span 1 span 2 span 2

News

Anak Senja: Asal Usul, Stereotip, Hingga Dampak Pada Industri Musik
Oleh : Aldrian Risjad
14 Agustus 2019
Dibaca Normal 4 Menit

News Overview

Senja
Sumber: wp.com

“Anak indie sore-sore gini biasanya lagi menatap senja sambil menenteng beban hidupnya pake tote bag.” -@handokotjung

“Anak indie gak nyebut sahur nyebutnya TigaPagi” -@alponjing

Seberapa seringkah kita mendengar istilah ‘anak senja’ dalam kehidupan sehari-hari? Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan anak senja? Pujiankah atau justru cacian? Apa dampaknya pada perkembangan skena musik independen?

Istilah anak senja dapat dikatakan merupakan sebutan lanjutan dari istilah ‘anak indie’ yang suka mendengarkan lagu-lagu folk, akustik, lirik puitis, dan memiliki penuansaan senja dalam lirik-liriknya; disertai atribut anak senja seperti kopi dan senja. Musik-musik favorit anak senja kini pun kerap disebut-sebut sebagai musik dengan genre folk atau indie-folk.

Berkaitan dengan musik folk, Haikal Azizi yang merupakan vokalis dari Sigmun menyatakan bahwa “akhir-akhir ini kadang cuma karena mainnya pake gitar akustik langsung dicap folk. Padahal genre ini luas banget”, ujarnya ketika diwawancara oleh VICE. Atas definisi yang terkesan simplistik, kini folk hanya dilihat sebagai musik komposisi minimalis, lirik liris, dan nuansa musik akustik.

Musik folk yang kini sedang populer juga kerap kali menggunakan kata ‘senja’ dalam judul maupun lirik lagunya. Sebut saja, “Senja di Jakarta” oleh Banda Neira, “Diskusi Senja” oleh Fourtwnty, dan “Nona Senja” oleh Fiersa Besari. Tidak terbatas hanya pada judul dan lirik lagu, beberapa musisi bahkan menyelipkan kata senja sebagai nama panggungnya, seperti yang terjadi pada Senar Senja dan juga Dialog Senja.

Sejak kelahiran berbagai musisi independen dengan konsep lagu-lagu demikian, para pendengarnya pun semakin sering pula meromantisasi senja; terutama di media sosial. Di media sosial, muda-mudi memotret kopi dan senja serta senantiasa menyertakan caption dengan lirik lagu indie terfavorit. Beberapa musisi pun menjadi favorit anak-anak yang disebut sebagai anak senja, seperti Fourtwnty, Danilla, Fiersa Besari, Senar Senja, Payung Teduh, dan masih banyak lagi.


‘Anak Senja’ Lahir Sebagai Bentuk Sindiran
 

Sebagai respon dari ramainya dunia maya akan konten romantisasi musik indie, senja, dan kopi, warganet mulai menggunakan istilah ‘anak senja’ untuk menyebut golongan anak-anak indie tersebut. Sebutan tersebut juga tidak bernilai netral, melainkan bernada sarkas.

Istilah anak senja pun populer melalui media sosial, terutama Twitter. Di Twitter, warganet pun banyak yang menyematkan istilah anak senja sembari menyindir gaya hidup anak senja. Berbagai guyonan pun mulai menyebar mengenai anak senja, seperti “senja, kopi, asam lambung, lalu mati”.

“Senja, kopi, senja, kopi mulu gak takut asam lambung apa yak?” -@Moohd_Ilham

Bahkan, cuitan tersebut juga dibalas oleh warganet lainnya yang menambahkan bahwa anak indie cenderung memiliki penyakit lambung lantaran kebiasaan meminum kopinya.

“Sobat indie kebanyakan punya penyakit maag kronis.” -@s00ngoesdown

Kopi
Sumber: kompas.com

‘Anak Senja’ Starter Pack
 

Starter pack anak indie atau anak senja mulai dari kopi, cara berpakaian, preferensi musik, hingga tempat bermain seakan menjadi bumbu pelengkap stereotip anak senja. Fungsi starter pack ini tidak jauh beda, yaitu sebagai alat untuk mendistingsi dan mengidentifikasi anak senja; lebih jauh lagi, juga digunakan untuk menyindir anak senja.

Baca juga: Jurusan Musik Terbaik di Indonesia

Salah satu bentuk lelucon mengenai starter pack anak indie dilontarkan oleh akun Twitter @JukiHoki yang berbunyi, “TUTORIAL JADI ANAK INDIE: gunakan kata-kata seperti Filosofi, kopi pahit, kenangan, aroma, elegi dll”. @aldoaldoan_ juga membalas cuitan tersebut dengan menambahkan elemen lain ke dalam tutorial, yaitu “Penikmat senja, pecandu kopi, pemadam kebakaran”.

Apa Dampaknya?
 

Pada ekosistem musik, banyak lagu-lagu yang akhirnya mengalami penurunan nilai akibat diasosiasikannya lagu yang diciptakan terhadap ‘lagu-lagu senja’; tanpa melihat lebih jauh kualitas dari lagu itu sendiri. Ketika lagu tersebut dimainkan dengan gitar akustik, berlirik puitis, dan (apalagi jika) memuat lirik senja, lagu tersebut kemungkinan besar akan digolongkan ke dalam stereotip lagu senja.

Tentunya, dampak yang tercipta akibat stereotip anak senja tidak baik bagi ekosistem di industri musik; atas terciptanya kelompok lagu-lagu senja. Hal ini juga menyebabkan kewaspadaan pada kalangan musisi ketika mereka sedang melakukan proses kreatifnya. Mereka akan lebih waspada untuk menulis dan berhati-hati apakah lagu yang ia tulis ‘terlalu senja’.

Mengingat istilah anak senja ada pada lingkup pendengar, tentu dampak yang terlihat signifikan ada pada komunitas pendengar. Para pendengar lagu-lagu indie folk atau anak senja kini seakan memiliki posisi yang patut ditertawakan dan diwajarkan untuk diejek; seakan mereka memang sah untuk dijadikan ejekan. Lebih jauh lagi, akan ada kelompok komunitas pendengar yang memiliki posisi lebih superior dan berpotensi untuk semakin mendiskreditkan anak senja.

Stereotip
Sumber: twimg.com


Jika dilihat secara makro, penggunaan kata anak senja sebagai sindiran tidaklah baik bagi ekosistem industri musik secara keseluruhan kendati merugikan musisi-musisi yang memang memiliki karakter demikian. Seandainya memang musik akustik dan lirik puitis adalah keahlian serta identitasnya sebagai musisi, kondisi yang demikian sangat merugikan baginya.

Baca juga: Festival Musik Tahunan Terpopuler di Indonesia

Kondisi ini berpotensi menyebabkan para musisi kekurangan ruang untuk bisa bermusik dengan jujur, lantaran para pendengar yang langsung mengasosiasikan musik tertentu dengan stereotip senja tanpa memikirkan kualitas musik yang dihasilkan.

0 Comments