span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Antasari Azhar: Pemberantas Korupsi yang Mencintai Dunia Hukum
Oleh : Ardito Ramadhan
27 April 2018

Highlight

Cita-cita saya itu ingin jadi diplomat karena saya ingin pergi ke luar negeri gratis.

Antasari Azhar
Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi yang sukses mengungkap skandal-skandal korupsi di Indonesia.
Sumber: acehportal.com

Namanya dikenal publik tatkala ia memimpin KPK melawan para koruptor. Jauh sebelum menjadi Ketua KPK, ia merupakan seorang jaksa yang telah menangani berbagai kasus. Sayang, karirnya hancur ketika ia dihukum akibat kasus pembunuhan yang masih menjadi misteri hingga saat ini. Simak kisah inspiratif Antasari Azhar bersama Kinibisa!



"Antasari orangnya baik dan cerdas, pada waktu kecil saya sering main ke rumahnya di Jalan Linggar Jati, Kecamatan Taman Sari Kota Pangkalpinang. Orangtuanya juga baik dan ramah, suka menolong tetangga."

Suka Dunia Hukum sejak Muda
 

Antasari Azhar lahir di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, pada 18 Maret 1953. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara hasil pernikahan Azhar Hamid dan Asnani. Ayah Antasari, Azhar, pernah bekerja di Kantor Pajak dan mengisi jabatan Kepala Kantor Pajak Bangka Belitung.

Keluarga Antasari dikenal sebagai keluarga yang sangat berkecukupan. “Antasari berasal dari keluarga kaya jika dilihat dari rumahnya yang bagus dan penampilannya yang selalu rapi, tidak seperti anak-anak yang lainnya. Namun demikian, Antasari tidak sombong demikian juga dengan orangtuanya suka menolong,” kata Al Qodri, teman kecil Antasari kepada Antara.[1]

Antasari dan keluarga
Antasari Azhar dan keluarga.
Sumber: klimg.com

Di samping itu, Antasari kecil juga disebut sebagai anak yang cerdas dan suka menolong. “Antasari orangnya baik dan cerdas, pada waktu kecil saya sering main ke rumahnya di Jalan Linggar Jati, Kecamatan Taman Sari Kota Pangkalpinang. Orangtuanya juga baik dan ramah, suka menolong tetangga,” kata Qodri melanjutkan.

Pada 1960-an, keluarga Antasari pindah dari ke Pulau Belitung karena penugasan yang diterima sang kepala keluarga. Di Pulau Laskar Pelangi inilah Antasari banyak menghabiskan masa kecilnya. Setelah lulus SD, ia meninggalkan Belitung dan hijrah ke Jakarta. Antasari menyelesaikan pendidikan SMP dan SMA-nya ketika tinggal di ibukota.

Usai menamatkan SMA, Antasari terbang ke Palembang untuk menempuh studi di Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya dan mengambil jurusan Hukum Tata Negara. Bagi Antasari, ilmu hukum sudah menjadi hobinya sejak muda. Meski mengambil kuliah hukum, Antasari mengaku cita-cita masa kecilnya adalah menjadi seorang diplomat. “Cita-cita saya itu ingin jadi diplomat karena saya ingin pergi ke luar negeri gratis,” kata Antasari kepada Teknorus[2]

Selain sibuk dengan aktivitas perkuliahan, Antasari juga aktif di dunia organisasi. Saat berkuliah, ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Senat Fakultas Hukum dan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum. Antasari pun menyebut dirinya rajin dan aktif mengikuti berbagai aksi demonstrasi.

Universitas Sriwijaya rupanya bukan menjadi satu-satunya tempat Antasari belajar hukum. Setelah lulus dari sana, Antasari terbang ke Australia untuk melanjutkan pendidikannya. Di Negeri Kangguru, Antasari sempat mengikuti beberapa kursus antara lain kursus Hukum Komersil di New South Wales, Sydney dan kursus investigasi hukum lingkungan di Melbourne.

Seorang Jaksa Karir
 

Kepala Negeri Jakarta Selatan
Antasari pernah menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan Periode 2000-2007.
Sumber:
statik.tempo.co

Usai menyelesaikan studi hukum, Antasari memulai karirnya dengan bekerja di Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman pada 1981. Empat tahun kemudian, ia diterima menjadi jaksa fungsional di Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat. Hal ini membuatnya mantap menempuh karier di dunia hukum dan meninggalkan cita-citanya menjadi seorang diplomat.

Empat tahun berkarier di ibukota, Antasari kembali ke Sumatera untuk menjadi jaksa fungsional di Kejaksaan Negeri Tanjung Pinang. Tiga tahun berselang, ia dipindahtugaskan ke Kejaksaan Tinggi Lampung dan menjabat posisi Kasi Penyidikan Korupsi di sana. Pada 1994, ia kembali ke Jakarta dan menjadi Kasi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Jakarta Barat.

Antasari akhirnya menempati pucuk pimimpinan ketika ia menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Baturaja pada 1997. Dua tahun berselang, ia ditempatkan di Kejaksaan Agung dan menjabat posisi Kasubdit Upaya Hukum Pidana Khusus. Pada 2000, Antasari dimutasi untuk menjadi Kepala Bidang Hubungan Media Massa Kejaksaan Agung.

Berkarier di Korps Adhyaksa selama lebih dari 15 tahun, nama Antasari mulai dikenal masyarakat ketika ia menjadi Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan pada 2000 hingga 2007. Sayangnya, Antasari justru dikenal karena isu yang negatif. Saat itu, ia gagal mengeksekusi Tommy Soeharto, anak mantan presiden Soeharto yang saat itu sedang terlibat kasus korupsi.

Namun, kasus tersebut rupanya tak menyurutkan karier Antasari. Sebelum meninggalkan Korps Adhyaksa pada 2007, ia sempat kembali berkantor di Kejaksaan Agung menempati posisi Direktur Penuntutan Jaksa Agung Muda Pidana Umum.

Memberantas Korupsi
 

Ketua KPK
Antasari yang terpilih sebagai Ketua KPK pada Desember 2007.
Sumber: http://pepnews.com/wp-content/uploads/2016/12/Antasari-Azhar4.jpg

Di penghujung 2007, tepatnya pada 5 Desember 2007,  Antasari terpilih menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi. Melalui sidang yang digelar Komisi III DPR, Antasari terpilih setelah memenangkan voting terbuka. Bersama empat rekannya, yaitu Chandra Hamzah, Bibit Samad Rianto, Haryono, dan M Yasin, Antasari memimpin KPK untuk memerangi korupsi yang mewabah di Indonesia.

Di bawah komando Antasari, KPK sukses menguak berbagai kasus-kasus korupsi. Pada Maret 2008, KPK mencuri perhatian publik ketika menangkap jaksa Urip Tri Gunawan yang tengah menerima suap dari Arthalyta Suryani. Saat itu, Jaksa Urip diketahui tengah menangani kasus pengemplangan dana BLBI yang melibatkan pengusaha-pengusaha besar.

Beberapa kepala daerah juga tak terhindar dari bidikan KPK. Di tahun yang sama, mantan Gubernur Riau, Saleh Djasit, berhasil dihukum karena terlibat kasus korupsi mobil pemadam kebakaran. Gubernur Jawa Barat, Danny Setiawan menysusul mendekam di hotel prodeo juga karena kasus korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran.

Seakan tak cukup puas, Antasari dan KPK juga tak segan menciduk orang-orang yang dekat dengan lingkaran kekuasaan. Pada tahun yang sama pula, KPK menghukum besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Aulia Pohan, karena keterlibatannya dalam kasus korupsi di lingkungan Bank Indonesia. Kasus itu juga menyeret Gubernur Bank Indonesia, Burhanudin Abdullah.

Sepak terjang Antasari dan KPK dalam memberantas korupsi rupanya membuat beberapa pihak merasa tak nyaman. Pada 2009 misalnya, saat itu KPK tengah berseteru dengan institusi penegak hukum lainnya yaitu Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri). Perseteruan ini kelak dikenal sebagai konfrontasi Cicak vs Buaya.

Mendekam di Penjara
 

terseret kasus
Antasari terseret kasus yang akhirnya mendekam dibalik jeruji.
Sumber:
bp.blogspot.com

Sepak terjang Antasari dalam memberantas korupsi mesti berakhir lebih cepat dari yang ia duga. Pada 2009, namanya terseret dalam kasus pembunuhan Direktur Putra Rajawali Banjaran, Nasrudin Zulkarnaen. Antasari dituduh berperan seabagai otak di balik pembunuhan yang terjadi pada Maret 2009.

Akibat kasus tersebut, Antasari sempat dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut umum. Namun, hakim yang menangani kasus itu memvonis hukum 18 tahun penjara bagi mantan Ketua KPK tersebut. Ironisnya, kasus pembunuhan itu disebut sebagai kriminalisasi atas Antasari Azhar karena keberaniannya memberantas korupsi. Ia juga menolak disangkut-pautkan dengan kasus pembunuhan tersebut.

Meski begitu, Antasari tetap menerima hukuman dijatuhkan kepadanya. Menurutnya, seorang warga negara wajib mematuhi segala keputusan hukum. “Saya mau masuk penjara karena ada putusan pengadilan yang memerintahkan saya harus menjalani hukuman. Tapi bukan karena, sekali lagi bukan karena perbuatan yang didakwakan melainkan karena putusan,” kata Antasari dikutip dari Antara.[3]

Saat menjalani hukuman, Antasari juga dikenal sebagai seorang narapidana yang tidak ‘macam-macam’. Tak heran, Antasari kerap menerima potongan hukuman. Pada 2015, Antasari juga telah mengikuti program asimilasi. Asimilasi adalah program yang diberikan pada narapidana berkelakuan baik untuk lebih mudah berbaur dengan masyarakat ketika telah menyelesaikan masa tahanan.

Antasari menjalani program asimiliasi tersebut dengan bekerja di sebuah kantor notaris. Di sana, ia disebut memperoleh gaji sebesar 3 juta Rupiah per bulan yang disetor ke kas negara. “Jam 09.00 WIB berangkat dari Lapas menuju tempat kerja, selanjutnya pada pukul 17.00 WIB kembali lagi ke Lapas. Beliau bekerja di kantor notaris di Tangerang, gaji beliau Rp 3 juta per bulan, nantinya langsung disetor ke negara,” kata Akbar Hadi, Humas Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham kepada Detik.[4]

baca juga: kisah inspiratif Anies Baswedan

Pada November 2016, Antasari akhirnya resmi keluar dari tahanan dengan status bebas bersyarat. Antasari mengaku ikhlas selama menjalani masa tahanan. “Sesudah saya renungkan, saya sudah ikhlaskan lahir batin. Saya tak ingin membongkar kasus ini,” kata Antasari dikutip dari BBC Indonesia[5] “Semua saya serahkan kepada Allah. Hukum negara sudah saya jalan. Hukum Tuhan, biarlah nanti bekerja,” katanya melanjutkan.

Setelah selesai menjalani hukuman tahanan, nama Antasari pun kembali muncul di publik. Selain membicarakan kasusnya yang dianggap masih misteri, beberapa media juga menyebut Antasari digadang-gadang akan diangkat menjadi Jaksa Agung. Di samping itu, Antasari juga menyatakan dirinya tertarik untuk bergabung dalam sebuah partai politik.

Antasari Azhar agaknya dapat menjadi inspirasi bagi kita dalam beberapa hal. Pertama, tentu soal keberaniannya dalam memberantas korupsi. Kedua, tentang tanggungjawabnya sebagai warga negara yang patuh hukum. Terakhir, keikhlasan dan ketulusannya dalam menghadapi kasus yang masih menjadi misteri. Simak kisah tokoh-tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!


[1]http://www.antaranews.com/print/139979/menyusuri-jejak-antasari-azhar-di-tanah-kelahiran
[2] https://teknorus.com/antasari-azhar-dijebak/
[3] http://www.antaranews.com/berita/595363/alasan-antasari-ikhlas-jalani-hukuman-penjara
[4] https://news.detik.com/berita/d-3019345/antasari-azhar-kini-kerja-di-kantor-notaris-digaji-rp-3-juta-per-bulan
[5] http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-37932901