span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Agus Harimurti Yudhoyono: Meninggalkan Zona Nyaman
Oleh : Ardito Ramadhan
26 April 2018

Highlight

Seorang pemimpin harus mengambil keputusan, dan tanpa tekanan dari siapa pun saya telah mengambil keputusan ini.

Ahy
Anak sulung Susilo Bambang Yudhoyono yang kini terjun di dunia politik. Sebelumnya, ia merupakan prajurit TNI Angkatan Darat.
Sumber: jitunews.com

Ia merupakan anak sulung Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono. Latar belakang keluarganya yang erat dengan dunia militer membuatnya bertekad untuk menjadi tentara sejak kecil. Namun,ketika telah menjadi tentara ia mesti meninggalkan profesi yang dicintainya itu untuk terjun ke dunia politik. Simak kisah inspiratif Agus Harimurti Yudhoyono bersama Kinibisa!



"Sifat seorang ksatira adalah berani menghadapi berbagai tantangan baru. Meninggalkan zona nyaman, meninggalkan apa yang sudah kita rintis sebelumnya untuk sesuatu yang lebih besar."

Bercita-cita Menjadi Tentara Sejak Kecil
 

Agus Harimurti Yudhoyono lahir di Bandung pada 10 Agustus 1978. Anak sulung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Kristiani Herawati Yudhoyono ini mempunyai seorang adik yang bernama Edhie Baskoro Yudhoyono. Saat Agus lahir, ayahnya merupakan seorang tentara yang bertugas di Angkatan Darat.

Keluarga besar Agus mempunyai hubungan erat dengan dunia militer. Sarwo Edie Wibowo, kakek Agus dari garis keturunan ibu, merupakan seorang Komandan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang kini bernama Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Nama Sarwo dikenal sebagai orang yang berada di balik penumpasan Partai Komunis Indonesia pasca 1965.

anak sulung
Merupakan anak sulung dari Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono.
Sumber: gozzip.id


Paman Agus, Pramono Edhie Wibowo juga merupakan seorang tentara Angkatan Darat. Apabila jabatan tertinggi Sarwo adalah Komandan RPKAD, Pramono menempati jabatan yang lebih tinggi. Ia merupakan mantan Kepala Staf Angkatan Darat pada 2011-2013. Jabatan ini menempatkannya sebagai orang nomor satu di Angkatan Darat.

Di luar itu, pengaruh militer bagi kehidupan Agus agaknya banyak berasal dari ayahnya sendiri. Susilo Bambang Yudhoyono yang akrab dipanggil SBY adalah seorang tentara yang berkarier sejak awal 1970-an hingga akhir 1990-an. Berbagai jabatan pun pernah diemban SBY seperti Kasdam Jaya, Pangdam II/Sriwijaya, hingga Ketua Fraksi ABRI di DPR. SBY juga sempat ditugaskan untuk menangani konflik di Bosnia-Herzegovina pada 1995.

Di samping itu, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa SBY adalah Presiden Republik Indonesia ke-6 yang menjabat selama dua periode, yaitu 2004-2009 dan 2009-2014. Sebelum terpilih menjadi presiden, SBY pun sempat mengisi beberapa pos menteri yaitu Menteri Pertambangan, Menteri Koordinator Sosial, Politik, dan Keamanan; serta Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. SBY juga tercatat sebagai pendiri Partai Demokrat.

Dengan latar belakang keluarganya yang aktif di dunia militer, tak heran Agus pun bercita-cita untuk menjadi seorang tentara. “Saya sejak kecil ingin menjadi tentara. Ingin menjadi seorang perwira tentu termotivasi dan terinspirasi dari orangtua, kakek, dan keluarga besar lainnya, kata Agus dalam sebuah talkshow di Metro TV.[1]

Masa kecil Agus yang banyak dihabiskan di barak-barak militer semakin mempertebal motivasi Agus untuk menjadi seorang prajurit. Sebagai anak tentara, Agus memang mesti tinggal di barak dan mengikuti penugasan ayahnya. Oleh karena itu, ia sempat menghabiskan masa kecil di berbagai tempat yaitu Jakarta, Bandung, dan Timor Timur.

Agus juga sempat tinggal di Amerika Serikat ketika ayahnya ditugaskan di Negeri Paman Sam tersebut. Di sana, Agus disebut pernah meraih penghargaan dari sekolahnya dalam bidang akademik. Sepulang dari Amerika Serikat, Agus melanjutkan sekolah SMPN 5 Bandung.

Demi mewujudkan cita-citanya menjadi tentara,setelah tamat SMP Agus bersekolah di SMA Taruna Nusantara yang beralamat di Magelang. Sekolah yang mewajibkan muridnya tinggal di asrama itu merupakan sekolah yang mempunyai cirri khas sebagai sekolah semi-militer. Oleh sebab itu, murid-muridnya mempunyai kegiatan bak militer seperti baris-berbaris, berambut cepak, dan sebagainya. 

Selama duduk di bangku SMA, Agus dikenal sebagai murid yang cerdas dan aktif berorganisasi. Meski disibukkan dengan tanggungjawabnya sebagai Ketua OSIS, Agus juga berprestasi secara akademik. Buktinya, ia lulus dengan predikat lulusan terbaik pada 1997. Berkat prestasi itu, Agus pun mantap melanjutkan pendidikan di Akademi Militer demi mewujudkan cita-citanya.

Meski keluarga besarnya berlatar-belakang militer, Agus mengatakan pilihannya untuk menjadi prajurit merupakan kemauannya sendiri. “Saya berpendapat semua pekerjaan itu baik dan mulia tapi saya memilih militer. Itu semua lahir dari diri saya sendiri. Tidak ada paksaan, tidak ada keinginan dari luar, dan orangtua mendukung,” katanya kepada JPNN.[2]

Tentara yang Cemerlang
 

ketika bertugas
Ketika bertugas sebagai prajurt TNI Angkatan Darat.
Sumber: kicaunews.com

Selama menempuh pendidikan di Akademi Militer, Agus rupanya tumbuh menjadi seorang taruna yang cerdas. Buktinya, ia memperoleh gelar Adhi Makayasa ketika lulus dari Akademi Militer pada 2000. Adhi Makayasa adalah gelar yang diberikan pada lulusan terbaik Akdemi Militer setiap tahunnya. Selain penghargaan Adhi Makayasa, Agus juga meraih penghargaan pedang Tri Sakti Wiratama.

Berbeda dengan Adhi Makayasa, penghargaan Tri Sakti Wiratama adalah prestasi tertinggi yang diberikan bagi taruna yang dalam bentuk gabungan tiga aspek, yaitu mental, fisik, dan intelek. Uniknya, ayah Agus, SBY juga merupakan peraih gelar Adhi Makayasa dan pedang Tri Sakti Wiratama pada 1973. Pepatah like father like son agaknya pantas disematkan pada keduanya.

Setelah lulus dari Akademi Militer, Agus mengikuti dua pendidikan yaitu Sekolah Dasacar Kecabangan Infanteri dan Kursus Combat Intel di mana Agus keluar dengan predikat lulusan terbaik pada 2001. Selanjutnya, Agus tergabung dalam Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) mengikuti jejak ayahnya dulu. Selama tergabung dalam Kostrad Agus sempat menempati beberapa jabatan yaitu:

  • Pama Divif 1 Kostrad (2002)
  • Danton III/C Yonif Linud 305/Tengkorak (2002)
  • Danton II/C Yonif Linud 305/Tengkorak (2003)
  • Pasi 2/Ops Yonif Linud 305/Tengkorak (2004)
  • Dankipan C Yonif Linud 305/Tengkorak (2005)
  • Kasi 2/Ops Brigif Linud 17/Kujang I Kostrad (2011)
  • Danyonif Mekanis 203/Arya Kemuning (2015)

Selain jabatan-jabatan di atas, Agus juga sempat ditempatkan di Kementerian Pertahanan dan Markas Besar TNI. Pada 2006, Agus pernah dikirim ke Lebanon untuk menangani konflik antara Israel dan Hezbollah yang terjadi di Lebanon Selatan. Saat itu, Agus bertugas atas nama Kontingen Garuda XXIII-A sebagai Pasiops Batalyon Infanteri Mekanis Kontingen Garuda XXIII-A.

Di samping tugas-tugas di atas, Agus dikenal sebagai seorang tentara yang gemar menuntut ilmu. Pada 2008, ia terbang ke Amerika Serikat untuk mengambil pendidikan master di John F. Kennedy School of Government, Harvard University. Dua tahun kemudian, ia berhasil lulus dengan menyandang gelar Master of Public Administration  dengan predikat sangat memuaskan.

Setelah terpilih sebagai peserta The Young Future Defence Workshop, Agus mengikuti pendidikan Sekolah Lanjutan Perwira di Fort Benning, Georgia, Amerika Serikat. Di sana, suami dari Anisa Pohan ini meraih tiga penghargaan, yaitu Distinguish International Honour Graduated, Medali The Order of Saint Maurice dan The Commandants List pada Maret 2012.

Seakan belum puas menimba ilmu, pada 2015 Agus kembali ke Amerika Serikat untuk mengenyam pendidikan. Kali ini, Agus belajar di dua institusi yaitu Command and General Staff College (CGSC) di Fort Leavenworth, Kansas dan program Master dalam Kepemimpinan dan Manajemen dari George Herbert Walker School di Webster University. Hal yang membanngakan Agus adalah ia berhasil lulus dari kedua institusi tersebut dengan meraih IPK sempurna yakni 4.00.

Jauh sebelum itu, pada 2006 Agus telah memperoleh gelar master pertamanya. Saat itu, ia meraih gelar Master Kajian Strategi dari S Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University, Singapura. Agus pun tercatat sebagai seorang tentara yang mengantongi tiga gelar master dari tiga bidang yang cukup berbeda.

Keseriusannya dalam menuntut pendidikan agaknya tak lepas dari pandangannya bahwa seorang tentara harus membuka jendela dunia. Oleh sebab itu, ia juga menekankan pentingnya membaca buku bagi setiap tentara. “Membaca dan menulis harus dijadikan sebagai kebutuhan bagi setiap prajurit karena akan semakin bertambah ilmu dan khasanah pengetahuan mengenai hal yang mungkin belum diketahui,” kata Agus dikutip dari Detik[3].

Meninggalkan Zona Nyaman
 

mencalonkan diri
Mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta 2017-2022 berpasangan dengan Sylviana Murni.
Sumber: kompasiana.com

Deretan prestasi dan pengalaman pendidikan yang dimiliki Agus membuatnya diprediksi akan menjadi pemimpin TNI di masa depan. Pernyataan ini juga diamini oleh Panglima TNI, Gatot Nurmantyo. “Mayor Agus ini masih jauh, masih panjang (perjalanan karirnya). Dia punya harapan yang bagus di TNI,” katanya dikutip dari Kompas.[4]

Namun, Agus membuat keputusan yang cukup mencengangkan publik. Pada September 2016, ia memutuskan mencalonkan diri dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 dan meninggalkan profesi yang telah ia lakoni lebih dari 15 tahun.

Agus mengakui keputusan tersebut adalah keputusan yang berat baginya. “Ini adalah hal yang bersejarah dalam hidup saya. Saya harus menentukan pilihan dan mengambil keputusan yang tidak mudah, apakah saya akan tetap menjalani karier saya di dunia militer atau menjalani pengabdian di lingkungan yang berbeda,” kata Agus dalam pidato politik pertamanya.[5]

Ia mengatakan tak mudah bagi dirinya untuk meninggalkan instansi yang telah membesarkan namanya itu. “Terus terang dengan hati yang berat karana selama lebih dari 15 tahun saya berdinas di dunia keprajuritan di jajaran TNI yang saya cintai dan saya banggakan,” kata Agus sambil terisak.

Memang tidak mudah bagi setiap orang untuk meninggalkan zona nyamannya masing-masing. Namun, Agus menilai seseorang perlu berani meninggalkan zona nyaman untuk memperoleh hal-hal yang lebih besar. “Sifat seorang ksatira adalah berani menghadapi berbagai tantangan baru. Meninggalkan zona nyaman, meninggalkan apa yang sudah kita rintis sebelumnya untuk sesuatu yang lebih besar,” kata Agus[6]

Berbekal prinsip itulah Agus bertekad mengarungi Pilkada DKI Jakarta 2017 untuk menebar manfaat yang lebih luas. “Mengabdi untuk masyarakat, negara, dan bangsa tidak mengenal batas waktu dan wilayah penugasan,” kata Agus. Ia menambahkan keputusannya itu tidak dipengaruhi oleh siapapun. “Seorang pemimpin harus mengambil keputusan, dan tanpa tekanan dari siapa pun saya telah mengambil keputusan ini,” katanya dikutip dari Republika.[7]

Dalam Pilkada tersebut, Agus maju berpasangan dengan Sylviana Murni dan didukung oleh 4 partai politik, yaitu Partai Demokrat, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Kebangkitan Bangsa. Mengusung semboyan Jakarta Untuk Rakyat, Agus dan Sylvi pun memulai kampanye dengan strategi gerilya yaitu dengan mengunjungi kampong-kampung yang ada di Jakarta.

Penggunaan strategi gerilya tersebut tentu bukan tanpa alasan. Agus mengatakan strategi gerilya dilakukan karena ia merupakan seorang underdog yang menantang kekuatan besar yang dimiliki pasangan petahana, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. “Saya diremehkan sebagai underdog. Saya gunakan taktik gerilya yang jika diterapkan dengan efektif, bisa mematikan,” kata Agus kepada NET.[8]

Salah satu hal yang paling diingat dari Agus selama masa kampanye adalah kebiasaannya melompat dari atas panggung atau biasa disebut stagediving. Hal ini ia lakukan beberapa kali saat mengunjungi berbagai kampung yang ada di Jakarta. Menurutnya, hal itu ia lakukan untuk membuat terobosan-terobosan baru dalam berkampanya dan menunjukkan adanya kepercayaan dari masyarakat.

Berjiwa Ksatria
 

Namun, taktik gerilya yang dilancarkan Agus agaknya tidak berjalan efektif. Agus harus tersingkir di Pilkada putaran pertama setelah hanya meraih sekitar 17 persen suara. Hasil ini sebenarnya tidak di luar dugaan mengingat kompetitor Agus yaitu Basuki Tjahaja Purnama dan Anies Baswedan terhitung cukup senior dalam dunia politik.

Agus pun tak mau berkecil hati atas kekalahan itu. Secara ksatria, ia pun mengakui kekalahan dan mengucapkan selamat kepada dua kandidat yang lolos ke putaran kedua. “Secara ksatria dan dengan lapang dada saya menerima kekalahan saya dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta,” kata Agus dalam sebuah pidato.[9]

Pada kesempatan yang sama, Agus juga menekankan bahwa ada suka dan duka selama menjalani proses Pilkada DKI Jakarta 2017. “Seperti kompetisi-kompetisi lainnya, ada yang menang dan ada yang kalah. Ada suka dan ada duka, itulah realitas kehidupan,” katanya menambahkan.

baca juga: kisah inspiratif Sutiyoso

Di samping itu, Agus juga mengatakan dirinya tidak merasa kalah meski tidak terpilih dalam pesta demokrasi tersebut. Sebab, Agus menilai kegagalan yang ia alami adalah sumber pelajaran untuk meraih kesuksesan di masa depan. “Bagi saya tidak ada kata kalah, yang ada kata belajar. Sometimes you win, sometimes you learn. Kadang kita menang dan kadang kita harus belajar mengambil hikmah dari kegagalan yang kita alami,” kata Agus.

Agus pun tak mau lama-lama tenggelam dalam suasana Pilkada DKI 2017. Pada Agustus 2017, Agus mendirikan The Yudhoyono Institute (TYI). Agus mengatakan TYI didirkan untuk menjadi lembaga think-tank yang independen. “TYI adalah think-tank lndependen, non politik praktis, dan fokus pada isu-isu strategis baik lingkup nasional, regional, maupun global. Berpijak pada tiga pilar yaitu liberty, prosperity, dan security,” katanya dikutip dari CNN Indonesia.[10]

The Yudhoyono Institute
Mendirikan The Yudhoyono Institute pasca kekalahannya dalam ajang Pemilukada DKI Jakarta 2017. 
Sumber: nasional.kini.co.id

Seiring berdirinya TYI, nama Agus pun semakin dikenal di seluruh Indonesia. Citranya sebagai seorang yang ksatira, karismatik, dan cerdas pun mulai muncul. Tak heran, beberapa pengamat dan tokoh politik mulai berspekulasi bahwa Agus dapat menjadi sosok pemimpin di masa depan mengikuti jejak ayahnya beberapa tahun silam.

Kisah Agus Harimurti Yudhoyono agaknya telah mencontohkan betapa pentingnya pendidikan serta keberanian keluar dari zona nyaman dan sikap ksatria bagi seorang pemimpin. Agus juga menunjukkan bahwa setiap orang berhak menentukan masa depannya sendiri tanpa paksaan orang lain. Mari simak kisah tokoh-tokoh inspiratif lainnya bersama Kinbisa!


[1] https://www.youtube.com/watch?v=5roDSJgI3OY
[2] https://www.jpnn.com/news/agus-harimurti-dan-cinta-untuk-tni-sejak-kecil-saya-ingin-di-militer?page=3
[3] https://news.detik.com/berita/3004420/mayor-agus-yudhoyono-dapat-penghargaan-dari-ksad
[4] http://nasional.kompas.com/read/2016/09/23/16564291/panglima.agus.yudhoyono.disiapkan.jadi.pemimpin.di.tni
[5] https://www.youtube.com/watch?v=YvntJuky0q8
[6] https://www.youtube.com/watch?v=0RG8dP2jLRg&t=16s
[7] http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/pilkada/16/09/24/odz34f366-agus-putuskan-jadi-cagub-tanpa-paksaan
[8] https://www.youtube.com/watch?v=VSaBsIpaE0U&t=274s
[9] https://www.youtube.com/watch?v=heEVRDrjuzw
[10] https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170810201133-32-233874/ahy-klaim-yudhoyono-institute-independen-non-politik-praktis/