span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Ganjar Pranowo: Membangun Karir Politik sejak Lulus Kuliah
Oleh : Ardito Ramadhan
03 Mei 2018

Highlight

Kalau otak dan hati tidak mau nyopet, pejabat tak bakal pusing pikir balik modal kampanye.

ganjar pranowo
Seorang 
politikus PDI-Perjuangan yang kini merupakan seorang Gubenrur Jawa Tengah.
Sumber: femina.co.id

Sosok Ganjar Pranowo tentu sudah tidak asing lagi di dunia politik Tanah Air. Ganjar adalah seorang politisi PDI-Perjuangan yang saat ini sedang menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah. Aktivitas Ganjar dalam berpolitik agaknya tak lepas dari hobinya berorganisasi sejak kecil. Penasaran dengan kisah Ganjar yang inspiratif? Yuk, kita simak lewat artikel Kinibisa di bawah ini!



"Kalau seluruh orang ini masuk parpol lalu menularkan virus kebaikan, besok republik ini akan menjadi baik."

ganjar ketika kecil
Foto Ganjar ketika kecil dan remaja.
Sumber: wp.com

Anak Kelahiran Karanganyar yang Besar di Yogyakarta
 

Ganjar Pranowo lahir di Karanganyar, Jawa Tengah, pada 28 Oktober 1968. Menghabiskan masa kecil di sebuah kawasan wisata bernama Tawangmangu, Ganjar mengatakan masa kecilnya jauh dari kata sederhana. “Masa kecil saya tidak enak, saya pergi ke sekolah tidak pakai sepatu,” kata Ganjar dalam sebuah wawancara bersama NET[1].

Setelah menamatkan pendidikan sekolah dasar, Ganjar meninggalkan Tawangmangu dan pindah ke Kutoarjo. Di kota kecil itulah Ganjar menghabiskan masa remajanya dengan bersekolah di SMP 1 Kutoarjo. Ganjar menganggap pengalaman masa kecilnya di Tawangmangu dan Kutoarjo sebagai periode yang sulit baginya. “Susah karena miskin, ga bisa mendapatkan banyak akses, terlalu banyak keinginan,” kata Ganjar.

baca juga: kisah inspiratif Djarot Saiful Hidayat

Meski begitu, keluarga Ganjar agaknya adalah keluarga yang amat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Selepas lulus dari SMP 1 Kutoarjo, Ganjar dikirim ke Yogyakarta untuk bersekolah di SMA BOPKRI Yogyakarta. Di Kota Pelajar itu, Ganjar berstatus sebagai anak kos. Akibatnya, segala hal yang Ganjar perlukan harus bisa ia siapkan secara mandiri. Salah satu contohnya adalah belanja bahan makanan dan memasaknya sendiri.

Setelah tamat SMA, Ganjar melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas paling bergengsi se-Tanah Air, yaitu Universitas Gadjah Mada. Ganjar tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum UGM angkatan tahun 1987. Masa-masa perkuliahan di UGM agaknya menjadi titik balik bagi kehidupan Ganjar. Sebab, UGM adalah tempat yang memperkenalkan Ganjar dengan kegiatan politik dan organisasi.

“Saat saya di Yogya, dunia saya saya temukan. Saya ke politik, ketemu tokoh besar di situ, belajar di situ,” kata Ganjar. Ia menuturkan ada beberapa organisasi yang ia geluti selama berkuliah di UGM. Organisasi-organisasi itu antara lain Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Mahasiswa Pencinta Alam Gadjah Mada (Mapagama), Pers Mahasiswa, dan Senat Mahasiswa.

Akibat kesibukannya berorganisasi, masa perkuliahan Ganjar harus dihabiskan selama 8 tahun. “Jadi ini bukan untuk ditiru,” kata Ganjar sambil tertawa. Meski begitu, aktivitasnya dalam organisasi mengantar Ganjar untuk berkecimpung di dunia politik.

Terjun ke Politik Bersama Partai Banteng
 

ganjar memilih pdip
Ganjar memilih Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan sebagai kendaraan politiknya.
Sumber: wp.com

Lulus dari UGM pada 1995, Ganjar langsung memulai petualangan politiknya dengan bergabung dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Rupanya, ada alasan khusus mengapa Ganjar memilih PDI sebagai pelabuhan politiknya.  “Dulu kan masih kekuasaan Orde Baru ya, jadi kalau kita berani itu rasanya menarik. Ternyata PDI Perjuangan paling kecil, jadi layaklah bela yang paling kecil,” kata Ganjar.

Di samping itu, Ganjar juga mengakui PDI mempunyai kesamaan dengan dirinya dari segi platform, ideologi, dan visi-misi. Namun, karir politik Ganjar sempat terhenti akibat pertikaian yang terjadi dalam internal kepengurusan PDI. Selama absen dari dunia politik, Ganjar membangun kantor hukum sendiri serta bekerja di sebuah konsultan Sumber Daya Manusia.

Memasuki era reformasi, Ganjar kembali berkecimpung di dunia politik. Pilihan politiknya tak berubah, ia bergabung dalam Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P), partai baru yang dihuni mantan kader-kader PDI.

Pada Pemilu 2004, Ganjar dicalonkan oleh partai berlambang banteng itu untuk menjadi anggota DPR. Sayangnya, Ganjar gagal melaju ke Senayan karena kalah tipis di Dapil Jawa Tengah VII yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Kebumen, dan Sragen.

Meski begitu, Ganjar akhirnya tetap melenggang ke Senayan untuk menggantikan rekan separtainya, Jacob Tobing, yang diangkat menjadi Duta Besar RI untuk Korea Selatan. Pada periode pertamanya di DPR itu, Ganjar dipercaya untuk duduk di Komisi IV yang membidangi masalah pertanian, pangan, maritime, dan kehutanan.

Selanjutnya, Ganjar kembali terpilih sebagai legislator melalui Pemilu 2009. Kali ini, ia dipercaya untuk menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi II, komisi yang membidangi masalah dalam negeri, secretariat negara, dan pemilihan umum. Terpilihnya Ganjar sebagai pimpinan komisi tentu bukan tanpa alasan. Penggemar musik rock ini dianggap cerdas dan terbuka. “Dia pintar, dia juga orangnya terbuka mau diskusi,” kata Maruarar Sirait, politisi PDI-Perjuangan.

Pembawaannya yang vokal dan berani juga membuat Ganjar dipilih sebagai salah satu anggota Panitia Khusus Angket Century. “Dia tajam, cermat, dan sedikit agak ribet. Karena dia ingin sesuatu yang sempurna dari produk-produk undang-undang yang kami bikin,” kata politisi Senayan lainnya, Akbar Faisal.

Lambat laun, nama Ganjar pun semakin dikenal masyarakat. Reputasi Ganjar meningkat karena kegigihan dan keberaniannya bersuara. Politisi yang ikut merampungkan UU Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta ini juga dinilai sebagai politisi yang mempunyai prinsip.

Gubernur Jawa Tengah
 

Sepak terjang Ganjar dalam kancah politik nasional membuat PDI-P berniat mengusungnya dalam Pemilihan Gubernur Jawa Tengah yang digelar pada 2013. “Sebagai salah satu kader yang sudah lama di PDI-P, tentu saja kalau ada kesempatannya kita harus bisa memberikan peluang dan kesempatan kepada orang-orang muda yg berkomitmen dan mempunyai loyalitas yang jelas. Tidak hanya bagi partai tapi juga bangsa ini,” kata Ketua DPP PDI-P, Puan Maharani.

ganjar dan heru
Ganjar Pranowo dan Heru Sudjatmoko ketika dicalonkan oleh PDI-Perjuangan dalam Pilgub Jawa Tengah 2013 lalu.
Sumber: blogspot.com

Keputusan PDI-P mejagokan Ganjar dalam Pilgub Jateng 2013 rupanya berbuah manis. Berpasangan dengan Bupati Purbalingga, Heru Sudjatmoko, Ganjar berhasil memenangi Pilgub dengan raihan suara sebesar 48,82 persen. Kemenangan telak Ganjar-Heru itu agaknya berada di luar prediksi. Sebab, pasangan yang membawa jargon ‘mboten korupsi, mboten ngapusi’ ini mesti berhadapan dengan kandidat populer lainnya seperti gubernur petahana, Bibit Waluyo.

Ganjar pun tidak enggan berbagi resep kemenangannya tersebut. Ia mengatakan kunci sukses kemenangannya adalah dengan menjadi diri sendiri. “Rakyat kita, khususnya Jawa Tengah mulai jujur. Dia akan melihat orang apa adanya. Jadi, semakin saya apa adanya semakin rakyat percaya sama saya,” kata Ganjar.

Meski begitu, Ganjar tidak menolak apabila ia disebut melakukan pencitraan. “Politik itu citra, semua akan melakukan pencitraan,” katanya. Oleh sebab itu, ia pun mengaku tak akan marah bila ia dianggap melakukan pencitraan.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menyapa masyarakat. “Kita datang kepada mereka, sehari tujuh sampai sembilan titik,” kata Ganjar. Tak hanya menyapa secara langsung, Ganjar juga rajin menyapa warganya lewat Twitter. Sebagai pemimpin yang ingin dekat dengan rakyatnya, Ganjar selalu membalas komentar-komentar yang masuk ke Twitternya.

Uniknya, Ganjar mengoperasikan akun Twitternya sendiri tanpa bantuan orang lain yang menjadi admin. “Hampir semua orang tidak percaya kalau Twitter saya itu saya operasikan sendiri,” kata Ganjar. Oleh karena itu, tak heran apabila Ganjar dijuluki sebagai Gubernur Twitter.

Setelah terpilih sebagai Gubernur Jateng, Ganjar tetap rajin mengunjungi dan menyapa warga-warganya. Ia juga tak segan mengadakan inspeksi mendadak untuk mengawasi dan menegur kinerja anak buahnya. Salah satu sidaknya yang paling populer adalah ketika ia menyidak  sebuah jembatan timbang di daerah Batang pada 2014. Saat itu, ia marah besar karena memergoki para petugasnya melakukan pungutan liar.

“Temuan mengenaskan, ya pas kalau jalan hancur, hampir semua melebihi muatan. Kalau tiap hari seperti ini, berapapun pendapatan yang diperoleh dari Perda ini tidak sebanding dengan yang kita pakai untuk memperbaiki,” kata Ganjar dikutip dari Detik.[2]

Sepak terjang  politik Ganjar yang telah dirintis sejak duduk di bangku kuliah membuat laki-laki yang hobi memasak ini memperoleh berbagai penghargaan. Berikut ini adalah penghargaan-penghargaan yang pernah diraih oleh Ganjar

  • Anugerah Pataka Paramadhana Utama Nugraha Koperasi (2013)
  • Kepala Daerah Inovatif untuk kategori layanan publik (2014)
  • Anugerah Tokoh Media Radio dari Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Tengah (2015)
Sosok Gubernur Sekaligus Ayah
 

ganjar bersama anaknya
Ganjar dan anak semata wayangnya yang bernama Muhammad Zinedine Alam Ganjar .
Sumber: tstatic.net

Di balik kesibukannya sebagai Gubernur Jawa Tengah, Ganjar rupanya tetap berusaha menjadi sosok ayah bagi anak semata wayangnya. “Saya ajarkan pada relasi manusianya, dia bukan sekadar anak saya tapi juga teman saya,” kata Ganjar.

Selain itu, Ganjar juga berusaha untuk mampu membagi waktu antara pekerjaannya dan keluarganya. Untuk menyiasatinya, ia sengaja tidak ingin membuat agenda pekerjaan di Hari Minggu. Namun, ia juga merasa khawatir mendapat respon negatif dari rakyatnya bila menghabiskan akhir pekan bersama keluarga. “Kalau Hari Minggu saya jalan-jalan sama anak, kira-kira apa kata rakyat. Ini gubernur kok keluyuran?” kata Ganjar.

Di luar dugaan, Ganjar rupanya dipuji oleh masyarakat karena menghabiskan waktu akhir pekan bersama keluarga. “Alhamdulillah, ternyata kita sebagai manusia biasa juga dilihat oleh rakyat,” kata Ganjar.

baca juga: kisah inspiratif Djarot Saiful Hidayat

Selain itu, Ganjar juga berhasil membagi waktu antara menjadi anggota parlemen dan mahasiswa S2 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Ganjar mengatakan ambisinya memperoleh gelar S2 disebabkan ingin berkuliah secara serius. Seperti telah disebut sebelumnya, masa kuliah S1 Ganjar memang lebih banyak diisi oleh kegiatan-kegiatan organisasi.

“Saya ngebet betul begitu saya jadi anggota dewan, saya ingin kuliah lagi. Akhirnya ambil pascasarjana di UI, kuliahnya beneran dan ternyata bisa juga,” kata Ganjar sambil tertawa. Meski berstatus sebagai wakil rakyat, Ganjar disebut mudah berbaur bersama teman-teman mahasiswanya. “Dia ini bisa menempatkan dirinya untuk bergaul dengan mahasiswa lainnya,” kata Valina Singka Subekti, Dosen Magister Ilmu Politik UI.

Melalui kisah Ganjar Pranowo di atas, kita dapat belajar bahwa aktif berorganisasi dapat menjadi modal penting untuk karir kita ke depannya. Selain itu, Ganjar juga menjadi contoh bagi kita untuk selalu menjadi apa adanya. Ingin mengetahui kisah-kisah inspiratif lainnya? Mari bergabung dengan Kinibisa untuk mewujudkan #GenerasiKompeten.


[1] https://www.youtube.com/watch?v=UCuEJzdtZFM
[2] https://news.detik.com/jawatengah/2567363/ganjar-pranowo-mengamuk-pergoki-pungli-di-jembatan-timbang/2