span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Dave Hendrik: Gigih dan Pantang Menyerah dalam Mengejar Impian
Oleh : Halimah Nusyirwan
04 Desember 2018

Highlight

Mereka bilang ‘The world doesn’t need a smart guy. What we need is a well-rounded person.’ pinter di akademis, jago bersosialisasi, bisa kesenian, jadi manusia itu yang seutuhnya, yang well-rounded.

Sosok Dave Hendrik
Sosok Dave Hendrik
Sumber: instagram.com

Dave Hendrik mulai dikenal khalayak ramai semenjak kemunculannya sebagai presenter acara infotainment Indosiar, Kiss. Perjalanannya sebelum menjadi presenter dan MC kondang seperti sekarang ini tentu melalui perjalanan yang panjang dan tidak mudah. Berbekalkan kegigihan dan rasa pantang menyerahnya, Dave membangun kariernya hingga menjadi sekarang ini. Seperti apa kisah seorang Dave Hendrik? Simak kisahnya hanya di Kinibisa!



"Education gives the foundation. Bukan secarik kertas nya atau titelnya yang saya incer, tapi proses pembelajaran di sekolah itu yang membentuk cara saya berpikir, cara saya menghargai hidup, dan cara saya menginginkan apa yang saya inginkan dalam hidup."

Aktif Sejak Dulu
 

Sudah aktif menjadi MC sejak SD.
Sudah aktif menjadi MC sejak SD
Sumber: instagram.com

Ketika masih SMP dulu, Dave bukanlah tipe anak yang menonjol secara kepribadian. Ia dibesarkan oleh kakek dan neneknya dan hal ini membuatnya harus fokus dalam mengejar pendidikannya. Dave juga mengaku saat itu ia tidak menikmati masa-masa SMP-nya hingga akhirnya ia pindah dari Jakarta ke daerah di Jawa Tengah untuk melanjutkan sekolahnya.

“Dari SD sih saya dididik untuk menonjol dalam bidang akademis karena saya dibesarkan oleh kakek-nenek yang saya panggil papi-mami. Papi-mami aku orangnya very strict. Papi saya itu guru jadi kebayang ya to excel di bidang akademis itu merupakan sebuah kewajiban,” ujarnya.

Saat SMA, Dave baru mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolahnya. Ia menyukai seluruh kegiatan dan mata pelajaran di sekolahnya tersebut hingga ia berpartisipasi di berbagai aktivitas ekstrakurikuler.

“Saya itu sangat terlibat dengan activities yang saya suka di SMA, seperti dulu itu kita ada English Club, teater, terus saya juga yang ngeorganize majalah dinding di sekolah. Pokoknya I’m very involve di masa SMA itu. Jadi yang paling menyenangkan buat saya SMA,” kata Dave.

Minatnya pada pelajaran bahasa Inggris membuatnya memutuskan untuk masuk ke kelas bahasa di sekolahnya kala itu. Meskipun kelasnya bukanlah kelas unggulan atau yang paling dikenal sebagai kelas anak-anak pintar, Dave tidak tertarik sama sekali dengan pelajaran seperti lain dan lebih memilih untuk mengejar passionnya.

baca juga: Informasi beasiswa

Awal Mula Menjadi Penyiar Radio dan MC
 

Bermula dari radio, kini Dave sudah menjadi presenter kondang Indonesia.
Bermula dari radio, kini Dave sudah menjadi presenter kondang Indonesia.
Sumber: instagram.com

Bakatnya dalam membawakan acara sudah terlihat sejak Dave masih duduk di bangku SD. Ia kerap ditunjuk oleh pihak sekolahnya untuk menjadi MC acara-acara sekolahnya. Karena itulah, sekolahnya sering mengadakan pentas kebudayaan yang akhirnya membuat Dave aktif menjadi pembawa acara untuk sekolahnya tersebut.

“Jaman SD itu udah mulai nge-MC. Dulu SD saya itu afiliasi sekolah dasar dari yayasan di Belanda. Jadi 6 bulan sekali itu kita diwajibkan untuk pentas kebudayaan ada tamu dari Belanda dateng. Nah saya selalu di appoint jadi MC. Saya mulai belajar dari situ,” ungkap Dave yang pernah ikut paduan suara dan grup angklung di sekolahnya dulu ini.

Ketika ia masih sekolah dulu, menjadi penyiar radio merupakan hal yang membanggakan dan sangat populer di kalangan anak muda. Hal ini membuat Dave tertarik untuk ikut terjun ke dunia radio walaupun akhirnya ia harus menahan keinginannya tersebut hingga ia kuliah. Itu dikarenakan tidak adanya izin dari keluarga saat itu yang ingin Dave untuk fokus pada sekolahnya dulu.

Setelah berhasil masuk ke Universitas Indonesia dan mengambil jurusan Sastra Inggris, Dave mulai melamar ke salah satu radio lokal di Depok. Akan tetapi, lamarannya tersebut ditolak dan Dave memutuskan untuk melamar ke radio lainnya. Usahanya pun akhirnya berbuahkan hasil. Temannya saat itu, Ivy Batuta, memberitahunya bahwa ada radio yang sedang mencari penyiar. Akhirnya setelah melamar bersama teman-temannya saat itu, Dave menjadi kandidat yang diterima dan mulai merintis kariernya sebagai penyiar radio sejak itu.

Tak hanya menjadi penyiar radio, Dave juga pernah mencoba mendaftar cover boy untuk majalah Aneka. Namun, Dave selalu ditolak dan hal tersebut membuat Dave penasaran dan mengunjungi kantor majalahnya untuk menanyakan langsung perihal alasan mengapa ia ditolak berkali-kali. Rupanya faktor fisik menjadi penyebab ia ditolak saat itu dan hal ini membuat Dave semangat dalam membuktikan dirinya bahwa ia bisa menurunkan berat badannya dan akan kembali kesana ketika ia sudah memiliki berat badan yang ideal.

“Waktu itu pemilihan cover boy. Itu tuh big deal ya. Coba ngelamar beberapa kali gak pernah diterima. Gue kan orangnya paling nggak bisa digituin. I don’t stand rejection very nicely. Gue akan tanya, ‘Kenapa gue nggak bisa? You have to give me a solid answer.’ Gue nggak terima kenapa nih bertahun-tahun nggak diterima. Aku datengin lho pulang kuliah (kantornya),” kenang Dave.

I wanna know why. Terus orang yang terima itu dia ketawa lihat saya. ‘Yang mau ngelamar itu kamu?’ ‘Iya saya’ dan waktu itu saya gemuk sekali. ‘Kenapa?’ aku tanya gitu kan. ‘Kalau mau jadi model itu nggak bisa segemuk kamu.’ “ lanjutnya.

Usahanya saat itu akhirnya membawa Dave kembali ke kantor majalah tersebut dan meskipun tidak jadi bekerja sebagai model untuk majalah tersebut, Dave akhirnya mendapatkan tawaran menjadi MC di sebuah acara yang dibuat oleh majalah itu ketika MC yang ditugaskan mengalami kendala. Semenjak itu Dave kerap mendapatkan pekerjaan sebagai MC dari majalah tersebut.

Dave juga pernah mengikuti program training untuk presenter yang diselenggarakan oleh stasiun televisi Indosiar. Meskipun menjalani training selama 3 bulan serta casting selama bertahun-tahun, hal tersebut tidak menjamin Dave untuk mendapatkan job MC kala itu. Berkat usahanya yang tidak pernah menyerah, akhirnya Dave mendapatkan job pertamanya setelah berusaha selama 5 tahun lamanya.

“Waktu itu Indosiar itu televisi baru. Dia bikin program training presenter. Saya si ambisius ini, saya kan ambisius banget. Saya itu kalau udah ada keinginan, you cannot stop me whatsoever. Saya yang ambisius ini ngelamar aja. Proses seleksi-seleksi beberapa bulan terus casting tapi nggak pernah dapet. Saya tuh casting di Indosiar tahun 95. Aku tuh mulai di KISS tahun 2000 lho. 5 tahun loh casting terus baru dapet acara. Tapi nggak pernah berhenti. Terus aja aku kerjain,” ujar Dave.

Namanya mulai dikenal masyarakat Indonesia ketika ia berhasil menjadi salah satu pembawa acara gosip infotainment, KISS, yang disiarkan di Indosiar. Berkarier sebagai MC dan presenter tentu meninggalkan kesan yang mendalam di kehidupan seorang Dave Hendrik. Ia mengaku selalu merasakan kepuasan tersendiri ketika memandu sebuah acara.

“Seolah-olah saya pegang kendali terhadap acara itu. I feel I’m in control. Sebagai presenter kan saya yang mengarahkan acara tuh. Jadi in a way it gives me a satisfaction because i feel very powerful in that particular moment,” tuturnya.

Setiap hal pasti memiliki sisi negatif atau sisi yang kurang berkenan. Hal ini juga sama terjadi pada diri Dave. Ia harus rela mengorbankan waktunya untuk bersosialisasi akibat jam kerjanya yang sangat padat sebagai seorang mahasiswa yang juga aktif sebagai presenter.

“Jam kerja karena kerjaan saya yang serabutan. Saya siaran, dulu kan masih  tiap hari, terus saya juga ada syuting, saya juga nge-MC off air. I spent almost ten years dari awal karier saya itu bener-bener nggak punya kehidupan sosial. Karena dari pagi sampe pagi saya kerja. Jadi itu adalah sacrifices yang harus dibuat ketika awal karier,” ungkap Dave.

“Kalau sekarang ini kalau ditanya tantangannya apa, bertahan. Ketika lu baru dan lu mulai mencari nama, itu gampang sekali. Tapi untuk bisa bertahan di industri ini sampai saat itu, that’s a whole different challenge,” lanjutnya.

Dirinya yang dulu ketika merintis di awal karier harus puas dengan bayaran yang kecil. Dave bercerita ketika ia mengenang masa ketika ia suka membandingkan dirinya dengan senior-seniornya yang dibayar jauh lebih banyak daripada dirinya. Hal ini membuat Dave berangan-angan untuk dapat mencapai posisi tersebut dan akhirnya hal itu terwujud ketika ia mendapatkan pekerjaan menjadi MC di acara tahun baru di sebuah hotel. Momen yang terjadi 17 tahun lalu tersebut menjadi hal yang tidak akan pernah dilupakannya.

Pendidikan di Mata Dave Hendrik
 

Pendidikan merupakan aspek penting dalam hidupnya
Pendidikan merupakan aspek penting dalam hidupnya
Sumber: instagram.com

Mungkin banyak yang bertanya-tanya hubungan antara latar belakang pendidikan Dave dengan pekerjaannya sekarang. Menurut Dave, ketika menjadi mahasiswa Sastra Inggris banyak memberikan ia ilmu mengenai kebudayaan. Ia belajar menghargai bahasa dan cara merangkai kata dengan artinya. Hal ini tentu menjadi modal yang berguna bagi Dave dengan pekerjaannya sekarang yang tak lepas kaitannya dari bertutur kata.

“Saya kan belajarnya Sastra Inggris. Saya nggak belajar bahasa Inggris lho. Saya belajar literatur Inggris. Itu kepake banget karena di sastra itu saya dipaparkan pada kebudayaan. Bagaimana menghargai bahasa, literatur, dan kalau merangkai kalimat itu ada tujuannya. Ada arti dari kalimat tersebut. Kita sebagai pembaca itu diminta untuk menghargai intensi dari sang penulis. Nah sama kayak pekerjaan saya. Harus merangkai kata to convey a certain meaning kan. Jadi I would have to say, dari pengalaman saya belajar Sastra Inggris di UI, saya jadi lebih menghargai bahasa dan cara saya berbicara di atas panggung juga jadi lebih bervariasi,” katanya.

Dave juga merasa bahwa pendidikan merupakan aspek penting yang harus dimiliki setiap individu manusia. Yang dibicarakan disini bukanlah mengenai gelar, tetapi kerangka berpikir yang terbentuk melalui pendidikan. Proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah tentu memberikan perbedaan pada cara berpikir antara mereka yang mengenyam pendidikan dengan yang tidak. Pendidikan atau sekolah juga mengajarkan kita cara untuk bersosialisasi yang benar dengan orang-orang sekitar dan hal ini menjadi salah satu hal penting yang harus dimiliki setiap orang.

Education gives the foundation. Tanpa bermaksud apa-apa, beda deh orang yang serius belajar di sekolah dengan orang yang kebetulan tidak mengenyam bangku pendidikan pasti kerangka berpikirnya beda. Bukan secarik kertas nya atau titelnya yang saya incer, tapi proses pembelajaran di sekolah itu yang membentuk cara saya berpikir, cara saya menghargai hidup, dan cara saya menginginkan apa yang saya inginkan dalam hidup. Itu tuh diajarinnya di sekolah. Sama satu lagi yaitu cara bersosialisasi. Karena buat saya jenis pekerjaan apapun kalau lo nggak bisa bersosialisasi , lo nggak akan mungkin bisa berhasil,” tutur presenter yang pencapaian terbesar dalam hidupnya dapat mengantarkan adiknya ke gerbang pernikahan ini.

Kesuksesan yang sudah diraih oleh Dave rupanya masih menyisakan impiannya yang belum terwujud. Ia berharap dapat mempunyai acara talk shownya sendiri yang berisi inspirasi positif dan penuh edukasi yang menurutnya kini jarang ditemui di berbagai acara televisi jaman sekarang.

baca juga: kisah inspiratif Mellissa Grace

“Saya tiap tahun itu selalu punya mimpi baru. Jadi selalu ada impian yang belum terwujud. Salah satunya adalah dari dulu saya pengen banget punya talk show di TV yang memberikan inspirasi positif. Gak mau yang cuma dagelan-dagelan doang. Aku tuh merindu acara televisi yang ada unsur edukasinya. Jadi orang nonton TV itu dapet sesuatu,”ujar Dave.

Pesan dan Harapannya Untuk Generasi Muda Indonesia
 

Harapan dan pesannya untuk anak muda Indonesia
Harapan dan pesannya untuk anak muda Indonesia
Sumber: instagram.com

Untuk kalian yang ingin menjadi MC berbakat dan terkenal, Dave berbagi tipsnya dalam mempersiapkan diri sebelum bekerja. Ia mengatakan bahwa persiapan harus dilakukan karena itu sangatlah penting. Persiapan yang tidak matang akan berdampak buruk pada penampilan nanti serta membuat kita kehilangan kepercayaan diri.

“Persiapan. Saya itu lebih gugup kalau nggak siap. Misalnya saya tidak menyiapkan dengan baik penampilan saya. Saya tidak berdandan sesuai dengan tuntutan atau keinginan dari klien.  Itu akan mempengaruhi rasa percaya diri kita. Sama persiapan mengenai acara. Kalau malam sebelumnya saya nggak baca rundown, kemudian saya nggak mikir mau ngomong apa, nggak merangkai kata di kepala, itu pasti saya jauh lebih gugup. Sama saya itu nggak suka datang terlambat, jadi kalau datang telat saya pasti jadi lebih gugup di atas panggung,” ungkapnya.

Dave berpesan untuk anak-anak muda Indonesia agar selalu menggali potensi yang ada di diri masing-masing. menurutnya , kini banyak beasiswa serta hal lainnya yang tidak hanya mencari anak pintar, namun juga anak-anak muda yang memiliki bakat lain di bidang tertentu sehingga menjadikan mereka anak muda yang berpotensi atau well-rounded karena tipe individu seperti itulah yang akan sukses di kemudian hari.

“Saat masih sekolah itu gali atau paparkan diri pada rupa-rupa kegemaran. Misalnya suka musik, coba deh main musik. Setelah dicoba ternyata nggak suka nih gue, yaudah oke jangan putus asa. Kalau suka tekuni. Jadi jangan cuma kemampuan akademis aja.

Saya dikasih tahu sama universitas-universitas Ivy League di Amerika sana, kalau mau cari scholarship sekarang udah nggak mau cari anak yang pintar nilai akademiknya aja. We don’t need another geek. Mereka tuh justru akan memberikan scholarship ke mereka yang mungkin jago nari, bisa main gamelan, yang well-rounded. Mereka bilang ‘The world doesn’t need a smart guy. What we need is a well-rounded person.’ pinter di akademis, jago bersosialisasi, bisa kesenian, you know stuff like that well-rounded, jadi manusia itu yang seutuhnya, yang well-rounded,” tutupnya.


Kisah seorang Dave Hendrik mengajarkan kita bahwa menjadi individu yang pandai dalam berbagai bidang akan membawa kita pada kesuksesan. Ia juga mengajarkan untuk jangan pernah berputus asa dalam mengejar apa yang diinginkan. Kerjarlah dan cobalah terus cita-citamu hingga kamu meraihnya. Simak kisah inspiratif tokoh lainnya bersama Kinibisa!