span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Sutiyoso: Kiprah Politik dan Olahraga
Oleh : Ardito Ramadhan
11 Mei 2018

Highlight

Situasi di rumah seperti itu barangkali menyebabkan saya liar di luar rumah.

https://www.kinibisa.com/inspirasi/detail/pejabat/susi-pudjiastuti-dulu-pengepul-ikan-kini-menteri-kelautan-dan-perikanansutiyoso
Sutiyoso adalah mantan Gubernur DKI Jakarta yang juga mantan prajurit TNI dengan segudang pengalaman di dunia militer.
Sumber: bennywenda.org

Ia merupakan seorang perwira TNI yang berpengalaman di medan perang. Seusai masa baktinya di korps militer, ia ditunjuk untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta. Selama sepuluh tahun kepemimpinannya, ia melakukan berbagai gebrakan di Jakarta, salah satunya adalah munculnya bus Transjakarta atau Busway. Simak kisah inspiratif Sutiyoso bersama Kinibisa!



"Ayah saya didikan Belanda."

Sutiyoso lahir di Semarang pada 6 Desember 1944. Ia adalah anak keenam dari delapan bersaudara. Besar di keluarga yang sederhana, Sutiyoso mengaku dirinya dididik secara keras oleh kedua orangtuanya. Hampir setiap malam, ayahnya memberikan kumpulan soal untuk dikerjakan oleh Sutiyoso dan saudara-saudaranya.

Sutiyoso kecil rupanya enggan menuruti perintah sang ayah karena ia merasa sudah lelah setelah beraktivitas seharian. “Sebenarnya aku mengerti tapi aku ga mau menjawabnya,” kata Sutiyoso kepada ayahnya saat itu. Setelah mengucapkan kata-kata seperti itu, tak jarang Sutiyoso dihukum dengan cara dipukul menggunakan penggaris. “Ayah saya didikan Belanda,” kata Sutiyoso dalam program Satu Indonesia[1]

Pendidikan secara keras yang dialami di dalam rumah rupanya membuat sosok Sutiyoso di luar rumah menjadi beringas. “Situasi di rumah seperti itu barangkali menyebabkan saya liar di luar rumah,” kata Sutiyoso. “Saya ingin berkelahi saja bawaannya,” katanya menambahkan. Perilaku Sutiyoso yang ‘hobi’ berkelahi ini membuat kedua orangtuanya mengirim Sutiyoso ke Pontianak, Kalimantan Barat.

memulai karier di militer
Sutiyoso kecil rupanya hobi berkelahi. Hal ini membuatnya sempat diasingkan dari keluarganya.
Sumber: moneter.co.id

Sutiyoso bercerita, saat hendak berangkat dari Semarang menuju Pontianak menggunakan kapal laut, ia hanya dititipi satu pesan dari sang ibu. “Kamu jangan berkelahi lagi di sana,” kata Sutiyoso meniru ucapan ibunya kala itu.

baca juga: kisah inspiratif Surya Paloh

Di Pontianak, Sutiyoso agaknya telah memantapkan masa depannya untuk berkarir di dunia militer. Uniknya, ia mendaftarkan diri ke Akademi Militer tanpa sepengetahuan ibunya. “Saya terpaksa menipu ya, tapi ini demi kebaikan. Saya tidak pernah bilang ke ibu saya kalau saya sedang mengikuti tes di Akademi Militer,” katanya.

Akhirnya, Sutiyoso pun diterima di Akademi Militer. Sehari sebelum ia pergi ke Magelang, lokasi Akademi Militer, ia menulis surat untuk ibunya. “Sekarang saya jadi calon Taruna di Akmil. Saya minta dengan sangat saya jangan dicari,” kata Sutiyoso menceritakan isi surat itu. Sebelum menjadi Taruna di Akmil, Sutiyoso sempat berkuliah di Universitas 17 Agustus mengambil jurusan Teknik Sipil.

Karir di Militer
 

lulus akmil pada tahun 1968
Sutiyoso ketika masih bertugas sebagai prajurit TNI Angkatan Darat.
Sumber: medanbisnisdaily.com

Ketika menginjakkan kaki di Akmil, Sutiyoso langsung dihajar oleh sistem pendidikan yang sangat keras. Tak hanya itu, ia pun kerap menjadi bulan-bulanan para seniornya. Memang sudah bukan rahasia lagi apabila tingkat plonco di Akmil saat itu cukup tinggi. Uniknya, para senior yang menghajar Sutiyoso adalah bekas lawan tarung Sutiyoso ketika ia masih hobi berkelahi dan duduk di bangku SMA.

Akibat perploncoan tersebut, Sutiyoso sempat ingin meninggalkan Akmil. Namun, Sutiyoso mengurungkan niat itu dan berhasil lulus dari Akmil pada 1968. Setelah lulus, Sutiyoso pun memulai karirnya di resimen Pusat Pasukan Khusus atau Puspassus. Puspassus sendiri telah berganti nama beberapa kali hingga kini bernama Komando Pasukan Khusus atau Kopassus.

Sebagai anggota Korps Baret Merah tersebut, Sutiyoso mempunyai segudang pengalaman bertempur di medan perang. Ada satu kisah menarik ketika ia ditugaskan menumpas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 1978. Saat itu, ia mendapat misi untuk menangkap hidup-hidup Menteri Keuangan GAM, Tengku Muhammad Usman Lampoh Awe.

Bak seorang intelijen, Sutiyoso mengendus keberadaan Usman lewat seorang pengusaha yang hendak mendanai keberangkatan Usman ke New York untuk bertemu PBB. Sukses menangkap pengusaha, Sutiyoso pun bergerak ke Medan, lokasi keberadaan Usman. Saat itu, Sutiyoso berangkat ke Medan bersama satu tim yang hanya beranggotakan empat orang.

“Kita akan ambil sendiri Usman tanpa bantuan dari pasukan mana pun. Tapi skenarionya harus kita buat sedemikian rupa agar dia percaya ada pasukan yang mengepung di situ padahal tidak ada,” kata Sutiyoso dalam biografinya yang dikutip oleh Merdeka.[2] Menyamar sebagai supir sang pengusaha, Sutiyoso berhasil membawa masuk Usman ke mobil yang dikendarainya.

Lima puluh meter mobil berjalan, Sutiyoso langsung tancap gas dan membawa kabur Usman. Ketiga anggota tim Sutiyoso pun memepet mobiil yang dikendarai Sutiyoso dengan tiga buah mobil sedan. Awalnya, Usman mengira hal itu adalah sebuah aksi perampokan. Ia baru sadar bahwa dirinya ditangkap ketika iring-iringan mobil itu membawanya ke sebuah markas tentara.

Lewat mulut Usman, tentara pun berhasil mengorek info-info penting soal GAM. Beberapa pejabat GAM pun berhasil ditangkap. Uniknya, nyaris tidak ada peluru yang terbuang pada operasi tersebut. Hal itu tentu tak lepas dari peran Sutiyoso yang berhasil menangkap Usman hidup-hidup.

Kesuksesan Sutiyoso di Aceh rupanya melejitkan ayah dua anak ini. Karirnya sebagai anggota pasukan khusus terus meningkat mulai dari Asisten Personel Kopassus, Asisten Operasi, Wakil Komandan Jenderal Kopassus. Sutiyoso juga berperan penting dalam operasi militer yang berlangsung di Timor Timur pada masa Orde Baru.

Pada 1993, Sutiyoso pun meninggalkan Kopassus dan menjadi Komandan di Komando Resor Militer 061/Suryakencana sebelum menjabat sebagai Kepala Staf Komando Daerah Militer Jaya. Ia mencapai puncak karirnya di dunia militer ketika menduduki posisi Panglima Kodam Jaya pada 1996-1997. Saat itu, ia mendapat penghargaan sebagai Komandan Resimen Terbaik se-Indonesia.

Gubernur DKI Jakarta
 

sempat menjadi gubernur DKI Jakarta
Sutiyoso sempat menjadi Gubernur DKI Jakarta pada periode 1997-2002 dan 2002-2007.
Sumber: tirto.id

Setahun memimpin Kodam Jaya, Sutiyoso diangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta untuk masa jabatan 1997-2002. Saat itu, gubernur di Indonesia masih terpilih tanpa proses Pilkada seperti yang berlaku sekarang.  Sutiyoso menuturkan tak banyak yang bisa ia lakukan saat memimpin Jakarta waktu itu. Bagaimana tidak, krisis ekonomi yang berbuntut pada kerusuhan dan aksi-aksi demonstrasi menyebabkan kerusakan di berbagai sudut Jakarta.

“Awal jabatan kan diawali dari kota ini hancur luluh lantak, semuanya hancur-hancuran ga ada yang selamat. Suasana Jakarta itu traumatis seperti kota mati. Semua kegiatan sosial ekonomi rubuh, pertumbuhan ekonomi itu di bawah titik nadir,” kata Sutiyoso menceritakan pengalamannya saat itu.

Oleh sebab itu, Sutiyoso yang akrab disapa Bang Yos memiliki fokus pada pembangunan kembali kota Jakarta yang telah hancur akibat kerusuhan. “Tema lima tahun pertama itu survive dan menormalkan kembali kegiatan sosial dan ekonomi. Tentu sentralnya keamanan dan ketertiban,” kata Sutiyoso menjelaskan.  

Di luar itu, salah satu gebrakan yang dilakukan Bang Yos pada masa jabatannya itu adalah pemagaran kawasan Monumen Nasional. Pemagaran itu dilakukan agar menghilangkan Pedagang Kaki Lima dan mobil yang kerap parkir di sana. Bang Yos juga mengatakan pemagaran itu dilakukan untuk mejaga kelestarian pohon-pohon yang terletak di kawasan Monas.

Pada 2002, Sutiyoso kembali diangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta untuk lima tahun berikutnya. Kali ini, Sutiyoso agaknya dapat lebih leluasa dalam membuat gebrakan-gebrakan baru di Kota Metropolitan ini. Salah satu gebrakan yang paling fenomenal adalah beroperasinya bus Transjakarta atau Busway. Proyek ini direncanakan dapat menjadi solusi atas masalah kemacetan di Jakarta.

Di bawah komandonya, pembangunan proyek Transjakarta berhasil dikebut. Dalam lima tahun, ia mampu membangung tujuh koridor Transjakarta yang menjangkau kawasan-kawasan ramai Ibukota. Selain mendirikan Transjakarta yang terinspirasi dari Transmilenio di Bogota, Kolombia, Bang Yos juga mencanangkan pembangunan proyek-proyek transportasi lainnya yaitu monorail dan subway.

Gebrakan lainnya yang pernah dilakukan Bang Yos dalam upaya mengurai kemacetan adalah sistem 3 in 1  yang berlaku di jalan-jalan protokol Jakarta. Bang Yos juga mengeluarkan aturan yang mewajibkan para pengendara motor untuk berjalan di sisi kiri jalan. Sayangnya, berbagai proyek dan kebijakan tersebut masih belum ampuh untuk melenyapkan kemacetan di salah satu kota terbesar se-dunia ini.

Meski begitu, Sutiyoso tetap dikenang sebagai salah satu Gubernur DKI Jakarta yang berhasil membuat perubahan. “Dia merupakan salah satu gubernur paling sukses. Semoga suksesnya dapat dirasakan tidak hanya di Jakarta tapi seluruh Indonesia,” kata Fauzi Bowo, Gubernur DKI Jakarta yang menggantikan Bang Yos, kepada Detik[3]. Selain itu, ia juga meraih penghargaan  Asian Air Quality Management Champion Award berkat gagasannya membangun Transjakarta.

Rajin Menyumbang Prestasi
 

menghadiri hut pbsiSutiyoso sebagai mantan Ketua PBSI menghadiri acara peringatan ulangtahun PBSI yang ke-66.
Sumber: djarumbadminton.com

Selain dikenal sebagai tokoh militer dan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso juga dikenal masyarakat sebagai sosok yang peduli dengan dunia olahraga. Ia tercatat pernah aktif dalam beberapa organisasi olahraga yaitu Persija Jakarta, Perbakin, Perbasi, dan PBSI.

Kiprah Sutiyoso di dunia olahraga dimulai ketika ia memimpin Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia (Perbakin). Di bawah kepemimpinannya, Perbakin berhasil mempersembahkan sebelas medali emas di ajang SEA Games. Selanjutnya, ia memimpin Persatuan Bola Basket Indonesia (Perbasi) dan memberikan medali preak SEA Games 2001. Saat itu, Indonesia mesti takluk dari raja basket Asia Tenggara, Filipina.

Petualangan Sutiyoso di dunia olahraga berlanjut ketika ia dipercaya untuk memimpin Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI). Sutiyoso mengaku jabatannya sebagai Ketua PBSI adalah yang paling menantang. Selain karena bulutangkis adalah salah satu olahraga terpopuler di Indonesia, olahraga ini juga rutin menyumbang medali emas bagi Indonesia di Olimpiade.

“Inilah yang paling berat untuk memimpin karena mempertahankan emas di Olimpiade itu yang paling sulit. Tapi Alhamdulillah di Athena kita menang satu emas dan di Beijing dapat emas lagi,” kata Sutiyoso menjelaskan. Di bawah komando Sutiyoso pula prestasi bulutangkis Indonesia sempat menjadi yang terbaik di Asia Tenggara dengan melibas seluruh medali emas pada SEA Games.

baca juga: kisah inspiratif Susi Pudjiastuti

Meski begitu, warga Jakarta tentu lebih mengenal Sutiyoso sebagai Pembina Persija Jakarta. Selama masa jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso memang dipercaya untuk membina klub Macan Kemayoran itu. Di bawah binaannya, Persija berhasil meraih gelar juara Liga Indonesia Musim 2001 dan selalu bertengger di papan atas Liga Indonesia.

Tak hanya itu, Bang Yos juga membidani berdirinya kelompok pendukung Persija yang bernama The Jakmania. Menurut  Andibachtiar Yusuf, pengamat sepakbola, Bang Yos adalah sosok penting dalam bangkitnya sepakbola di Jakarta. “Gairah sepakbola di Jakarta muncul ketika ada Sutiyoso. Dulu tidak ada orang datang ke stadion untuk dukung Persija itu tak ada,” katanya menjelaskan.

Begitulah kisah inspiratif dari seorang Sutiyoso. Berawal dari anak yang hobi berkelahi, siapa yang menyangka ia akan menjadi prajurit andal di medan perang, salah satu Gubernur DKI Jakarta yang paling berpengaruh serta mempersembahkan berbagai prestasi di dunia olahraga bagi Indonesia. Simak kisah tokoh-tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!


[1] https://www.youtube.com/watch?v=8RbkP0OyexE
[2] https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-dramatis-operasi-intelijen-tempur-kopassus-bekuk-menteri-gam.html
[3] https://news.detik.com/berita/d-843175/mengaku-sempat-bersitegang-fauzi-puji-sutiyoso