span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Anies Baswedan: Petualangan Inspiratif dalam Bidang Pendidikan dan Politik
Oleh : Ardito Ramadhan
27 April 2018

Highlight

Lokasi lahir boleh di mana saja, tapi lokasi mimpi harus di langit.

Anies Baswedan
Merupakan seorang politisi dan akademisi yang punya segudang pengalaman di kedua bidang tersebut. Saat ini, ia adalah Gubernur DKI Jakarta untuk periode 2017-2022.
Sumber: wordpress.com

Pengalamannya dalam dunia politik rasanya tidak perlu diragukan lagi. Mantan akademisi ini pernah mengisi pos menteri, mengikuti konvensi calon presiden, hingga terpilih menjadi gubernur ibukota. Di balik kontroversinya, sosok Anies Baswedan memang sangat inspiratif baik dari segi politik maupun pendidikan yang digelutinya. Mari simak kisah inspiratif Anies Baswedan bersama Kinibisa!



"Orang-orang baik tumbang bukan hanya karena banyaknya orang jahat, tapi karena banyaknya orang-orang baik yang diam dan mendiamkan."

Anies Muda yang Senang Berorganisasi
 

http://cdn2.tstatic.net/style/foto/bank/images/anies-baswedan_20161106_153959.jpg
Transformasi sosok Anies dari muda hingga kini.
Sumber:
cdn2.tstatic.net

Anies Baswedan lahir di Kuningan, Jawa Barat, pada 7 Mei 1969. Meski lahir di Kuningan, masa kecil Anies justru banyak dihabiskan di Kota Pelajar, Yogyakarta. Laki-laki bernama lengkap Anies Rasyid Baswedan ini lahir dan besar di lingkungan keluarga akademisi. Ayahnya dan ibunya merupakan pasangan yang bekerja sebagai di dosen di Yogyakarta.

Selain itu, Anies juga merupakan cucu dari Abdurrahman Baswedan, sosok pejuang kemerdekaan Indonesia. Abdurrahman Baswedan juga tercatat sebagai jurnalis, diplomat, dan sastrawan Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, Abdurrahman Baswedan sempat mengisi beberapa pos penting seperti anggota BPUPKI, Wakil Menteri Penerangan, hingga anggota Konstituante.

Selain bersekolah, masa kecil Anies Baswedan juga dihabiskan dengan kegiatan-kegiatan organisasi. Saat berseragam putih-biru, Anies tergabung dalam OSIS sebagai pengurus Bidang Humas yang dijuluki sebagai ‘seksi kematian’ karena tugasnya adalah menyebarkan berita duka atau kematian seseorang.

Setamat SMP, Anies meneruskan hobinya dalam berorganisasi. Saat duduk di bangku SMA, Anies dipercaya menjadi Wakil Ketua OSIS di sekolahnya. Jabatan ini membuat ia berhak mengikuti pelatihan kepemimpinan bersama tiga ratus Ketua OSIS se-Indonesia. Hasilnya, terpilih sebagai Ketua OSIS se-Indonesia pada 1987.

Pada tahun yang sama, Anies juga terbang ke Amerika Serikat untuk mengikuti program pertukaran pelajar di sana selama satu tahun. Setahun berada di Negeri Paman Sam, pola pikir Anies semakin luas. Meski begitu, akibat program itu ia menempuh masa pendidikan SMA selama empat tahun dan baru lulus pada 1989.

Setelah itu, ia sempat mencicipi kesempatan kerja di TVRI dalam program berjudul Tanah Merdeka. Di sanalah Anies memperoleh kesempatan bertemu dengan tokoh-tokoh nasional dan mewawancarainya. Ketika memasuki usia kuliah, Anies diterima di Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada. Di sana, ia meneruskan hobinya dalam berorganisasi.

Di fakultasnya, ia dipercaya sebagaii Ketua Senat Mahasiswa dan ikut membidani kelahiran kembali Senat Mahasiswa UGM setelah sempat dibekukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada  1992, Anies ‘naik jabatan’ menjadi Ketua Senat UGM melalui Kongres Mahasiswa. Gebrakan yang ia lakukan saat itu adalah pembentukan Badan Eksekutif Mahasiswa dan memosisikan Senat sebagai lembaga legislatif.

Selain itu, Anies juga memelopori beberaga gerakan untuk mengkritik Orde Baru. Berkat aktivitasnya dalam organisasi mahasiswa, Anies memperoleh beasiswa dari Japan Airline Foundation untuk mengikuti kuliah musim panas di Universitas Sophia di Tokyo, Jepang. Di Negeri Sakura itu Anies mendalami bidang Asian Studies.

Rektor Termuda di Indonesia
 

Rektor termuda di IndonesiaTerpilih menjadi Rektor Universitas Paramadina pada 2008. Saat itu, Anies tercatat sebagai rektor termuda di Indonesia.
Sumber:
ytimg.com

Selepas lulus dari UGM, Anies memulai kariernya dengan menjadi peneliti di Pusat Antar-Universitas Studi Ekonomi UGM. Kariernya di sana tak berlangsung lama karena ia kembali terbang ke Amerika Serikat setelah mendapat beasiswa master pada 1996. Di sana, ia mengambil studi master dalam bidang International Security and Economic Policy di University of Maryland.

baca juga: kisah inspiratif Agus Harimurti Yudhoyono

Saat itu, ia juga menerima Willian P. Cole III  Fellowship dan ASEAN Students Awards Program dari tempat kuliahnya dan lulus pada 1998. Lulus dari Maryland, Anies semakin getol untuk menimba ilmu. Ia memperoleh beasiswa doktoral dari Northern Illinois University dan mengambil bidang studi politik.

Pada 2004, Anies meraih beasiswa Gerald S. Maryanov Fellow dari Northern Illinois University. Beasiswa ini diberikan kepada mahasiswa kampus tersebut yang memiliki prestasi dan integritas dalam pengembangan ilmu politik. Disertasinya yang membahas otonomi daerah dan pola demokrasi di Indonesia membawa Anies lulus dari sana.

Gelar doktoral yang ia pegang rupanya tak membuat Anies segera pulang ke Tanah Air. Lantaran tak punya uang untuk pulang, Anies sempat bekerja sebagai manajer riset di IPC, Inc, Chicago, sebuah asosiasi perusahaan ekektronik sedunia.

Pada 2005, Anies akhirnya pulang ke Indonesia dan memulai kariernya. Ia memulai kariernya di The Indonesian Institute, sebuah lembaga riset yang berfokus pada analisa kebijakan publik. Di sana ia mengemban jabatan sebagai Direktur Riset. Anies juga pernah bekerja di Lembaga Survei Indonesia sebagai Peneliti Senior.

Setahun setelahnya, Anies melanjutkan kariernya dengan menjadi Penasihat Nasional di Partnership for Governance Reform, sebuah lembaga non-profit yang fokus pada reformasi birokrasi di berbagai wilayah di Inonesia. Bergabungnya Anies dalam lembaga itu tak lepas dari ketertarikannya pada demokrasi, otonomi daerah, dan desentralisasi seperti yang ia angkat dalam disertasinya.

Suatu saat, Anies mendapat tawaran untuk menjadi Rektor Universitas Paramadina. Awalnya, ia sempat menolak tawaran itu mengingat penghasilannya di The Indonesian Institute melebihi penghasilannya sebagai rektor. Namun, setelah berbagai pertimbangan Anies akhirnya mengiyakan tawaran tersebut.

Menurutnya, ada tiga hal yang menjadi pedoman dalam berkarier, yaitu apakah secara intelektual ia bisa bertumbuh, apakah dirinya tetap bisa menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga, dan apakah amanat ini mempunyai pengaruh sosial.

Pada 2008, Anies akhirnya resmi dilantik sebagai Rektor Universitas Paramadina menggantikan Nurcholish Madjid, cendekiawan muslim sekaligus pendiri kampus tersebut. Dengan dilantiknya Anies, ia tercatat sebagai rektor termuda di Indonesia yang menjabat dalam usia 38 tahun.

pidato di paramadina
Mengisi sebuah acara yang diselenggarakan oleh Universitas Paramadina.
Sumber: brilio.net

Selama menjabat sebagai rektor, setidaknya ada dua inovasi dari segi kegiatan akademik yang dikembangkan oleh Anies. Pertama, ia menjalankan mata kuliah wajib bidang anti-korupsi demi mencegah kasus korupsi yang sulit diberantas. “Jika berbagai perguruan tinggi lain memberikan mata kuliah serupa sebagai salah satu pilihan, maka di Universitas Paramadina merupakan mata kuliah wajib untuk semua mahasiswa,” kata Anies dikutip dari Kompas[1].

Inovasi lain dari Anies adalah menggagas program beasiswa yang dinamakan Paramadina Fellowship. Menurut  Anies, program ini adalah wujud perpaudan antara idealisme dalam pendidikan dan bahasa bisnis. Selain unik, program ini pun telah terbukti efektif. Setidaknya 25 persen mahasiswa Paramadina bergantung pada Paramadina Fellowship.

Indonesia Mengajar dan Pemikiran Anies Baswedan
 

Indonesia mengajar
Anies Baswedan merupakan pendiri Gerakan Indonesia Mengajar.
Sumber:
wordpress.com

Pada 2009, Anies Baswedan mengagas gerakan Indonesia Mengajar, sebuah gerakan di mana anak-anak muda terbaik di Indonesia dikirim ke berbagai pelosok daerah untuk mengabdi sebagai Pengajar Muda (PM) di Sekolah Dasar setempat dan masyarakat selama satu tahun. Menurut Anies, gerakan ini mampu menjadi  salah satu solusi dari masalah pendidikan di Indonesia

Anies bercerita alasan yang melatar-belakangi berdirinya Indonesia Mengajar adalah distribusi guru yang tidak merata. Kualitas guru-guru yang ada pun perlu dipertanyakan. “Banyak daerah di Indonesia yang kekurangan guru berkualitas dengan infrastruktur sekolah yang serba terbatas pula,” kata Anies dikutip dari Merdeka[2].

Untuk itu, ia bertekad mengundang anak-anak muda terbaik di Indonesia untuk dikirim ke daerah-daerah pelosok sebagai guru sekolah dasar. Selain menyetarakan distribusi guru, tujuan lain yang disasar oleh Indonesia Mengajar adalah memberi pengalaman anak-anak yang berkecukupan untuk tinggal di daerah pelosok. “Harapannya ketika kelak mereka menjadi pemimpin, mereka adalah anak-anak muda yang memiliki world class competence tetapi memiliki grass root understanding,” kata Anies dalam salurang TEDXTalks[3].

Tak disangka-sangka, terdapat lebih dari 1,000 anak muda dengan berbagai latar belakang yang tertarik untuk mengikuti gerakan ini. Uniknya, ada beberapa anak yang sudah mempunyai karier dan jabatan di berbagai perusahaan rela tinggal di pelosok selama setahun untuk mengajar anak-anak Indonesia.  “Mereka hadir di sana menjadi inspirasi, menggandakan optimisme, you have a bright future!” kata Anies.

Melalui program ini, Anies berharap Indonesia dapat maju karena setiap orang mau ikut berperan dalam pendidikan. “Mendidik tidak dipandang tugas sekolah dan pemerintah, tapi mendidik adalah tugas setiap orang terdidik,” kata Anies.

Bagi Anies, gerakan Indonesia Mengajar yang ia gagas adalah salah satu upayanya dalam melunasi janji kemerdekaan. Menurut Anies, tujuan negara yang tertera dalam Pembukaan UUD 1945 adalah sebuah janji, bukan cita-cita. Ia menyebutnya sebagai janji kemerdekaan. Janji kemerdekaan itu antara lain janji perlindungan, kesejahteraan, pencerdasan dan peran global pada setiap anak bangsa

Menurutnya, bukan hanya pemerintah yang mesti melunasi janji tersebut tapi juga setiap anak bangsa yang telah terlindungi, tersejahterakan, dan tercerdaskan. Demi melunasi janji kemerdekaan, Anies mempunyai beberapa pemikiran dan gerakan yang ia wujudkan bersama beberapa pihak yang ingin turun tangan.

Janji kemerdekaan dalam memberi perlindungan setiap warga negara merupakan salah satu yang paling disorot. Anies mengilustrasikan Indonesia sebagai sebuah tenun yang dinamakan ‘Tenun Kebangsaan’. Ia menyebut tenun itu dirajut dari kebhinekaan suku, adat, agama, keyakinan, bahasa, geografis yang sangat unik.

Dari segi kesejahteraan, Anies menilai Indonesia harus beranjak dari pemikiran lama bahwa kekayaan Indonesia berasal dari Sumber Daya Alam (SDA). Menurutnya, kekayaan Indonesia justru mesti berasal dari kualitas manusianya, bukan sekedar SDA-nya. Demi meningkatkan kualitas manusia Indonesia, Anies menyebut pendidikan yang berkualitas dibutuhkan oleh setiap rakyat Indonesia.

Selain itu, Anies juga berpendapat bahwa pendidikan adalah ekskalator sosial ekonomi masyarakat Indonesia. Hal ini ia buktikan dengan fakta bahwa kelas menengah Indonesia saat ini dulunya merupakan masyarakat kelas bawah. Oleh karena itu, ia menggagas berbagai gerakan seperti Indonesia Mengajar, Indonesia Menyala, dan Kelas Inspirasi demi mendistribusikan pendidikan.

Petualangan Politik Anies Baswedan
 

mencoblosAnies Baswedan setelah mencoblos pada Pemilukada DKI Jakarta 2017.
Sumber:
pepnews.com

Demi melunasi janji-janji kemerdekaan tersebut, Anies memutuskan untuk terjun di dunia politik. Kesempatan itu datang pada 2013 ketika Partai Demokrat mengundangnya untuk mengikuti konvensi calon presiden. Awalnya, Anies tidak ingin mengiyakan tawaran itu. Sebab, Anies menilai jalur politik adlaah jalur yang terjal, di mana ia pasti akan banyak menghadapi kritikan hingga caci maki.

Namun, Anies mengubah pikirannya ketika mengingat mendiang kakeknya.  “Saya ikut turun tangan seperti kakek saya dulu memilih untuk turun tangan,” kata Anies dalam saluran Youtube miliknya[4]. Menurutnya, momen itu adalah turning point bagi laki-laki beranak tiga ini. “Insya Allah dengan ini saya ikut turun tangan dalam mewarnai dan memberi makna bagi republic yang kita cintai ini,” katanya. 

Sayangnya, debut Anies dalam berpolitik tidak berbuah manis. Ia kalah dalam konvensi Partai Demokrat yang diikuti oleh sebelas calon. Sebelumnya, Anies memang pernah dipercaya oleh Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Partai Demokrat , untuk bergabung dalam beberapa tim sementara seperti anggota Tim 8 KPK dan Ketua Komite Etik KPK.

Setelah itu, ia pun memutuskan untuk mendukung pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang berlaga pada Pemilu 2014 menghadapi pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. “Pasangan Jokowi-JK saya rasa mereka  punya potensi untuk menelurkan kebaruan yang lebih baik,” kata Anies dalam sebuah video di Youtube.[5] Tak hanya mendukung, Anies juga ditunjuk oleh Jokowi sebagai juru bicara kampanyenya.

Kemenangan Jokowi-JK dalam Pemilu 2014 melebarkan pintu karier politik Anies Baswedan. Selain jabatan Deputi Tim Transisi yang diembannya pasca Pemilu, Anies pun dipercaya Jokowi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. “Semua juga sudah tahu, beliau adalah perintis Indonesia Mengajar,” kata Jokowi saat mengumumkan susunan Kabinet Kerja.[6]

Terpilihnya Anies sebagai Mendikbud agaknya sudah diprediksi oleh masyarakat umum. Sebab, masyarakat sudah mengenal latar belakang Anies sebagai tokoh pendidikan. Ketika menjabat, ada beberapa gebrakan yang ia lakukan antara lain

  • Menunda pelaksanaan Kurikulum 2013 yang kontroversial.
  • Mengubah Ujian Nasional bukan sebagai tolak ukur kelulusan, tetapi hanya pemetaan kualitas pendidikan di tiap daerah.
  • Program Uji Kompetensi Guru dan Sertifikasi Guru untuk meningkatkan kompetensi guru.

Di luar tiga gebrakan di atas, tentu masih ada terobosan-terobosan lain dari Anies yang disambut baik oleh masyarakat. Tak heran, Anies dinilai sebagai salah satu menteri yang kinerjanya paling memuaskan. Sayangnya, pengabdian Anies sebagai Mendikbud hanya berlangsung selama dua tahun. Sebab, ia dicopot oleh Presiden Jokowi dan digantikan oleh Muhadjir Effendy pada 2016. Hingga artikel ini dibuat, alasan pencopotan Anies masih belum terkuak.

baca juga: kisah inspiratif Andrinof Chaniago

Tak butuh waktu lama bagi Anies untuk menemukan pelabuhan politik berikutnya. Pada September 2016, ia dicalonkan oleh Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta bersama Sandiaga Uno. Dalam Pemilukada yang disebut sebagai yang ‘terpanas’ sepanjang sejarah Indonesia itu, ia berhasil mengalahkan pasangan petahana, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat, dan resmi terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

pelantikan gubernur DKI Jakarta
Anies Baswedan berpose bersama Sandiaga Uno pada upacara pelantikannya sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.
Sumber: beritasatu.com

Sepak terjang Anies dalam dunia pendidikan dan politik membuatnya memperoleh berbagai penghargaan. Penghargaan yang pernah diterima oleh Anies antara lain[7]

  • Young Global Leader versi World Economic Forum
  • World’s 20 Future Figure versi Foresight Magazine
  • Top 100 Public Intellectuals versi Policy Magazine
  • The 500 Most Influential Muslims versi The Royal Islamic Strategic Studies Centre Yordania
 

Di balik segala kontoversinya saat ini, Anies telah menginspirasi anak-anak muda di Indonesia mengenai pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka. Petualangan politiknya pun merupakan buah dari masa muda Anies yang dipenuhi dengan belajar dan kegiatan organisasi. Ayo bergabung bersama Kinibisa untuk mengakses kisah-kisah inspiratif lainnya dan mewujudkan #GenerasiKompeten!


[1]http://nasional.kompas.com/read/2008/05/30/12185994/Paramadina.Wajibkan.Mata.Kuliah.Antikorupsi.
[2]https://www.merdeka.com/jakarta/cerita-anies-baswedan-dirikan-gerakan-indonesia-mengajar.html
[3]https://www.youtube.com/watch?v=w5CRs6m_vAY
[4]https://www.youtube.com/watch?v=7QNJqG0Fqf0
[5]https://www.youtube.com/watch?v=3aYjq3iQ_sI
[6]https://www.youtube.com/watch?v=SMLdjWj15tk&t=868s
[7]http://static.turuntangan.org/media-kit/CV.pdf