span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Agus Martowardojo: Berbekal Ilmu Raih Cita-cita
Oleh : Ardito Ramadhan
26 April 2018

Highlight

Selama masa kuliahnya, Agus rajin mengikuti seminar, kursus, dan pelatihan yang berhubungan dengan dunia perbankan.

Agus Martowardojo
Seorang bankir berpengalaman yang pernah mengemban jabatan publik seperti Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia.
Sumber: tetitah.com

Ia merupakan Gubernur Bank Indonesia sejak 2013 silam. Sebelum menjabat sebagai orang nomor satu di bank sentral, ia juga dipercaya untuk mengisi pos Menteri Keuangan selama tiga tahun. Segudang pengalamannya di dunia perbankan agaknya menjadi alasan mengapa ia menjadi sosok yang dapat dipercaya mengisi dua jabatan di atas. Simak kisah inspiratif Agus Martowardojo bersama Kinibisa!



"Segudang ilmu dan pengalaman yang ia dapat dari bangku kuliah di UI maupun kampus-kampus papan atas di luar negeri rupanya telah menjadikan Agus sebagai anak muda yang mahir dalam hal perbankan."

Agus Kecil yang Bertekad Menjadi Bankir
 

Agus Martowardojo lahir di Amsterdam, Belanda, pada 24 Januari 1956. Ayah Agus adalah seorang pejabat pemerintah yang saat itu ditempatkan di Negeri Kincir Angin. Meski lahir di Belanda, masa kecil Agus rupanya banyak dihabiskan di Jakarta. Agus mengenyam pendidikan dasar di SD Waluyo sementara masa remajanya dihabiskan di Yayasan Pangudi Luhur dengan bersekolah di SMP dan SMA Pangudi Luhur yang beralamat di Jakarta Selatan.

Sejak kecil, Agus rupanya telah mempunyai ketertarikan dengan dengan ilmu ekonomi. Tak heran, selepas lulus SMA pada 1974 ia melanjutkan pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesa.  Berkuliah di FEUI agaknya tak cukup bagi Agus yang menggilai ekonomi. Selama masa kuliahnya, Agus rajin mengikuti seminar, kursus, dan pelatihan yang berhubungan dengan dunia perbankan.

ketertarikan di dunia ekonomi
Mempunyai ketertarikan dengan Ilmu ekonomi sejak kecil.
Sumber: gozzip.id

Tempat Agus menimba ilmu di luar bangku kuliah pun bukan main-main. Sebut saja State University of New York, Stanford University, dan Institute of Banking and Finance di Singapura yang pernah menjadi tempat Agus belajar tentang dunia perbankan. Saat duduk di bangku kuliah, Agus memang telah bertekad untuk menjadi seorang bankir yang andal.

Aktivitas Agus yang kerap mengikuti kegiatan-kegiatan di luar negeri agaknya berpengaruh pada masa kuliahnya. Berbeda dengan mahasiswa pada umumnya yang menyelesaikan studi dalam empat tahun, Agus baru menggondol gelar Sarjana Ekonomi pada 1984, sepuluh tahun setelah ia tercatat sebagai mahasiswa salah satu kampus terbaik di Indonesia itu.

Namun, Agus sepertinya tak perlu berkecil hati. Segudang ilmu dan pengalaman yang ia dapat dari bangku kuliah di UI maupun kampus-kampus papan atas di luar negeri rupanya telah menjadikan Agus sebagai anak muda yang mahir dalam hal perbankan.

Hidup dalam Dunia Perbankan
 

hidup dunia perbankan
Karir Agus tak bisa lepas dari dunia perbankan.
Sumber: kompasiana.com

Keputusan Agus untuk belajar dan lulus lebih lama agaknya berbuah manis. Segudang ilmu yang ia peroleh selama masa kuliah mengantarkannya untuk memulai karir di Bank of America pada 1984.Bank of America sendiri adalah salah satu bank terbesar di Amerika Serikat yang mempunyai banyak kantor cabang di beberapa kota besar dunia, salah satunya adalah Jakarta. Di sana, Agus menempati posisi International Loan Officer.

Kehidupan Agus agaknya tak bisa lepas dari dunia perbankan. Pasalnya, masa produktif Agus rupanya dihabiskan dengan berkarir di perusahaan-perusahaan perbankan. Dua tahun bekerja di Bank of America, Agus pindah ke Bank Niaga, sebuah bank swasta asal Indonesia yang telah bediri sejak 1955. Di sana, ia menempati posisi prestisius yaitu Vice President Corporate Banking Group di Surabaya dan Jakarta.

Delapan tahun berkarir di Bank Niaga, Agus memutuskan untuk keluar dari perusahaan itu dan bergabung ke Maharani Holding. Karir Agus di Maharani Holding rupanya tak berlangsung lama. Setahun menjabat posisi Deputy Chief Executive Officer, Agus keluar dari perusahaan itu. Pada 1995, ia diangkat menjadi Direktur Utama Bank Bumiputera. Jabatan itu dipegangnya selama tiga tahun sebelum ia menjabat Direktur Utama Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) pada 1998.

Krisis moneter Asia yang terjadi pada akhir 1990-an dan peristiwa Reformasi pada Mei 1998 ternyata juga mempengaruhi karier Agus. Akibat dua peristiwa tersebut, pada Oktober 1998 pemerintah melebur empat bank milik negara yang saat itu sedang bangkrut ke dalam sebuah bank baru yang bernama Bank Mandiri. Bank-bank yang dilebur adalah Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Pembangunan Indonesia, dan Bank Exim tempat Agus bekerja.

Pada 1999, Agus pun diangkat menjadi Managing Director Risk Management and Credit Restructuring Bank Mandiri. Kariernya di Bank Mandiri berlanjut kala ia mengisi pos Managing Director Retail Banking and Operation Coordinator pada 2000 serta Managing Director Human Resources and Support Services setahun kemudian.

Sepak terjang Agus di Bank Mandiri sempat terhenti pada 2002. Saat itu, ia dipercaya menjadi Direktur Utama Bank Permata. Seperti Bank Mandiri, Bank Permata juga merupakan bank hasil peleburan bank-bank lain akibat krisis moneter Asia. Sebelum menjadi Dirut Bank Permata, Agus sempat duduk di Badan Penyehatan Perbankan Nasional sebaga penasihat.

Tiga tahun berkarier di Bank Permata, Agus kembali bekerja di Bank Mandiri pada 2005. Kali ini, ia menjabat sebagai orang nomor satu di salah satu bank terbesar se-Indonesia itu. Keberanian Agus dalam mengambil tawaran menjadi Direktur Utama Bank Mandiri menuai banyak pujian. Pasalnya, ia mesti menggantikan ECW Neloe, mantan Dirut Bank Mandiri, yang mendekam di penjara karena kasus korupsi.

Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia
 

ketika menjabat
Agus Martowardojo ketika menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Sumber: katadata.co.id

Di bawah komando Agus, Bank Mandiri berkembang pesat. Keberhasilan Agus dalam memimpin Bank Mandiri membuatnya diganjar berbagai penghargaan. Sebut saja Leadership Achievement dari The Asia Banker tahun 2006, Top Banker 2007 dari Majalah Investor, CEO Terbaik 2008 dari majalah Warta Ekonomi dan Eksekutif Bankir Top oleh Majalah Investor pada 2008.

Sepak terjang dan segudang pengalaman yang dimiliki Agus di bidang perbankan rupanya membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepincut. Pada 2008, SBY menyodorkan nama Agus ke DPR untuk dicalonkan menjadi Gubernur Bank Indonesia. Sayang, DPR menolak Agus dan memilih Boediono untuk menjadi Gubernur Bank Sentral itu.

Berselang dua tahun kemudian, Agus akhirnya resmi bergabung dalam pemerintahan SBY. Kala itu, Agus diangkat menjadi Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati yang mengundurkan diri. Beberapa pihak awalnya sempat meragukan Agus untuk mengisi pos strategis itu. Selain usianya yang masih muda, ia juga dianggap tak bisa tegas. “Dia biasa main diatas konflik kepentingan, saya khawatir dia tidak bisa tegas,” kata Arbi Sanit, Pengamat Politik UI, kepada Tempo.[1]

Pandangan sebelah mata yang diterima Agus rupanya tak menyurutkan semangatnya memimpin Kementerian Keuangan. Laki-laki yang pernah menjabat Ketua Umum Perbanas ini rupanya mencatat prestasi. Ia terpilih sebagai Finance Minister of the Year 2012 se-Asia-Pasifik versi The Banker.

Tiga tahun menjabat pos Menteri Keuangan, Agus kembali ditunjuk SBY untuk menjadi Gubernur Bank Indonesia. Apabila lima tahun sebelumnya Agus gagal terpilih, pada 2013 Agus akhirnya terpilih menjadi Gubernur Bank Indonesia untuk periode jabatan 2013-2018.

baca juga: kisah inspiratif Tito Karnavian

Seperti ketika Agus menjabat pos Menteri Keuangan, terpilihnya Agus sebagai Gubernur Bank Indonesia juga sempat dipandang sebelah mata. Ayah dua anak ini dianggap tidak mempunyai cukup pengalaman di bidang moneter. “BI itu bukan agregasi dari bank-bank yang ada. Jadi, BI itu bukan Bank Mandiri, BNI, BRI yang digabung. Bank Sentral itu punya logika yang berbeda butuh kemampuan yang berbeda,” kata ekonom Faisal Basri kepada Okezone.[2]

Namun, seperti apa yang ia lakukan kala memimpin Kementerian Keuangan, Agus menjawab keraguan itu dengan prestasi. Pada 2017, ia dianugerahi penghargaan Governor of The Year untuk wilayah Asia dan Pasifik TImur versi Global Markets.

Keinginan Agus untuk menjadi bankir andal terwujud sudah. Berbekal segudang ilmu yang ia peroleh dari kampus-kampus besar, kini Agus tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam ekonomi Indonesia. Keinginan dan tekad Agus untuk belajar dan meraih cita-cita agaknya dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita semua. Simak kisah tokoh-tokoh  inspiratif lainnya bersama Kinibisa!


[1] https://nasional.tempo.co/read/249092/agus-martowardojo-diragukan-bisa-tegas
[2] https://economy.okezone.com/read/2013/03/04/457/770374/kemampuan-agus-martowardojo-pimpin-bi-diragukan