span 1 span 2 span 2

News

Bystander Effect: Ketika Sikap Diam Menghalangi Kita Untuk Menolong
Oleh : Halimah Nusyirwan
15 Desember 2018
Dibaca Normal 5 Menit

News Overview

Pernahkah kalian melihat kerumunan orang-orang yang sedang menonton orang berkelahi atau sedang di bully? Dan kalian bertanya-tanya kenapa tidak ada yang melakukan sesuatu untuk menghentikan hal tersebut, seperti yang terjadi di kasus kecelakaan bus maut di Tanjakan Emen, Subang, Jawa Barat? Atau mungkin kalian justru pernah menjadi salah satu penonton dari kerumunan itu? Sikap diam tersebut memang memiliki kesan yang tidak baik karena tidak adanya tindakan yang dilakukan untuk menghentikan kejadian tersebut. Namun, sikap diam para penonton ini lumrah terjadi dan merupakan salah satu fenomena psikologi yang terjadi karena adanya berbagai faktor yang mempengaruhi.


bystander
Sumber: cloudfront.net

Bystander Effect merupakan fenomena psikologi mengenai sikap orang-orang yang menjadi penonton dan tidak melakukan apa-apa ketika terjadinya suatu keadaan darurat. Fenomena ini sering terjadi di sekitar kita dan bahkan sering kita lihat di berbagai keadaan darurat yang terjadi. Awal mula munculnya sebutan bystander effect ini merupakan hasil penelitian dua Psikolog sosial bernama John Dartey dan Bibb Latane (1968).

Pada tahun 1964, terjadi kasus pembunuhan yang dilakukan oleh pembunuh berantai bernama Winston Moseley pada wanita berusia 28 tahun bernama Catherine Susan Genovese, atau yang lebih familiar dengan nama Kitty Genovese di apartemennya yang berlokasi di kota New York City, Amerika Serikat. Masyarakat Amerika dan dunia kala itu dihebohkan oleh kematian Kitty terlebih lagi dengan fakta bahwa saat Kitty berteriak minta tolong, tidak ada satupun dari 38 orang tetangganya yang datang untuk menolongnya meskipun mereka melihat dan mendengar adanya kejadian tersebut saat itu.

Kasus ini akhirnya membuat kedua Psikolog sosial, Dartey dan Latane, untuk melakukan studi dengan fenomena respons para tetangganya yang akhirnya menjadi awal mula munculnya teori bystander effect.

Apa penyebab munculnya Bystander Effect?
 

dokumen
Sumber: businessinsider.com

Menurut studi yang dilakukan kedua psikolog sosial ini, ketika orang-orang (bystander) berada di sebuah grup berisi lebih dari 6 orang, maka hanya 31% dari mereka yang akan menolong. Akan tetapi ketika para bystander ini sendirian, 75% dari mereka akan menolong. Hal ini menunjukkan adanya yang disebut dengan “difusi tanggung jawab”  yaitu hilangnya rasa tanggung jawab untuk menolong akibat keberadaan orang lain yang berdampak pada munculnya sikap diam dari para bystander ini. Mereka akan merasa bahwa apa yang terjadi bukanlah tanggung jawab mereka dan masih banyak orang-orang selain mereka yang akan membantu nantinya.

Anggapan seperti inilah yang akhirnya membuat tak satupun orang yang bergerak untuk menolong karena mereka saling bergantung dengan yang lain dan beranggapan akan ada yang datang menolong. Keberadaan mereka yang berada di tengah kerumunan orang-orang membuat para bystander seakan-akan “menghilang” di tengah keramaian tersebut dan hal itu menimbulkan rasa “tidak harus menolong”.
 

bystander
Sumber: slate.com

Alasan lainnya yang membuat adanya fenomena ini adalah rasa takut untuk disalahkan atau bertanggung jawab dan juga rasa takut menjadi korban selanjutnya. Mereka merasa jika menolong sang korban, mereka akan disalahkan atas apa yang terjadi dan bahkan mungkin dimintai pertanggung jawaban meskipun apa yang terjadi pada korban bukanlah perbuatan mereka. Maka dari itu, mereka memilih untuk tidak ikut campur dengan apa yang terjadi.

Tak hanya itu, para bystander juga merasa takut untuk menolong karena jika mereka ikut campur dengan apa yang terjadi, terlebih lagi jika kejadian yang terjadi sangatlah berbahaya, hanya akan memicu kemarahan pelaku yang akhirnya membuat mereka menjadi target selanjutnya yang akan mengalami hal serupa, seperti yang terjadi pada kasus meninggalnya Hugo Alfredo Tale-Yax pada tahun 2010.

Selain itu, tidak kenalnya para bystander dengan sang korban serta pengalaman yang dimiliki juga mempengaruhi sikap mereka dalam menolong di situasi darurat. Orang-orang cenderung memilih untuk menolong orang yang mereka kenal, baik itu keluarga, teman, dll. Namun, jika yang menjadi korban adalah orang yang tidak mereka kenal, para bystander ini akan merasa ragu untuk menolong karena mereka tidak mengerti atau tahu situasi dan kejadian seperti apa yang sebenarnya terjadi.

Jika para bystander memiliki pengalaman serupa, seperti pernah di bully atau mengalami kekerasan, mereka biasanya lebih tanggap dalam menolong orang yang mengalami hal serupa karena adanya perasaan untuk saling membantu sesama mereka.


Fenomena bystander effect ini memang menjelaskan faktor-faktor di balik tindakan dan sikap diam orang-orang ketika berada di situasi darurat. Tak bisa disalahkan juga jika kita menjadi salah satu orang yang mengalami fenomena ini. Akan tetapi, akan lebih baik jika kita dapat membantu sesama individu yang membutuhkan, terlebih lagi jika mereka berada di situasi yang berbahaya dan sangat membutuhkan pertolongan kita.

Tidak perlu menunggu orang lain untuk bergerak jika kita bisa menolong dengan segera karena dengan begitu, para bystander lain akan tergerak untuk ikut menolong daripada bersikap diam yang hanya akan berakhir dengan dihantui oleh rasa bersalah karena tidak melakukan apa-apa.

0 Comments