span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Amir Syamsudin: Tekuni Bidang Hukum Hingga jadi Menteri
Oleh : Ardito Ramadhan
26 April 2018

Highlight

Pengalaman di Kantor Pengacara O.C. Kaligis telah menjadi modal dasar sederetan pengacara sukses saat ini.

amir syamsudin
Seorang pengacara berpengalaman yang telah berkiprah sejak masa Orde Baru. Ia terjun di dunia politik dengan menjadi politikus Partai Demokrat dan diangkat menjadi Menteri Hukum dan HAM.
Sumber: cdn.tmpo.co

Ia merupakan seorang pengacara yang telah berkiprah sejak masa Orde Baru. Berbagai kasus yang menghebohkan Indonesia pernah ia tangani. Pada 2011, ia terjun ke dunia politik ketika menerima tawaran untuk menjadi Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. Simak kisah inspiratif Amir Syamsudin bersama Kinibisa!



"Saya bisa membaca dari pagi sampai malam. Saya biasa membaca karya Charles Dickens."

Sosok Mandiri yang Ingin Menjadi Pengacara Andal
 

Amir Syamsudin lahir di Makassar pada 27 Mei 1946. Nama Amir Syamsudin yang tersemat padanya saat ini rupanya bukan nama aslinya. Ketika dilahirkan, ia diberi nama Freddy Tan Toan Sin. Namun, karena adanya peraturan yang melarang penggunaan nama Tionghoa maka namanya pun diubah menjadi Amir Syamsudin.

Masa kecil Amir Syamsudin banyak dihabiskan di Makassar yang saat itu bernama Ujungpandang. Amir kecil sangat akrab dengan suara desingan peluru. Sebab, saat itu tentara Indonesia sedang gencar-gencarnya melakukan operasi penumpasan DI/TII yang dipimpin Kahar Muzakar. Terekam jelas di ingatan Amir ketika ia pernah bersembunyi di kolong rumah panggung yang mereka tempati untuk terhindar dari baku tembak.



Sejak kecil
Amir mempunyai hobi membaca  sejak kecil.
Sumber: 2.bp.blogspot.com

Sejak kecil, Amir mengaku telah mempunyai hobi membaca. Meski ia kerap digembleng ayah tirinya dan sering diminta mengurus kerbau milik pamannya, Amir tetap meluangkan waktu untuk membaca. “Saya bisa membaca dari pagi sampai malam. Saya biasa membaca karya Charles Dickens,” kata Amir dikutip dari sebuah situs.[1]

Setelah lulus SMP, ia meninggalkan ibukota Sulawesi Selatan itu untuk melanjutkan pendidikan Surabaya. Sejak duduk di bangku SMA, Amir sudah bekerja. Di Kota Pahlawan itu, Amir sempat bekerja di sebuah toko roti dan menjadi juru cetak foto yang bekerja di kamar gelap.

baca juga: kisah inspiratif Tuti Hadiputranto

Pada 1965, ia hijrah ke Jakarta dan meninggalkan Surabaya. Di Ibukota, Amir yang tertarik dengan dunia permesinan sempat bekerja di sebuah bengkel sebelum membuka bengkelnya sendiri. Di tengah-tengah kesibukannya dalam aktivitas perbengkelan, Amir berencana melanjutkan pendidikannya di Universitas Indonesia. Pada 1978, ia resmi menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Lima tahun kemudian, anak kesembilan dari sepuluh bersaudara tersebut akhirnya lulus dari UI dan resmi menyandang gelar Sarjana Hukum. Amir memulai kariernya di dunia hukum kala bergabung dalam kantor pengacara kondang, O.C, Kaligis. Bagi Amir, pengalamannya di kantor itu merupakan bekal penting bagi karirnya kelak.

Berdasarkan data milik HukumOnline.com[2], kantor pengacara O.C. Kaligis memang menjadi ‘sekolah’ bagi para praktisi hukum Indonesia. Beberapa ‘alumni’ Kantor Pengacara O.C. Kaligis kini menjadi nama-nama yang tersohor di bidang hukum. Sebut saja Hamdan Zoelva, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi; Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional UI; dan pengacara kondang Hotman Paris.

“Pengalaman di Kantor Pengacara O.C. Kaligis telah menjadi modal dasar sederetan pengacara sukses saat ini,” kata Amir. Selain bekerja di Kantor Pengacara O.C. Kaligis, saat itu Amir juga berstatus sebagai mahasiswa S2 di Fakultas Hukum UI. Seiring waktu, Amir pun mulai dikenal sebagai sosok pengacara yang andal.

Membuka Kantor Pengacara

 

logo kantor pengacara amir syamsudin

Logo kantor pengacara Amir Syamsudin.
Sumber: amirsyam.com

Setelah mengumpulkan cukup modal, Amir membuka kantor pengacara yang ia namakan Amir Syamsudin Law Offices and Partners pada 1983. Selain itu, ia juga mendirikan firma Acemarks yang khusus menangani hak kekayaan intelektual.

Amir yang mengidolai sosok proklamator Muhammad Hatta menjalankan prinsip-prinsip koperasi dalam aktivitas kantornya. Oleh karena itu, pegawai-pegawainya merasa mempunyai tanggung jawab dalam mengembangkan kantor tersebut bersama-sama. Lambat laun, Amir Syamsudin Law Offices and Partners pun semakin berkembang.

Seiring waktu berjalan, berbagai macam klien datang ke kantor Amir untuk meminta bantuan hukum. Klien-klien itu datang dari dalam dan luar negeri serta mempunyai jenis kasus yang berbeda-beda, mulai dari masalah properti hingga perbankan. Amir juga memberi bantuan hukum kepada korban kasus-kasus yang dianggap kecil. Misalnya dengan membela seorang janda yang dikhianati mantan suaminya.

ASP Lawfirm
Suasana kantor pengacara yang didirikan oleh Amir Syamsudin.
Sumber: googleusercontent.com

Nama Amir semakin berkibar ketika ia dipercaya menjadi pengacara Majalah Tempo pada 1987. Saat itu, Tempo digugat oleh keluarga Presiden Soeharto yang tak puas dengan pemberitaan Tempo mengenai salah satu perusahaan milik keluarga itu. Tidak tanggung-tanggung, Tempo dituntut ganti-rugi sebesar 10 miliar Rupiah, angka yang tergolong spektakuler pada saat itu.

Meski beberapa tahun kemudian Tempo dibredel pemerintah karena masalah pembelian kapal tanker. Pembelaan Amir dkk rupanya sempat menemui kata berhasil. “Kami menang dua kali, di Pengadilan Tata Usaha Negara dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara. Kami harus kalah ketika menghadapi pengaruh kekeuasaan di Mahakamah Agung yang cenderung tidak mandiri ,” katanya.

Berkat kasus tersebut, Amir pun semakin dikenal sebagai pengacara andal. Kasus Tempo yang ia tangani juga membuatnya bertemu wartawan-wartawan kawakan yang bekerja di sana seperti Goenawan Mohamad dan Karni Ilyas. Setelah kasus itu usai, ia pun diangkat menjadi penasihat hukum Majalah Tempo.

Kasus besar lain yang pernah ditangani Amir adalah kasus Ajinomoto yang mencuat pada 2001. Saat itu, Fatwa Majelis Ulama Indonesia mengharamkan merk penyedap masakan itu. Sementara, Presiden yang saat itu menjabat, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur justru menilai Ajinomoto tidak mengandung hal-hal yang diharamkan.

Di luar kasus-kasus di atas, Amir juga sempat menangani beberapa kasus yang cukup menghebohkan publik. Kasus-kasus tersebut antara lain perselisihan  Kompas dengan Texmaco pada 2003, kasus Bapindo pada 1993, hingga kasus Buloggate yang melibatkan Ketua DPR saat itu, Akbar Tandjung, pada 2003.

Berpengalaman menghadapi berbagai kasus besar tentu tak membuat kehidupan Amir tenang-tenang saja. Tak jarang ia mendapat teror dari orang-orang tak dikenal. Amir bercerita suatu ketika kantornya pernah didatangi oleh seorang pembunuh bayaran. Namun, berkat kecerdikannya, Amir berhasil selamat dari ancaman tersebut.

Menjadi Politikus
 

berpidato
Sedang menyampaikan pidatonya sebagai Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia.
Sumber: wikimedia.org

Setelah lebih dari 20 tahun berkarir sebagai pengacara, Amir Syamsudin terjun ke dunia politik pada 2011. Saat itu, ia dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadi Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) menggantikan Patrialis Akbar. Amir tidak sendirian memimpin Kementerian Hukum dan HAM, ia didampingi oleh Deny Indrayana yang berstatus sebagai Wakil Menteri Hukum dan HAM.

Ketika ditunjuk menjadi Menkumham, Amir melepas semua tanggung jawabnya di Amir Syamsudin Law Offices and Partners. “Sehari sebelum dilantik segera saya mengundurkan diri dari kantor saya,” kata Amir dikutip dari Viva.[3] Menurutnya, hal itu dilakukan demi menghindari konflik kepentingan antara dirinya sebagai menteri dan sebagai pengacara.

Selama Amir menjabat posisi Menkumham ada beberapa persitiwa yang menjadi sorotan publik. Peristiwa-peristiwa itu antara lain kerusuhan yang terjadi di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kerobokan, Bali dan LP Tanjung Gusta yang terletak di Medan. Over-capacity penghuni LP yang menjadi penyebab kerusuhan itu merupakan salah satu PR terbesar Amir.

baca juga: kisah inspiratif Agus Martowardojo

Berbagai kasus korupsi yang melibatkan beberapa pejabat negara juga menjadi salah satu tugas Amir sebagai Menkumham. Di balik berbagai tugas dan tantangan tersebut, Amir agaknya berhasil melakukan tugasnya sebagai Menkumham sesuai dengan permintaan Presiden SBY. Buktinya, Amir tetap menjabat pos Menkumham hingga berakhirnya masa pemerintahan SBY pada 2014.

Setelah pucuk pimpinan nasional berganti, posisi Amir diganti oleh Yassona Laoly. Setelah pensiun dari pos menteri, waktu Amir banyak dihabiskan dengan mengurus Partai Demokrat. Per 2015, Amir menempati posisi Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat.

Kisah Amir Syamsudin di atas agaknya dapat menjadi bukti bahwa kerja keras tak pernah mengkhianati hasil. Pernah bekerja di sebuah bengkel saat remaja, Amir justru dikenal sebagai seorang menteri dan pengacara andal. Kisah Amir di atas juga dapat menjadi motivasi bagi kalian yang ingin menekuni profesi di bidang hukum. Simak kisah tokoh-tokoh inspratif lainnya bersama Kinibisa!


[1] http://ahmad.web.id/sites/apa_dan_siapa_tempo/profil/A/20030701-38-A_1.html
[2] http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt55b9e305e2634/nama-nama-tenar-di-bidang-hukum-ini-pernah-bekerja-di-kantor-ock
[3] http://www.viva.co.id/berita/nasional/257080-jabat-menteri-amir-mundur-jadi-pengacara