span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Trinity: Bermula dari Hobi yang kini Membuahkan Kesuksesan
Oleh : Halimah Nusyirwan
13 Desember 2018

Highlight

The affair is to move. Melihat pemandangan baru, berkenalan dengan orang baru, budaya baru dan sebagainya.

Sosok Trinity, penulis buku The Naked Traveler.
Sosok Trinity, penulis buku The Naked Traveler.
Sumber: instagram.com

Penulis buku best seller, The Naked Traveler ini memiliki prestasi yang banyak dan tentunya dapat menginspirasi banyak orang. Bermula dari hobi menulis sejak kecil, kini Trinity dapat dibilang sudah sukses berkarier di dunia yang ia minati sebagai salah satu penulis top Indonesia. Seperti apa kisah seorang Trinity? Simak ceritanya bersama Kinibisa!



"Belajarlah dengan baik karena kita memang menilai sesuatu dari end result, padahal yang terpenting itu adalah prosesnya. Sama seperti traveling, It’s not the destination, but the journey."

Hobi Membaca dan Menulis Sejak Kecil
 

Kegemarannya dalam membaca dan menulis membuatnya menjadi penulis.
Kegemarannya dalam membaca dan menulis membuatnya menjadi penulis.
Sumber: instagram.com

Menulis merupakan kegiatan yang tidak asing lagi untuk seorang Trinity. Kegemarannya dalam menulis sudah terlihat ketika ia masih berusia 6 tahun, ketika orang tuanya selalu memberikan ia diary untuk ditulis dan buku-buku untuk dibaca. Ketika bersekolah dulu, Trinity merupakan tipe anak yang gaul dan aktif di berbagai kegiatan dan ekstrakulikuler sekolahnya.

Aktivitas membaca dan menulis yang sudah dibiasakan dari kecil ini akhirnya membuat Trinity menetapkan pilihan untuk kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi. Tak hanya itu, hobi jalan-jalannya serta dirinya yang tidak suka dengan pelajaran matematika membuatnya mantap memilih jurusan tersebut.

“Karena waktu itu hobinya nulis terus motret, jalan-jalan gitu kan. Terus nggak suka matematika jadi yang paling pas itu Komunikasi,” ujarnya.

Lulus dengan gelar S1 tidak membuat Trinity cepat puas dengan apa yang sudah ia raih. Ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 dengan mengambil jurusan Master of Management. Keputusannya untuk mengambil jurusan tersebut bukannya tanpa alasan. Pekerjaannya sebagai penulis yang kerap diundang ke berbagai acara sebagai pembicara menjadikan Trinity sebagai pebisnis di dunia menulis. Menurutnya, ilmu yang didapatkan dari S2nya tersebut membantunya belajar mengenai personal branding, dan cara menargetkan pasar untuk buku-bukunya.

“Sebagai penulis kan nggak cuma penulis aja, tapi kita juga istilahnya harus membangun bisnis dari nulis. Jadi nggak cuma nulis doang tapi gimana caranya personal branding. Gimana caranya mendapatkan pemasukan dari luar menulis, misalnya jadi pembicara atau jadi social media influencer dan sebagainya. Bahkan untuk menentukan tema buku dan riset pasar itu semua dari (kuliah) manajemen,” ungkap Trinity.

The Naked Traveler
 

Buku The Naked Traveler kini sudah mencapai buku ke-delapan.
Buku The Naked Traveler kini sudah mencapai buku ke-delapan.
Sumber: googleusercontent.com

Awal mula buku perdananya yang berjudul The Naked Traveller terbit ke pasaran berasal dari blog travelingnya saat itu. Hobi menulis dan jalan-jalan menghantarkan Trinity aktif sebagai penulis blog traveling pada tahun 2005. Blognya bahkan menjadi travel blog pertama yang ada di Indonesia dan hal ini membuat penerbit tertarik dengan tulisannya,

“Kalau nulis kan emang udah suka dari lama. Awalnya karena dulu itu dari blog. Tahun 2005 itu travel blog pertama di Indonesia. Dari situ trafficnya naik, orang makin tertarik sehingga dilirik sama penerbit. Nggak nyangka sih mau jadi buku gitu. Gak pernah kepikiran,” ujar penulis yang terinspirasi dari pengalaman pribadinya ini.

Setelah mengundurkan diri dari pekerjaan kantorannya pada tahun 2007, Trinity akhirnya resmi menjadi full-time writer demi fokus menulis buku-buku selanjutnya. Tulisannya yang terkesan ringan itu memiliki misi untuk membuat banyak orang menjadi tertarik untuk membaca dan jalan-jalan. Menurut Trinity, traveling dan membaca memberikan banyak manfaat, khususnya proses membaca yang dapat menaikkan tingkat membaca di Indonesia yang masih tergolong lemah.

“Pengennya sih kan dengan adanya buku-buku yang ditulis kan semuanya buku travel. Pengennya sih mengajak orang untuk traveling juga karena aku percaya traveling itu banyak manfaatnya. Selain itu ingin mengajak orang untuk membaca juga karena tingkat membaca orang Indonesia kan rendah ya jadi mungkin kalau misalnya dalam buku-buku yang ringan dan temanya traveling, mereka jadi suka membaca dan itu terbukti sih. Banyak yang tadinya nggak suka baca jadi suka baca buku,” katanya.

Menjadi penulis juga bukanlah hal yang mudah. Ia senang hobi menulisnya dapat menjadi pekerjaan utama dan sumber pemasukan untuknya. Akan tetapi, deadline tulisan yang suka menghantui harus diselesaikan sebagai bentuk tanggung jawabnya pada pekerjaan yang ia cintai ini. Adanya writer's block yang terjadi menurutnya merupakan bentuk dari sikap malas. Cara menyikapi hal ini adalah dengan mengatur mindset dan tidak memaksakan diri untuk terus menulis tanpa henti.

Writer’s block sih sebenernya itu kata penghalusan dari males ya. Jadi kalau lagi males yaudah nggak bisa dipaksain. Biasanya melakukan hal yang lain, misalnya nonton TV, ke Mall, atau kemana, atau ngapain. Yang jelas harus bilang ke diri sendiri, ‘Oke dalam dua jam gua balik dan gua akan nulis’. Biasanya di mindset aja sih,” ujar Trinity yang senang jika pembacanya menjadi terinspirasi dari tulisannya ini.

Saat ini Trinity sudah menjadi penulis terkenal dengan segudang prestasi. Buku The Naked Traveler menjadi salah satu buku terfavorit dan terlaris di pasaran dan bahkan bukunya juga sudah diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama pada tahun 2017. Selain itu, Trinity juga belum lama ini kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan beasiswa ke Peru untuk residency penulis yang diberikan oleh pemerintah Indonesia.

Hobi Traveling
 

Sejak kecil sudah sering traveling.
Sejak kecil sudah sering traveling.
Sumber: instagram.com

Selain hobi menulis, Trinity juga dikenal dengan hobi jalan-jalannya. Dari kecil ia sudah terbiasa jalan-jalan sendiri. Ia bahkan selalu bepergian sendiri ketika liburan sekolah untuk mengunjungi saudara-saudaranya. Hobi jalan-jalan ini akhirnya kini menjadi gaya hidup yang tak terpisahkan dari dirinya karena dengan traveling ia dapat melihat hal-hal baru yang ada di tempat lain.

“Jalan-jalan itu udah jadi gaya hidup. Maksudnya kalau dulu kan memang hobi banget dan sampe sekarang kan masih hobi (jalan-jalan). Karena kadang-kadang ada yang harus jalan karena pekerjaan. Misalnya diundang oleh siapa untuk menulis kemana gitu kan. Tapi kalau misalnya jalan-jalan sendiri nggak ada sesuatu yang dicari jadi ya jalan-jalan aja. The affair is to move. Melihat pemandangan baru, berkenalan dengan orang baru, budaya baru dan sebagainya. Mungkin karena aku orangnya nggak suka rutinitas ya,” tuturnya.

Menjadi seorang traveler mengantarkan Trinity ke berbagai tempat di Indonesia dan luar negeri. Baginya, Indonesia merupakan tempat yang paling berkesan untuknya yang merupakan seorang pecinta alam dan diver ini.

“Indonesia itu negara favorit. Mau kemanapun dan dimanapun tetep balik-baliknya ke Indonesia juga. Paling kece. Karena kan aku sukanya alam ya terutama pantai dan aku juga seorang diver, jadi untuk hal itu pemandangan alam dan terutama pantai dan underwater itu, Indonesia nggak ada duanya,” ucap Trinity.

Pendidikan di Mata Trinity dan Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
 

Pendidikan merupakan aspek penting bagi dirinya.
Pendidikan merupakan aspek penting bagi dirinya.
Sumber: instagram.com

Pendidikan di mata Trinity merupakan hal yang sangat penting untuk setiap orang. Bukan masalah gelar dan hasilnya, tapi yang terpenting adalah proses belajar yang didapatkan ketika sekolah yang nantinya akan berpengaruh pada masa depan orang tersebut. Menurutnya, ilmu-ilmu yang didapatkan di sekolah akan membedakan orang-orang yang memiliki latar pendidikan yang bagus dan yang tidak.

“Pendidikan formal penting banget menurutku. Karena memang kita mikirnya, ‘Ah ngapain sih belajar susah-susah belajar matematika sin cos tan. Nggak akan kepake’, tapi itu bukan sekedar itunya tapi proses cara berpikir, pendewasaan, terus bagaimana kita bekerja sama dengan orang lain. Ya banyak lah ilmu-ilmu yang kita dapatkan dari sekolah formal. Bahkan kalau bisa sampe S2 itu bener-bener berbeda (pola pikir). Jadi jangan dipikir cuma mencari gelar supaya lebih gampang dapat kerja, tapi sekolah formal itu wajib,” ujar Trinity yang kini tengah disibukkan dengan proyek buku terbarunya yaitu The Naked Traveller 8 ini.

Sikap malas membaca yang kini semakin menjamur akibat perkembangan zaman yang semakin instan ini memang tidak bisa dipungkiri sangat terlihat, khususnya para generasi milenial sekarang. Akan tetapi, aktivitas membaca tentu berbeda dengan informasi yang disajikan secara visual karena dampaknya lebih bagus pada perkembangan dan jalannya otak.

“Terutama anak muda yang milenial itu mereka lebih seneng yang visual dan sebagainya, tapi memang ciri khas mereka begitu. Mereka time spentnya berkurang karena ada internet dan sosial media. Nggak bisa baca panjang-panjang. Tapi ya akhirnya jadi gitu. Namanya visual kan cepet lewat aja ya beda dengan membaca. Kalau kita memang suka membaca itu lebih bermanfaat bagi otak karena itu ada proses. Kita membayangkan kita memaknai setiap katanya. Kalau visual itu semua kan generasi instan ya. Cepet cepet tapi nggak ada yang berkesan” katanya.

Trinity juga berpesan untuk para anak-anak muda Indonesia untuk tidak melupakan pentingnya pendidikan. Meskipun era digital ini mempermudah akses orang-orang dalam mencari informasi dan untuk belajar, namun tetap pendidikan formal merupakan hal penting yang harus dilalui oleh setiap individu.

baca juga: kisah inspiratif Raras Tatachi

“Kita belajar itu memang bisa dari mana aja dan tidak ada kata terlambat. Sekarang kita memang bisa ikut kursus atau lewat video untuk liat tutorial belajar segala hal, tapi tetap untuk sekolah formal itu tetap harus kita ikuti dan bener-bener serius ya. Maksudnya belajarlah dengan baik karena kita memang menilai sesuatu dari end result, padahal itu adalah sebuah proses. Sama seperti traveling, it’s not the destination, but the journey. Nah dari proses itulah kita bisa tahu bagaimana cara pandang kita, konstruksi berpikir dan sebagainya itu yang kita nggak sadari tapi nanti kalau kita udah tua atau dewasa langsung tahu kalau manfaatnya banyak,” pesan penulis yang masih memiliki banyak impian yang ingin diwujudkan ini.

Ia juga berharap agar orang-orang mengerti apa yang mereka inginkan dalam hidupnya dengan mengenal diri sendiri dan mencari impian apa yang ingin diwujudkan kedepannya.


Kisah Trinity tentu mengajarkan kita bahwa pendidikan merupakan hal penting yang tidak boleh diremehkan dan dilupakan oleh orang-orang. Aktivitas membaca juga tak kalah penting di tengah perkembangan zaman yang kini mempermudah segala hal dan menjadi serba instan. Dengan bekerja sungguh-sungguh, kini tidak ada lagi kata mustahil untuk bekerja sesuai dengan passion masing-masing. Simak kisah inspiratif lainnya hanya di Kinibisa!