 Menit

News Overview

cross hijaber menyeramkanSumber: ytimg.com

Beberapa minggu belakangan ini media sosial telah dihebohkan oleh fenomena cross hijaber, yaitu laki-laki yang berpakaian layaknya seorang perempuan muslimah, lengkap dengan kerudung panjang hingga menggunakan cadar. Sebenarnya mungkin kalian sudah tidak asing lagi dengan laki-laki yang berpakaian layaknya perempuan, dan perempuan yang berpakaian layaknya laki-laki.

Hal semacam ini bisa kalian temui pada banyak selebgram dan influencer dengan cara berpakaian yang lintas gender. Kebebasan berpakaian memang dijunjung tinggi oleh negara, tetapi apakah laki-laki yang menggunakan hijab panjang layaknya perempuan muslimah, dapat diterima baik oleh masyarakat? Dan kenapa fenomena cross hijaber ini menjadi meresahkan bagi masyarakat, khususnya oleh para perempuan Muslimah?


 Berpotensi Membahayakan
 

cross hijaber berbahaya
Sumber: era-m.us

Ini berbeda dengan teman-teman kita yang menggunakan pakaian lintas gender karena alasan lebih nyaman dengan tampilan seperti itu, tentu dengan maksud dan tujuan berbeda. Teman-teman yang berpakaian lintas gender diluar fenomena cross hijaber sepertinya masih sangat menjunjung tinggi dari batas kenyamanan publik, seperti menggunakan toilet sesuai dengan jenis kelamin mereka.

Fenomena Cross hijaber sepertinya sudah melewati batas kenyamanan dari seorang perempuan muslimah yang biasa kalian lihat memakai pakaian panjang, longgar, dan serba tertutup, yang cenderung memang menghindari lawan jenisnya (laki-laki). Temuan fenomena soal cross hijaber berawal dari stigma kepada seorang laki-laki yang cenderung mempunyai hasrat seksual kepada perempuan dengan memakai pakaian muslimah lengkap dengan kerudung panjang hingga cadar.

Pada bulan Mei lalu di Sukoharjo, Jawa Tengah digegerkan dengan seorang laki-laki yang ditangkap masyarakat karena masuk ke dalam masjid dengan menggunakan cadar, lalu memeluk sejumlah jamaah perempuan yang ada di dalam masjid. Hal seperti ini yang justru meresahkan masyarakat khususnya perempuan muslimah, selain itu ada juga kasus napi di Rutan Salemba yang menggunakan pakaian kerudung panjang lengkap dengan gamis untuk melakukan aksi kaburnya pada tahun 2016 lalu.

Pontensi konflik dalam merusak citra dari perempuan muslimah juga dapat disebabkan oleh fenomena cross hijaber, nyatanya para cross hijaber sendiri sudah mulai berani masuk ke dalam toilet perempuan dan area khusus perempuan lainnya yang ada di dalam masjid.

Padahal masjid sendiri melarang keras bagaimana laki-laki dan perempuan ada di dalam satu area yang sama. Ditambah lagi para cross hijaber sudah mulai coming out di media sosial, yang mana tidak semua warga net menerima fenomena cross hijaber tersebut.

Niat dan Tujuan
 

cross hijaber membahayakan
Sumber: klimg.com

Jika dikulik lebih dalam lagi fenomena cross hijaber sebenarnya sudah banyak kalian temui dan dianggap biasa saja. Sebagai contoh berpakain seperti seorang muslimah untuk impersonate seseorang dengan tujuan menghibur, atau seperti seorang polisi yang memakai pakaian serupa untuk impersonate ibu-ibu berhijab demi menangkap komplotan begal.

Bahkan kebiasan cara berpakaian lintas gender sebenarnya sudah ada sejak zaman mitologi Yunani, yang saat itu digunakan sebagai alat untuk bertahan hidup untuk para laki-laki dari pasca Perang Dunia Pertama. Selain itu di Indonesia sendiri sudah ada tarian Lengger Lanang yang dilakukan oleh para laki-laki dengan antribut lengkap memakai pakaian perempuan.

Sebenarnya Ini kembali lagi dengan niat dan tujuan dari cara berpakaian seseorang jika menggunakan pakaian lintas gender. Jika para cross hijaber tersebut menggunakan pakaian tersebut dengan tujuan dan niat buruk seperti mencuri, pemuasan hasrat sekual, hingga merusak citra dari perempuan muslimah itu sendiri, justru ini menjadi masalah yang harus dituntaskan.

Hasrat Seksual dan Identitas Gender Berbeda
 

cross hijaber
Sumber: indozone.id

Jika seorang cross hijaber berkeinginan untuk menjadi perempuan atau memang dirasa lebih nyaman menggunakan pakaian tersebut, itu sudah masuk ke dalam ranah identitas gender. Tetapi jika seorang cross hijaber melakukan itu karena adanya fetish terhadap perempuan berhijab panjang serta bercadar, itu sudah masuk ke dalam definisi hasrat seksual.

Pada kenyataannya identitas gender dan hasrat seksual seperti fetish adalah kedua hal yang berbeda. Fenomena cross hijaber tidak sepatutnya dianggap sebagai fenomena berdimensi satu, karena niat dan tujuan identitas gender dengan hasrat seksual saja sudah berbeda, hanya saja fenomena cross hijaber memang terlihat dengan penampilan yang sama.

First impression dari munculnya fenomena cross hijaber memang sudah merusak citra, yang langsung menempel stigma di dalamnya, ini karena cross hijaber dianggap sebagai salah satu dari penistaan agama. Belum lagi banyaknya catatan kasus yang melekat pada cross hijaber seperti pelecehan dan kasus kriminal.

Apabila seorang cross hijaber berpenampilan seperti itu untuk melakukan tindakan kriminal hingga melecehkan, maka tidak ada salahnya untuk menghakimi cross hijaber tersebut. Namun, jika seorang cross hijaber berpenampilan seperti itu dengan tujuan menghibur atau dengan alasan lebih nyaman mengekspresikan cara berpakaian lintas gender, bukannya itu seharusnya tidak menjadi masalah?


Fenomena cross hijaber sepertinya memang menjadi hal yang cukup sulit untuk diterima masyarakat, karena cross hijaber sendiri sudah membawa embel-embel dari agama tertentu, yang isunya menjadi sangat sensitive. 

0 Comments