span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Garin Nugroho: Sutradara Indonesia Yang Telah Diakui Dan Diapresiasi Oleh Dunia
Oleh : Nanda Aulia Rachman
03 Mei 2018

Highlight

Saya menggunakan aktor aktris populer agar orang mulai menyebut kenal Garin.

Garin Nugroho
Salah satu sutradara ternama yang telah melahirkan film-film ternama seperti Cinta dalam Sepotong Roti dan Guru Bangsa: Tjokroaminoto.
Sumber: klimg.com

Dalam mewujudkan mimpi menjadi seniman, banyak jalan yang mesti dilalui dan halangan yang mesti dilewati. Begitu pula dengan tokoh inspiratif kali ini. Kinibisa akan menceritakan kisah tentang Garin Nugroho, sutradara kawakan Indonesia



"Orang sekarang kritiknya nggak keras, saya dulu jaman Soeharto karena selalu berontak dibilang ‘Garin Nugroho harus sekolah lagi, film paling jelek’ padahal masuk Cannes, bisa hancur-hancuran baca kritiknya."

Garin Nugroho Riyanto lahir di Jogjakarta, 6 Juni 1961. Dia adalah seorang tokoh perfilman Indonesia yang dikenal sebagai sutradara, produser dan penulis naskah dalam berbagai film. Garin bisa dibilang sebagai salah satu panutan para sinematografer di Indonesia dan Asia lewat karya-karyanya yang khas. Namanya melambung sejak menyutradarai film Cinta dalam Sepotong Roti pada tahun 1992.

Masa Kecil Garin
 

Jogjakarta telah menjadi lingkungan ia berasal dan akan kembali. Garin kecil merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara hasil pernikahan Soetjipto Amin dan Mariah. Dia pernah menempuh pendidikan di sekolah Islam dan melanjutkannya ke sekolah katolik pada tingkat sekolah menengah.

Kecintaannya terhadap literature sudah tumbuh sejak kecil. Hobi menulis dan perpustakaan milik ayahnya disinyalir menjadi perantara pertama bagi Garin dan kesukaannya membaca buku dan menulis. Akan tetapi, ia sempat murung dan berhenti menulis karena tekanan ayahnya yang dirasa terlalu kritis terhadap karyanya.

ketika muda
Sosok Garin ketika muda.
Sumber: twimg.com

Keseharian Garin layaknya anak-anak pada umumnya. Ia senang bermain dan menjelajah sekeliling kota Jogja. Jiwa petualang dan rasa ingin tahunya yang besar membawanya pada sebuah kolam di kaki Gunung Merapi. Ia sering menghabiskan banyak waktu disana, baik itu untuk berendam atau sekedar membaca.

Setelah lulus dari SMA Kolese Loyola di tahun 1981, Garin merantau ke Jakarta untuk belajar tentang sinematografi dan hukum. Dia mengambil dua jurusan sekaligus, yakni Sinematografi di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Ilmu Hukum di Universitas Indonesia (UI). Dibawah didikan sutradarara ternama, Teguh Karya, lelaki asal Jogjakarta ini berhasil lulus pada tahun 1985. Garin memperoleh gelar sarjana hukumnya enam tahun kemudian dari Fakultas Hukum UI.

Menyelam di Seni Sinematografi
 

Setelah selesai mengenyam pendidikan tinggi, Garin mulai menyelam perlahan ke industri film Indonesia. Berbagai film dibuatnya, mulai dari dokumenter sampai dengan film feature yang panjang. Garin memulai debut penyutradaraannya dengan film Cinta Dalam Sepotong Roti pada tahun 1991. Film itu langsung melejit dan memperoleh banyak respon positif dari para kritikus.

Cinta Dalam Sepotong Roti bercerita tentang perjalanan tiga orang sahabat yang memunculkan sebuah konflik percintaan yang selama ini terpendam. Film ini menyajikan sebuah pendekatan baru dalam cara bertutur di film Indonesia. Garin mengemas karyanya secara apik, sederhana namun penuh simbol yang menggambarkan kondisi sosial masyarakat perkotaan saat itu. Film perdananya menjadi film terbaik pada Festival Film Indonesia.

Tidak hanya itu, ia juga meraih tata sinematografi, artistik, penyuntingan, dan naskah orisinal terbaik. Akan tetapi, Garin tak mendapatkan apresiasi pribadi atas nama dirinya. Bahkan hingga sekarang, ia tak pernah meraih gelar sebagai sutradara terbaik FFI. Dia sampai dibuat heran, namun tetap memilih untuk tak ambil pusing.

“Dari dulu selalu banyak jawaban yang malas untuk diperdebatkan. Misalnya Cinta Dalam Sepotong Roti, menang semua kan kamera menang, editing menang, musik menang, film menang, Garin nggak menang. Alasannya, ‘Garin masih terlalu muda dan filmnya kan cuma 3 orang, sementara film yang lain kolosal.’ Ya sudah. Itu jawaban yang nggak ada urusannya dengan film,” ujar Garin pada wawancaranya bersama Rolling Stone Indonesia (17/11/2016)

Semenjak itu, namanya terus meroket. Ia menasbihkan namanya sebagai salah satu tokoh berpengaruh dalam perfilman Indonesia setelah masa Teguh Karya dan Sjuman Djaya. Film-film Garin Nugroho tidak perlu dipertanyakan lagi kualitasnya. Ia mampu membuat sebuah karya yang bermakna bagi masyarakat dan sarat nilai. Baginya, kualitas film yang terpenting, urusan laris manis di pasaran jadi nomor dua.

suasana syuting
Suasana syuting film Guru Bangsa: Tjokroaminoto.
Sumber: bp.blogspot.com

Salah satu film terbarunya, Tjokroaminoto menggambarkan prinsipnya itu. “Lihat, film sejarah yang mampu ke luar negeri film siapa. Film saya. Bukan karena apa-apa, melainkan karena cara berceritanya membikin orang mengerti sejarah. Kebanyakan film sejarah dianggap karena membaca buku sejarah lalu seenaknya saya bercerita,” jelasnya kepada Rolling Stone Indonesia (17/11/2016).

Dalam tiap produksinya, ia tak hanya fokus kepada fondasi karakternya, tetapi fondasi lingkungan sosialnya juga. Semuanya dibuat agar masyarakat dapat paham dengan gambaran fiktif yang objektif.

“Kalau bikin film itu ada sistem kebudayaan yang harus diangkat, tentunya di film Tjokroaminoto ya membahas kebudayaan di zaman Tjokro. Ada kehidupan sehari-hari, ada mata pencarian, ada bahasa tubuh, ada bahasa suara. Ini harus muncul empat-empatnya. Ini sistem kebudayaan loh. Misalkan menggambarkan mata pencarian dan profesi, ada mandor karet ya ada karetnya,” jawab ayah dari Kamila Andini ini dilansir dari Rolling Stone Indonesia (17/11/2016)

Salah satu filmnya, Puisi Tak Terkuburkan, yang dirilis pada tahun 2000, dinobatkan sebagai salah satu dari 100 Film Asia Terbaik Sepanjang Masa oleh Busan International Film Festival pada tahun 2015. Film dengan judul internasional “The Poet” ini merupakan sebuah dokumenter hitam putih yang menceritakan Ibrahim Kadir, seorang seniman, yang dijebloskan dengan tuduhan komunis pada tahun 1965 di Tanah Gayo, Aceh. Ibrahim mendekam selama 22 hari dan menyaksikan banyak tahanan dengan tuduhan palsu sepertinya, dia juga menyaksikan banyak kejahatan dan penyiksaan yang dilakukan oleh para petugas.

setan jawa
Garin Nugroho berfoto bersama pemain film Setan Jawa.
Sumber: republika.co.id

Garin mengungkapkan bahwa film ini adalah manifesto politiknya terhadap peristiwa 30 September 1965 yang mengakibatkan banyak terjadi pelanggaran HAM berupa pembantaian terhadap orang-orang yang ditudug maupun terlibat dalam Partai Komunis Indonesia. “Idenya berawal dari keinginan saya menafsirkan kembali luka-luka sejarah,” tutur Garin dikutip dari Beritagar (14/08/2015).

Film ini menjadi jalan Garin meraih penghargaan Silver Leopard Video di Festival Film Internasional Locarno 2000 dan nomine Silver Screen Award pada Singapore International Film Festival 2000. Selain penghargaan itu, beberapa penghargaan yang telah Garin Nugroho raih antara lain;

  • Film terbaik Asia di Osian’s Cinefan Festival ke-7 lewat Rindu Kami Padamu (2006)
  • Penulis Skenario Cerita Adaptasi Terbaik Festival Film Indonesia (2006)
  • Penghargaan Khusus di Festival Film Bandung (1999)
  • Special Jury Prize di Festival Film Internasional Tokyo untuk Daun di Atas Bantal (1998)
  • Best Director Festival des 3 Continents di Nantes, Prancis (1997)
  • FIPRESCI dari Festival Film Internasional Berlin untuk film Bulan tertusuk Ilalang (1996)
  • Sutradara Pendatang Terbaru Asia Pasific Film Festival (1992)

Garin juga baru saja meraih gelar kehormatan dari Pemerintah Perancis yakni lencana tanda jasa Chevalier dans l’ordre des Arts et Lettres berkat kontribusinya pada perfilman Indonesia dan Prancis lewat karya-karyanya, terutama yang pernah ditampilkan di Cannes Film Festival, seperti Daus Diatas Bantal dan Marlina The Murderer In Four Acts (sebagai penulis).

adegan setan jawaSalah satu adegan di film Setan Jawa.
Sumber: jakpost.net

Arahan Penyutradaraan yang Khas
 

bersama chicco dan pevita
Figure 5 Garin bersama Chicco Jericho dan Pevita Pearce.
Sumber: aws-dist.brta.in

The Jakarta Post menilai bahwa Garin selalu memasukkan unsur sosio-kultural dalam filmnya. Garin Nugroho ingin menyampaikan satu pesan tertentu bagi masyarakat yang memang benar ada maknanya. Film Garin juga menonjolkan isu multikulturalisme yang sangat lekat dengan ranah budaya Indonesia.

Berbagai film seperti Nyai, Opera Jawa dan Soegija dapat menggambarkan deskripsi yang dituliskan oleh The Jakarta Post. Namun, pada satu hal, Garin Nugroho cenderung tidak berusaha meraih seluruh kalangan untuk filmnya. Garin sendiri lebih senang dengan pengandaian dan bahasa puitis yang berbunga-bunga.

Tak jarang ia menggabungkan dokumentasi klip lama dan latar set baru untuk memaparkan satu cerita. Penggunaan bahasa dan dialog yang terlalu rumit seringkali menjadi penghalang bagi banyak orang untuk memahami pesan yang diinginkan Garin.

Untuk mengatasi hal ini, dia selalu berprinsip untuk selalu melakukan hal dengan niat yang baik. Dengan niat baiknya, niscaya akan ada hasil dan manfaat yang didapatkan, walau tidak untuk semua orang, Namun, Garin juga tidak diam begitu saja. Demi meraih penonton baru yang lebih muda, ia menyutradarai film yang lebih ringan dengan aktor-aktor yang lebih dikenal oleh kaum millennial.

“Saya menggunakan aktor aktris populer agar orang mulai menyebut kenal Garin. Mengenal Garin lewat Pevita (Pearce), lewat Chiccho (Jericho), lewat Reza (Rahardian). Apakah akan sebanyak itu yang kenal? Ya nggak. Dari 100 orang mungkin hanya 10 orang yang cinta film saya. Tapi saya punya penonton setia yang baru,” jawab Garin dilansir dari wawancara dengan Rolling Stone Indonesia (17/11/2016).

Berjuang di Medan yang Berat
 

garin
Garin Nugroho.
Sumber: klimg.com

Tiga dekade lebih ia telah merasakan berbagai gejolak dalam film Indonesia. Setelah menilik dan mengamati beberapa tahun, ia melihat bahwa sutradara Indonesia merupakan seorang penutur lisan yang baik tapi bukan penutur literature yang sama bagusnya.

“Setiap orang punya bakatnya sendiri, ada yang bakatnya tertulis, ada yang bakatnya lisan. Yang salah adalah memprioritaskan ketentuan itu untuk semua orang. Kalau Hollywood, bikin kafe, detail. Kalau di Indonesia sudah dibayangkan, tapi paling bisanya cuma 10 persen, pasti berubah kan. Saya memakai tradisi lisan, karena harus adaptasi dengan Indonesia yang tidak pernah selalu seratus persen terpenuhi fasilitasnya,” jelas Garin dikutip dari Rolling Stone Indonesia (17/11/2016).

Dengan tradisi lisan seperti ini, film Indonesia terus menunjukkan perkembangan yang positif pada tiap tahunnya, apalagi sejak pasca reformasi.  “Orang sekarang kritiknya nggak keras, saya dulu jaman Soeharto karena selalu berontak dibilang ‘Garin Nugroho harus sekolah lagi, film paling jelek’ padahal masuk Cannes, bisa hancur-hancuran baca kritiknya,” ingatnya dilansir dari Rolling Stone Indonesia (17/11/2016).

baca juga: kisah inspiratif Gandhi Fernando

Sutradara yang terinspirasi dari Teguh Karya dan Akira Kurosawa ini meyakini bahwa perfilman Indonesia berada dalam jalur yang positif kedepannya walaupun akan tetap mengalami instablilitas. Menurutnya, sutradara-sutradara muda Indonesia mampu memberikan karya dan kreatifitas yang positif.

Joko Anwar. Dia punya gaya yang personal. Artistiknya bagus. Begitu dia dapat cerita bagus, filmnya bagus. Lalu Mouly Surya, ada personalnya juga. Anak saya Kamila Andini,” ungkapnya ketika ditanya sutradara muda potensial Indonesia oleh Rolling Stone Indonesia (17/11/2016).

Kisah Garin Nugroho di atas agaknya bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk terus berjuang meraih cita-cita yang kita impikan. Garin telah menunjukkan bahwa kritikan atau hambatan yang ada justru menjadi pelecut semangat agar membuahkan karya lebih baik lagi. Simak kisah inspiratif tokoh-tokoh lainnya bersama Kinibisa!