span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Abdullah Gymnastiar: Da'i Kondang Asal 'Paris Van Java'
Oleh : Ardito Ramadhan
20 April 2018

Highlight

Pantang bagi seorang mubaligh untuk bersikap agar dia disukai jamaahnya, tidak diridhoi Allah. Dakwah itu bukan mencari nafkah, popularitas, kekaguman.

Ulama Terkenal
Seorang ulama yang amat terkenal pada pertengahan 2000-an.
Sumber:
bp.blogspot.com

Abdullah Gymnastiar yang dikenal dengan sapaan AA Gym dapat dibilang salah satu dai paling kondang di Indonesia. Mungkin, ia adalah ulama Indonesia pertama yang rajin berdakwah melalui layar kaca. Pesan-pesan dakwahnya yang dikemas secara sederhana dan menyenangkan membuat AA Gym sangat diidolai oleh masyarakat. Yuk, simak kisah inspiratif AA Gym bersama Kinibisa!



"Mungkin berkat ilmu tersebut, lidah dan pikiran saya dimudahkan oleh-Nya untuk menjelaskan sesuatu kepada masyarakat."

Aa Gym Kecil yang Berprestasi dan Suka Berdagang
 

Aa Gym lahir di Bandung pada 29 Januari 1965. Sebelum dikenal dengan nama Abdullah Gymnastiar, anak pertama dari empat bersaudara ini rupanya mempunyai nama Yan Gymnastiar. Aa Gym memilih nama Abdullah Gymnastiar karena dinilai lebih islami.

Meski kini Aa Gym sibuk sebagai pengasuh sebuah pondok pesantren, masa kecil Aa Gym rupanya tak dihabiskan di pondok pesantren. Orang tuanya yang mempunyai latat belakang militer menyekolahkan Aa Gym di sekolah umum seperti anak-anak kebanyakan.

Pendidikan Aa Gym dimulai dari SD Sukarasa III Bandung sebelum bersekolah di SMP 12 Bandung. Selanjutnya, ia mengenyam pendidikan di SMA 5 Bandung yang diteruskannya dengan kuliah selama setahun di Pendidikan Ahli Administrasi Perusahaan, Universitas Padjadjaran.


berprestasi
Dikenal sebagai sosok yang berprestasi di bidang akademik.
Sumber: wowkeren.com

Setelah itu, ia meneruskan pendidikannya di Akademi Teknik Jenderal Ahmad Yani himgga sarjana muda. Sebenarnya, Aa Gym ingin melanjutkan kuliahnya hingga S1, namun niat itu ia urungkan karena ia jarang hadir kuliah dan merasa tidak enak apabila tidak mengikuti prosedur yang seharusnya.

Walau begitu, prestasi akademik Aa Gym bisa dibilang jauh dari kata buruk. Saat itu, ia sempat meraih gelar juara kelas nomor dua, hanya beda beberapa poin dari yang nomor satu. Sewaktu kuliah, prestasi akademik Aa Gym pun terjaga hingga ia dipercaya kampusnya untuk pemilihan mahasiswa teladan.

Ketika muda, Aa Gym juga aktif mengikuti berbagai organisasi. Misalnya, ia pernah menjadi Komandan Resimen Mahasiswa di kampus tempatnya kuliah. Ia juga tercatat sebagai anggota Keluarga Mahasiswa Islam Wirausaha (KMIW), organisasi yang kelak akan mendirikan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid. Aktvitas  Aa Gym dalam berorganisasi membuat dirinya piawai dalam berbicara di depan publik.

Selain belajar, masa kecil Aa Gym juga diisi dengan kegiatan berdagang. Aa Gym merupakan pelopor menjamurnya stiker-stiker yang menggambarkan kekuatan dan keindahan Islam. Ia juga pernah menjual minyak wangi hasil racikannya.

Uang hasil dagangan Aa Gym  biasanya ia tabung untuk membeli barang-barang bermanfaat lainnya. Misalnya, ia pernah membeli sebuah mobil angkot yang kadang-kadang ia supiri demi menutup biaya kuliahnya.

Kegiatan mengamen dari rumah ke rumah pun pernah dilakoninya. "Sebenarnya tujuan saya mengamen ini bukan untuk mencari uang, melainkan ingin berlatih dalam berhadapan dengan orang lain, tapi ya lumayan juga dapat uang” kata Aa Gym dikutip dari Bio.or.id[1]

Masa Awal Dakwah Aa Gym
 

berceramah
Sedang berceramah di Pondok Pesantren Daarut Tauhiid yang didirikannya.
Sumber: daaruttauhiid.org

Perkenalan Aa Gym dengan dunia dakwah dimulai pada 1980. Saat itu, ia mendalami ilmu laduni di bawah asuhan ajengan Jujun Junaeidi di Garut, Jawa Barat. Ilmu laduni adalah ilmu tentang keagamaan yang disebut paling sulit untuk dipelajari. Mimpi yang mempertemukan Aa Gym dengan Nabi Muhammad SAW pun disebut sebagai salah satu momen perubahan bagi sosok yang sering tampil bersorban ini.

Aa Gym bercerita, dalam mimpi itu ia bertemu dengan Nabi Muhammad yang menyuruhnya untuk mengajak orang-orang mendirikan salat. Beberapa malam setelahnya, Aa Gym kembali memimpikan hal yang sama. Kali ini, ia bermimpi mengikuti salat berjamaah dengan Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.

Uniknya, bukan hanya Aa Gym yang memimpikan hal sama. Seluruh anggota keluarga Aa Gym pun mengalami peristiwa unik itu secara bergantian. Kejadian ini pun membuat Aa Gym merasakan guncangan batin yang membuatnya takut melakukan perbuatan dosa. Rasa takut yang dimiliki Aa Gym membuatnya sering berperilaku aneh. Bahkan, keluarganya sempat berniat membawanya ke psikiater.

Perilaku aneh Aa Gym tersebut rupanya dianggap sebuah berkah oleh beberapa ulama. Seorang ulama menyebut Aa Gym telah dikaruniai tanazzul oleh Allah. Artinya, hati Aa Gym telah dibuka secara langsung untuk mengenal-Nya tanpa proses riyadhoh. “Mungkin berkat ilmu tersebut, lidah dan pikiran saya dimudahkan oleh-Nya untuk menjelaskan sesuatu kepada masyarakat,” kata Aa Gym.

Pada 1990, KMIW, organisasi tempat Aa Gym bernaung, mendirikan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid (DT) di rumah orang tua Aa Gym sebelum pindah ke daerah Gegerkalong, Bandung. Pendirian DT dimaksudkan untuk mengembangkan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari secara Islami.

Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, DT mampu berkembang pesat. Pada 1994 misalnya, saat itu Koperasi Pondok Pesantren DT didirikan untuk membiayai dakwahnya. Sementara pada 1995 didirikan pula Taman Kanak-kanak Al Quran dan Taman Pendidikan Al Quran.

Bangunan dan lahan yang ditempati DT pun semakin besar dan luas. Tak heran, fasilitas penunjang pondok pesantren juga semakin lengkap. Fasilitas-fasilitas yang ada di sekitar DT antara lain percetakan, warung telepon, pasar swalayan, dan minimarket.

Guna mengembangkan dakwahnya, DT pun berupaya mendirikan sejumlah media elektronik. Pada 1999, DT berhasil mendirikan Radio Ummat dan Radio Bening Hati. DT juga mempunyai PT Tabloid MQ dan beberapa perusahaan lainnya. Seluruh aset yang dimiliki DT diperkirakan bernilai hingga 6 milyar Rupiah.

Puncak Popularitas Aa Gym
 

Digemari oleh Ibu-ibu
Sosok yang digemari oleh ibu-ibu karena membahas  kehidupan rumah tangga. 
Sumber: kemlu.go.id

Nama Aa Gym mulai meroket ketika ia mengisi acara rutin berjudul Hikmah Fajar di stasiun televisi RCTI. Setahun kemudian, ia juga memiliki program sendiri yang dinamakan Manajemen Qolbu. Sosok Aa Gym pun berhasil menjadi sosok pendakwah yang sangat populer saat itu.

Aa Gym banyak disukai oleh masyarakat Indonesia karena dakwahnya sering mengangkat topik pengendalian diri, hati nurani, toleransi, dan keteguhan iman. Laki-laki yang suka berkuda ini juga disukai oleh ibu-ibu rumah tangga karena sering berbicara tentang cara membangun keluarga yang sakinah.

Pembawaan Aa Gym dalam berdakwah pun dinilai cukup berbeda dengan ulama-ulama lainnya. Aa Gym dianggap mampu berdakwah menggunakan bahasa sehari-hari yang ringan dan menyenangkan. Tak ketinggalan, Aa Gym juga memanfaatkan lagu sebagai media dakwahnya. Lagu Jagalah Hati yang ia ciptakan saat itu sempat populer di tengah-tengah masyarakat Indonesia.

Popularitas yang dimiliki Aa Gym rupanya berpengaruh kepada Pondok Pesantren Daarut Tauhiid yang ia kelola. Puluhan ribu orang datang ke sana untuk bertemu Aa Gym. “Tahun 2005 sampai 2006, hampir setiap Minggu kami membawa tamu dari Pekanbaru, Medan atau Surabaya ke Daarut Tauhid. Satu rombongan bisa 50 orang. Dulu bisnis pemandu wisata dan event organizer laku keras di Daarut Tauhid,” kata Denny, salah seorang pemilik bisnis travel kepada Merdeka.[2]

Oleh sebab itu, bisnis yang dikelola DT pun berkembang sangat pesat pada 2000-an. Saat itu, DT bagaikan pondok pesantren yang memiliki kerajaan bisnis. Mulai dari hotel, penerbitan buku, event organizer hingga minuman soda bermerk MQ Cola dimiliki oleh pondok pesantren yang beralamat di Gegerkalong, Bandung, itu.

Pada dekade 2000-an rasanya tidak ada ulama sekondang Aa Gym. Ia hampir tidak pernah absen tampil di televisi atau radio. Bahkan, ia dihargai 1 miliar Rupiah per jam untuk mengisi dakwah di televisi pada Bulan Ramadan. Tak ubahnya selebriti, Aa Gym juga kerap dikejar-kejar wartawan infotainment.

Berkat popularitasnya, bidang usaha yang dimiliki Aa Gym pun semakin lebar. Misalnya, ia mengembangkan usaha penerbitannya hingga 15 usaha penerbitan. Aa Gym pun berhasil menerbitkan 32 judul buku serta CD dakwahnya. Tak heran, majalah Time pernah menyebut Aa Gym merupakan pedagang yang menggunakan agama sebagai alat menarik keuntungan.

Ujian Besar
 

Ujian besar
Aa Gym beserta kedua istrinya saat acara pernikahan anaknya
Sumber: 2.bp.blogspot.com

Semakin tinggi pohon, semakin kencang pula angin yang menerpanya. Agaknya, pepatah ini pantas dialamatkan kepada Aa Gym. Karier pendakwah yang suka memanah itu merosot cepat karena ditinggal masyarakat yang kecewa dengan keputusan Aa Gym.

Setidaknya, ada dua keputusan Aa Gym yang membuat masyarakat kecewa. Pertama, Aa Gym diprotes karena dianggap menyesatkan masyarakat untuk menerima kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Pada 2005, Aa Gym memang sempat tampil dalam sebuah iklan masyarakat yang meminta masyarakat agar bersabar dalam menganggapi kenaikan harga BBM.

Kasus kedua dan terbesar yang menimpa Aa Gym adalah keputusannya untuk berpoligami. Pada 2006, ia menikahi seorang janda beranak tiga yang pernah berprofesi sebagai model sebagai istri keduanya. Dalam waktu cepat, kritikan dan cemoohan pun dialamatkan kepadanya. Sebab, sosok Aa Gym selama ini sering berceramah mengenai kehidupan keluarga, suatu yang cukup bertentangan dengan poligami.

Polemik-polemik tersebut rupanya tak hanya berdampak bagi Aa Gym. Setelah sukses berkat popularitas Aa Gym, Pondok Pesantren Daarut Tauhiid ikut jeblok seiring citra Aa Gym yang memburuk. Pada 2007, DT mengurangi jumlah karyawannya karena angka kunjungan pesantren yang anjlok hingga 70 persen.

Bagi Aa Gym, peristiwa tersebut membuatnya mulai kehilangan tempat di stasiun televisi. Apalagi, kala itu mulai bermunculan ustad-ustad lain yang juga layak masuk televisi seperti Jefri Al Buchori, Yusuf Mansyur, dan Arifin Ilham. Omset bisnis Aa Gym pun ikut menurun akibat peristiwa tersebut.

baca juga: kisah inspiratif Hanan Attaki

Meski begitu, Aa Gym menyadari bahwa peristiwa tersebut merupakan sebuah ujian yang harus dilewatinya. “Sejujurnya saya dulu sangat terperdaya oleh ujian popularitas, ujian kemudahan, kelapangan, kekaguman orang, dan itu membuat hidupnya jadi artifisial jadi dakwah itu dikemas demi senang orang saja, bukan dakwah demi diridhoi Allah, semoga Allah mengampuni,” katanya kepada Merdeka[3].

Popularitas yang menurun juga tak membuat Aa Gym kehilangan semangat dalam berdakwah. Ia mengaku sudah tidak peduli lagi dengan popularitas yang dulu sempat dimilikinya. “Pantang bagi seorang mubaligh untuk bersikap agar dia disukai jamaahnya, tidak diridhoi Allah. Dakwah itu bukan mencari nafkah, popularitas, kekaguman,” kata Aa Gym.

Melalui kisah Aa Gym di atas, agaknya kita belajar bagaimana kita dapat memanfaatkan peluang yang ada sebesar-besarnya. Namun, di sisi lain kita pun tidak boleh hanya mengutamakan popularitas karena popularitas pun ada batasnya. Ingin tahu kisah-kisah inspiratif dari tokoh lainnya? Mari bergabung dengan Kinibisa dan wujudkan #GenerasiKompeten!


[1]http://bio.or.id/biografi-aa-gym-abdullah-gymnastiar/
[2]https://www.merdeka.com/peristiwa/aa-gym-kisah-jatuh-bangun-ustaz-penjaga-hati.html
[3]https://www.merdeka.com/peristiwa/aa-gym-kisah-jatuh-bangun-ustaz-penjaga-hati.html