span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Gandhi Fernando: Trendsetter yang Tak Pernah Berhenti Berkarya
Oleh : Halimah Nusyirwan
23 Juli 2018

Highlight

Aku percaya film bagus itu bukan dari uang, tapi dari otak dan dari sosialisasi.

Gandhi Fernando, artis Indonesia yang dikenal sebagai produser film, aktor, dan Youtuber.
Gandhi Fernando, artis Indonesia yang dikenal sebagai produser film, aktor, dan Youtuber.
Sumber: instagram.com

Kalau kalian pernah menonton film Mantan (2017) yang dibintangi Luna Maya dan Kimberly Rider, lalu Pentak Umpet Minako (2017) yang salah satu pemainnya adalah Miller Khan, pasti kalian familier dengan wajah pria berdarah India-Manado ini. Gandhi Fernando adalah produser, aktor, dan juga Youtuber yang memiliki minat besar pada dunia perfilman Indonesia dan bahkan ia sampai belajar mengenai hal itu hingga ke negeri Paman Sam. Seperti apa kisah Gandhi Fernando dalam meniti kariernya di industri entertainment Indonesia? Simak kisahnya bersama Kinibisa!



"Maybe I’m different with the rest of the producers. Aku bukan followers. I’m a trendsetter."

 Dari Kecil Sudah Tertarik Dengan Dunia Film
 

Sosok Gandhi Fernando
Sosok Gandhi Fernando
Sumber: instagram.com

Pria yang memiliki nama lengkap Ferdinandus Gandhi Fernando Hasmana ini lebih dikenal sebagai aktor dengan kemunculannya di film-film layar lebar Indonesia. Kecintaannya pada dunia film rupanya sudah ia dapatkan sejak ia masih kecil. Ia pun bercerita bahwa sejak dulu ketika masih duduk di bangku sekolah, ia hanya tertarik dengan pelajaran performing arts.

“Pas SMA dulu aku orangnya nakal sih di sekolah. Kayak selalu skip sekolah karena aku nggak interest banget ya sama pelajaran-pelajaran yang biasa aku pelajari itu, jadi yang bener-bener aku interest itu kalo nggak kelas bahasa, atau kelas performing arts. Palingan sama olahraga juga, jadi itu doang yang aku bener-bener tertarik. Yang lainnya aku nggak terlalu tertarik sih,” ungkap Gandhi saat diwawancara langsung oleh tim Kinibisa di kawasan Jakarta Pusat (16/07/2018).

Ketertarikannya pada dunia entertainment dan film ternyata ia dapatkan dari keluarganya sendiri. Gandhi dikelilingi oleh anggota keluarga yang berkecimpung di dunia entertainment seperti produser dan presenter. Hal ini tentu menjadi salah satu faktor utama yang membuat Gandhi memiliki minat lebih pada dunia tersebut hingga ia akhirnya sering mengikuti Summer Camp di Amerika Serikat saat libur sekolah dulu.

“Dari SD aku udah mau di dunia perfilman sih dulu. Jadi memang dulu aku bilang sama papa kalau aku pengen di film gitu dan dia langsung setuju sih karena beberapa dari om aku sama sepupu-sepupu aku kan produser juga, ada yang main film, dan sepupu aku juga seorang presenter, jadi aku emang udah interest sama dunia itu dari kecil” ujar produser yang ingin bekerja sama dengan Marsha Timothy suatu saat nanti ini.

“Nah tahun 2006 sama 2007 pas aku masih SMA, aku sempet ngambil Summer Camp. Setiap liburan sekolah di bulan Juni-Juli aku pergi ke Amerika. 2006 itu aku ambil film making. 2007 itu aku ambil dance dan intensif di New York. Kalau 2006 di LA. Baru setelah itu aku ambil kuliah lagi kuliahnya 2008 di LA di New York Film Academy sampai 2012. Setelah dua tahun di New York Film Academy aku transfer ke UCLA. Aku ngambil Business and Management of Entertainment,” lanjutnya. 

Keputusannya untuk belajar perfilman di Amerika merupakan keputusan yang tepat untuknya. Hal itu terlihat dari pencapaian serta prestasinya selama ia sekolah di sana. Ia mengaku bahwa nilai-nilai yang ia dapatkan ketika kuliah sangat berbalikan dengan nilai-nilainya dulu ketika sekolah.

Gandhi pun memilih sekolah di Amerika bukanlah tanpa alasan. Menurutnya, Hollywood adalah center of entertainment dan kebiasaannya sedari kecil yang suka menonton film Barat juga membuatnya tertarik untuk tinggal di sana.

Banyak pengalaman dan pelajaran yang ia dapatkan dari sekolahnya tersebut. Selama empat tahun hidup di Amerika, Gandhi mengaku banyak pengalaman yang ia dapatkan. Mulai dari magang menjadi casting director, gabung di iklan yoghurt, hingga syuting bersama salah satu aktris papan atas Hollywood, Melissa Leo.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya dengan keputusannya untuk kembali ke tanah air setelah mengetahui pengalaman-pengalamannya tersebut. Gandhi pun berbagi alasannya mengenai hal tersebut.

“Satu, karena surat ijinnya susah buat tinggal di sana. Kedua, waktu itu aku mendapatkan kesempatan untuk main sinetron di Indonesia which is di mana saat aku tinggal di Amerika, aku masih mengharapkan uang dari papa. Aku pikir mau sampai kapan kayak gitu kan. Yaudah akhirnya aku mendapatkan kesempatan main di sinetron Indonesia dan aku merasa bahwa mungkin daripada aku cuma begini-begini doang, maksudnya achievement yang aku dapatkan di Amerika itu belum dalam target aku. Aku belum main film, aku bukan orang yang dipandang lah di sana. Jadi kalau mungkin aku ke Jakarta, kesempatan akan lebih terbuka karena bisa dibilang di sana itu, mungkin ya, kolamnya memang lebih besar, tapi bebeknya banyak banget. Di sini (Indonesia) kolamnya juga besar, tapi mungkin bebeknya nggak sebanyak di sana.” katanya.

Debut Perdana di Industri Film Indonesia
 

Gandhi saat sedang sibuk dengan proyek filmnya.
Gandhi saat sedang sibuk dengan proyek filmnya.
Sumber: instagram.com

Kerja keras serta usaha yang dilakukan Gandhi akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil menjadi produser untuk proyek perdananya di industri ini dengan film berjudul The Right One pada tahun 2014. Film ini mengusung tema percintaan antara dua insan dengan mengambil latar di Pulau Dewata, Bali. Pria yang mengaku penggemar karya-karya Upi Avianto dan Tim Burton ini menggaet Tara Basro dalam proyeknya tersebut.

Cerita The Right One sendiri rupanya sudah Gandhi buat bersama temannya ketika ia masih tinggal di Amerika. Alasan Gandhi bekerja sama dengan Tara Basro sendiri adalah karena ia sempat bekerja sama dengan Tara di salah satu FTV. Kala itu mereka sama-sama berjuang membangun nama di industri entertainment dan Gandhi menawarkan Tara untuk bergabung di proyeknya tersebut yang tentu disambut baik oleh Tara.

Gandhi mengaku bahwa proyek perdananya tersebut rupanya tidak mudah dilaksanakan. Ia mengatakan bahwa film yang diproduksi sejak 2013 tersebut mengalami banyak rintangan.

“Itu sejuta kesalahan terjadi di lokasi syuting. Mulai dari berantem sama kru, berantem sama pemain, salah negosiasi, nggak tahu cara tayangin di bioskopnya gimana, sampe pernah disetirin mama keliling Tangerang untuk ganti poster karena posternya salah yang dikirim. Sedangkan tiga hari lagi udah tayang di bioskop,” kata Gandhi.

Kesalahan-kesalahan itu tentu menjadi pelajaran berharga untuk Gandhi dalam membentuk kariernya. Kini Gandhi sudah memiliki karya atau film dari berbagai genre. Ia sudah memproduksi film dengan genre komedi, romansa, horror, thriller, dll. Inspirasi untuk film-film tersebut pun datang dari berbagai hal yang terjadi di kehidupannya.

“Kalau misalkan The Right One itu inspirasinya dari si penulis aku yang satu. Yang Pizza Man itu inspirasinya datang dari pas aku tinggal di Amerika, ada pengantar pizza dan dia adalah seorang aktor dan aktornya ganteng. Akhirnya temen-temen aku semuanya pada naksir gitu sama cowok itu. Terus abis itu Midnight Show waktu itu tahun 2006 aku nonton film ‘Kuntilanak’ jaman-jamannya masih ada midnight show tuh di Artha Gading, which is bioskopnya itu di paling atas di deket parkiran dan pas pulang midnight show jam setengah dua pagi, lampunya mati tiba-tiba total semuanya. Disitu aku dapet ide, apalagi masih SMA ya masih alay banget ya. Yaudah akhirnya aku dapet ide untuk bikin pembunuhan dalam bioskop pada tayangan tengah malam,” kata Gandhi.

Sebagai produser termuda di Indonesia tentu Gandhi pasti pernah mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan terkait dengan film-filmnya. Ia pernah merasakan setahun produksi film namun hanya berhasil tayang di bioskop selama 3 hari. Ia bahkan pernah diremehkan dan tidak disukai oleh orang-orang dikarenakan dirinya yang muncul sebagai produser baru di industri tersebut dengan usia yang masih muda namun sudah memiliki banyak karya.

Pengalaman-pengalaman yang kurang berkenan tersebut tentu tidak mematahkan semangat seorang Gandhi Fernando. Terlebih lagi dukungan yang tak henti dari keluarga yang semakin memberikan semangat untuknya agar tetap terus berkarya.

Ia juga tidak memikirkan anggapan buruk orang-orang atas dirinya dan terus berjuang dan aktif memproduksi film-film baru. Dalam waktu dekat ini Gandhi mengaku akan merilis film baru berjudul Dongeng Mistis dan film ‘Zodiak: Apa Bintangmu’ juga rencananya akan dirilis awal tahun 2019.

Ia merasa tantangan terbesar sebagai produser film adalah mengetahui strategi lokasi penontonnya. Ia harus tahu target pasar serta masyarakat mana yang akan dan cocok untuk menonton film-filmnya tersebut dan bagaimana cara mendistribusikan filmnya ke seluruh kota di Indonesia.

“Yang paling sulit dalam pembuatan film itu bukan bikin filmnya. Tapi distribusi filmnya dan promosi filmnya. Itu yang paling sulit. Nggak gampang untuk meng-enroll banyak sekali manusia untuk pergi ke bioskop bayar 30.000 sampai 50.000 untuk nonton bioskop. Untuk film yang menurut mereka belum tentu bagus juga,” ujar Gandhi.

Selain itu, rintangan lain yang ia hadapi terletak pada produksi film-film tersebut. Gandhi mengaku bahwa setiap film memiliki tantangan tersendiri sehingga tidak bisa dibandingkan satu sama lainnya. Setiap filmnya memiliki variasi tingkat tantangan yang berbeda-beda.

“Menurutku yang paling menantang sekarang adalah Zodiak: Apa Bintangmu yang sampai sekarang belum tayang yang 2,5 tahun (produksi) itu. Itu yang paling menantang karena aku kehilangan investor. Filmnya nggak tayang-tayang sampe sekarang dan itu sulit banget untuk menayangkan film itu karena filmnya budget-nya paling fantastis dibandingkan film-film aku sebelumnya tapi budget promonya paling kecil dibandingkan lainnya,” tuturnya.

Contoh film lainnya adalah film Midnight Show yang tayang tahun 2017. Film yang juga dibintangi Acha Septriasa dan Ganindra Bimo ini rupanya harus syuting selama 10 jam non-stop dari jam 9 malam hingga jam 7 pagi. Film yang banyak menampilkan scene action ini memiliki tantangan tersendiri yaitu harus menjaga semangat kru-kru serta pemain yang harus bergadang syuting hingga pagi hari.

Gandhi yang menganggap film sebagai jendela kehidupan dan pariwisata ini juga memiliki misi dari karya film-filmnya tersebut. Ia ingin membuat peran perempuan menjadi lebih kuat dan bahkan bisa menjadi seorang pemimpin. Hal tersebut terlihat dari hampir seluruh filmnya yang menjadikan karakter perempuan sebagai pemeran utama. Ia ingin merubah perspektif dan pandangan orang-orang mengenai perempuan.

“Semuanya mungkin terinspirasi dari mama kali ya. Aku nggak mau melihat perempuan-perempuan Indonesia itu yang ujung-ujungnya habis kuliah, kerja bentar habis itu langsung nikah akhirnya punya anak and that’s it,” ucap pria yang hobi nonton dan travelling ini.

baca juga: kisah inspiratif Tasya Kamila

“Aku pengen masyarakat ini tuh punya pandangan bahwa…do what you love. Kita itu cuma hidup sekali and then we get married when we are ready to get married. We work when we love the work,” imbuhnya.

Youtube dan Web Series
 

Crazy Girl Friend
Gandhi Fernando dan Karina Nadila
Sumber: ytimg.com

Tantangan berat yang ia hadapi sebagai produser membuat Gandhi dapat melihat peluang dengan menggunakan media lainnya. Ia pun akhirnya mendapatkan ide untuk berkarya lewat media sosial. Gandhi sendiri merupakan orang pertama di Indonesia yang mencetuskan cerita berkelanjutan atau web series melalui media Instagram.

Gandhi mengakui bahwa semenjak ia mulai aktif di media sosial, masyarakat Indonesia lebih mengenal dia dan karyanya. Hal ini pula yang membuat Gandhi akhirnya meneruskan karyanya tersebut ke media Youtube.

“Menurutku, berkarya itu nggak harus dari medan film doang. Sekarang udah ada platform Youtube, Instagram. Makanya aku bikin web series, aku bikin Instagram series. Aku bahkan jadi orang pertama yang bikin Instagram series berkelanjutan. Yang lain kan biasanya cuma bikin parodi. Se-episode se-episode habis itu hilang. Ini bikin Gadun The Series, Crazy Girlfriend bersambung terus kayak gitu. Itu pertama kalinya. Akhirnya sekarang mulai banyak yang ngikutin," ujarnya.

Kini ia sudah merilis berbagai web series di Youtube dengan berbagai judul seperti School of Dead, Crazy Girlfriend, Gadun, dan masih banyak judul lainnya. Kariernya sebagai Youtuber sudah terbilang sukses dan hal ini justru mengejutkan untuk Gandhi sendiri karena ia tidak menyangka bahwa orang-orang akan lebih mengenalnya dengan karya-karyanya di Youtube. Crazy Girlfriend season 2 dan 3 bahkan sampai dibeli oleh video.com dan web TV Asia. Ia pun juga mengakui bahwa ia lebih mendapatkan penghasilan lewat web series-nya dibandingkan karya-karya lainnya.

Gandhi mengaku ia bukanlah seorang pebisnis, tapi ia adalah seorang seniman dan creator. Ia merasa lebih menyukai membuat web series karena ia berpikir bahwa dengan hal itu, semua orang di Indonesia bisa menonton karyanya. Bahkan untuk orang-orang yang tinggal di kota yang tidak memiliki bioskop sekali pun.

“Menurut aku, menonton sebuah karya itu nggak harus kita datang ke bioskop. Ribet sama mekanisme menurut aku. Kenapa nggak kita yang bawa aja ke orang itu. Orang mau nonton di Merauke pun bisa nonton,” ucap Gandhi.

Mister Indonesia 2018
 

Gandhi bersama perwakilan Sulawesi Utara lainnya.
Gandhi bersama perwakilan Sulawesi Utara lainnya.
Sumber: instagram.com

Tak hanya sibuk di dunia film dan Youtube, kini Gandhi juga tengah disibukkan dengan persiapannya mengikuti ajang Mister Indonesia 2018. Ia menjadi perwakilan Mister Indonesia dari Sulawesi Utara dikarenakan darah sang Ibu yang berasal dari kota tersebut.

Ia kini disibukkan dengan persiapan untuk acara ini seperti membentuk tubuh dengan olahraga rutin. Ia bahkan sampai mengosongkan jadwalnya untuk berolahraga dua kali sehari dikarenakan jadwal karantina yang semakin dekat.

Tujuan Gandhi mengikuti acara ini rupanya dikarenakan banyaknya manfaat yang dapat ia raih dari acara tersebut. Seperti beasiswa sekolah di Cina dengan nominal yang fantastis, proyek iklan brand ambassador di berbagai negara, dan ikut serta di ajang internasional Mister Supranational. Ajang internasional ini rupanya merupakan tujuan utama yang ingin diraih oleh Gandhi yang ternyata tak lepas dari dunia perfilman.

Ia berusaha untuk menjadi pemenang Mister Indonesia dikarenakan acara Mister Supranational tersebut berafiliasi dengan Cannes Film Festival. Jika ia bisa menjadi pemenang di ajang itu, ia akan diundang menjadi host untuk salah satu event terbesar di acara tersebut.

“Target aku adalah Juara 1 (Mister Indonesia). Meskipun nanti hasilnya kan semua di tangan Tuhan ya. Tapi aku selalu merasa bahwa sebagai manusia kita tuh punya mind set. Misalkan 1 sampai 10 kita punya mind set 10, kita tidak akan tahu kalau kita akan achieve-nya sebelas. Atau ternyata achieve-nya cuma Sembilan atau delapan. Daripada kita punya mind set satu sampai sepuluh, kita taruhnya delapan karena kita mau jadi realistis. Tapi akhirnya kita cuma sampai lima atau enam,” ungkap Gandhi.

Dengan misinya ini, Gandhi tentu bisa memperkenalkan karya-karyanya di kancah internasional dan memperlihatkan karya-karyanya tersebut ke penonton dunia. Acara-acara ini juga dapat membantunya meraih impian yang selama ini ia kejar dan usahakan selama bertahun-tahun.

“Kalau aku datang ke Cannes Film Festival sebagai penonton biasa, aku bukan siapa-siapa. Mau kenalan sama orang juga susah dan itu sudah aku lakukan selama bertahun-tahun. Aku datang ke Busan, Bucheon, Tokyo Film Festival, semua udah dan banyak yang sudah aku datangin kecuali yang Eropa ya. Yang Australia pun udah aku datengin festivalnya. Tapi aku nggak menghasilkan apa-apa karena menurut mereka aku bukan siapa-siapa,” katanya.

Pelajaran Berharga Bertahan di Industri Entertainment Indonesia
 

Gandhi Fernando
Gandhi Fernando
Sumber: instagram.com

Banyak yang Gandhi sudah pelajari dari pengalamannya selama ini berkecimpung di dunia entertainment Indonesia. Segala jenis pengalaman, mulai dari pengalaman yang menyenangkan hingga yang tidak berkenan sudah pernah ia rasakan. Hal-hal tersebut membentuk sosok Gandhi yang sekarang dan ia kini sudah mengetahui apa yang ia harus lakukan untuk bertahan di dunia profesinya.

Gandhi kini juga sudah mengetahui trik serta cara untuk membuat film dengan budget lebih kecil namun tetap memberikan kualitas yang sama dengan budget film berharga mahal. Ia lebih memilih untuk bekerja sama dengan sutradara dan pemain-pemain baru yang ia dapatkan dari terjun ke lapangan langsung dan mencari bibit-bibit baru untuk perfilman Indonesia.

Menurutnya, dengan hal itu ia bisa mendapatkan kualitas yang lebih baik karena tidak terpatok oleh uang dan seberapa banyak film yang sudah dibuat oleh orang tersebut. Melainkan dengan melihat bakat, potensi, dan semangat yang dimiliki orang-orang baru tersebut.

“Perbedaan aku sama sutradara lain adalah aku terjun lapangan dan kalau kamu udah terjun lapangan dan ketemu sama tim baru, mereka willing untuk do everything,” ucap Gandhi.

“Karena apa yang aku berikan sama mereka itu adalah kesempatan, gerbang, it’s either this or maybe nothing in the future. Gak semua orang mendapatkan kesempatan tiba-tiba ada produser nawarin ‘Kamu mau nggak bikin film layar lebar sampe di bioskop?’ Nah itu kenapa aku bisa bikin film murah tapi kualitasnya jauh lebih bagus menurutku,” lanjutnya.

Gandhi juga kini sudah banyak mengenal dan dekat dengan orang-orang berpengaruh dan terkenal di bidang perfilman dan entertainment Indonesia. Ia bahkan kini menjadi salah satu produser Indonesia yang bisa dibilang sudah diakui dengan karya-karyanya yang memiliki cerita yang bagus dan menarik.

Gandhi juga mengatakan bahwa meskipun ia belajar di Amerika, namun dalam berkarier di industri ini dengan profesi tersebut, gelar dan latar sekolah tidaklah menjadi hal yang penting. Yang harus diutamakan adalah membangun social skill yang mumpuni.

“Kalau menurutku sih, kita sekolah di mana pun, mau di Indonesia, mau di Amerika, mau di belahan dunia mana pun, tapi kalau kita nggak punya social skill yang bagus itu percuma. Karena yang aku pelajari di Amerika adalah yang paling penting itu bukan degree..yang paling penting adalah bagaimana kita bisa bersosialisasi, bisa bernegosiasi, dan bisa lebih gesit untuk tahu yang mana nih yang harus kita ketemuin orang-orangnya,” ujarnya Gandhi.

baca juga: kisah inspiratif Riri Riza

“Jadi bukan seberapa pinter kita sih..karena kita mau sepinter apapun, kita nulis cerita apa, kita bikin film atau kita tahu tentang teknik-teknik kamera tapi kalau misalkan nggak ada orang yang tahu akan percuma. Karena di bisnis entertainment itu it’s a team business,” lanjutnya.

Ia mempunyai pesan yang ingin disampaikan pada para generasi muda Indonesia.

“Aku selalu punya motto dari dulu. I don’t wait on people to bring me flowers. I make my own garden. Dalam artian aku nggak nungguin orang bawain aku bunga tapi aku bikin taman aku sendiri. Karena kita sebagai manusia tuh nggak bisa cuma nungguin calling-an. Waiting for flowers, itu yang salah,” ucap Gandhi.


Banyak hal yang dapat kita petik untuk dijadikan inspirasi dari perjalanan dan pengalaman seorang Gandhi Fernando. Gandhi mengajarkan pada kita bahwa tak ada batasan dalam berkarya dan janganlah berhenti untuk membuat karya di dunia yang kita cintai. Kesuksesannya juga tidak diukur dari seberapa banyak uang yang ia dapatkan, melainkan dari seberapa bahagia dia saat melakukan hal yang ia cintai. Pengalaman buruk dan kegagalan yang terjadi juga bisa menjadi guru terbaik untuk menjadi melangkah maju di masa depan. Simak kisah inspiratif lainnya bersama Kinibisa!