span 1 span 2 span 2

News

Degradasi Budaya Ondel-Ondel: Tergerusnya Kesenian Betawi
Oleh : Barlyant Vici Wijaya
24 Juni 2019
Dibaca Normal 4 Menit

News Overview

Bagi kalian yang bertempat tinggal di wilayah Jakarta, Depok, Tangerang dan Bekasi pasti kalian sudah tidak asing lagi dengan keseniaan Betawi yang bernama Ondel-Ondel. Ondel-Ondel yang belakangan ini sering sekali muncul di pinggir jalan raya memang selalu ada pro dan kontra dari masyarakat. Pasalnya, kesenian khas Betawi yang menyebar di jalanan raya Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi ini tak jarang mengganggu pengendara yang lewat. 

Ondel-Ondel merupakan sebuah bentuk pertunjukan khas masyarakat Betawi yang sering ditampilkan untuk acara pernikahan, sunatan, ulang tahun Jakarta, peresmian gedung, penyambutan tamu terhormat, dan pertunjukan kesenian Betawi. Ondel-Ondel yang berukuran kurang lebih tinggi 2,5 meter dan lebar 80 cm biasanya terbuat dari anyaman bambu dengan ciri khas Ondel-Ondel perempuan berwajah putih dan laki-laki berwarna merah.

Lalu apakah Ondel-Ondel yang sering muncul di jalan raya adalah salah satu cara mempertahankan eksistensinya? Atau memang sudah tidak ada ruang apresiasi untuk Ondel-Ondel?


ondel3
Sumber: indonesiakaya.com

Sejatinya, kesenian tradisional adalah aset pariwisata bagi wilayah itu sendiri. Ondel-Ondel merupakan salah satu aset kesenian tradisional khas Betawi yang kemunculannya sebagai ‘penolak bala’. 

Ondel-Ondel mempunyai dua versi asal-usul. yang pertama adalah dipercaya sebagai bentuk personifikasi nenek moyang untuk mengusir roh halus yang gentayangan. Yang kedua adalah Ondel-Ondel dipercaya sebagai perwujudan dari Dewi Sri atau Dewi Kesuburan. Dulu, masyarakat agraris Betawi percaya bahwa ondel-ondel akan memberikan kesuburan bagi sawah mereka. Sedangkan, Ondel-Ondel laki-laki adalah perwujudan dari hal buruk dan jahat yang menjadikan wajahnya merah dan juga bertaring.

Penurunan Nilai Ondel-Ondel
 

ondel
Sumber: detaktangsel.com

Penurunan nilai pada Ondel-Ondel muncul ketika banyaknya Ondel-Ondel yang menjelma sebagai pengamen di jalan raya untuk dijadikan sumber utama penghasilan. Memang dari dulu Ondel-Ondel sudah diarak keliling kampung, namun konteksnya tidak seperti sekarang. Dulu, Ondel-Ondel diarak untuk mengusir roh halus yang bergentayangan. Setelah itu, masyarakat yang kampungnya telah dilalui Ondel-Ondel akan berterima kasih dengan cara me-nyawer Ondel-Ondel tersebut. 

Tetapi, Ondel-Ondel yang muncul sekarang ini sudah terdegradasi. Ondel-Ondel yang turun di jalan memang mengharapkan imbalan dari hasil arakan tersebut. Berbeda dengan dulu, Ondel-Ondel tidak meminta disawer tetapi masyarakat yang memang berinisiatif me-nyawer Ondel-Ondel tersebut sebagai bagian dari bentuk terima kasih. 

Tidak hanya itu, Ondel-Ondel yang diarak biasanya menggunakan alat musik yang lengkap seperti kentongan, gendang, rebana, kecrek, gong, tekyan atau biola khas Betawi, dengan diiringi oleh satu orang yang melakukan pencak silat. Adanya Ondel-Ondel sebagai bagian dari pertunjukan kesenian Betawi memang menjadi ciri dari kesenian tradisional kota Jakarta. .

Baca juga: Selamat Ulang Tahun Jakarta

Nyatanya sekarang ini, hampir semua Ondel-Ondel yang turun kejalan hanya tampil seadanya tanpa menjunjung nilai-nilai kebudayaan Ondel-Ondel tersebut, seperti mengganti permainan alat musik menggunakan rekaman dan ketiadaan orang yang melakukan pencak silat atau tarian khas Betawi. Ini semua akhirnya mengakibatkan degradasi budaya terhadap nilai Ondel-Ondel.

Stigma Pada Ondel-Ondel
 

ondel
Sumber: kompasiana.com

Dulu Ondel-Ondel tampil saat ada perayaan acara tertentu untuk memeriahkan acara tersebut. Kini, Ondel-Ondel lebih sering ditemui di jalan raya sebagai pengamen yang kurang menyenangkan. Biasa berada di sisi kanan dan kirinya jalan raya dengan ukuran diameter hampir 80 cm, Ondel-Ondel sangat mengganggu pengendara yang melintas. 

Belum lagi perputaran Ondel-Ondel yang dianggap sebagai tariannya, juga seseorang dari bagian kelompok mereka yang meminta sumbangan dengan ember atau kantor kresek kepada pengendara yang lewat, yang akhirnya tidak jarang Ondel-Ondel membuat kemacetan temporer di jalan raya tersebut. Nilai budaya ondel-ondel kini tergerus dengan munculnya stigma masyarakat yang merasa terganggu dengan keberadaan Ondel-Ondel.

Melestarikan Dengan Cara Yang Salah
 

ondel22
Sumber: rmol.id
 

Maraknya Ondel-Ondel yang bertebaran di jalan merupakan salah satu cara mempertahankan eksistensi Ondel-Ondel ditengah modernisasi. Pandangan seperti ini memang tidak salah, namun bila ditelusuri lebih dalam, Ondel-Ondel masih mempunyai banyak tempat apresiasi yang layak selain acara-acara sakral, seperti di Kawasan kota tua Jakarta, TMII, Kawasan monas, kontes abang none, museum, perkampungan Betawi setu babakan, kantor walikota, dan kantor gubernur.

Ondel-Ondel yang bertebaran di jalan biasanya digerakkan oleh remaja yang masih usia sekolah, bahkan ada yang terbilang usia peralihan dari anak-anak ke remaja. Kalau dilihat dari sisi positif memang baik untuk menanamkan kebudayaan Ondel-Ondel dari usia anak-anak. Tetapi, apakah mereka akan paham betul bahwa untuk melestarikan budaya Ondel-Ondel dengan cara mengamen dan bukan dari pentas pertunjukan seni akan menurukan nilai-nilai budaya yang tertanam pada Ondel-Ondel tersebut? Banyak remaja dan anak-anak dari mereka yang putus sekolah dan memilih mencari nafkah dengan masuk sanggar Ondel-Ondel tertentu untuk menjadi medium agar dapat mengamen.

Baca juga: Info Beasiswa

Memang banyak sebab kenapa para remaja dan anak-anak itu ada yang putus sekolah dan memilih menjadi pengamen berkedok Ondel-Ondel. Menyalahkan nasib bukan menjadi suatu alasan untuk mereka, tapi kalau itu menjadi suatu penghinaan secara tidak langsung kepada budaya Ondel-Ondel itu sendiri, pemerintah kebudayaan DKI wajib mengkaji masalah ini dengan serius.


Ondel-Ondel yang kini tampil lebih humanis dan ramah memang menjadi inovasi  realistisnya perkembang zaman. Namun, apabila keramahan itu dianggap sebagai kemudahan berbudaya tanpa memikirkan nilai sakral dengan adaptasinya modernitas, Ondel-Ondel akan tergerus dalam kemerosotan nilai budaya itu sendiri.

0 Comments