span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Bacharuddin Jusuf Habibie: Cinta, Dirgantara, dan Indonesia
Oleh : Nanda Aulia Rachman
03 Mei 2018

Highlight

Gagal hanya terjadi jika kita menyerah.

habibie
Seorang insinyur andal di bidang penerbangan yang sempat menjadi Presiden Republik Indonesia pada 1998-1999.
Sumber: skifkunram.com

Kinibisa kali ini akan mengangkat tokoh inspiratif yang telah memberikan banyak kontribusi dan cerita, tidak hanya bagi Indonesia, namun juga dunia. BJ Habibie merupakan seorang teknokrat dan politisi yang mempunyai perjuangan dan cinta yang besar untuk semua hal yang ia cintai, pesawat terbang, Indonesia, dan Ainun.



"Tak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuat Anda bahagia dan berarti lebih dari siapapun."

Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Pare-Pare, 25 Juni 1936. Ia merupakan seorang teknokrat yang menjadi Presiden ke-3 Republik Indonesia, pasca jatuhnya masa orde baru kepemimpinan Soeharto. Pemerintahan Habibie banyak dianggap sebagai masa transisi menuju reformasi. Selain dikenal sebagai presiden tersingkat Indonesia setelah kemerdekaan, ia dikenal pula dengan kecerdasaan dan inovasinya membangun industri dirgantara Indonesia.

Pendidikan Habibie
 

memegang salah satu pesawat
Habibie muda memegang salah satu model pesawat rancangannya.
Sumber: notepam.com

Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara di keluarga Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo.  Sejak kecil, Habibie sudah gemar menunggang kuda dan membaca. Tak ayal, ia menjadi langganan juara kelas di sekolahnya. Habibie pindah ke Bandung bersama ibunya pasca ayahnya meninggal saat umurnya 14 tahun.

Selamat tinggal di Kota Kembang, Habibie mengenyam pendidikan di SMP dan SMA Kristen Dago. Ketertarikannya sudah mulai terfokus terhadap ilmu-ilmu eksakta. Habibie pun memutuskan untuk melanjutkan studi di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun pada tahun 1954.

baca juga: kisah inspiratif Gita Wirjawan

Habibie muda hanya berkuliah selama satu tahun di ITB karena dirinya mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi dirgantara ke eropa. Lelaki yang pada awalnya disekolahkan di Belanda ini, menempuh studi di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH), Aachen University pada program studi teknik penerbangan spesialisasi konstruksi pesawat. Selama disana, ia harus bekerja paruh waktu untuk membiayai kebutuhan hidupnya.

Musim liburan bukan liburan bagi beliau justru kesempatan emas yang harus diisi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku. Sehabis masa libur, semua kegiatan disampingkan kecuali belajar. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, mereka lebih banyak menggunakan waktu mereka untuk bekerja, berlibur dan mencari pengalaman.

Pada tahun 1960 ia mendapatkan gelar diplom ingenieur dari RWTH. Dia pun melanjutkan studinya dan menjadi asisten riset Hans Ebner di RWTH Aachen untuk mendapatkan gelar doktoralnya. Habibie muda menyelesaikan pendidikan sarjana sampai doktoralnya total selama 10 tahun di Jerman

Faktor Habibie
 

insinyur andal
Habibie merupakan sosok insinyur andal yang namanya sangat dihormati di kalangan insinyur dunia.
Sumber: wp.com

Selepas mendapat gelar insinyur, Habibie bekerja di sebuah firma yang bergerak di bidang kereta api, Talbot. Di sana, ia berhasil menemukan solusi untuk membuat sebuah wagon yang ringan namun mampu mengangkat benda dengan volume besar. Dengan pengalaman dan pengetahuan akan konstruksi sayap pesawat, Habibie mencoba mengaplikasikan praktik yang sama terhadap pengerjaaan wagon tersebut. Dia menjadi penasihat disana berkat prestasinya.

Sehabis menyelesaikan pendidikan doktoralnya, ia menerima tawaran sebagai insinyur di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) di Hamburg setelah menolak lamaran dari RWTH sebagai professor, dan Boeing dan Airbus sebagai insinyur.

Di sana, ia banyak melakukan penelitian di bidang termodinamika, konstruksi dan aerodinamik. Saat itu, Habibie mengembangkan Teori Habibie, Faktor Habibie dan Metode Habibie. Ketiga pemikirannya ini memungkinkan para insinyur di ranah aviasi untuk menghitung keretakan hingga tingkat atom di konstruksi pesawat. Nama lain teori ini adalah crack propagation theory.

Pencapaian ini menasbihkan namanya sebagai salah satu jenius di bidang industri penerbangan. Beberapa lembaga internasional yang memberikan gelar kehormatan diantara lain;

  • Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Jerman)
  • The Royal Aeronautical Society London (Inggris)
  • The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia)
  • The Academie Nationale de l'Air et de l'Espace (Prancis)
  • The US Academy of Engineering (Amerika Serikat)

Ia mencapai posisi tertinggi di MBB yakni sebagai Kepala Penelitian Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktur Pesawat Terbang, dan kemudian menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB (1969-1973). Pada tahun 1968, Habibie mengundang dan memberi rekomendasi kepada 40 orang insinyur Indonesia untuk bekerja di Jerman

Atas kinerja dan kebriliannya, 4 tahun kemudian, ia dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode 1973-1978 serta menjadi Penasihat Senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur MBB (1978 ). Dialah menjadi satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki jabatan nomor dua di perusahaan pesawat terbang Jerman ini.

Ayah dari Ilham Akbar Habibie ini juga mendapatkan penghargaan Edward Warner Award dan Award von Karman, penghargaan yang hampir setara dengan hadiah Nobel. Di dalam negeri, lelaki asal Pare-Pare ini mendapat penghargaan tertinggi dari ITB, Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana.

pesawat R80 dirancang
Pesawat R80 yang dirancang Habibie.
Sumber: klimg.com

Kembali Atas Permintaan Soeharto
 

pulang ke Indonesia
Habibie kembali ke Indonesia pada 1973.
Sumber: kompas.com

Di usia yang belum genap mencapai 40 tahun, Habibie telah mendapat kesejahteraan dan prestise yang sangat besar di Jerman. Hingga pada suatu hari di tahun 1973, Ibnu Soetowo, atas perintah Soeharto, berpaling ke Jerman untuk membujuk Habibie agar pulang ke Indonesia, mengambil peran strategis di pemerintahan. Habibie dengan sukarela melepas jabatannya untuk kembali berkontribusi bagi tanah air.

Ia diminta untuk mengembangkan industri dirgantara dan kemaritiman Indonesia. Tahun 1974, di usianya yang ke 38 tahun, ia diangkat menjadi penasihat pemerintah di bidang industri dirgantara dan kemaritiman. Selain itu, ia juga menjadi asisten pribadi bagi Ibnu Soetowo, Direktur Utama dari Pertamina. Dua tahun kemudian, ia diangkat menjadi Direktur Utama di Bidang Usaha Milik Negara (BUMN) terbaru saat itu, Industri Pesawat Terbang Negara (IPTN).

Habibie benar-benar fokus berkarya bagi Indonesia pada tahun 1978, setelah melepas posisinya sebagai penasihat di MBB. Dia diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi selama 20 tahun. Dirinya saat itu merangkap sebagai Direktur Utama IPTN, Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Ketua Dewan Badan Riset Nasional serta Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Ia juga menjadi anggota dari Partai Golkar, sebagaimana kewajibannya sebagai orang pemerintahan.

IPTN tumbuh dengan pesat semasa kepemimpinan sang Dokter Ingenieur. Di tahun 1980, perusahaan ini fokus terhadap manufaktur helikopter dan pesawat penumpang skala kecil. 10 tahun berlalu, Habibie juga menangani usaha negara lainnya di bidang komunikasi, kereta api, kapal, baja, alutsista dan energi. Habibie memimpin 10 perusahaan BUMN strategis saat itu.

Habibie, yang aktif di bidang konstruksi pesawat, juga mengambil pelatihan pilot di bawah arahan A.B Wolff, Mantan Kepala Staf Angkatan Udara Belanda di tahun 1995. Dalam mengembangkan industri dirgantara Indonesia, ia mengadopsi pendekatan praktis. Pendekatan ini menekankan terhadap praktik dan eksperimen menjadi prioritas utama dan dilakukan diawal, sedangkan riset dasar dilakukan diakhir, untuk mengkonfirmasi hipotesis dan eksperimen yang telah dilakukan.

Menjabat Sebagai Kepala Negara
 

menjabat presidenHabibie diangkat menjadi Presiden Indonesia pada 21 Mei 1998 menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri.
Sumber: politiktoday.com

Pada Maret 1998, Soeharto menunjuk Habibie sebagai wakil presiden Indonesia yang ketujuh. Penunjukkannya itu dikecam oleh beberapa pihak karena kondisi Indonesia yang dinilai membutuhkan seorang pakar ekonom sebagai wakil Soeharto untuk menanggulangi kegelisahan ekonomi yang sedang menimpa Indonesia.

Kondisi sosial dan ekonomi yang tidak stabil pada Mei 1998 membuat kondisi perpolitikin Indonesia bergejolak. Soeharto dipaksa mundur setelah MPR diduduki oleh para aktivis dan mahasiswa yang menuntut perubahan.

Habibie mewarisi kondisi kacau balau pasca pengunduran diri Soeharto akibat salah urus pada masa orde baru, sehingga menimbulkan maraknya kerusuhan dan disintegerasi hampir seluruh wilayah Indonesia. Segera setelah memperoleh kekuasaan Presiden Habibie segera membentuk sebuah kabinet.

Salah satu tugas pentingnya adalah kembali mendapatkan dukungan dari Dana Moneter Internasional dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan ekonomi. Dia juga membebaskan para tahanan politik dan mengurangi kontrol pada kebebasan berpendapat dan kegiatan organisasi.

Selain mencanangkan kebebasan pers dan hukum soal keterikatan pejabat dengan partai Golkar, dia juga memfasilitasi pemilihan umum dini pertama setelah masa orde baru pada tahun 1999. Habibie menjabat sebagai orang paling berkuasa di Indonesia selama 1 tahun 5 bulan.

Habibie dan Ainun
 

bersama keluargaHabibie dan keluarganya.
Sumber: wikimedia.org

Habibie bertemu cinta sejatinya, Hasri Ainun Besari pada tahun 1962 saat dirinya mengambil cuti sakit di Indonesia. Ia sendiri sudah mengenal Ainun sejak mereka masih bersekolah dahulu. Setelah 3 bulan menjalin hubungan, mereka memutuskan menikah di tahun 12 Mei 1962. Mereka menghabiskan hidup mereka di Jerman setelah menikah. Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak lelaki bernama Ilham Akbar Habibie.

Kehidupan mereka berdua pada awal kepindahan ke negeri Panser tidaklah mudah. Habibie harus membagi waktu untuk studi, pekerjaan dan keluarga. Ia mesti berjalan dan membawa bekal setiap harinya untuk menghemat pengeluaran mereka.

Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai batas. Pada tahun 2010, istri Habibie dijemput Yang Maha Kuasa.

baca juga: kisah inspiratif Gita Wirjawan

Pasca kehilangan cinta dalam hidupnya, kondisi Habibie memburuk. Habibie sempat didiagnosa mengalami stress berat dan dianjurkan untuk diungsikan ke pusat rehabilitasi jiwa oleh tim dokter yang mengurusya. Namun ia memutuskan untuk menyalurkan rasa kehilangannya dengan menuliskan sebuah buku yang menjadi cikal bakal dari salah satu film box office Indonesia, Habibie dan Ainun.

“Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya...saya mau kasih informasi, Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu,” papar BJ Habibie dikutip dari biografiku.com (01/01/2009).

reza dan bcl
Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari berperan sebagai Habibie dan Ainun di adaptasi film tentang kisah cinta Habibie.
Sumber : wordpress.com

 

Sosok BJ Habibie agaknya bisa menjadi inspirasi bagi setiap anak muda Indonesia. Segudang pengalamannya di dunia teknologi, penerbangan, hingga politik, menunjukkan bahwa ia memang pantas menjadi sosok inspiratif. Di samping itu, kisah cintanya juga telah menginspirasi pasangan-pasangan di Indonesia. Simak kisah tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!