span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Tere Liye: Sukses Bikin Galau lewat Novel Fiktif
Oleh : Nanda Aulia Rachman
11 Mei 2018

Highlight

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, Mengikhlaskan semua.

tere liye
Darwis Tere Liye adalah seorang novelis ternama yang dikenal berkat kata-kata romantic yang terselip di novelnya.
Sumber: tstatic.net

Ia merupakan salah satu penulis Indonesia yang paling populer saat ini. Kutipan-kutipan dalam bukunya pun digilai oleh para remaja saking romantisnya kata-kata yang ia tuliskan. Tak jarang, pembacanya larut dalam kegalauan saat membaca karyanya. Simak kisah Tere Liye bersama Kinibisa!



"Bagaimanapun keadaan kita, mau sedih, bahagia, waktu tidak pernah berhenti menunggu. Waktu tetap berjalan."

Tere Liye lahir di Lahat, 21 Mei 1979. Ia adalah seorang penulis buku bergenre pop kontemporer. Berbagai tulisan telah ia hadirkan bagi pecinta buku Indonesia. Total 28 buku telah ia tulis sejak tahun 2005. Tiga tulisannya sudah diadaptasi ke layar lebar yakni Hafalan Surat Delisa. Bidadari Bidadari Surga, dan Moga Bunda Disayang Allah.

Darwis dari Sumatera
 

Nama “Tere Liye” sendiri adalah sebuah nama pena yang berasal dari bahasa India. Tere Liye berarti “untukmu”. Darwis diyakini sebagai nama aslinya merujuk narahubung yang diberikan olehnya di bagian kolom “tentang penulis” di setiap bukunya.

Tere Liye sendiri sangat menjaga privasinya. Dia jarang sekali mendatangi undangan-undangan dari media massa untuk berbicara. Ia mengakui tidak ingin mencari ketenaran dari popularitasnya. Menulis hanya dianggapnya sebagai sebuah hobi. Ia bahkan mempunyai pekerjaan tetap sebagai seorang akuntan.

Anak keenam dari tujuh bersaudara ini besar di pedalaman Sumatera. Datang dari keluarga yang sederhana dan kental dengan nuansa reliji Islam, Tere menjadi orang yang selalu mengedepankan isu kesederhanaan, moralitas dan agama dalam kesehariannya.

jarang mengungkap pribadinya ke luar
Tere Liye merupakan seorang pribadi yang jarang mengungkap kehidupan pribadinya kepada publik.
Sumber: wordpress.com

“Bekerja keras dan selalu merasa cukup, mencintai, berbuat baik dan selalu berbagi, senantiasa bersyukur serta berterima kasih, maka Ia percaya bahwa kebahagiaan itu sudah berada di genggaman kita”. Kutipan tersebut setidaknya bisa menggambarkan bagaimana Tere menjalani hidup.

Tere kecil menempuh pendidikan sekolahnya di daerah Kikim Timur, Sumatera Selatan. Dirinya berpindah ke Bandar Lampung untuk melanjutkan studi SMA-nya. SMAN 9 Bandar Lampung menjadi tempat Tere belajar selama tiga tahun.

Selesai menjalani kewajiban belajar 12 tahun. Ia merantau ke tanah jawa untuk mengenyam pendidikan tinggi. Dia berkuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI). Kehidupan pasca kuliahnya ia habiskan kebanyakan untuk menulis tulisan fiksi.

Tulisan Tere Liye
 

buku buku tere liye
Kover dari buku-buku ciptaan Tere Liye.
Sumber: tokopedia.net

Bagi banyak orang, Tere Liye merupakan sosok yang dapat berbicara terhadap kalbu mereka. Penuturannya yang sederhana namun menusuk secara langsung membuat pembacanya kerap mengintrospeksi diri. Karya Tere Liye biasanya mengetengahkan seputar pengetahuan, moral, dan agama islam. Penyampaian nya yang unik serta sederhana menjadi nilai tambah bagi tiap novelnya.

Sang penulis juga piawai membuat kata-kata manis nan mutiara. Tidak jarang kita melihat potongan tulisannya dikutip oleh sekelompok orang untuk dijadikan inspirational quotes. Beberapa kutipan terkenal yang kita bisa lihat di internet, antara lain:

  • Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, Mengikhlaskan semua. (Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. 2010)
  • Aku harus segera menyibukkan diri. Membunuh dengan tega setiap kali kerinduan itu muncul. Berat sekali melakukannya, karena itu berarti aku harus menikam hatiku setiap detik. (Sunset Bersama Rosie. 2011)
  • Cinta adalah perbuatan. Kata-kata dan tulisan indah adalah omong kosong. (Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah. 2012)

Dalam bukunya, Tere membahas berbagai hal. Mulai dari hubungan individu dengan tuhannya (Hafalan Shalat Delisa), kritik sosial (Negeri Para Bedebah), sampai soal cinta-cintaan antara dua anak manusia (Rindu)

Ekranisasi Novel Tere Liye
 

film moga bunda disayang allah
Fedi Nuril dan Shandy Aulia ketika membintangi film Moga Bunda Disayang Allah.
Sumber: wordpress.com

Larisnya tulisan Tere membuat para rumah produksi tertarik untuk mengadaptasi (ekranisasi) buku-bukunya. Tiga novelnya, Hafalan Shalat Delisa, Moga Bunda Disayang Allah dan Bidadari Bidadari Surga telah dibeli hak adaptasinya. Ketiganya mendapatkan respon positif.

Tere Liye sendiri menekankan secara implisit bahwa membandingkan buku dengan film adaptasinya bukanlah sebuah hal yang bijak. Keduanya merupakan medium yang berbeda sehingga tidak mungkin film tersebut dapat diproduksi sama persis dengan novelnya.

Di tahun 2016, Tere Liye kembali menyerahkan tiga novelnya untuk diadaptasi sebagai film layar lebar. Tiga novel itu adalah;

  • Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (2010)
  • Ayahku (Bukan) Pembohong (2011)
  • Rembulan Tenggelam di Wajahmu (2009)

“Selama tiga bulan saya meyakinkan Tere Liye. Saya juga memberikan konsep tentang filmnya. Setelah Tere setuju, saya langsung minta tiga novel sekaligus,” Ujar pemilik Maxima Pictures, Ody Mulya Hidayat dilansir 21 Cineplex (11/01/2016).

baca juga: kisah inspiratif Goenawan Mohamad

Menurut Ody, pemilihan ketiga novel itu dikarenakan temanya yang masih berkaitan dan dekat dengan kehidupan masyarakat sekarang. “Menurut saya ini adalah novel yang smartlah dan juga cocok dengan masyarakat sekarang. Kalau kualitasnya pasti bagus ga usah diragukan lagi,” tambahnya dilansir dari 21 Cineplex (11/01/2016).

Darwis memang seorang akuntan, tapi sisi “Tere Liye” yang ia miliki buat sejuta rasa dan ekspresi bagi para pembaca setianya. Satu pembuat karya yang layak dianggap sebagai generasi kompeten Indonesia. Sekali lagi, dia adalah Tere Liye. Simak kisah tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!