span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Chairul Tanjung: Alumni Kedokteran Gigi yang Sukses menjadi Pengusaha
Oleh : Ardito Ramadhan
02 Mei 2018

Highlight

Si Anak Singkong

https://www.kinibisa.com/inspirasi/detail/pejabat/bambang-brodjonegoro-menteri-keuangan-pionir-tax-amnestyChairul Tanjung
Pengusaha sukses yang merupakan pendiri CT Corp, grup perusahaan yang menaungi Trans TV, Bank Mega, dan perusahaan-perusahaan lainnya.
Sumber: finansialku.com

Nama Chairul Tanjung pasti tidak asing di telinga kita. Sosok yang menjuluki dirinya sebagai ‘Si Anak Singkong’ ini merupakan pendiri sekaligus pemilik CT Corp, perusahaan yang menaungi Bank Mega, Trans TV, Trans 7, dan perusahaan-perusahaan lainnya. Meski terlahir di keluarga yang mampu, Chairul harus jatuh-bangun sebelum sukses menjadi seorang pengusaha. Penasaran dengan kisahnya? Ayo simak profil Chairul Tanjung di Kinibisa!



"Satu persatu, tidak bisa langsung lompat begitu saja. Karena yang melompat-lompat itulah, resiko terpelesetnya tinggi."

Masa Kecil Chairul
 

Chairul Tanjung lahir pada 16 Juni 1962 di Jakarta. Ia merupakan anak dari pasangan Abdul Gafur Tanjung dan Halimah. Selai Chairul, pasangan itu juga memiliki enam anak lainnya. Latar belakang keluarga ini dapat dibilang cukup beragam karena ayah Chairul berasal dari Sibolga, Sumatera Utara sedangkan ibunya datang dari daerah Cibadak, Jawa Barat.

Keluarga tersebut dapat dikatakan sebagai keluarga yang cukup mampu karena ayah Chairul merupakan seorang reporter media cetak pada era Orde Lama, sementara ibunya berstatus ibu rumah tangga. Ayah Chairul juga berstatus sebagai ketua pengurus ranting Partai Nasional Indonesia yang dekat dengan pemerintahan Orde Lama. Namun, ketika Orde Baru berkuasa hal itu justru berakibat buruk bagi keluarga Chairul.

Akibat dinilai berseberangan dengan kepentingan penguasa saat itu, medita tempat ayah Chairul bekerja ditutup oleh pemerintah Orde Baru. Oleh sebab itu, rumah milik keluarga Chairul terpaksa dijual dan mereka mesti tinggal di kamar losmen yang sempit. Kondisi ini nampaknya menjadi pelecut bagi Chairul untuk rajin belajar. Menurut ayahnya, pendidikan adalah jalan keluar dari himpitan kemiskinan.

bersama keluarga
Chairul Tanjung berfoto bersama keluarganya di salah satu taman bermain milik Trans Studio.
Sumber: bp.blogspot.com

Kedua orang tua Chairul memang sangat tegas dalam mendidik anak-anaknya. Dengan segala daya dan upaya, mereka selalu berusaha menyekolahkan anak-anak mereka, termasuk Chairul. Chairul sendiri disekolahkan di SD dan SMP Van Lith, Jakarta sebelum pindah ke SMA Negeri 1 Boedi Utomo. Selepas SMA, Chairul melanjutkan pendidikannya di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Keberhasilan Chaiurl diterima di FKG UI bukan tanpa rintangan. Selain mesti rajin belajar, mengambil kuliah kedokteran gigi pun membutuhkan dana yang tidak sedikit. Orang tua Chairul tidak mampu membayar uang kuliah dan uang administrasi yang masing-masing sebesar Rp 75,000 dan Rp 30,000. Nilai itu dianggap cukup besar pada tahun 1981, tahun di mana Chairul diterima di FKG UI.

baca juga: kisah inspiratif Bob Sadino

Oleh karena itu, ibu Chairul terpaksa menjual kain batik halus miliknya demi membiayai pendidikan Chairul. “Diam-diam, ibu saya menggadaikan kain halusnya ke pegadaian untuk membayar uang kuliah saya,” kata Chairul dalam biografinya yang berjudul Si Anak Singkong.Kenyataan itu membuat Chairul bertekad untuk tidak lagi menyulitkan kedua orang tuanya. Pada saat itu pula ia memulai bisnis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Memulai Bisnis di Kampus Dokter Gigi
 

mulai berbisnis
Petualangan bisnis Chairul telah dimulai ketika ia berkuliah di Fakultas Kedokteran Gigi UI.
Sumber:
telegraf.co.id

Selama berkuliah di Universitas Indonesia, hari-hari Chairul disibukkan dengan kegiatan usaha yang ia miliki. Mau tidak mau, Chairul juga mesti memperhatikan unit-unit usahanya karena dari situlah biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari ia dapat. Meski begitu, kesibukan ini tidak membuat Chairul lupa dengan kegiatan akademik. Tak sekadar menghadiri jadwal perkuliahan yang padat, Chairul juga menorehkan prestasi selama berkuliah di sana. Puncaknya, ia terpilih sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional 1984-1985.

Sebelum berkuliah, Chairul sebenarnya telah berusaha untuk hidup mandiri sejak kecil. Namun, ketika ia duduk di bangku SD hingga SMA ia mencari uang bukan untuk menghidupi diri sendiri, melainkan hanya untuk uang jajan. "Cari uangnya tidak untuk menghidupi tapi sekadar buat jajan. Setelah masuk kuliah baru untuk menghidupi," kata Chairul dikutip dari Detik.[1]

Ketika duduk di bangku kuliah, Chairul pun memulai bisnis kecil-kecilan di berbagai sektor. Misalnya ia sempat membuka usaha foto kopi di kampusnya. Awalnya, ia menawarkan jasa foto kopi diktat kuliah dengan menggunakan mesin milik temannya dan menyewa kios yang terletak di bawah tangga. Usaha fotokopinya terus berkembang hingga ia memiliki kios fotokopi sendiri di Salemba.Selain usaha fotokopi, Chairul juga sempat berjualan buku kuliah stensilan, stiker, dan kaos demi memenuhi baiaya hidup dan kuliahnya.

Meski memperolh banyak keuntungan dari usaha yang ia miliki, bukan berarti Chairul tidak pernah mengalami kegagalan. Pada 1983, ia membuka kios peralatan dan laboratorium kedokteran gigi dengan uang hasil uasahanya yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Namun kios itu tidak bertahan lama dan akhirnya bangkrut. “Yang nongkrong lebih banyak ketimbang yang beli,” katanya dikutip dari Studentpreneur.[2]

Banting Setir Menjadi Pengusaha
 

Setelah menamatkan studinya di FKG UI pada 1987, Chairul memilih fokus dalam berbisnis ketimbang menjadi dokter gigi. Bersama ketiga temannya, Chairul membentuk PT Pariarti Shindutama dengan modal sebesar Rp 150,000,000 yang mereka pinjam dari Bank Exim. Perusahaan ini bergerak dalam bisnis ekspor sepatu anak. Sebagai pemula, perusahan ini dapat dikatakan cukup sukses karena berhasil mendapat pesanan 160 ribu pasang sepatu dari Italia.

Meski begitu, Chairul justru tidak bertahan lama di perusahaan tersebut. Ia memilih keluar dari sana karena merasa ada perbedaan visi dan misi terkait ekspansi usaha. Setelah itu, ia membangun perusahaannya sendiri yang dinamakan Para Group. Perusahaan ini dapat cepat berkembang dengan memanfaatkan jaringan luas yang dimiliki oleh Chairul Tanjung.

Bagi Chairul, koneksi atau jaringan adalah modal penting yang wajib dimiliki seorang pengusaha. Menurutnya, dalam membangun networking dibutuhkan jiwa championship. Artinya seseorang harus unggul dalam pergaulan tingkat sesama agar dilirik di tingkat selanjutnya. “Satu persatu, tidak bisa langsung lompat begitu saja. Karena yang melompat-lompat itulah, resiko terpelesetnya tinggi,” kata Chairul dikutip dari Omahkreatif.co.id.[3]

Berkat koneksi terebut, Para Group semakin berkembang dan mampu bersaing di beberapa sektor usaha. Salah satu keputusan bisnis terbaiknya adalah ketika ia mengambil alih kepemilikan Bank Mega pada 1996. Dengan itu, ia berhasil mengubah bank kecil yang sakit-sakitan menjadi bank besar yang cukup disegani. Bahkan, Bank Mega dapat menjadi tulang punggung Para Group dengan kontribusi sumber dana sebesar 40 persen. Selain itu, Para Group juga membawahi perusahaan lain yang bergerak di bidang keuangan seperti Bank Mega Syariah, Mega Finance, Asuransi Jiwa Mega, dan lain-lain.

bank megaBank Mega adalah salah satu perusahaan yang diambil alih oleh Chairul Tanjung.
Sumber:
bankmega.com

Sementara itu, Para Group juga mengembangkan bisnis properti dengan mambawahi Para Bandung Propertindo,  Para Bali Porpertindo, Batam Indah Propertindo, dan Mega Indah Propertindo. Salah satu produk properti Para Group yang terkenal adalah Bandung Supermall, mal seluas 3 hektar yang diresmikan pada 1999. Saat ini mal itu sudah berganti nama menjadi Trans Studio Mall Bandung.

Selain pusat perbelanjaan, Trans Studio Mall Bandung juga dilengkapi dengan taman rekreasi dalam ruangan yang diklaim sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Tak hanya di Bandung, pusat rekreasi dalam ruangan yang bernama Trans Studio itu juga telah hadir di Makassar dan akan segera dibangun di kota-kota besar lainnya, termasuk Jakarta.

Para Group yang telah berganti nama menjadi CT Corp sejak 2011 ini juga memegang lisensi merk dagang yang cukup populer di Indonesia dari berbagai sektor usaha. Misalnya Hotel Ibis yang berasal dari sektor perhotelan. Sektor fashion dan mode juga dikuasai oleh CT Corp karena perusahaan inilah yang mendatangkan merk-merk pakaian papan atas ke Indonesia seperti Prada, Giorgio Armani, dan Hugo Boss. Department store kelas atas, Metro Department Store, juga berada di bawah naungan CT Corp.

CT corp
CT Corp merupakan nama baru dari Para Group yang dimiliki Chairul Tandjung.
Sumber: ikatanbankir.or.id

Selain sebagai konglomerat bisnis, sosok Chairul Tandjung juga dikenal sebagai seorang konglomerat media. Sebab, CT Corp yang dimilikinya membawahi berbagai media massa yang ada di Indonesia. Sektor media online misalnya dikuasai dengan adanya situs berita Detik.com dan CNNIndonesia.com. Lalu, dari media televisi juga ada Trans TV dan Trans 7. Selain itu, CT Corp juga memegang lisensi stasiun televisi impor seperti HBO, Cartoon Network, dan Boomerang.

Dengan puluhan perusahaan yang berada di bawah kendalinya, Chairul Tanjung tercatat sebagai satu dari sepuluh orang terkaya di Indonesia tahun 2017 versi majalah Forbes. Ayah dua anak ini duduk di posisi keenam orang terkaya se-Indonesia versi majalah itu. Sementara ia menempati posisi ke-286 orang terkaya sedunia.

Dari Pengusaha Menjadi Menteri
 

saat dilantik
Chairul Tanjung saat dilantik menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada 2014.
Saumber:
klimg.com

Berkat kesuksesannya sebagai pengusaha, sosok Chairul Tanjung sering disebut sebagai calon menteri di bidang perekonomian. Hal itu berubah menjadi nyata pada 16 Mei 2014 ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkatnya sebagai Menteri Koordinator Bidang Perkonomian untuk menggantikan Hatta Rajasa yang mencalonkan diri pada pemilihan presiden 2014.

SBY, sapaan Susilo Bambang Yudhoyono, mengaku penunjukan Chairul disebabkan oleh pengalamannya. “Saya angkat Pak Chairul Tanjung jadi Menko Perekonomian. Beliau mempunyai kecakapan, kemampuan, dan komitmen untuk mendorong pembangunan di Tanah Air,” katanya dikutip dari Tempo.[4] SBY pun mengakui bahwa ia telah menawarkan kursi menteri kepada Chairul pada 2004 tapi baru diterima sepuluh tahun kemudian. “Kali ini beliau mau dan dengan sisa waktu enam bulan ini saya meminta agar segera bekerja, tidak perlu orientasi, dan saya kira memang tidak perlu," kata SBY.

Meski pernah menduduki kursi menteri yang diidam-idamkan banyak orang, Chairu mengaku lebih suka menjadi pengusaha ketimbang menteri. "Kalau ditanya enak mana jadi pengusaha atau pejabat? jadi menteri kemarin itu kecelakaan, karena memang kalau diminta memilih jadi menteri apa pengusaha, lebih enak jadi pengusaha," kata Chairul.

Selain itu, ia mengatakan menjadi pengusaha lebih enak karena dapat merasakan hasil dari kerja kerasnya. "Kalau jadi pengusaha, kita bekerja keras, habis-habisan ada hasil, hasilnya bisa kita nikmati, kalau jadi menteri atau pejabat, pohonnya tinggi buahnya tidak ada. Sudah kerja keras segala macam, pejabat jujur dan benar nggak dapat apa-apa. Ya tapi, Alhamdulillah saya bisa selesaikan pekerjaaan saya sebagai menteri dengan baik," katanya.

Tips Chairul untuk Pengusaha
 

berbagi pengalaman
Chairul Tanjung berbagi pengalaman ketika dalam suatu acara.
Sumber:
waktuku.com

Statusnya sebagai konglomerat papan atas Indonesia tidak membuat Chairul tinggi hati. Sebagai seorang pengusaha yang sukses, ia senang berbagi cerita mengenai kisah perjalanan hidupnya. Kisah itu tertuang dalam buku biografi berjudul Si Anak Singkong yang menceritakan kehidupan Chairul sejak kecil hingga kini. Nama ‘anak singkong’ diambil dari panggilannya saat kecil yaitu ‘anak singkong’ yang berarti anak kampungan.

Selain melalui buku tersebut, Chairul juga suka berbagi tips bagi masyarakat khususnya anak muda untuk memulai usahanya. Selain soal pentingnya koneksi yang telah dibahas di atas, Chairul juga memberi tips mengenai investasi dan strategi bisnis bagi anak muda. Bagi Chairul, seorang pengusaha tidak boleh alergi dalam bekerjasama dengan perusahaan multinasional. Menurutnya, kerjasama dengan perusahaan multinasional bukanlah menjual negara melainkan upaya perusahaan Indonesia agar dapat berdiri dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

baca juga: kisah inspiratif Bambang Brodjonegoro

Bagi anak-anak muda, Chairul berpesan untuk bersabar ketika membangun bisnis. Menurutnya, pengusaha muda mesti  mesti sabar dan tak mudah menyerah dalam menapaki anak tangga usahanya. Ia juga menyebut bahwa kemauan dan kerja keras lebih penting untuk dimiliki ketimbang modal yang besar. Di luar itu, ia juga terus menekankan pentingnya menjaga kepercayaan rekan bisnis demi memajukan usaha yang dimiliki serta memperluas koneksi.

Melalui cerita di atas, kita dapat belajar bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baru. Bayangkan apabila Chairul menekuni profesi dokter gigi sesuai latar belakang pendidikannya ketimbang menjadi seorang pengusaha, ia belum tentu menjadi orang yang berpengaruh seperti sekarang. Bagaimana dengan kamu? Siapkah kamu untuk memulai hal-hal yang baru? Ayo bergabung dengan Kinibisa untuk mempersiapkan masa depanmu!


[1]https://finance.detik.com/dpreneur/read/2930176/chairul-tanjung-awalnya-punya-1-karyawan-sekarang-sudah-100000
[2]https://studentpreneur.co/blog/chairul-tanjung-mahasiswa-teladan-di-kedokteran-gigi-yang-menjadi-raja-bisnis/
[3]http://omahkreatif.co.id/cara-membangun-networking-ala-chairul-tanjung/
[4]https://m.tempo.co/read/news/2014/05/16/090578195/chairul-tanjung-resmi-jadi-menko-perekonomian