span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Raras Tatachi: Keberanian Dalam Meraih Kesuksesan
Oleh : Halimah Nusyirwan
07 September 2018

Highlight

Tidak usah berkata jika bisa berbuat. Dunia ini butuh aksi nyata bukan omongan belaka.

Raras Tatachi, pebisnis, traveller, dan penari Indonesia yang sukses di usia muda.
Raras Tatachi, pebisnis, traveller, dan penari Indonesia yang sukses di usia muda.
Sumber: instagram.com

Raras Tatachi, seorang penari dan traveller muda yang juga dikenal sebagai passionpreneur ini merupakan sosok perempuan Indonesia yang mandiri dan menginspirasi. Kisahnya yang seru dan penuh tantangan tentu dapat membuat orang-orang disekitarnya dan juga generasi muda Indonesia, belajar dari kisahnya dalam meraih impian serta kesuksesan di masa muda. Seperti apa kisah seorang Raras Tatachi dalam merintis kariernya kini? Simak kisahnya bersama Kinibisa!



"Cintai negerimu dan cintai dirimu sendiri. Karena nggak ada lagi yang cinta Indonesia kalau bukan orang Indonesia dan kalau kita nggak cinta diri sendiri, nggak akan ada yang cinta sama kita."

Anak yang Aktif dan Pandai Bergaul
 

Sosok Raras Tatachi
Sosok Raras Tatachi
Sumber: instagram.com

Raras Tatachi Ngarasati, atau yang lebih dikenal dengan nama Raras Tatachi, merupakan perempuan bertalenta yang aktif dan pandai berbaur dengan lingkungannya. Kepiawaiannya dalam bersosialisasi sudah terlihat sejak SMP ketika ia aktif menjadi Wakil Ketua OSIS di sekolahnya dulu. Ketika SMA pun Raras menjadi semakin banyak mengikuti berbagai acara dan kepanitiaan di sekolahnya. Ia kembali bergabung di OSIS dan juga berpartisipasi sebagai ketua prom, organisasi tari saman, dll.

Keaktifannya tersebut didasari oleh keinginannya yang tidak mau menjadi anak yang biasa saja. Segala hal dan acara ia ikuti demi menjadi anak yang aktif dan dikenal oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk para guru dan kepala sekolahnya. Sifat kepemimpinannya juga sudah terlihat ketika ia dipercayakan untuk memegang angkatannya dan ia juga merupakan sosok penting dan berjasa dibalik berbagai kesuksesan acara-acara sekolahnya berkat kerja kerasnya saat itu.

“Aku anaknya gak bisa diem. Dalam artian nggak bisa jadi anak yang biasa-biasa aja. Kalau misalnya duduk..dalam acara umum ya bukan pelajaran…harus paling depan. Aku tuh orangnya maunya beda daripada yang lain. Terus misalnya jaman dulu kalau misalnya ada kegiatan apa pun aku pasti ikut. Kalau yang fun-fun gitu ya,” cerita Raras saat di wawancarai oleh Kinibisa di kawasan Jakarta Selatan (30/07/2018).

Raras sendiri termasuk anak yang pandai dalam bidang akademis. Ia mendapatkan kesempatan untuk memilih antara jurusan IPS atau IPA dikarenakan nilainya yang memadai. Pilihannya pun jatuh pada IPA yang menurutnya akan mempermudah ia dalam memilih jurusan kuliahnya kelak. Akan tetapi, seperti anak sekolah pada umumnya, Raras memiliki beberapa pelajaran yang tidak ia sukai. Ketidaksukaannya tersebut pada pelajaran tertentu berdampak pada dirinya yang jarang masuk kelas hingga membuat gurunya sempat marah padanya. Meskipun hal tersebut akhirnya sempat membawa masalah untuk Raras hingga ia pernah terancam tidak naik kelas dan tidak lulus, Raras dapat membuktikan bahwa ia bisa dan mampu dengan memperbaiki nilai-nilainya saat itu dan membuktikan bahwa ia bisa lolos tes SIMAK UI dengan jurusan Psikologi.

“Dulu itu kan jamannya moving class. Aku malah kayak kalau ada pelajaran yang nggak aku suka, aku cabut ke kelas IPS. Kalau pelajaran IPS lagi Sosiologi, gua ikutan belajar Sosiologi. Yang penting tuh aku nggak ikut kelas yang nggak aku suka ini,” kenangnya.

“Ada 16 orang di angkatan aku yang hampir nggak naik kelas, nah aku salah satunya. Tapi si kepala sekolah aku bilang, ‘Saya tahu kamu itu bukannya bodoh. Kamu anaknya ya Cuma belajar apayang kamu suka aja.’ Yaudah pas libur sekolah itu aku ngejar nilai kayak tugas-tugas tambahan gitu deh. Jadi aku nggak liburan,” lanjut Raras yang pernah hampir akan dipindahkan ke Solo oleh ayahnya jika ia tidak lulus saat itu.  

Kecintaannya pada dunia tari tidak membuatnya untuk meneruskan pendidikan di sekolah tari pada saat itu. Pada awalnya Raras masih belum bisa menentukan jurusan yang ia inginkan sampai pada akhirnya ia menetapkan pilihan di jurusan Psikologi. Ia lebih memilih untuk mengambil jurusan tersebut karena dirinya gemar membaca buku Psikologi terapan tiap kali ia berkunjung ke toko buku.

Pendidikan di mata Raras Tatachi
 

Raras merupakan sosok yang peduli akan pendidikan.
Raras merupakan sosok yang peduli akan pendidikan.
Sumber: instagram.com

Latar belakangnya yang pernah mengemban ilmu di jurusan Psikologi rupanya berdampak pada diri Raras ketika berkarier sekarang. Raras merasa bahwa menjadi mahasiswi Psikologi membantunya menjadi lebih peka dengan sekitarnya dan tahu cara bernegosiasi dengan orang lain.

“Sebenernya aku ngerasa cocok nggak cocok di Psikologi. Cuma ilmu yang aku dapat jadi bikin aku lebih peka sama orang. Peka sama keadaan. Karena pada intinya semua manusia di dunia ini Cuma ingin dimengerti. Kalau kita bisa mengerti dia, orang jadi lebih suka sama kita. Kalau misalnya traveling gitu, kan aku bisnisnya usaha travel which is jasa kan yang dibutuhin. Kayak aku selalu nanya sama klien aku misalnya lagi mau kemana gateaway-nya. Jadi kita ngebantu nge break down apa yang dia mau. Sebenernya Psikologi ini tidak membantu untuk menyelesaikan masalahnya. Psikolog itu nggak ngasih solusi, dia cuma ngasih tahu caranya gimana diri dia sendiri mendapatkan solusinya. Nah itu yang aku pake di travel aku,” kata Raras.

Meskipun ia memiliki track record nilai yang bagus selama berkuliah di Psikologi UI, Raras membuat sebuah keputusan besar yaitu dengan tidak melanjutkan kuliahnya hingga akhir. Raras yang kala itu sudah berada di semester 6 tersebut, memilih untuk keluar dan berhenti melanjutkan pendidikannya di sana. Hal ini ia putuskan atas keinginannya sendiri yang sadar bahwa ia tidak cocok di jurusan tersebut.

Hal ini pun juga diakui oleh dosen dan orang-orang disekitarnya. Meskipun orang tuanya sempat tidak mendukung keputusannya tersebut, namun kegigihan dan keyakinan Raras mampu meluluhkan orang tuanya untuk mendukung keputusannya kala itu.

“Itu big step juga buat aku. Karena aku anak tunggal, perempuan, terus ya orang tua mana yang nggak pengen anaknya lulus dari UI kan. Masuk UI aja udah seneng banget. Cuma aku bilang, ‘Aku nggak mau di cap aku pintar karena lulusan UI. Aku mau di cap Raras pinter ya karena Raras.’” ujarnya.

Totalitas dalam Menari
 

Raras aktif menjadi pengajar tari di CIOFF Indonesia.
Raras aktif menjadi pengajar tari di CIOFF Indonesia.
Sumber: instagram.com

Seni tari sendiri sudah menjadi bagian penting yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang Raras Tatachi. Mulai menari sejak usia 4 tahun, Raras mengaku bahwa dirinya sudah menunjukkan minatnya pada dunia tari sejak dulu. Bahkan, Raras sudah bergabung dengan sanggar tari sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika ia SMP, Raras bergabung dengan grup tari yang dibuat oleh PBB yang bernama, CIOFF. Tak hanya menjadi penari, Raras juga diangkat menjadi guru tari ketika ia masih SMP dulu.

Berkarier sebagai penari rupanya masih belum diapresiasi dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Menurut Raras, jika ia menjadi penari atau pekerja seni lainnya di Indonesia akan susah dan tidak semudah seperti pekerja seni di luar negeri.

“Menurut aku, bukannya aku nganggep sebelah mata ya, cuma di Indonesia seniman atau pekerja seni itu belum di apresiasi seperti di luar. Mungkin kalau aku di luar, aku pengen banget sebenernya ambil Broadway di New York dan ambil kelas-kelas di sana. Cuma kita kan di sini, ya aku orangnya realistis aja jadi yaudah nari itu hanya jadi sampingan aja. Toh gua udah bisa nari buat apa nyari ilmu lagi. Bisa panggil guru dari mana-mana, nggak perlu sekolah sampe S1. Jadi aku nggak kepikiran ambil sekolah tari,” ujar Raras yang sudah berkeliling ke berbagai Negara di dunia berkat hobi menarinya tersebut. 

CIOFF sendiri merupakan komunitas tari yang berada dibawah naungan PBB dengan bekerja sama dengan UNESCO. Awal cerita Raras bisa begabung dengan CIOFF adalah dengan pihak CIOFF yang melihat bakat serta kemampuan Raras. Akhirnya ia pun ditawarkan untuk bergabung dan dilatih menjadi guru tari.

“Awalnya emang dicari di SMP waktu itu siapa yang mau ikut festival nari ke Jerman. Cuma Presiden CIOFF-nya ngelihat aku, dia bilang sih dia ngelihat aku ada potensi leadership-nya sama narinya bagus dia bilang. ‘Yaudah mau nggak diajarin untuk jadi pelatih?’, akhirnya ditarik diajarin jadi pelatih. Jadi setiap hari minggu, sekitar 3 bulan, aku latihan selama 6 jam. Latihan gimana cara ngajar dan segala macam,” tutur Raras.

Bakat serta kinerjanya yang mengagumkan membuatnya di daulat menjadi Head Public Relation CIOFF pada tahun 2011 hingga 2013. CIOFF sendiri bisa dibilang sebagai saksi hidup perkembangan Raras sebagai penari yang memperkenalkan budaya Indonesia di luar negeri. Bahkan Raras sendiri sampai saat ini masih tercatat sebagai anggota aktif penari CIOFF.  Perempuan yang bermimpi untuk keluar negeri sejak kecil ini kini disibukkan dengan kegiatan berkeliling negara tanpa mengeluarkan uang sedikitpun melalui bakat tarinya tersebut.

Menjadi penari dan pengajar tari merupakan dua hal yang sangat berbeda untuknya. Menjadi pengajar seni tari sendiri bukanlah hal yang ia inginkan pada awalnya. Ia bahkan mengaku bahwa awalnya ia tidak terlalu menikmati kegiatannya menjadi pengajar. Hal ini disebabkan oleh tantangan yang harus dihadapi seperti mengajar berbagai tipe anak dengan kemampuan yang berbeda-beda. Namun, sekarang Raras akhirnya menemukan alasan serta hal yang membuatnya sadar bahwa mengajar tari adalah suatu hal yang membanggakan dan bisa membawa kebahagiaan untuknya.

Dengan mengajar tari, Raras dapat membuat orang-orang, khususnya muridnya, untuk mencintai sesuatu yang bukan dirinya sendiri serta berbagi ilmu dengan mereka yang membuat Raras bahagia dalam hal yang berbeda.Melalui tarian, Raras juga bercerita bahwa ia dapat mempromosikan budaya Indonesia di mata dunia. Tak hanya sebagai media untuk misi perdamaian dunia, melalui tarian, ia bisa menjelaskan bagaimana Indonesia sebenarnya, menghibur orang-orang, dan juga melestarikan budaya tanah airnya. Ia juga bisa menjadi diri sendiri serta mengekspresikan diri dan rasa yang ada di dalam dirinya untuk menunjukkan bahwa inilah seorang Raras Tatachi yang sebenarnya.

Alasannya memilih fokus pada tarian tradisional adalah karena tarian tradisional mewakili Indonesia. Menurutnya tarian seperti tarian modern memiliki banyak penari hebat namun tidak merepresentasikan Indonesia ketika bertukar budaya dengan Negara lainnya.

“Kalau modern yah, menurut aku dengan modern dance, aku nggak bisa memperkenalkan Indonesia karena bukan itu yang Indonesia punya. Modern dance banyak orang yang lebih jago di luar sana, kalau tradisional tuh Indonesia banget gitu dan karena tradisional dance aku bisa keliling dunia,” ujar penari yang paling suka dengan tarian Jaipong ini.

Kecintaannya di dunia tari juga menghantarkannya pada kesempatan untuk studio tari bernama Studio Gerak. Studio ini ia dirikan bersama kenalannya dari Prasetya Mulia. Mereka mengajak Raras untuk bekerja sama membangun sebuah studio tari yang kini sudah terbilang cukup sukses.

Hobi Jalan-Jalan yang Berbuah Bisnis
 

Berawal dari hobi jalan-jalan, kini ia sukses berbisnis travel yang dinamai Tatachi Travel.
Berawal dari hobi jalan-jalan, kini ia sukses berbisnis travel yang dinamai Tatachi Travel.
Sumber: instagram.com

Raras dikenal dengan hobi jalan-jalannya. Ia kerap membagikan perjalanannya melalui foto-foto di media sosialnya. Hal ini rupanya membuat teman-teman dan orang-orang yang melihat perjalanannya tersebut tertarik dengan destinasi yang dikunjungi Raras, terlebih lagi lokasi-lokasi yang dikunjungi olehnya tersebut merupakan lokasi yang jarang orang temui sebelumnya. Maka dari itu, banyak dari teman-temannya yang meminta Raras untuk menjadikan hobi jalan-jalannya tersebut menjadi sebuah bisnis yang menghasilkan.

“Jadi sempet kalau libur kuliah itu, aku jalan dari Jakarta naik mobil sampe Bali, road trip keliling Jawa ada tuh 2 bulan. Terus aku ke hidden-hidden place gitu yang literally disasarin, Google Maps kan nggak sekeren sekarang, dulu jalan disasarin kemana-mana. Tapi akhirnya aku nemu tempat-tempat keren dan jaman dulu Instagram belum ada fitur location-nya. Jadi aku nggak kasih tahu location-nya dimana karena kalau didatangin manusia lain tuh tempat jadi berantakan. Tapi banyak orang yang nanyain tempatnya dimana lewat Path, Instagram, dan lain lain,” ujar pebisnis yang banyak belajar dari orang lain tersebut.

“Dulu setiap aku jalan-jalan, aku pake hashtag #tatachitraveling. Jadi semua orang kalau nyari tempat-tempat yang aku kunjungin, mereka tuh nyari hashtag itu. Tiba-tiba ada orang dari Aceh, dari Papua, dari Medan, dari Sumatera dan Kalimantan sana tuh kayak ngekomen aku gitu, ‘Kak ini dimana?’” ujarnya.

Setelah melewati berbagai pertimbangan yang cukup dan berdiskusi dengan orang-orang yang ia temui ketika jalan-jalan ke Karimunjawa yang banyak memberikan saran padanya, akhirnya Raras mantap membuat bisnis pertamanya, yaitu jasa traveling yang ia beri nama Tatachi Travel. Nama tersebut diambil dari hashtag yang ia gunakan #tatachitraveling yang selalu ia gunakan di media sosialnya. Bisnis ini ia mulai dengan hanya bermodalkan 3 juta rupiah. Dengan nominal tersebut, Raras memulai bisnisnya dengan membuat office kit, logo, serta website untuk bisnisnya tersebut.

baca juga: Perbedaan Resume, Resensi, dan Review

Meskipun awalnya tidak di dukung oleh keluarganya, Raras tetap tidak putus asa dan lantas batal merealisasikan rencananya tersebut. Raras membangun Tatachi Travel bersama temannya dan juga dengan uang yang ia dapatkan dari hasil mengajar nari selama ini. Atas kegigihannya saat itu, hanya dalam jangka waktu sebulan Raras berhasil membuat usahanya balik modal dan bahkan terbilang sukses.

“Modal aku pertama 3 juta. Uang sendiri, uang dari aku ngajar-ngajar nari gitu. Bikinnya sama temen aku. Jadi modalnya patungan terus inget banget dulu 3 juta itu cuma bikin website, logo, stempel, bayar domain, sisanya Instagram gitu-gitu free kan nggak pake modal apa-apa. Udah modalnya 3 juta itu inget banget. Nggak nyampe sebulan udah balik modal, bahkan 4 kali lipat. Karena dulu lagi hits banget jalan-jalan gitu dan belum banyak banget travel yang kayak sekarang ya,” tutur Raras.

Meskipun usahanya sudah terbilang sukses, Raras mengaku tetap mengalami berbagai kendala. Salah satunya adalah masalah yang ditimbulkan oleh cuaca dan musim di Indonesia. Ketika musim hujan tiba, Raras harus mencari jalan lain unutk mendapatkan pemasukan dikarenakan cuaca dan musim yang tidak memadai untuk jasa travel miliknya yang kebanyakan destinasinya adalah pulau-pulau. Akhirnya ia pun mencoba untuk memikirkan solusi terbaik untuk masalah tersebut.

“Muter otak terus tuh dulu awal-awal. satu, apa yang bikin produk kita beda dari orang lain? Dua, apa nilai plus orang-orang kalau ambil trip bareng kita? Dulu mikirnya gitu dan akhirnya mulai banyak yang ikut kita. Dulu sampe aku sempet mikir, ‘Duh gila yah, kompetitornya banyak banget.’ Tapi aku salah mikirin kompetitor. Harusnya aku mikirnya ya anggep aja itu partner,” kata Raras.

“Jadi lebih banyak struggling sama diri sendiri juga, karena masih muda bawaannya pengen jalan-jalan, pengen main, sampe aku sempet stress buat nge-balance hidup aku sama kerjaan aku. Karena dulu aku kerja bener-bener segitunya banget. Aku mau ngebuktiin ke orang tua aku kalau aku bisa karena aku kan nggak di support sama sekali kan,” lanjutnya.

Wawasan yang ia dapatkan dari perjalanan misi budayanya juga banyak membantu Raras mendapatkan pengalaman yang bisa ia gunakan untuk mengembangkan usaha travel-nya. Tak hanya itu, dari jalan-jalan tersebut Raras mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga yang hanya ia daptkan ketika berkunjung ke berbagai negara di dunia. Menurutnya, strereotip yang ada di Indonesia sangat mempengaruhinya dalam melihat berbagai hal di sekitarnya. Akan tetapi, ketika ia melihat tempat dan dunia lainnya, Raras banyak belajar mengenai toleransi antar manusia dengan perbedaan yang ada.

Selain itu, Raras juga belajar bagaimana caranya menjadi nyaman di luar zona nyaman. Dengan traveling, ia belajar bagaimana hidup dengan lingkungan yang tentunya berbeda dengan apa yang ia miliki di rumah. Raras juga menjadi lebih mencintai lingkungan dan alam dengan berjalan-jalan. Traveling juga menjadi sebuah kesempatan untuk “healing” bagi Raras dari rutinitas ibu kota agar belajar menahan ego, menjadi fleksibel dan tentunya lebih mengenal diri sendiri.

Jiwa Sosial dan Etos Kerja yang Tinggi
 

Raras juga aktif mengikuti berbagai kegiatan sosial.
Raras juga aktif mengikuti berbagai kegiatan sosial.
Sumber: instagram.com

Tak hanya sibuk dengan di dunia tari dan sekolahnya, Raras juga aktif dalam dunia sosial. Ketika masa transisi dari SMA menuju kuliah, ia tercatat sebagai founder dari yayasan bernama Lemoyalty (Leo Club Children Youth and Loyalty) yang berada di bawah Lions Leo Group. Yayasan ini memiliki misi yaitu memberikan bantuan unutk anak-anak muda dan kecil di Indonesia.

“Jadi kita dulu hobinya charity mulu. Jadi kayak aku ngurus kemana-mana dan aku first president-nya which is bisa dibilang founder-nya. Karena aku yang narikin orang-orangnya. Yang buat itu jadi organisasi itu, aku. Jadi waktu itu juga sibuk sama itu. Yang ke Medan lah ikut convention, terus jamannya banjir ke Muara Angke, dan lain-lain,”

Perjuangannya membangun yayasan tersebut tentu tidak mudah. Ia harus berjuang mencari modal sendiri untuk yayasannya tersebut dan Raras juga merekrut sendiri para anggota panitianya. 

“Modal sendiri sih karena cuma ada iuran satu bulan sekali ke Lions-nya sendiri. Iuran member gitu, jadi sisanya modal sendiri semuanya. Aku cuma ngumpulin orang-orang, anak muda yang mau mengisi waktunya untuk hal yang lebih baik. Jadi semua modal sendiri. Kalau meeting juga modal sendiri, nyewa tempat juga modal sendiri, ngurusin organisasinya juga ngurusin sendiri,” ucapnya yang bercita-cita menjadi Menteri Pariwisata ini.

Tak hanya memiliki jiwa sosial yang tinggi, Raras juga merupakan sosok pekerja keras. Ia bercerita bahwa dulu ia adalah anak yang tidak bisa menerima kekalahan. Jika ia sudah menginginkan sesuatu, maka ia harus mendapatkannya bagaimanapun caranya. Akan tetapi semakin dewasa dirinya, ia pun menyadari bahwa tidak semua yang ia inginkan adalah hal yang ia perlukan.

“Dulu aku orangnya nggak bisa kalau nggak menang. Segitunya. Kalau aku udah punya kemauan sesuatu, aku harus menang. nggak bisa setengah-setengah dan ambisius banget. Cuma nyatanya, di kehidupan SMP-SMA nggak semua yang lu mau itu yang lu butuhin. terkadang what you want is not what you need,” ucapnya.

Meskipun sudah terbilang sukses dengan bisnis dan dunia tarinya, Raras masih memiliki berbagai impian yang masih ingin ia capai, seperti mengembangkan travel-nya.Pengalamannya selama ini mengajarkan berbagai hal untuk Raras sendiri. Ia belajar bagaimana untuk terus berusaha jika ingin menjadi pengusaha. Ia juga akhirnya tahu bagaimana pentingnya berdoa dan saling membantu sesama manusia.

“Jangan pernah menyerah. Sebenernya gini sih aku baru sadar, pengusaha kalau nggak usaha ya mati usahanya. Karena aku sempet males-malesan. Dapet duit segini cukup. Tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Nggak ada. Kalau kerja keras udah pasti ada usahanya. Sesuai. Nah kalau nggak sesuai mungkin kita kurang berdoa. Intinya itu ternyata yang aku dapet dan membantu sesama itu penting,”

Pengalaman-pengalaman hidupnya tentu memiliki keseruan tersendiri yang membuat orang-orang penasaran dengan ceritanya tersebut. Berawalkan dari tawaran yang diberikan temannya, Raras akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mencurahkan hal tersebut ke dalam bentuk tulisan di sebuah buku. Ia tercatat sebagai salah satu penulis dari buku yang berjudul Soul Travellers: Turning Miles into Memories yang berisi cerita yang merubah hidup dari sebuah perjalanan.

baca juga: kisah inspiratif Trinity

“Waktu itu deadline-nya tanggal 5 Maret dan aku baru pulang dari Bangkok tanggal 25 Februari which is kayak Cuma 10 hari deadline nulisnya. Cuma 2000 kata sih tapi kan nulis nggak bisa asal nulis kan. Yaudah bikin deh dan ternyata bagus jadi kayak banyak banget review-nya dan Alhamdulillah jadi buku terfavorit, terlaris. Terus masuk Top 10 buku Gramedia. Cover-nya masuk penghargaan Cover Terbaik tahun 2017. Terus bukunya laku dan mau di bikin lagi nih seri keduanya,” ungkap Raras yang juga sedang mempersiapkan buku solo perdananya tersebut.

Impian dan Harapan seorang Raras Tatachi
 

Raras Tatachi
Raras Tatachi
Sumber: instagram.com

Untuk menjadi sukses, Raras berpikir bahwa sosialisasi merupakan salah satu aspek penting yang harus ada di setiap individu. Dengan bersosialisasi, kita akan belajar bagaimana berkenalan dengan orang baru dan membangun relasi.

“Buat aku orang yang sukses adalah orang yang bisa bersosialisasi dengan baik. Karena ujungnya kita akan bertemu dengan orang lain,” katanya.

Raras juga memiliki pesan yang ingin ia sampaikan pada generasi muda Indonesia. Menurutnya, generasi muda kini harus bisa menghargai orang lain dan tidak hanya menilai orang dari materi serta penampilan luarnya saja. Untuk menjadi sukses di kemudian hari juga dibutuhkan proses yang panjang dan tidak mudah.

“It’s not all about money. Dua, jangan mau gampangnya aja. Semua di hidup ini akan terjadi ketika kamu berusaha dan selalu berdoa. Udah nggak ada yang lain. Jangan mau enaknya aja. Jangan mau seneng-senengnya aja. Jangan mau yang instan-instan karena semua butuh proses. Tiga, jangan pernah menyakiti hati orang lain. One day, itu akan balik ke diri kita sendiri. Pesan aku jangan melihat orang lain dari penampilan luarnya aja. Lo nggak akan tahu cerita orang itu dari luarnya. Terus bersikap baiklah. Kalau mau dibaikin harus baik sama orang dan don’t expect too much, it will hurt you so much” pesannya.

Dalam hidup juga terdapat hal-hal penting yang harus diutamakan sehingga kita tahu pengorbanan manakah yang harus dilakukan jika kita ingin bahagia dan berhasil suatu hari kelak.

“Kenyamanan diri kita sendiri dan pengorbanan. Karena setiap apa pun yang kita lakukan pasti ada pengorbanan. Jadi harus dipilih mana yang harus dikorbanin mana yang nggak. Mau cinta, pekerjaan, keluarga, pasti semua butuh pengorbanan,” ujarnya.

“Cintai negerimu dan cintai dirimu sendiri. Karena nggak ada lagi yang cinta Indonesia kalau bukan orang Indonesia dan kalau kita nggak cinta diri sendiri, nggak akan ada yang cinta sama kita,” tutup Raras.


Keinginannya yang besar untuk aktif dan belajar hal-hal baru tentu memberikan keuntungan yang besar dalam perkembangan seorang Raras Tatachi menjadi pebisnis dan penari yang handal saat ini. Walaupun sempat dihadapkan pada pilihan yang sulit dan berat, kegigihan serta keyakinannya pada apa yang ia inginkan dan ia minati mampu menghantarkannya pada kesuksesannya kini. Berkarier dengan dasar bakat dan passion yang dilakukan Raras mampu membuktikan dan juga menginspirasi anak-anak muda untuk tidak takut dalam melangkah dan keluar dari zona nyaman yang ada. Selain itu Raras juga memberikan satu pesan yang harus diingat oleh semua kalangan, khususnya generasi milenial, yaitu ‘Tidak usah berkata jika bisa berbuat. Dunia ini butuh aksi nyata bukan omongan belaka,’ Baca kisah tokoh inspiratif lainnya di Kinibisa!