span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Riri Riza: Sineas Kreatif Yang Membangunkan Perfilman Indonesia
Oleh : Nanda Aulia Rachman
09 Mei 2018

Highlight

Film sesungguhnya punya tanggung jawab dan dapat berperan penting untuk kemajuan kemanusiaan.

riri riza
Riri Riza adalah seorang sutradara andal asal Indonesia. Film-film buatannya pun selalu menjadi film box office, sebut saja Laskar Pelangi Ada Apa dengan Cinta? 2.
Sumber: sidomi.com

Ia merupakan salah satu sutradara di Indonesia yang paling disegani saat ini. Karya-karyanya pun diakui penonton sebagai film yang sangat menarik. Buktinya, film-film ciptaannya seperti Laskar Pelangi dan Ada Apa dengan Cinta? 2 telah ditonton oleh jutaan pasang mata. Simak kisah inspiratif Riri Riza bersama Kinibisa!



" Lewat film, pria berambut ikal ini ingin mengangkat persoalan hidup yang berkembang di masyarakat, sehingga masyarakat akan terbuka mata hatinya."

Mohammad Rivai Riza lahir di Makassar, 2 Oktober 1970. Ia adalah seorang sutradara, penulis naskah, produser film yang lebih dikenal dengan nama Riri Riza. Karya film yang diproduksinya meliputi film dokumenter, video klip, iklan layanan masyarakat dan film layar lebar. 

Dalam beberapa tahun terakhir ini ia kerap kali disandingkan dengan sahabat sekaligus rekan sesame sineas, Mira Lesmana dalam berbagai proyek filmnya. Ia dianggap sebagai salah satu motor dari kemajuan film Indonesia di awal tahun 2000.

Sebagai sutradara kawakan dalam dunia perfilman Indonesia, Riri dikenal akan kemampuannya menggebrak batas-batas genre konvensional sekaligus meraih kesuksesan layar lebar.

Latar Belakang Riri
 

hobi seni sejak smpRiri mempunyai ketertarikan dengan dunia seni sejak duduk di bangku SMP, khususnya Seni Musik.
Sumber: inovasee.com

Riri Riza kecil menempuh pendidikan di SMA Labschool Jakarta. Pada awalnya, ia lebih dikenal sebagai anak band. Citra itu lekat lantaran sejak SMP ia memang punya hobi bermain musik dan nge-band dengan teman-temannya.Makanya pilihan Riri mengambil jurusan film di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) terdengar aneh dan mengada-ngada saat itu. "Begitu tahu di sana ada jurusan film, saya malah lebih tertarik untuk memasukinya". tutur Riri, yang juga punya hobi fotografi itu dikutip dari Ahmad.web.id (2004).

riri riza kedua dari kanan
Riri Riza (kedua dari kanan) semasa SMA dengan bandnya.
Sumber: aws-dist.brta.in

Ketertarikan Riri terhadap dunia film tidak datang begitu saja. Sejak kecil, boleh dibilang ia sudah akrab dengan hal-hal berbau film. Ayahnya, seorang pejabat di Departemen Penerangan di era Orde Baru, sering mengajaknya ke pelosok-pelosok daerah untuk memutar film pembangunan. Hal itu menjadi kesenangan tersendiri baginya.

Pilihan Riri tidak keliru. Berkat kerja kerasnya, dia berhasil lulus dengan gelar lulusan terbaik pada angkatannya. Film pertamanya ia rampungkan pasca lulus dari IKJ pada tahun 1993. “Sonata Kampung Bata”, film pendek garapannya menerima penghargaan di festival film pendek di Oberhausen, Jerman dan ditayangkan di berbagai festival di Asia, Eropa dan Amerika. Kemampuan bercerita yang luar biasa serta kreativitas artistiknya sudah terlihat sejak dulu.

Sepulangnya dari Jerman, bakat Riri semakin tak terbendung. Ia terlibat dalam pembuatan sejumlah film -- baik film pendek, film dokumenter, film televisi, sinetron, ataupun film layar lebar. Sebut saja, Siulan Bambu Toraja (film dokumenter), Buku Catatanku (film televisi), Kupu-Kupu Ungu, episode Emilia dan AIDS (sinetron), Kuldesak, Petualangan Sherina, Ada Apa dengan Cinta, dan Eliana, Eliana (film layar lebar). 

Di antara film-film itu Riri juga sempat bertindak sebagai sutradara, penulis skenario, dan produser. Meski begitu, ia lebih tertarik untuk berkonsentrasi di bidang penulisan skenario. Oleh karena itu ia pergi ke Inggris untuk melanjutkan studinya. Royal Holloway University, London menjadi tujuannya. Ia mendapatkan gelar Master Penulisan Skenario di Departemen Seni dan Media pada tahun 2001.

memberikan arahan kepada aktrisRiri Riza sedang memberikan arahan kepada aktris dalam kegiatan shooting sebuah film.
Sumber: straight.com

Berpasangan dengan Mira Lesmana
 

mira lesmana dan riri riza
Mira Lesmana dan Riri Riza.
Sumber: dewimagazine.com

Film feature pertama Riri Riza adalah Kuldesak pada tahun 1998. Sebuah drama komedi hitam yang menggambarkan kehidupan kota di Jakarta dengan perspektif dari beberapa orang. Film ini merupakan kolaborasi pertamanya dengan Mira Lesmana.

“Kuldesak adalah kunci juga fondasi kolaborasi kami berdua. Saat itu, kami sadar membuat film selalu dimulai dari ide yang bisa dipercaya. Dari ide dasar kemudian menjadi sinopsis, lalu naskah. Semua proses itu dilakukan bersama. Saya, Mira, Nan T. Achnas, serta Rizal Mantovani,” demikian Riri Riza mengenang dilansir dari Tabloid Bintang (13/03/2016).

Film yang dibuat sejak tahun 1996 ini dianggap sebagai salah satu tonggak dari bangunnya film Indonesia saat itu. Film ini berhasil ditayangkan International Film Festival di Rotterdam, Belanda satu tahun kemudian. Kuldesak meraih nominasi untuk Silver Screen Award- Best Asian Feature Film dalam Singapore International Film Festival di tahun yang sama.

Setelah Kuldesak, Riri Riza kembali membawa penyegaran di industri film Indonesia. Film drama musikal, Petualangan Sherina hadir di layar perak. Film ini merupakan karya solo pertamanya sebagai seorang sutradara. Bersama Mira Lesmana sebagai produser, film ini meraih respon positif dari para kritikus dan khalayak. Di masa dimana film Indonesia masih digandrungi oleh cerita horror dan picisan, drama musikal yang dihadirkan Sherina menjadi sebuah inovasi tersendiri

saat syuitng athirah
Riri Riza saat syuting film Athirah pada tahun 2016.
Sumber: klimg.com

Selain itu, Riri pernah terlibat dalam produksi film internasional.Ia pernah menjabat sebagai asisten sutradara Mark Peploe seorang sutradara berkebangsaaan Britania Raya di film drama, Victory, pada tahun 1996. Lelaki ini juga pernah menjadi penata artistik sebuah serial tv keluaran PBS, Great Performances pada dua episodenya pada periode tahun 1997-1998.

Jaminan Kesuksesan
 

Nama duo ini menjadi begitu besar dalam industri film Indonesia. Selepas Petualangan Sherina, Riri dan Mira terus berkarya dan menghasilkan karya-karya fenomenal. Banyak dari film mereka yang laris manis di pasaran. Nama mereka seakan jadi jaminan kesuksesan.

Tengok saja Gie, seri Ada Apa dengan Cinta dan seri Laskar Pelangi. Ketiga judul film itu merupakan film blockbuster Indonesia yang mengundang decak kagum penonton Indonesia. Selain ketiga film itu, masih banyak hasil pekerjaan Riri yang cemerlang namun tak terlalu terekspos layaknya tiga judul film sebelumnya, seperti Untuk Rena, Eliana Eliana, dan 3 Hari Untuk Selamanya.

“Ada Apa Dengan Cinta” yang diproduseri Riri dan Mira menjadi sebuah ikon percintaan romantic anak muda sejak tahun 2002. Cinta dan Rangga sudah lekat dengan generasi 90’an dan menyebar ke generasi selanjutnya. Pesona Nicholas Saputra dan Dian Satrowardoyo masih tetap terjaga sampai seri kedua yang dibuat pada tahun 2016. Di seri kedua ini, mereka bertemu kembali setelah terakhir kali berpisah satu sama lain ketika Rangga memutuskan untuk studi ke Amerika Serikat.

rangga dan cinta
Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastro) di film AADC 2, salah satu film besutan Riri Riza yang menjadi box office.
Sumber: klimg.com

Pada tahun 2005 Ia menulis sekaligus menyutradari film “Gie” yang kemudian memenangkan penghargaan untuk Film Terbaik, Aktor Terbaik dan Sinematografi terbaik di Festival Film Indonesia 2005, penghargaan Special Jury Prize di Singapore International Film Festival 2006 dan Special Jury Prize di Asia Pacific Film Festival 2007.

Film Laskar Pelangi, karyanya yang dirilis bulan September 2008 hadir dengan kesuksesan fenomenal, memecahkan rekor sebagai film box office Indonesia saat itu dengan jumlah penonton bioskop terbanyak dengan 4,6 juta penonton bioskop.

Film ini juga terpilih tayang di ajang bergengsi Berlin International Film Festival (Berlinale) 2009, diundang lebih dari 20 festival film internasional di 5 benua dalam kurun waktu 1 tahun setelah rilisnya, dan mendapat beberapa penghargaan bergengsi, diantaranya SIGNIS Award dari Hong Kong International Film Festival 2009. Sekuelnya, Sang Pemimpi, juga berhasil meraih animo yang sama besarnya.

Arti Film Bagi Riri Riza
 

riri riza wawancara
Riri Riza saat dalam sebuah sesi konferensi pers.
Sumber: aktual.com

Bagi Riri, film bukan cuma sekadar ladang uang dan ajang mencari nafkah. Ia (film) adalah alat perjuangan. Lewat film, pria berambut ikal ini ingin mengangkat persoalan hidup yang berkembang di masyarakat, sehingga masyarakat akan terbuka mata hatinya.

Untuk target jangka panjang, Riri ingin membuka sekolah penulisan skenario film. Sementara ini ia ingin membuat film tentang kehidupan pasar tradisional di Indonesia. "Di pasar itu kita bisa melihat karakter manusia yang sebenarnya," katanya. "Barangkali, di sanalah tempat hidup yang sesungguhnya," tambah suami dari Wilita Putrinda dikutip dari Ahmad.web.id (2008).

baca juga: kisah inspiratif Mira Lesmana

Film juga, menurut Riza, mempunyai tanggung jawab untuk kemanusiaan. "Film sesungguhnya punya tanggung jawab dan dapat berperan penting untuk kemajuan kemanusiaan," kata ayah Liam Amadeo Riza ini dikutip dari Tokoh Indonesia (22/06/2012). Film juga tak hanya sebagai saran hiburan tapi juga dapat menyuguhkan sesuatu yang dapat menyentuh serta memberi pandangan dan pemikiran baru menurut pandangan alumnus dari Royal University.

Menjadi seorang sutradara andal seperti Riri Riza pastilah tidak mudah, diperlukan bakat, kemauan dan kerja keras untuk mencapai posisinya saat ini. Ingin menjadi sineas berbakat seperti dia? Mari bergabung bersama Kinibisa untuk mewujudkan generasi kompeten Simak pula kisah tokoh-tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!