span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Goenawan Mohamad: Jurnalis Pecinta Seni
Oleh : Ardito Ramadhan
03 Mei 2018

Highlight

Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.

Goenawan Mohammad
Seorang jurnalis senior yang merupakan pendiri Majalah Tempo. Ia juga dikenal sebagai sosok budayawan dan sastrawan terkemuka.
Sumber: islandsofimagination.id

Kinibisa saat ini akan menceritakan kisah inspiratif dari sosok yang merupakan jurnalis sekaligus pendiri Majalah Tempo, Goenawan Mohamad. Selain sebagai jurnalis, laki-laki yang akrab disapa GM ini juga tercatat sebagai seniman dan sastrawan terkemuka.



"Hanya mereka yang mengenal trauma, mereka yang pernah dicakar sejarah, tahu benar bagaimana menerima kedahsyatan dan keterbatasan yang bernama manusia."

Goenawan Mohamad lahir dengan nama lengkap Goenawan Soesatyo Mohamad pada 29 Juli 1941 di Batang, Jawa Tengah. Sejak kecil, laki-laki yang akrab disapa GM memang sudah menyukai sastra dan puisi. Ketika duduk di kelas 6 SD, ia mengaku menyenangi acara puisi siaran RRI. Ia juga suka membaca majalah langganan kakaknya, yaitu majalah Kisah yang diasuh H.B. Jassin, seorang tokoh sastra ternama.

Saat berusia 17 tahun, GM pun mulai rajin menulis. Dua tahun kemudian ia, menerjemahkan puisi penyair Amerika Serikat, Emily Dickinson. Memasuki usia kuliah, GM melanjutkan pendidikannya di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Namun, ia tidak menyelesaikan masa belajarnya di kampus tersebut. Ia justru mencicipi pendidikan ilmu politik di Belgia tak lama setelah pemerintahan Orde Lama tumbang.

goenawan mohammad ketika muda
Sosok Goenawan Mohammad ketika muda.
Sumber: balairungpress.com

Di akhir usia Orde Lama, GM sendiri sempat dilarang menulis di berbagai media, terutama soal politik. Hal ini disebabkan keikutsertaan GM dalam menandatangani Manifesto Kebudayaan pada 1963 bersama Jassin dan sastrawan besar lainnya. Pada 1964, Manikebu (sebutan lawan politik terhadap Manifesto Kebudayaan) bubar dan membuat para jurnalisnya tak leluasa menulis. Bahkan, GM terpaksa menggunakan nama samaran agar tulisannya dapat muncul di Majalah Indonesia.

Goenawan Mohamad Membidani Majalah Tempo
 

mendirikan majalah tempo
Goenawan Mohamad mendirikan Majalah Tempo pada 1971.
Sumber: profilbos.com

Sepulangnya dari Belgia, Goenawan Mohamad memulai kariernya sebagai jurnalis. Pertama, ia menjabat sebagai redaktur Harian Kami pada 1969-1970. Lalu redaktur Majalah Horison pada 1969-1975 dan Pemimpin Redaksi Majalah Ekspresi pada 1970-1971. GM sendiri tercatat sebgaai pendiri dan pengelola Majalah Ekspres bersama rekan-rekannya. Namun, akibat perbedaan prinsip antara jajaran redaksi dan pihak pemilik modal utama, terjadilah perpecahan. Goenawan cs keluar dari Ekspres pada 1970.[1]

Sejak 1971, GM bersama teman-temannya kembali mendirikan majalah. Majalah ini dinamakan Majalah Tempo dan mengusung karakter jurnalisme ala Time yang terkenal di Amerika Serikat. Menurut GM yang merupakan Pemimpin Redaksi majalah ini, nama Tempo diambil karena mudah diucapkan, terutama oleh para pengecer. Ada pula yang menyebut nama Tempo diambil karena mirip dengan nama majalah Time.Tempo sendiri pertama kali terbit pada 6 Juni 1971.

Dengan rata-rata umur pengelola yang masih 20-an, Tempo tampil beda dan diterima masyarakat. Selain itu, penulisan artikel di Majalah Tempo yang bergaya sastra juga menjadi keunikan majalah tersebut. Gaya sastrawi yang muncul dalam majalah ini juga disebabkan latar belakang seniman yang dimiliki oleh para pendiriinya. GM sendiri memiliki kolom khusus yang ia tulis di majalahTempo, yaitu kolom Catatan Pinggir. Ia masih mengisi kolom tersebut hingga kini.

baca juga: kisah inspiratif Dewi Lestari

Selain penulisannya yang berbalut sastra, Tempo juga terkenal akan jurnalisme investigasinya yang kerap mengkritik pemerintah, mulai dari era Orde Baru hingga saat ini. Akibat ‘kenakalannya’ itu, Tempo sempat diberedel beberapa kali oleh Pemerintah Orde Baru. Pertama, majalah ini diberedel pada 1982 karena dianggap terlalu tajam mengkritik Orde Baru dan kendaraan politiknya, Golkar. Namun, Tempo akhirnya terbit kembali setelah menandatangani janji dengan Menteri Penerangan saat itu, Ali Moertopo.

Meski begitu, Tempo justru semakin liar dalam menginvestigasi dan mengkritik Pemerintahan Orde Baru. Puncaknya, pada 1994 Tempo kembali diberedel karena dinilai terlalu keras mengkritik Habibie dan Suharto terkait pembelian kapal-kapal bekas Jerman Timur. Tak seperti pemberedelan sebelumnya, Tempo  tidak dapat beredar lagi hingga Oktober 1998 ketika kekuasaan Orde Baru telah tumbang lima bulan sebelumnya. Sebelumnya, GM sempat menerima beasiswa Nieman di Harvard University, Amerika Serikat.

Ketika Tempo kembali terbit, GM hanya menyandang jabatan Pemred selama satu tahun. Setelahnya, ia melepas jabatan tersebut kepada Bambang Harymurti.[2] Setelah itu, ia berstatus sebagai Redaktur Senior Tempo hingga saat ini. Meski begitu, GM tetap aktif mengisi kolom Catatan Pinggir yang sudah ditulisnya sejak dahulu. Bahkan, tulisan Catatan Pinggir telah dibukukan hingga sepuluh jilid.

Goenawan Mohamad Pasca Pembredelan Tempo
 

GMGoenawan Mohamad merupakan seorang seniman yang mendirikan Komunitas Utan Kayu.
Sumber: ytimg.com

Akibat kekecewaan atas pemberedelan Tempo serta dua media lainnya, Detik dan Monitor, pada 1994 GM memutuskan keluar dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan mendukung pendirian Aliansi Jurnalis Independen (AJI) oleh jurnalis-jurnalis muda yang idealis. Pada masa Orde Baru, AJI merupakan organisasi terlarang. Karena itu, operasi organisasi ini terpaksa diselenggarakan di bawah di bawah tanah untuk menghindari tekanan aparat.[3]

Selain AJI, GM juga ikut mendirikan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) bersama rekan-rekannya dari Tempo dan Aliansi Jurnalis Independen, serta sejumlah cendekiawan yang memperjuangkan kebebasan ekspresi. Secara sembunyi-sembunyi di Jalan Utan Kayu 68H ISAI menerbitkan serangkaian media dan buku perlawanan terhadap Orde Baru. Oleh sebab itu, Utan Kayu 68H menjadi tempat berkumpulnya berbagai elemen mulai dari aktivis pro-demokrasi, seniman, dan cendekiawan yang melawan Orde Baru.

Dari ikatan tersebut, terlahir Teater Utan Kayu, Radio 68H, Galeri Lontar, Kedai Tempo, Jaringan Islam Liberal, dan terakhir Sekolah Jurnalisme Penyiaran. Meski tak bergabung dalam satu badang, kelompok-kelompok itu disebut sebagai “Komunitas Utan Kayu”.  Pada 2008, Galeri Lontar, Teater Utan Kayu, dan Jurnal Kebudayaan Kalam  bertransformasi ke dalam Komunitas Salihara yang juga didirikan oleh Goenawan Mohamad.

Goenawan Mohamad dalam Seni dan Sastra
 

karyanya sampai ke LN
Karya sastra dan esai Goenawan telah dipublikasikan sampai ke luar negeri.
Sumber: trivia.id

Goenawan sendiri telah menghasilkan berbagai karya sastra dan esai yang telah dipublikasikan secara luas baik dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa di antaranya kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Prancis. Sebagian esainya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980).[4]

Meski begitu, tulisannya yang paling terkenal dan populer adalah Catatan Pinggir (Caping), sebuah artikel pendek yang dimuat secara mingguan di halaman paling belakang Majalah Tempo. Sejak kemunculannya pada akhir tahun 1970-an, Catatan Pinggir telah menjadi ekspresi oposisi terhadap pemikiran yang picik, fanatik, dan kolot. Caping sendiri telah dibukukan hingga edisi kesepuluh serta diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Jennifer Lindsay.

Selain dunia sastra, GM juga aktif dalam bidang seni pertunjukan antara lain membuat opera bersama musisi Tony Prabowo dan Jarrad Powell pada 2003. Dengan Tony, ia membuat pentas The King’s Witch di Seattle dan New York. Pada 2006, ia juga mengerjakan teks untuk drama-tari Kali-Yuga bersama koreografer Wayan Dibya dan penari Ketut beserta Gamelan Sekar Jaya di Berkeley, California.

Selain di luar negeri, dia juga ikut dalam seni pertunjukkan dalam negeri. Dalam Bahasa Indonesia dan Jawa, GM menulis teks untuk wayang kulit yang dimainkan dalang Sudjiwo Tedo, Wisanggeni (1995) serta dalang Slament Gundono, Alap-alapan Surtikanti (2002). Ia juga mengerjakan drama-tari Panji Sepuh bersama koreografi Sulistio Tirtosudarmo.

Karena kiprahnya di dunia seni, sastra, dan jurnalistik, GM diganjar berbagai penghargaan, yaitu[5]:

  • Anugerah Hamengku Buwono IX bidang kebudayaan dari Universitas Gadjah Mada.
  • Penghargaan Professor Teeuw dari Leiden University Belanda (1992)
  • Louis Lyons dari Harvard University Amerika Serikat (1997)
  • Internasional Editor (International Editor of the Year Award) dari World Press Review, Amerika Serikat (Mei 1999)
  • Internasional dalam Kebebasan Pers (International Press Freedom Award) oleh Komite Pelindung Jurnalis (Committee to Protect Journalists) (1998)
  • Wertheim Award (2005)
  • Anugerah sastra Dan David Prize (2006)

Setelah karier jurnalistiknya selesai, kini GM menyibukkan diri dengan menulis Catatan Pinggir serta merawat Komunitas Salihara yang ia dirikan. Selain itu, ia juga sering diundang ke berbagai forum baik sebagai peserta maupun pembicara. Salah satunya, ia mengikuti konferensi yang diadakan di Gedung Putih pada 2001 di mana Bill Clinton dan Madeleine Albright menjadi tuan rumahnya.[6]

baca juga: kisah inspiratif Andy F Noya

Sebeumnya, Goenawan Mohamad sempat aktif dalam kegiatan politik praktis ketika ia ikut membidani berdirinya Partai Amanat Nasional bersama tokoh-tokoh seperti Amien Rais, Emil Salim, dan Rizal Ramli pasca tumbangnya Orde Baru. Namun, pada 2014 ia memutuskan keluar dari partai berlambang matahari tersebut karena perbedaan pandangan politik.

Goenawan Mohamad telah menunjukkan bahwa bersuara dan berpendapat dapat dilakukan melalui berbagai cara, misalnya melalui tulisan dan karya seni. Ia pun membuktikan bahwa karya seni dapat menjadi sebuah alat untuk melakukan gerakan nasional. Bagaimana dengan kamu? Ayo cari tahu cara menjadi #GenerasiKompeten dengan bergabung dalam Kinibisa.


[1] https://korporat.tempo.co/tentang/sejarah
[2] https://korporat.tempo.co/tentang/komisaris
[3] https://aji.or.id/read/sejarah.html
[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Goenawan_Mohamad
[5] https://profil.merdeka.com/indonesia/g/goenawan-soesatyo-mohamad/
[6] https://profil.merdeka.com/indonesia/g/goenawan-soesatyo-mohamad/