span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Effendi Ghazali: Kritik Politik Yang Dibalut Gelak Tawa
Oleh : Nanda Aulia Rachman
03 Mei 2018

Highlight

Biar saja masyarakat menilai saya, Biar saja mereka dengan imajinasinya tentang saya. Itu lebih menyenangkan.

effendi ghazali
Seorang pakar komunikasi politik Indonesia. Sosoknya kerap muncul di media massa ketika masa pemilu tiba.
Sumber: tmpo.co

Dikenal dengan lawakan dan kepiawaiannya dalam membaca intensi pejabat politik, Effendi Ghazali menasbihkan namanya sebagai salah satu nama besar di jajaran pakar komunikasi Politik Indonesia. Kinibisa kali ini akan mengangkat sepak terjangnya mengomentari lakon politik di Indonesia.



"Karena aku melawan mereka, aku tak pernah jadi siswa teladan."

Effendi Ghazali lahir di Padang, 5 Desember 1966. Ia merupakan seorang akademisi Indonesia yang vokal di dalam panggung politik. Ia menguasai beberapa bidang termasuk, komunikasi politik dan komunikasi internasional. Sosok yang kocak nan tegas ini dikenal oleh publik pula lewat program televisi gagasannya, Republik Mimpi.

Sosok Dua Sisi Koin
 

Menurut Rustika Herlambang, Effendi Ghazali, layaknya sebuah koin, memiliki dua sisi yang berlawanan. Di satu sisi ia terlihat sangat hangat dan mudah diajak bicara. Namun di satu sisi, ia sangat sulit untuk ditebak dan ditangkap, layaknya belut. Sisi kedua ini terjadi jika ia dihadapkan oleh isu-isu personal mengenai dirinya.

nilai sendiri citranya
Effendi Ghazali menginginkan publik menilai sendiri citranya.
Sumber: ytimg.com

“Biar saja masyarakat menilai saya, Biar saja mereka dengan imajinasinya tentang saya. Itu lebih menyenangkan,” jelas Effendi kepada Rustika Herlambang di laman web pribadinya (20/01/2009). Satu hal yang bisa kita pastikan darinya adalah kepiawaiannya membaca wacana politik, tingkah laku pejabat publik, dan rasa humor yang langka baik di dunia hiburan maupun akademis.

Effendi muda sudah dikenal dengan kemampuan logika dan nalarnya yang tinggi dan kritis. Ayahnya selalu mendorong Effendi untuk menjadi seseorang yang kritis terhadap berbagai hal yang ia temui. Mulai dari siaran berita sampai pertandingan bola, tak ada yang lepas sebagai bahan diskusi.

Sikap kritis ini ternyata tidak disukai semua orang. Lelaki Minang ini dikenal sebagai pribadi yang tidak disenangi oleh guru-guru di sekolahnya. “Karena aku melawan mereka, aku tak pernah jadi siswa teladan,” tambah Effendi yang selalu jadi ranking utama semasa sekolahnya di Padang dikutip dari laman web pribadi Rustika Herlambang (20/01/2009)

Tekanan dan desakan dirinya ia curahkan dalam panggung komedi. Di panggung inilah ia menumpahkan segala sesuatu yang dipertanyakan oleh logika berpikirnya. Ia berbalik “membantai” orang-orang yang telah melukainya. Maklum, saat itu ia telah menggenggam piala pertama juara lawak se-Sumatera Barat. Hal itu berlangsung hingga kini. Panggung menjadi kekuasaannya untuk menumpahkan sesuatu yang dikritisinya. Tanpa beban.

Semasa berkuliah di Universitas Indonesia, ia juga sering tampil di TVRI bersama grup lawaknya. Lawakan parodi politik ini diturunkan setelah satu tahun disiarkan.“Di masa itu, lawakan yang kritis dan cerdas, jelas tidak diterima,” ujarnya dilansir dari laman web pribadi Rustika Herlambang (20/01/2009)

Republik Mimpi
 

selera humor langka
Effendi Ghazali merupakan seorang yang mempunya selera humor yang langka.
Sumber: kompas.com

Republik Mimpi merupakan sebuah program parodi politik yang mengkritisi dan mengomentari kondisi perpolitikan di Indonesia saat itu. Bakat lawak Effendi sendiri tidak datang begitu saja sehingga bisa menciptakan sebuah program yang dinilai memberikan perspektif politik lain pada masyarakat. Selama berkuliah di Amerika Serikat, Effendi tak pernah melewatkan pertunjukan lawak cerdas dari Jay Leno, David Letterman serta Jon Stewart.

“Aku akan terus melawak, sambil menyadarkan masyarakat,” tukasnya dikutip dari laman web pribadi Rustika Herlambang (20/01/2009). Acara ini yang sebelumnya bernama Republik BBM dan tayang di Indosiar ini menceritakan tentang sebuah kantor berita yang terdapat pada sebuah republik fiksi yang merupakan tiruan dari Indonesia, mulai dari presiden dan wakil presidennya, sampai pejabat publiknya. Effendi Ghazali sendiri berlakon sebagai penasihat Komunikasi Politik presiden Si Butet Yogya/ SBY (diperankan Butet Kartaredjasa).

Program televisi ini bahkan pernah dibahas di Konferensi TV Internasional ke-32 di Warsawa. Effendi menjelaskan, pada umumnya mereka meyakini bahwa program seperti Republik Mimpi akan meningkatkan political efficiancy warga negara dan khususnya anak-anak muda. Hal tersebut diyakini oleh pengamat dari Amerika dan Eropa Barat.

Walaupun disukai masyarakat dan memiliki prestasi, program ini tidak jauh dari cibiran publik. Menteri Komunikasi dan Informasi saat itu Sofyan Djalil mengkritisi acara ini. Ia menyebutnya “penuh dengan mudharat daripada manfaat.” Terkait acara ini. Di tahun itu pula Republik Mimpi berhenti tayang, disinyalir karena tekanan dari beberapa pihak yang menganggap program ini terlalu frontal dan blak-blakan dalam mengkritisi.

Pakar Komunikasi Politik Indonesia
 

alumnus ui
Effendi Ghazali merupakan alumnus Universitas Indonesia.
Sumber: kompas.com

Effendi Ghazali berkuliah dan lulus dari program stuidi Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia pada tahun 1990. Di tahun 1996, ia kembali mendapatkan gelar masternya di bidang yang sama dari universitas yang sama. Dia juga mendapatkan gelar master di bidang International Development dengan konsentrasi International Communication di University Cornell Ithaca, New York pada tahun 2000. Gelar doktornya di bidang Komunikasi Politik ia raih di Radbound Nijmegen University, Belanda pada tahun 2004.

Selama menjadi pengajar dan pengamat politik di Universitas Indonesia, ia telah meraih beberapa penghargaan. Beberapa penghargaan yang pernah diberikan padanya adalah;

  • Peneliti Terbaik Universitas Indonesia 2003 di bidang sosial dan humaniora
  • Peraih International Communication Association (ICA) Award 2004 untuk bidang riset dan publikasi

Pakar komunikasi politik ini mundur sebagai dosen luar biasa di Universitas Indonesia pada tahun 2011 dikarenakan ketidaksamaan visi misinya dengan kehidupan kampus Universitas Indonesia. Ia merasa prihatin dengan banyak hal di kampus itu yang menurutnya tidak masuk akal. Ketidaksepahaman dengan kepemimpinan rektor UI saat itu, Gumilar Rosliwa Soemantri disinyalir menjadi penyebab utamanya.

baca juga: kisah inspiratif Anies Baswedan

Selama karirinya ia telah menjabati beberapa posisi di banyak organisasi seperti;

  • Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia (Wacana UI) 1998; kemudian Anggota Presidium
  • Deputi Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI)
  • Anggota International Communication Association (ICA)
  • Dewan Juri Anugerah Adi Warta Wartawan Indonesia 2006 & 2007
  • Dewan Nasional Provokasi Indonesia, 2006

Hingga saat ini, Effendi tetap aktif menjadi pakar komunikasi politik dan tetap mengajar di Univeristas Indonesia sebagai dosen tamu di program studi Ilmu Komunikasi. Lelaki yang melepas masa lajangnya bersama Hikmah Febriani Ali Alatas di tahun 2008 ini juga masih aktif menulis di berbagai kolom dan tajuk wacana di berbagai media massa di Indonesia

Effendi Ghazali telah membuktikan bahwa topik sulit seperti politik dapat dikemas menjadi menarik lewat lakon atau sandiwara yang menggelitik. Sosok Effendi juga bisa menjadi inspirasi untuk terus belajar dan berani bersikap. Simak kisah tokoh-tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!