span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Djarot Saiful Hidayat: Dari Walikota hingga Wakil Gubernur Ibukota
Oleh : Ardito Ramadhan
03 Mei 2018

Highlight

Karena hidup itu belajar.

Djarot Syaiful Hidayat
Politikus PDI-Perjuangan yang mempunyai pengalaman sebagai Walikota Blitar dan Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Sumber: wowkeren.com

Nama Djarot Saiful Hidayat baru muncul di pentas politik nasional pada 2014 ketika ia menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Namun, tahukah kamu kalau Djarot rupanya telah lama berkarya lewat Kota Blitar yang ia pimpin selama sepuluh tahun? Mari simak kisah Djarot yang inspiratif bersama Kinibisa!



"Seluruh aparatur pemerintah di Indonesia dibayar oleh uang rakyat. Kita semua ini adalah pelayan rakyat. Maka harus bisa melayani dengan amanah dan bekerja untuk rakyat, dipercaya rakyat."

Masa Kecil Djarot
 

Djarot Saiful Hidayat lahir di Magelang, Jawa Tengah, pada 6 Juli 1962. Ketika lahir, rupanya ia hanya bernama Saiful Hidayat, tanpa nama ‘Djarot’ di depannya. Pemberian nama ‘Djarot’ justru bisa dikatakan sebagai sebuah hal yang tidak sengaja.

Cerita pemberian nama ‘Djarot’ diawali ketika Djarot kecil sering diasuh oleh seorang penjual tempe langganan ibunya. Saat itu, Djarot yang sering sakit-sakitan kerap dipanggil Djarot oleh pengasuhnya itu. Bahkan, ibunya pun disapa dengan nama ‘Ibu Djarot’.

Akibatnya, nama ‘Djarot’ menjadi lekat dan akrab terdengar di tengah-tengah keluarga. Apalagi, ada sebuah kepercayaan masyarakat di mana apabila ada anak yang sakit-sakitan, maka namanya perlu ditambahkan atau diganti. Oleh sebab itu, orang tuanya pun menambahkan nama ‘Djarot’ di depan nama Saiful Hidayat yang telah disandangnya sejak lahir.

hanya memilik nama syaiful hidayat
Djarot ternyata hanya memiliki nama Saiful Hidayat sejak kecil.
Sumber: mediaindonesia.com

Masa kecil Djarot banyak dihabiskan dengan berpindah-pindah kota karena ayahnya yang bekerja sebagai tentara. Djarot pun tumbuh dalam keluarga pekerja keras. Bagi keluarga Djarot, pekerjaan apapun akan dilakukan, selama pekerjaan itu halal dan tidak memutus pendidikan.

Berkat kerja keras orang tuanya, Djarot memperoleh kesempatan menimba ilmu di Universitas Brawijaya, Malang. Di sana ia mengambil jurusan Ilmu Administrasi dan lulus pada 1986. Lalu, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan meraih gelar master pada 1991.

baca juga: kisah inspiratif Effendi Ghazali

Djarot memulai karirnya dengan menjadi dosen di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG), Surabaya. Kemudian, ia menjabat posisi Pembantu Dekan I FIA UNTAG sebelum terpilih menjadi Dekan FIA UNTAG periode 1991-1997. Ia pun sempat mengemban jabatan Pembantu Rektor I di kampus yang sama pada 1997-1999.

Sebelum terjun ke dunia politik, Djarot memang telah lama berkecimpung dalam dunia akademik. Petualangan politiknya dimulai pada 1999 ketika ia aktif sebagai politisi PDI Perjuangan di Jawa Timur. Pada tahun yang sama, Djarot dicalonkan oleh partai berlambang banteng itu untuk menjadi anggota DPRD Jawa Timur pada Pemilu 1999. Djarot pun terpilih sebagai anggota DPRD Jawa Timur dan menjabat posisi Ketua Komisi A.

Setahun berada di kursi parlemen daerah, Djarot disusung PDI-P untuk menjadi Calon Walikota Blitar. Dalam pemilihan yang dilangsungkan di DPRD Kota Blitar, Djarot terpilih sebagai Walikota Blitar ke-21 masa jabatan 2000-2005. Di sinilah petualangan politik Djarot yang sesungguhnya baru dimulai.

Djarot Semasa Menjabat Walikota Blitar
 

ketika menjadi wakil gubernur
Djarot ketika menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta pada periode 2014-2017.
Sumber: klikkabar.com

Sejak awal kepemimpinannya di Blitar, Djarot menunjukkan bahwa dirinya peduli dan berpihak pada kebutuhan rakyatnya, terutama rakyat jelata yang biasa disebut ‘wong cilik’. Bahkan, ia tidak hanya berpihak melainkan juga menyelami dan memahami hati para rakyat jelata itu. Tak heran, Djarot mampu menjabat Walikota Blitar hingga dua periode.

Selayaknya Joko Widodo, Presiden RI saat ini yang sempat menjadi Walikota Solo, Djarot pun mempunyai hobi bluskan dan menemui rakyatnya. Bahkan, Djarot sudah mulai blusukan jauh sebelum Jokowi menjabat Walikota Solo.

Ketika blusukan, Djarot biasanya mengendarai sepeda atau sepeda motor mengitari Kota Blitar sambil menyapa dan mendengar aspirasi rakyatnya. Blusukan yang dilakukan Djarot pun jauh dari hinga-bingar media karena ia melakukannya tanpa protokoler dan tidak diliput media. Pakaian yang digunakan Djarot saat blusukan pun sangat sederhana, cukup dengan kaos oblong tanpa harus menggunakan seragam pemerintah.

Selain blusukan, keberpihakan Djarot pada wong cilik juga ditunjukkan dengan tekadnya dalam menghemat anggaran. Saat baru menjabat, Djarot menolak mobil dinas baru dan tetap menggunakan mobil dinas lama. Menurutnya, apabila ia menerima mobil dinas itu maka pejabat lainnya akan meminta mobil dinas baru sehingga akan membuang-buang uang.

Tak hanya mobil dinas, Djarot juga pernah menolak sebidang tanah yang diberikan kepadanya. Padahal, Djarot yang saat itu baru menikah tidak mempunyai aset tanah maupun rumah pribadi di Blitar selain rumah dinas walikota yang ditempatinya. Demi efisiensi anggaran, Djarot pun memangkas jabatan-jabatan structural dalam Pemkot Blitar yang dinilai tidak bermanfaat. Berkat pemangkasan itu, birokrasi Pemkot menjadi lebih ramping dan gesit.

Gebrakan lain yang dilakukan Djarot antara lain kebijakannya dalam menata pasar tradisional dan pedagang kaki lima. Buktinya, ia berhasil menata ribuan pedagang kaki lima di Alun-alun Blitar yang sebelumnya terlihat kumuh. Selain itu, ia juga membatasi berdirinya mall di Blitar. Hal itu Djarot lakukan demi menggerakan roda perekonomian wong cilik di kotanya.

Di samping itu, Djarot juga sukes menggerakan warganya untuk bergotong-royong. Dengan intensif yang diberikan oleh Pemkot Blitar, masyarakat bergotong-royong memperbaiki rumah-rumah reyot yang ada di sekitar mereka. Program ini berjalan sukses karena telah merenovasi lebih dari 2000 buah rumah reyot. Oleh sebab itu, kini sulit menemukan rumah reyot di Kota Blitar.

Berkat kerja kerasnya tersebut, Kota Blitar sempat memperoleh Piala Adipura sebanyak tiga kali berturut-turut, yaitu dari 2006 hingga 2008. Pada 2008, Djarot juga mendapat penghargaan dari Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah serta penghargaan Terbaik Citizen’s Charter di Bidang Kesehatan.

Djarot di Ibukota
 

mendampingi ahok
Djarot dipercaya oleh Ahok untuk mendampinginya sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta.
Sumber: kompas.com

Berdasarkan situasi politik saat itu, kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta yang kosong disebut-sebut milik PDI Perjuangan. Oleh sebab itu, nama Djarot pun mulai disebut-sebut Setelah masa jabatannya sebagai Walikota Blitar habis pada 2010, Djarot lebih banyak beraktivitas di partai politik. Pada periode 2010-2015, ia tercatat sebagai Ketua Bidang Organisasi DPP PDI Perjuangan. Pada Pemilu Legislatif 2014, Djarot mencalonkan diri menjadi calon anggota DPR periode 2014-2019. Djarot pun berhasil melenggang ke Senayan setelah meraup lebih dari 69 ribu suara di daerah pemilihannya.

Status Djarot sebagai legislator nasional rupanya tak berlangsung lama. Kemenangan Joko Widodo dalam Pemilu Presiden 2014 membuat kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kososng. Sebab, Wakil Gubernur DKI Jakarta sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama, ‘naik jabatan’ menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Joko Widodo.

Berdasarkan situasi politik saat itu, kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta yang kosong disebut-sebut milik PDI Perjuangan. Oleh sebab itu, nama Djarot pun mulai disebut-sebut untuk mengisi posisi DKI-2. Selain Djarot, kader PDIP lainnya yang sering disebut adalah Boy Sadikin, anak mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin; dan Bambang DH, Wakil Walikota Surabaya.

Pada 17 Desember 2014, Djarot akhirnya dilantik menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta oleh Ahok.Terpilihnya Djarot pun disebabkan Ahok lebih mempercayai Djarot ketimbang kandidat lainnya. “Kalau dari tiga (calon), Pak Djarot lebih teruji mengenai eksekutif,” kata Ahok kepada CNN Indonesia[1].

Ia pun mengaku kagum dengan sepak terjang Djarot selama ini. “Pak Djarot ini dapat penghargaan walikota terbaik versi Majalah Tempo. Saya juga dapat dari Tempo. Dia juga sebenarnya yang mencanangkan bedah rumah pertama kali, termasuk revitalisasi pasar,” katanya.

Bersama dengan Ahok, Djarot membuat berbagai gebrakan selama jabatan mereka. Beberapa program yang mereka buat antara lain Kartu Jakarta Pintar, Kartu Jakarta Sehat, dan peremajaan angkutan umum. Selain itu, ada pula program-program kontroversial yang dibuat oleh pasangan Ahok-Djarot seperti pembangunan pulau reklamasi serta normalisasi Sungai Ciliwung dengan menertibkan rumah-rumah yang ada di bantarannya.

Di balik segala kontroversinya, kerja keras Ahok dan Djarot rupanya mendapat apresiasi dari warga Jakarta. Melalui survey yang dilakukan Litbang Kompas pada Juni 2016, tercatat 70 persen warga Jakarta mengaku puas dengan kinerja Ahok-Djarot. Berbekal tingkat kepuasan masyarakat serta elektabilitas dan popularitas yang terus menanjak, Ahok-Djarot pun mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada Pemilukada 2017.

Dengan sokongan dari PDI-P, Partai Golkar, Partai Hanura, dan Partai Nasional Demokrat, Ahok-Djarot berlaga di Pemilukada menghadai dua pasangan lainnya yaitu Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan Agus Yudhoyono-Sylviana Murni. Pemilukada DKI Jakarta 2017 juga disebut sebagai salah satu Pemilukada terpanas yang pernah ada.

Pemilukada DKI Jakarta 2017
 

kampanye ahok djarot
Ahok dan Djarot dalam sebuah kegiatan kampanye Pemilukada DKI Jakarta 2017.
Sumber: tiuppeluit.com

Pada awalnya, para pengamat politik memprediksi Ahok-Djarot dapat memenangkan Pemilukada 2017 dengan mudah. Sebab, kinerja mereka dinilai telah memuaskan warga Jakarta serta memperoleh dukungan dari partai-partai besar. Sayangnya, prediksi itu tak terbukti di akhir Pemilukada. Ahok-Djarot kalah pada putaran Pemilukada 2017 dari pasangan Anies-Sandi dengan selisih angka yang cukup jauh.

Perjalanan kampanye Ahok-Djarot dalam Pemilukada 2017 memang sungguh berat. Meski mempunyai dibekali tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi, kasus penodaan agama yang melibatkan Ahok membuat keduanya kesulitan meraih simpati warga. Pasangan yang awalnya diprediksi dapat menang satu putaran ini mesti bersaing di putaran kedua setelah hanya meraih 42,99 persen suara.

Memasuki putaran kedua, tantangan yang dihadapi pasangan tersebut semakin berat. Bukan hanya, persidangan yang mesti dihadiri Ahok setiap minggunya, keduanya juga kerap menerima penolakan dari warga Jakarta. Tak jarang, Ahok dan Djarot mesti ‘terusir’ dari lokasi kampanye. Bahkan, Djarot sempat diteriaki dan diusir ketika sedang menunaikan Salat Jumat.

Hambatan dan intimidasi yang seringkali diterima Djarot rupanya tak membuat ia patah semangat. Kondisi seperti itu justru menunjukkan kesabaran yang dimiliki seorang Djarot. “Hal yang seperti ini ringan lah, bahkan yang lebih keras daripada itu sudah saya maafkan kok. Betul-betul saya maafkan dari dalam hati yang terdalam,” kata Djarot dikutip dari Kompas[2] .

Tak hanya diusir dan diteriaki, tak jarang pula Djarot menerima ancaman dan hinaan dari warganya. Namun, Djarot menilai hal-hal itu adalah ujian baginya. “Orang sabar itu artinya menerima apapun,” kata Djarot kepada Tempo[3]. “Dicaci saya terima, dihadang saya terima, dihina kami terima, dipukul pun saya terima,” katanya.

baca juga: kisah inspiratif Eko Prasojo

Menghadapi pasangan Anies-Sandi dalam Pemilukada 2017 putaran kedua, pasangan Ahok-Djarot akhirnya mesti mengakui kekalahan setelah hanya meraih 42,04 persen. Ahok-Djarot pun menerima kekalahan itu secara ksatria serta mengimbau pendukungnya untuk tidak tenggelam dari kekecewaan. “Jiwa yang tenang akan mampu hilangkan seluruh dendam, seluruh amarah, nafsu angkara murka,” kata Djarot dikutip dari Kompas.[4]

Selepas Pemilukada, pasangan Ahok-Djarot kembali menghadapi tantangan. Pasangan itu terpaksa ‘cerai’ setelah Ahok ditahan karena dinilai bersalah dalam kasus penodaan agama. Sebagai Wagub, Djarot mengaku kaget dengan keputusan itu. Ia pun sempat menjadikan dirinya sebagai jaminan agar Ahok tak ditahan. “Kalau sampai ada apa-apa saya yang akan menjamin. Jaminan itu jaminan menyeluruh. Termasuk kalau ada apa-apa saya menggantikan di penjara itu jaminan saya,” katanya kepada Merdeka.[5]

Di samping itu, status tahanan yang diemban Ahok membuat Djarot mesti mengisi posisi Gubernur DKI Jakarta yang ditinggalkan Ahok. Pada 15 Juni 2017, secara resmi Djarot menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta sebelum digantikan Anies Baswedan, Gubernur terpilih hasil Pemilukada 2017, pada Oktober nanti. “Sisa waktu tidak banyak, maka ini harus segera kita kebut terutama beberapa yang sudah dirancang sebelumnya dan harus selesai tahun 2017,” kata Djarot kepada CNN Indonesia.[6]

Kisah Djarot di atas agaknya memberi sebuah harapan bagi kita tentang masih adanya sosok pejabat yang sederhana serta mau memperhatikan masyarakatnya. Sosok Djarot juga dapat mengajarkan kita tentang bagaimana caranya bersabar di tengah kritikan bahkan hinaan yang datang. Mari simak kisah-kisah inspiratif lainnya bersama Kinibisa!


[1] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20141201100450-20-14917/ahok-dari-tiga-calon-wakil-gubernur-djarot-lebih-teruji/
[2] http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/14/16162121/diteriaki.usai.shalat.jumat.djarot.mengaku.tak.marah.dan.memaafkan
[3] https://metro.tempo.co/read/news/2017/06/18/214885612/gubernur-djarot-belajar-sabar-dari-kho-ping-hoo
[4] http://megapolitan.kompas.com/read/2017/04/20/09043481/berguyon.dan.legawa.cara.ahok-djarot.terima.kekalahan
[5] https://www.merdeka.com/peristiwa/jadi-jaminan-djarot-siap-gantikan-ahok-di-penjara.html
[6] https://www.cnnindonesia.com/politik/20170615122752-32-221921/usai-dilantik-jadi-gubernur-djarot-akan-jenguk-ahok/