span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Mira Lesmana: Produser Bertangan Dingin Tonggak Kebangkitan Film Indonesia
Oleh : Nanda Aulia Rachman
07 Mei 2018

Highlight

Saya bilang ke orang tua bahwa kalau saya selesai sekolah, saya mau jadi pembuat film. Mereka mengizinkan lalu menyuruh saya sekolah film.

mira lesmana
Mira Lesmana merupakan seorang produser yang telah menghasilkan film-film legendaris seperti Laskar Pelangi dan Ada Apa dengan Cinta?
Sumber: klimg.com

Ketika membicarakan dunia perfilman Indonesia dewasa ini, agaknya sulit untuk tidak menyebut sosoknya. Ia merupakan seorang produser yang telah menghasilkan film-film legendaris, sebut saja Laskar Pelangi dan Ada Apa dengan Cinta? Di samping itu, ia juga dikenal sebagai seorang sutradara dan penulis lagu. Simak kisah inspiratif Mira Lesmana bersama Kinibisa!



"Saya sering tonton apa aja, ya drama, ya komedi, yang penting ceritanya bagus."

Masa Kecil Mira
 

Mira Lesmana lahir di Jakarta, 8 Agustus 1964. Ia merupakan anak dari pasangan musisi, Jack Lesmana dan Nien. Kakak dari musisi Jazz, Indra Lesmana ini sudah terkenal aktif dan kreatif. Walaupun anak seorang musisi, ia tidak terlalu tertarik mengikuti jejak ayahnya. Saat kecil ia mengikuti les privat piano namun tak kunjung menunjukkan perkembangan yang berarti.

"Setelah bertahun-tahun belajar tidak pintar-pintar juga, aku pun jadi mulai berpikir bahwa aku tak berbakat," keluh wanita yang juga akrab disapa Mia ini dikutip dari Tokoh Indonesia (23/02/2012). Walaupun begitu, ia tetap mempunyai aspirasi sebagai penulis lagu.

mira dan suami
Mira dan suami, Matias Muchus.
Sumber: yukepo.com

Kebiasaannya membaca dan mendengarkan dongeng dari guru SD-nya awal mula ia tertarik terhadap sastra dan tulisan. Kemampuannya semakin terasah, semakin lama ia mendengarkan gurunya. Mira mulai menulis lagu ketika sang adik meminta bantuannya dalam proses penulisan lirik. Mira dan Indra menjadi sebuah kombinasi jitu pada masanya.

Pada usia 16 tahun, Mira menulis lagu pertamanya. Kolaborasinya dengan melodi Indra membuahkan hasil. Berkat lagu itu, Indra Lesmana mendapatkan beasiswa di Brooksfield Music Academy di Australia. Ia pun pindah bersama seluruh keluarganya ke Australia.

Ketertarikan Terhadap Film
 

tertarik dunia film
Mira telah mempunyai ketertarikan dengan dunia film sejak kecil.
Sumber: koalisiseni.or.id

“Star Wars Episode IV: A New Hope” dapat dikatakan sebagai film pertama yang membuatnya tercengang dan tertarik dengan industri kreatif ini. Ketertarikannya semakin tumbuh ketika ia tinggal di Australia. Selepas pulang sekolah, ia hampir selalu menonton film, baik itu di bioskop atau di rumah bersama orang tuanya. Tak jarang, ia pulang terlalu larut dan meminta dijemput oleh ayagnya di stasiun, “Saya sering tonton apa aja, ya drama, ya komedi, yang penting ceritanya bagus,” jelasnya dilansir dari Tokoh Indonesia (23/02/2012).

Oleh karena itu, secara tidak langsung, Mira sekaligus belajar bahasa Inggris selain dari buku-buku cerita. Ia juga mempunyai salah satu cara unik belajar bahasa Inggris. “Aku bisa berbahasa Inggris karena melihat tamu-tamu Ayah. Saat itu terpikir olehku, betapa asyiknya kalau aku bisa berbahasa Inggris sehingga aku bisa berdialog dengan mereka!” ujarnya dilansir dari Tokoh Indonesia (23/02/2012).

Hobinya menonton lama-lama berkembang menjadi sebuah rasa ingin tahu yang besar. Perempuan berambut ikal ini tertarik mengetahui proses dan tokoh dibalik pembuatan sebuah film. "Saya bilang ke orang tua bahwa kalau saya selesai sekolah, saya mau jadi pembuat film. Mereka mengizinkan lalu menyuruh saya sekolah film," ujar pengagum Martin Scorsese, Steven Spielberg, Jiang Jin Woo, dan Winn Landers ini dikutip dari Tokoh Indonesia (23/02/2012).

Mendalami Dunia Perfilman
 

Kuliah di IKJ
Selepas SMA, Mira berkuliah di Institut Kesenian Jakarta jurusan Penyutradaraan.
Sumber: republika.co.id

Setelah mendapat izin orang tuanya, Mira, yang baru saja lulus SMA, memutuskan untuk melanjutkan studi ke sekolah film di Australia. Rencana tersebut ternyata urung terjadi karena bertepatan dengan lulusnya Indra mengenyam pendidikan beasiswa musiknya.

Akhirnya anak sulung Jack Lesmana ini memutuskan untuk kuliah di Institut Kesenian Jakata (IKJ) dan mengambil jurusan Penyutradaraan pada tahun 1983. Dua tahun menempuh pendidikan disana, ia langsung masuk ke dunia industri, tapi bukan film melainkan, periklanan. Selama empat tahun menjadi asisten produser, Mira kemudian dinaikkan pangkatnya menjadi produser.

Berbagai iklan kreatif untuk berbagai merek dan produk telah ia buat. Dibalik kesuksesan karirnya, ia juga menemukan kesuksesan dalam hubungannya. Pada 14 Februari 1990, ia resmi dipinang sebagai istri oleh aktor terkenal saat itu, Mathias Muchus.

Setelah berkutat sekian lama di berbagai agensi periklanan dan mendalami profesi sebagai produser iklan, Mira akhirna memutuskan untuk benar-benar terjun ke dalam mimpi dan cita-citanya. Mira Lesmana mendirikan Miles Films pada Maret 1995.

Pada awalnya Miles Films khusus memproduksi film-film televisi dan documenter. Ia juga berguna sebagai wadah pelatihan bagi para seniman muda berbakat yang ingin membuat video musik dan iklan TV. Reputasi Miles Films melejit di tahun 1996 berkat kesuksesan mereka memproduksi 13 episode dokudrama berjudul Anak Seribu Pulau. Program ini disiarkan di 5 stasiun televisi swasta Indonesia dan diterima dengan baik oleh berbagai kalangan masyarakat termasuk para kritikus film.

bersama dian sastro
Mira bersama Dian Sastro saat proses syuting AADC 2.
Sumber: jberita.com

Setelah merilis Anak Seribu Pulau, Mira Lesmana tertarik untuk membuat film panjang pertamanya. Kuldesak. Film ini dirilis pada masa kelesuan film Indonesia. Kenyataan ini makin memacu Mira untuk menghasilkan film berkualitas karya anak negeri. Dengan menggaet Riri Riza, Rizal Mantovani, dan Nan T. Achnas, Mira berusaha membangkitkan film nasional. Dari kerjasama antara empat sineas muda itu lahirlah film Kuldesak yang rilis Oktober 1998.

Film ini dibilang spesial karena terdiri dari beberapa segmen yang dikerjakan oleh sutradara yang berbeda. Proses produksi yang memakan waktu hampir 2 tahun merupakan kolaborasi para sineas dan pemerhati film Indonesia pada saat itu. Kuldesak meraih penghargaan, salah satunya dari Forum Film Bandug dan Festival Film Kine Club (2000)

Pasca Kuldesak, Mira Lesmana memulai debutnya di bawah payung Miles Films. Sebuah drama musikal anak-anak menjadi persembahannya pada publik kali ini. Film Petualangan Sherina yang dibintangi Sherina Munaf dan Derby Romero dirilis pada tahun 2000.

http://assets.kompas.com/crop/0x0:780x390/780x390/data/photo/2016/11/07/045009620161107-044456-3871-ffi.2016-780x390.jpg
Mira dan Riri memenangkan Piala Citra pada FFI 2016.
Sumber: kompas.com

Petualangan Sherina menuai kesuksesan fenomenal hingga mencapai 16 juta penonton di Indonesia. Walau tak sedikit suara skeptis yang menilai prestasi ini hanya kesuksesan satu malam semata. Optimisme akan kemampuan industri perfilman lokal menunjukkan tren positif pada beberapa tahun terakhir.

Bersama Riri Riza, ia membangun Miles Films dan berkarya serta mencipta berbagai karya. Berbagai film telah dibuatnya bersama Riri lebih dari 10 tahun terakhir. Berbagai kalangan umur tersentuh oleh karya-karya Mira.

Mulai dari cerita persahabatan, motivasi serta inspirasi untuk segala umur di Laskar Pelangi, cerita romantis ala remaja maupun drama melankolis di Ada Ada Apa Dengan Cinta dan 3 Hari untuk Selamanya, cerita biopik, seperti Athirah dan Sokola Rimba, sampai ke cerita fiksi dan penuh aksi di Pendekar Tongkat Emas.

Gaya Pengarahan Mira
 

bersama pemain aadc
Mira Lesmana dan Riri Riza bersama para pemain AADC 2.
Sumber: republika.co.id

Beberapa kritikus film acapkali sulit menebak aksinya karena berbagai genre film yang bermacam dan masing-masingnya saling berbeda pengerjaannya. Tak pernah membuat sesuatu yang sama, itulah pedoman Mira dalam memproduksi sebuah film.

Mulai dari yang sukses besar sampai yang menjadi sasaran para kritikus film, dari film feature yang beranggaran kecil sampai produksi film epik besar-besaran. Mira Lesmana juga tidak sungkan merangkul sutradara baru yang berbakat. Hal itu pula yang mempertemukannya dengan Riri Riza, kawan dan rekannya dalam berkarya.

Soal kiatnya membuat film laris, Mira kepada sebuah tabloid antara lain menyinggung faktor promosi. "Dari tiga miliar rupiah untuk membuat Petualangan Sherina, sebagian besar habis untuk promosi," kata ibu dari Galih Galinggis dan Kafka Keandre, buah pernikahannya dengan aktor Mathias Muchus itu dilansir dari Ahmad.web.id (2004).

Kedepannya, kita bisa menunggu film garapan duo produser dan sutradara Mira dan Riri yang menceritakan biopik dari Chairil Anwar. Chairil Anwar sendiri adalah seorang penyair yang merupakan pelopor angkatan '45 yang memotori puisi modern Indonesia.

"Film ini sedang dalam tahap script development. Sudah sejak Januari kami melakukan riset dan juga pengembangan cerita," kata Mira kepada CNN Indonesia (30/03/2017), Penulisan naskah film yang disebut Mira 'Aku, Chairil!' itu sudah masuk dalam draft ketujuh yang masih berupa sinopsis panjang atau plot outline.

baca juga: kisah inspiratif Joko Anwar

"Bulan depan (April) mudah-mudahan sudah bisa masuk ke draft pertama penulisan skenario. Casting sendiri belum mulai, jadwal produksi tergantung kesiapan tapi tidak mungkin tahun ini," kata Mira dilansir dari CNN Indonesia (30/03/2017)

Dengan segala sukses yang ia raih, apa obsesi perempuan ini? Ternyata cuma satu: ingin tetap punya kesempatan panjang membuat film dan menerjemahkan buku-buku film atau buku-buku kesenian anak-anak. "Bagi saya, medium film penting sekali,"kata Mira dilansir dari Ahmad.web.id (2004).

Dengan berbagai prestasi, mimpi dan aspirasinya, Mira Lesmana terus-menerus berkarya mewujudkan perfilman Indonesia. Ingin menginspirasi dan berkarya layaknya Mira Lesmana? Ayo bergabung dan simak kisah tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa demi mewujudkan  generasi kompeten.