span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Tito Karnavian: Kapolri Spesialis Pemburu Teroris
Oleh : Nanda Aulia Rachman
18 April 2018

Highlight

Karirnya terus menanjak seiring dengan prestasi dan jenjang pendidikan yang ia terima.

Tito Karnavian
Mempunyai segudang pengalaman di bidang pemberantasan terorisme.
Sumber: poskotanews.com

Di usianya yang terbilang cukup muda dibandingkan dengan jenderal bintang empat lainnya, ia telah menjabat dan melakukan berbagai prestasi serta operasi strategis bagi Korps Bhayangkara. Tito Karnavian, sosok yang terkenal dengan aksi pemberantasan terornya, merupakan salah satu bagian dari generasi kompeten Indonesia. Simak kisah inspiratifnya bersama Kinibisa!



"Saya memahami saya termasuk junior dalam generasi kepolisian. Tapi ini perintah. Prajurit tidak boleh melanggar perintah. Pasti akan saya lakukan semaksimal mungkin."

Jenderal Polisi Drs. H. M. Tito Karnavian, M.A., Ph.D lahir di Palembang, 26 Oktober 1964. Ia adalah Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia di era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). Tito menjadi suksesor Jenderal Polisi Badrodin Haiti. Penunjukkan Tito dimakbulkan oleh Jokowi pada 15 Juni 2016 dan resmi dilantik pada 13 Juli 2016.

Sempat Ingin Menjadi Dokter
 

Tito
Sumber: kompas.com

Tito kecil menghabiskan masa kecilnya di Palembang, Sumatera Selatan. Setelah lulus dari SMA Negeri 2 Palembang, suami dari Tri Suswati ini melanjutkan pendidikan AKABRI walaupun sudah diterima di Universitas Sriwijaya, Universitas Gajah Mada dan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Alasan utama ia mengambil AKABRI karena permasalahan biaya. "Kalau fakultas kedokteran atau hubungan internasional bakal banyak keluar uang," ujar Kordiah, ibunda Tito menirukan ucapan anak keduanya itu dilansir dari Tempo (16/06/2016).Semasa pendidikannya, ia meraih bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik di tahun 1987.

Setelah bertugas selama tiga tahun di Polres Jakarta Pusat, ia mendapatkan kesempatan untuk studi di Inggris di University of Exeter. Ia meraih gelar sarjana di program Police Studies di tahun 1993. Ayah dari tiga orang anak ini mendapatkan gelar pasca sarjananya di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di tahun 1996. Ia lulus dengan penghargaan bintang Wiyata Cendekia.

Berkat kecemerlangannya, ia dipromosikan menjadi Sekretaris Pribadi Kapolri pada tahun 1997. Tito kembali dikirimkan untuk menimba ilmu ke Royal New Zealand Air Force of Command &Staff College, Auckland. Di tahun itu juga ia mendapatkan gelar B.A. dalam bidang Strategic Studies di Massey University, Selandia Baru.

Di tahun 2013, setelah menangani berbagai kasus di Densus 88 dan menjadi kapolda di berbagai tempat, Tito berhasil menyelesaikan tesisnya di program studi Strategic Studies With Interest On Terrorism and Islamist Radicalization di S.Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University di Singapura dengan gelar Magna Cum Laude.

Awal Karir di Kepolisian
 

awal karir di kepolisian
Merupakan salah satu lulusan terbaik Akademi Kepolisian Republik Indonesia.
Sumber: metrotvnews.com

Setelah lulus dari AKABRI, Tito diposisikan sebagai perwira sawapta Polres Jakarta Pusat. Sebelum keberangkatan studinya di tahun 1991, ia dinaikkan pangkatnya menjadi kanit reserse Polres Metro Jakarta Pusat. Di tahun itu pula, ia memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya dengan perempuan yang sudah dipacarinya sejak SMA, Tri Suswati.

Karirnya terus menanjak seiring dengan prestasi dan jenjang pendidikan yang ia terima. Di masa reformasi, Tito banyak dirotasi di berbagai jabatan kepolisian di wilayah Jakarta seperti;

  • Kasat Serse Ekonomi Reserse Polda Metro Jaya (1999-2000)
  • Kasat Serse Umum Reserse Polda Metro Jaya (2000-2002)

Disinilah kontribusi dan karir Tito mulai melejit. Pada masa jabatannya itu, ia berhasil menangkap buronan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Tommy, saat itu, merupakan tersangka atas kasus pembunuhan berencana hakim Agung Syafiudin. Berkat prestasinya ini ia mendapatkan kenaikan luar biasa dari mayor ke ajun komisaris besar. Di tahun 2004, setelah penempatan tugas di Makassar dan Jakarta, Detasemen Khusus 88 atau Densus 88 Anti Teror dibentuk oleh Kapolda Metro Jaya saat itu, Jenderal Firman Gani. Tito Karnavian mendapat amanah untuk bergabung dengan detasemen baru itu.

Berantas Teror di Densus 88
 

memimpin pasukkan
Memimpin pasukan anti teror saat insiden bom Sarinah.
Sumber: bp.blogspot.com

Menanggapi ancaman teror, Tito Karnavian dapat menjalankan timnya dengan baik. Ia berhasil menangkap teroris terkenal, Dr. Azhari, yang tewas tertembak di Malang pada tahun 2005. Penangkapan ini mengangkat pangkatnya menjadi seorang Kombes Pol. Setelah kejadian itu, Tito sempat digilir ke Serang sebagai Kapolda Serang Polda Banten, sebelum kembali ke Jakarta menjabat sebagai Kasubden Bantuan Densus 88 Anti Teror Bareskrim Polri. Setahun kemudian, ia ditunjuk menjadi Kasubden 88 Anti Teror Bareskrim Polri.

Keberhasilannya terus menanjak. Puncaknya, lelaki yang menjabat sebagai Kadensus 88 Anti Teror Bareskrim Polri saat itu, berhasil menangkap Noordin M. Top, salah satu teroris bom bali dan menangani konflik Poso.

Jalan Menuju Kapolri
 

Pelantikan
Dalam upacara pelantikannya sebagai Kapolri di Istana Negara.
Sumber: etkab.go.id

Prestasinya menangkap teroris-teroris besar Indonesia membuat dirinya semakin diapresiasi. Ia diangkat menjadi Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2012, ia dipromosikan menjadi Kapolda Papua atas perintah Kapolri Jenderal Pol. Timur Pradopo.

Beban berat disematkan padanya karena pada saat itu Papua hanya mempunyai satu Polda untuk menangani keseluhan pulau Papua yang amat besar. Ia kembali ke Jakarta setelah menghabiskan dua tahun di propinsi tertimur Indonesia.

Di Jakarta, ia diangkat menjadi Asisten Kapolri Bidang Perencanaan dan Umum dan Anggaran. Pengangkatannya ini dinilai tepat oleh Irjen Pol Ronny Frankie Sompie, Kepala Divisi Humas Polri. Tito dianggap cocok menjabat Asrena Polri karena memiliki kualitas IQ tinggi dalam program efisiensi anggaran dan merupakan salah satu pos bergengsi di Mabes Polri.

Tak lama kemudian ia menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya. Berada di ibukota negara, Tito mendapatkan soroton yang besar dari media dan publik pada tahun 2015. Di masa jabatannya, ia melakukan beberapa gebrakan dan menghadapi beberapa kasus yang menyita perhatian publik. Teror bom sarinah, pengamanan final presiden, kasus pembunuhan kopi sianida Wayan Mirna Salihin serta penggusuran Kalijodo dan Kampung Pulo adalah beberapa kasus yang terangkat oleh media massa. Dalam surat telegram Kapolri per tanggal 14 Maret 2016, Tito diangkat menjadi Kepala BNPT. Pengangkatan ini otomatis membuat pangkatnya dinaikkan jadi bintang tiga atau Komisaris Jenderal Polisi.

Jadi Kapolri di Era Jokowi
 

kapolri di ruangan jokowiKetika sudah menjabat sebagai Kapolri.
Sumber: indonesiatatler.com

Tito Karnavian dimajukan Jokowi sebagai calon tunggal Kapolri pengganti Badrodin Haiti yang akan memasuki masa purna bakti. Nama Tito mulai digadang-gadang setelah kontroversi pencalonan komisaris Jenderal Budi Gunawan untuk calon Kapolri dibatalkan setelah ditetapkan tersangka.

Diketahui, total harta lelaki pemburu teroris ini mencapai Rp 13.285.460.823 dengan utang mencapai Rp 2.993.785.000 berdasarkan rilis laporan KPK. Laporan ini dirilis sebagai salah satu syarat pencalonan Tito sebagai kepala korps Bhayangkara tertinggi Indonesia.

Penunjukkan lelaki asal Sumatera ini juga menuai reaksi positif dari netizen. Lembaga intelijen media, analisis data, dan kajian strategis Indonesia Indicator mencatat bahwa hanya sekitar dua persen pemberitaan negatif yang merujuk kepada pelantikkan Tito.

"Emosinya trust dan joy. Artinya media sosial menyambut positif atas penunjukan itu. Emosi tersebut dimunculkan dari berbagai cuitan alias pernyataan yang ditujukan kepada Tito," ujar Direktur Komunikasi Indonesia Indicator (I2) Rustika Herlambang di Jakarta, Sabtu dilansir dari Antara News (18/06/2016).

Walaupun sudah didukung banyak orang, Tito sempat mengaku menolak secara halus keputusan ini. “Saya memang pernah menolak dengan halus ke Kapolri, saya sampaikan maupun ke Pak Menko Polhukam. Sebaiknya senior yang diberi tempat. Saya merasa tahu diri masih 6-7 tahun lagi pensiun," kata Tito saat diwawancara di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (16/6/2016) dilansir dari Detik. Lelaki ini namun mengaku bahwa seorang prajurit tidak boleh melanggar perintah. Ia menerima jabatan itu dengan tanggung jawab dan lapang dada.

Salah satu tantangan terbesar Tito dalam masa jabatannya yang baru ini adalah soal kasus penistaan agama. Semua dimulai dari insiden Ahok, petahana gubernur DKI Jakarta saat itu, yang mulutnya “keselepet” saat melakukan ceramah di Kepulauan Seribu. Mulutmu harimaumu, perkataan Ahok dimanipulasi dan disalahgunakan artinya untuk memicu pertikaian.

baca juga: kisah inspiratif Abdurrahman Wahid

Berawal dari video suntingan Buni Yani, umat Islam yang merasa tercela melakukan berbagai aksi “bela islam” menuntut DKI 1 untuk diadili dan dipenjarakan. Tercatat sedikitnya tiga aksi terjadi di akhir tahun 2016. Namun yang terbesar adalah aksi “212”. Aksi ini dinamakan dari tanggal terjadinya aksi tersebut, 2 Desember 2016. Umat Islam berbondong-bondong dari berbagai daerah di Indonesia, menyerbu ibukota menuntut keadilan untuk Ahok. Hingga saat ini proses pengadilan masih berlangsung.

Dibalik segala haling rintangan yang menerpa, Tito tetap berkomitmen untuk menjaga amanahnya bagi keamanan dan ketentraman Indonesia. "Saya memahami saya termasuk junior dalam generasi kepolisian. Tapi ini perintah. Prajurit tidak boleh melanggar perintah. Pasti akan saya lakukan semaksimal mungkin," ucap lulusan terbaik Akpol 1987 ini kepada Detik (16/06/2016).

Semoga kisah Tito Karnavian di atas bisa menginspirasimu ya! Keberhasilannya menduduki posisi Kapolri di usianya yang masih muda tentu bisa memotivasimu untuk terus bekerja keras dan pantang menyerah. Simak kisah tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!