span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Andy F Noya: Sempat Salah Jurusan Andy Noya Berhasil Meraih Cita-Cita
Oleh : Ardito Ramadhan
27 April 2018

Highlight

Inilah waktu saya menyadari bakat saya.

Andy Flores noya
Seorang jurnalis berpengalaman yang dikenal masyarakat lewat program Kick Andy yang tayang di Metro TV.
Sumber: detak.co

Nama Andy F. Noya pastinya akrab di telinga penikmat televisi Tanah Air. Sosok berkacamata yang dulu berambut kribo ini merupakan seorang presenter dari acara talkshow terkemuka, Kick Andy. Meski kini sukses meraih cita-citanya sebagai jurnalis, siapa sangka Andy sempat kesulitan meneruskan pendidikannya karena salah jurusan? Mari simak kisah Andy F Noya di Kinibisa.



"Saya juga baru sadar bahwa buku punya kekuatan dahsyat ketika di bangku SD."

Anak Teknik yang Ingin Belajar Jurnalistik
 

cita cita wartawan
Andy telah mempunyai cita-cita sebagai wartawan sejak kecil.
Sumber: aws-dist.brta.in

Andy lahir di Surabaya pada 6 November 1960 dengan nama lengkap Andy Flores Noya. Anak bungsu dari lima bersaudara ini dilahirkan dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya, Ade Wilhelmus Flores Noya, merupakan seorang tukang servis mesin ketik. Sementara, ibu Andy, Nelly Mady Ivonne Klaarwater, membantu perekonomian keluarga dengan bekerja sebagai penjahit.

Meski berstatus sebagai anak bungsu, Andy dikenal sebagai bocah yang nakal. Misalnya ia sempat tidak pulang ke rumah karena mencuri mangga dan burung dara untuk dijual. Selain itu, ia juga sering memecahkan kaca jendela rumah apabila tidak diberikan uang. Bahkan, kakak-kakaknya sempat berpikir bahwa kelak Andy akan besar menjadi seorang penjahat karena kenakalannya yang di atas rata-rata.

baca juga: kisah inspiratif Della Dartyan

Perilaku Andy mulai berubah ketika ia ditegur oleh ayahnya. Mulai saat itu, ia sadar bahwa kedua orang tuanya tidak ingin Andy bernasib seperti mereka. Andy sadar mereka ingin anak bungsunya memiliki nasib yang lebih baik. Oleh sebab itu, setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya Andy langsung bersekolah di Sekolah Teknik Negeri Jayapura sebelum dilanjutkan di Sekolah Teknik Mesin Negeri 6 Jakarta. Dengan itu, Andy diharapkan dapat langsung bekerja dan membantu keluarganya setelah lulus.

Namun, kedua orang tua Andy tidak menyadari kalau hal tersebut bukanlah cita-cita anaknya. Sejak duduk di sekolah dasar, Andy telah memiliki cita-cita sebagai wartawan. Pada saat itu, Andy telah menunjukkan bakatnya pada bidang tulis-menulis. Bahkan, gurunya kerap memuji karangan yang dibuat Andy dan selalu memberi nilai bagus pada pelajaran Bahasa Indonesia.

Menyadari bakat tersebut, guru Andy mengatakan kepada Andy bahwa ia memiliki bakat menulis dan berpotensi menjadi seorang wartawan. “Inilah waktu saya menyadari bakat saya,” kata Andy dikutip dari Kompas.com[1]. Selain bakat menulis, Andy juga dianugerahi pengetahuan dan wawasan yang luas, keduanya merupakan modal penting untuk menjadi seorang wartawan.

Menurut Andy, pengetahuan dan wawasan yang dimilikinya merupakan hasil dari kebiasaan dan kegemarannya dalam membaca. Sejak kecil, Andy memang telah dibiasakan untuk membaca koran dan majalah. “Ibu memaksa agar kita bisa langganan koran. Padahal, uang sekolah saja sering menunggak,” kata Andy.

Selain koran dan majalah, Andy juga suka membaca buku. “Saya juga baru sadar bahwa buku punya kekuatan dahsyat ketika di bangku SD,” kata Andy. Bagi Andy, membaca buku membantunya dalam membuat tugas-tugas yang sulit. “Karena baca buku, saya bisa membuat prakarya yang dibilang guru saya paling susah. Sementara anak-anak lain saat itu hanya bisa membuat asbak,” katanya.

Meski pendidikan yang ia tempuh tidak sesuai dengan cita-citanya, Andy tetap menorehkan prestasi akademik yang mengagumkan. Ketika lulus dari STM Negeri 6 Jakarta, ia memperoleh predikat lulusan terbaik. Selain itu, ia juga kerap memenangkan perlombaan mengarang dan membuat karikatur. Atas prestasinya itu, Andy mendapat beasiswa untuk berkuliah di IKIP Padang, sekolah calon guru. Namun, tawaran itu ia tolak karena dinilai tidak sesuai dengan cita-citanya.

Andy pun mendaftarkan dirinya di Sekolah Tinggi Publisistik demi meraih cita-citanya sebagai wartawan. Namun, perjalanannya jauh dari kata mulus. Ia sempat ditolak bersekolah di tempat yang kini bernama Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) karena sekolah itu tidak menerima calon mahasiswa yang memiliki latar belakang sekolah teknik.

Karena tekadnya menjadi seorang wartawan sudah bulat, Andy pun memutar otak. Ia meminta ibunya untuk menemui Rektor STP dan membujuknya agar mau menerima Andy. Karena melihat keinginan Andy yang menggebu-gebu untuk menjadi wartawan, sang rektor akhirnya memberi kesempatan bagi Andy untuk mengikuti tes masuk. Namun, masih ada satu syarat yang harus dipenuhi oleh Andy.

Andy diminta untuk memperoleh surat rekomendasi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi sebagai syarat mengikuti tes masuk. Selain itu, ia juga dituntut untuk memiliki nilai yang bagus di tiap mata kuliah. Apabila tidak, ia harus rela dikeluarkan dari STP. Andy pun menyanggupi syarat-syarat itu. Kepercayaan yang diberikan oleh sang rektor dibalas Andy dengan prestasinya yang sangat luar biasa.

Berpindah-pindah Tempat Kerja
 

undangan pelatihan
Saat menghadiri undangan pelatihan Jurnalistik PT. Timah pada Tahun 1999.
Sumber:
kompasiana.com

Selama berkuliah di Jakarta, Andy tinggal bersama kakaknya yang telah berkeluarga. Sebagai adik yang menumpang kakaknya, Andy membantu pekerjaan rumah kakaknya dan mengasuh keponakannya. Setiap hari Andy memandikan dan mengantar keponakannya ke sekolah sebelum ia berangkat kuliah.

Selain itu, Andy juga dituntut untuk hidup hemat karena jauh dari orang tua. Penampilannya yang ‘kumal’ dengan kaos dan jeans sobek serta rambutnya yang kribo menjadi ‘modal’ utamanya untuk menghemat pengeluaran. Dengan penampilan yang nyaris seperti ‘gembel’ itu, Andy dapat menekan pengeluaran di bidang transportasi karena kondekturnya iba dan tidak menarik ongkos kepadanya. Ia juga senang menghadiri pesta ulang tahun karena bisa makan gratis.

Meski harus hidup hemat, Andy tetap dapat menjalankan hobinya sejak kecil yaitu membaca. Ia rela nongkrong berjam-jam di perpustakaan untuk membaca buku. Ia pun lebih senang mencatat bahan pelajaran di buku ketimbang memfotokopi demi dapat mengurangi pengeluaran.

Ketika menginjak semester tiga perkuliahan pada 1985, ia melihat pengumuman lowongan reporter buku ‘Apa dan Siapa’ yang diterbitkan Grafiti Press, anak perusahaan majalah Tempo. Bersama temannya, Andy pun mengirimkan lamaran ke perusahaan itu. Setelah melalui rangkaian seleksi, ia diterima dan mulai bekerja tepat pada ulangtahunnya yang ke-25. Ia kemudian memutuskan untuk berhenti kuliah dan fokus bekerja.

Dua tahun setelah itu, ia diajak bosnya di Grafiti Pers, Lukman Setiawan, untuk bergabung ke dalam harian Bisnis Indonesia yang saat itu tengah dirintis. Awalnya, Andy sempat enggan mengiyakan tawaran itu karena ia tidak menyelesaikan kuliahnya. Namun, Andy berubah pikiran setelah diyakini Lukman bahwa gelar akademis bukan masalah karena Andy telah layak dan mampu menjadi wartawan yang sesungguhnya.

Andy pun tercatat sebagai salah satu dari 19 reporter pertama Bisnis Indonesia. Di sana, ia bertemu Amir Daud yang menjabat sebagai Pemimpin Redaksi. Amir merupakan sosok yang memoles Andy di awal kariernya. Amir mengajari banyak hal kepada Andy terutama soal moral dan penampilan. Di tangan Amir, penampilan Andy berubah menjadi lebih rapi daripada sebelumnya.

Setelah bekerja selama dua tahun di Bisnis Indonesia sebagai koordinator reportase dan redaktur, Andy kembali mendapat tawaran untuk pindah kerja. Kali ini, tawaran itu datang dari Fikri Jufri, wartawan senior Tempo. Fikri menjelaskan bahwa Tempo baru menerbitkan majalah khusus pria dan meminta Andy untuk bergabung ke dalamnya. Andy pun mengiyakan tawaran itu dan memperkat majalah bernama Matra itu. Di sana, Andy berubah menjadi orang yang berani tampil dan percaya diri. Padahal, sebelumnya ia adalah sosok yang cenderung tertutup dan kurang percaya diri.

Pada 1992, lagi-lagi Andy pindah kerja setelah mendapat tawaran dari Surya Paloh, pemilik surat kabar Prioritas yang saat itu dibredel. Andy diminta untuk bergabung dalam koran Media Indonesia (MI) yang mereka kelola. Andy pun mengiyakan tawaran itu dan kembali ke ranah jurnalistik surat kabar. Di luar itu, Andy juga bekerja sebagai host program Jakarta Round Up dan Jakarta First Channel di Radio Trijaya selama lima tahun dari tahun 1994 sampai 1999.

 Selama bekerja di MI, kehidupan Andy berubah drastis. Sebab, ia harus bekerja sampai tengah malam dan kembali ke kantor pada pagi harinya. Ia pun tidak menikmati libur akhir pekan seperti saat bekerja untuk Matra. Namun, karena menjadi wartawan merupakan cita-citanya sejak kecil, ia sangat menikmati pekerjaannya di MI. Buktinya, masa pengabdiannya di MI merupakan yang paling lama ketimbang tempat kerja Andy lainnya.

Mempunyai Program Sendiri
 

mempunyai ketertarikan di jurnalistik
Andy mempunyai ketertarikan tinggi dalam jurnalisme pertelevisian.
Sumber: wordpress.com

Setelah sekian lama bekerja di Media Indonesia, pada 1998 Andy mengutarakan keinginannya untuk pindah kerja ke RCTI. Ketika itu, televisi-televisi swasta memang sedang banyak-banyaknya bermunculan. Namun, Surya Paloh tidak menyeutujui keinginan Andy. Ia hanya memberi izin Andy untuk bekerja magang di RCTI sebelum mendirikan stasiun televisi baru.

Pada 1999, Andy mengusulkan pembentukan stasiun televisi kepada Surya Paloh setelah mengetahui modal pembentukan stasiun televisi hanya membutuhkan dana sebesar Rp 3 miliar. Setelah mengurus berbagai prosedur yang diperlukan, Metro TV pun mulai dirintis. Stasiun televisi ini rencananya akan memiliki konsep dan format seperti CNN di mana tayangannya hanya berisi berita dan berjalan selama 24 jam nonstop. Namun, konsepnya tentu akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Setelah tujuh bulan bekerja di RCTI, pada 2000 Andy kembali dipanggil oleh Surya Paloh untuk menjadi Pemimpin Redaksi Metro TV. Tiga tahun berselang, Andy ditarik kembali ke Media Indonesia untuk mengisi jabatan Pemimpin Redaksi. Posisi Pemred Metro TV yang kosong kemudian diisi Don Bosco Selamun. Tak butuh waktu lama bagi Andy untuk kembali ke stasiun tv berlogo kepala elang itu. Pada 2006, ia diminta mengisi jabatan Pemred Metro TV sekaligus Wakil Pemimpin Umum MI karena menyusul pengunduran diri Don Bosco Selamun.

Berbagi Inspirasi Lewat Kick Andy
 

kick andy
Andy Flores Noya saat membawakan acara Kick Andy yang tayang di Metro TV.
Sumber: mediaindonesia.com

Pada 2005, Andy mendapat tantangan baru dalam karier dunia jurnalistiknya. Ia diminta Surya Paloh untuk membawakan sebuah program talkshow bertajuk Kick Andy. Meski sempat menolak karena merasa dirinya pemalu,Andy akhirnya menuruti perintah atasannya itu. “Katanya saya punya talenta dan punya seni bertanya, tajam tapi tidak menyakiti orang. Dari sini dibuatlah program untuk saya, jadilah Kick Andy,” kata Andy dikutip dari Tokoh Indonesia[2].

Keputusan Surya Paloh menempatkan Andy sebagai pembawa acara talkshow sepertinya merupakan keputusan yang sangat tepat. Program Kick Andy mendapat sambutan baik dari masyarakat dan menjadi program unggulan Metro TV. Bahkan, Kick Andy dapat bersaing dengan program televisi lain yang hanya mengedepankan aspek hiburan. Dengan menampilkan berbagai tema, topik, dan narasumber yang inspiratif, Kick Andy dapat menjadi program televisi yang edukatif tapi tetap menghibur.

Setiap kali tayang, Kick Andy selalu mengangkat kisah inspiratif dari narasumber-narasumber yang didatangkan. Misalnya, kisah Andi Rabiah, suster yang mengabdikan dirinya memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat pulau terpencil atau kisah Sugeng Siswo Yudhoyono yang membuat kaki palsu dan menjualnya kepada para penyandang difabilitas. Kisah-kisah inspiratif itu kemudian dibadikan dalam buku berjudul Tujuh pahlawan Pilihan “Kick Andy”, Se7en Heroes.

Selain menyampaikan kisah-kisah inspiratif, Kick Andy ternyata mampu menggerakan masyarakat untuk berbuat kebaikan. Salah satunya ketika Kick Andy mengangkat kisah seorang tuna netra bernama Buyung yang membantu ibunya berjualan sapu lidi. Tak lama kemudian, para penonton Kick Andy berinisiaitif untuk menggalang bantuan bagi Buyung. Hasilnya, Buyung kini telah tinggal di rumah yang lebih layak serta mempunyai tabungan di beberapa bank.

Oleh sebab itu, dibentuklah Kick Andy Foundation sebagai wadah penyalur sumbangan bagi orang-orang yang tergerak setelah menonton tayangan Kick Andy. “Orang sebenarnya banyak yang mau membantu hanya tidak tahu ke mana menyalurkan. Kalaupun tahu, ada yang khawatir diselewengkan,” kata Andy menjelaskan.

baca juga: kisah inspiratif Najwa Shihab

Selain mengangkat tema-tema yang inspiratif, Kick Andy juga kerap membawakan tema-tema dan mengundang tokoh-tokoh yang kontroversial.  Salah satunya ketika mereka mendatangkan Mayor Alfredo Reinaldo yang merupakan buronan kelas kakap pemerintah Timor Leste. Selain itu, Presiden Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono, juga pernah menolak hadir di acara ini karena keberatan dengan pertanyaan wawancara.

Setelah sukses bersama Kick Andy, Andy memutuskan untuk keluar dari Media Group yang dipimpin Surya Paloh. Namun, ia masih dipercaya untuk menjadi Dewan Penasihat Redaksi di Media Group. Menurut Andy, ia sengaja keluar dari Media Group untuk melancarkan karirnya serta mewujudkan keinginannya untuk memiliki media sendiri.

Dari kisah Andy F Noya di atas, kita dapat belajar bahwa tak ada kata terlambat untuk belajar demi meraih cita-cita kita. Selain itu, kita juga dapat memahami bahwa di mana pun kita berada kita dapat menemukan hal-hal baru untuk dipelajari. Ayo menjadi #GenerasiKompeten dengan bergabung bersama Kinibisa.


[1]http://biz.kompas.com/read/2017/03/31/191630528/andy.f.noya.bocorkan.sebuah.rahasia.mengenai.kesuksesannya
[2]http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/2755-jurnalis-berjiwa-kemanusiaan