span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Abdurrahman Wahid: Ulama NU yang jadi Presiden Indonesia Ke 4
Oleh : Ardito Ramadhan
23 April 2018

Highlight

Bukankah dengan demikian menjadi jelas bagi kita bahwa menerima perbedaan dan asal muasal bukanlah tanda kelemahan melainkan menunjukkan kekuatan.

Presiden RI ke 4
Presiden RI yang keempat. Ia juga dikenal sebagai ulama yang menjunjung tinggi pluralism dan toleransi.
Sumber: bp.blogspot.com


Siapa yang tidak kenal Gus Dur? Sosok eksentrik yang terkenal akan ucapan khasnya “Gitu aja kok repot?” ini merupakan Presiden keempat Republik Indonesia. Selain sebagai presiden, sosok bernama lengkap Abdurrahman Wahid ini juga tersohor sebagai ulama sekaligus pemimpin gerakan politik. Kali ini, Kinibisa akan mengangkat kisah inspiratif Gus Dur.



"Gitu aja kok repot"

Antara Jombang, Jakarta, dan Yogyakarta
 

Sewaktu muda
Merupakan cucu dari pendiri NU, Hasyim Asyari.
Sumber: nu.or.id

Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur pada 7 September 1940 dengan nama Abdurrahman Addakhil dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Namun, namanya diganti menjadi Abdurrahman Wahid karena kata ‘Addakhil’ yang berarti ‘sang penakluk’ dinilai tidak cukup terkenal.  Gus Dur dilahirkan dalam keluarga yang religius dan melek politik. Ayahnya terlibat dalam gerakan nasionalis dan diangkat menjadi Menteri Agama pada 1949. Sedangkan kakeknya, Hasyim Asyari, merupakan pendiri Nadhatul Ulama.

Sejak lahir ia tinggal bersama keluarganya di Jombang. Namun, ketika ayahnya terpilih sebagai Ketua Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) pada 1944 ia pun pindah ke Jakarta. Pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, Gus Dur kembali ke Jombang dan tetap di sana selama perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda. Selama itu, ia menempuh pendidikan di pondok pesantren yang didirkan oleh kakeknya.

Pada 1949, ketika perang telah usai dan ayahnya terpilih sebagai Menteri Agama, Gus Dur pun kembali tinggal di Jakarta. Di sanalah ia menghabiskan masa pendidikan dasarnya. Selama duduk di bangku sekolah, ia diajarkan ayahnya untuk membaca berbagai majalah, koran , hingga buku non-muslim untuk memperluas wawasannya. Gus Dur terus tinggal di Jakarta bersama keluarganya meski ayahnya tidak lagi menjadi Menteri Agama pada 1952. Pada 1953, ayahnya meninggal dunia akibat kecelakaan mobil.

Memasuki usia Sekolah Menengah Pertama pada 1954,  Gus Dur dikirim ke Yogyakarta untuk belajar di Pondok Pesantren Krapyak. Setelah lulus SMP, ia pindah ke Magelang untuk memulai pendidikan di Pesantren Tegalrejo. Di sana, ia tercatat sebagai murid yang berbakat. Buktinya, ia mampu lulus dalam waktu dua tahun lebih cepat dari yang seharusnya. Pada 1959, ia kembali ke Jombang untuk melanjutkan pendidikannya sendiri sambil bekerja sebagai guru dan jurnalis bagi beberapa majalah.

Sejak kecil, Gus Dur telah mengakrabkan dirinya dengan berbagai buku. Tercatat saat duduk di bangku SMP ia telah melahap buku-buku dari berbagai penulis kenamaan seperti Ernest Hemingway, Johan Huizinga, dan Tolstoy. Di waktu yang sama, ia juga sudah mengenal filsafat Plato, Thales, dan Das Kapital-nya Karl Marx. Selain membaca, Gus Dur juga aktif mendengarkan siaran luar negeri lewat Voice of America dan BBC London[1]. Hal inilah yang membuat Gus Dur kaya akan wawasan.

Pergi ke Mesir, Berakhir di Eropa
 

Berpose depan Sphinx
Menghabiskan masa pendidikan tingginya di Timur Tengah.
Sumber: bp.blogspot.com

Saat berusia 22 tahun, Gus Dur berangkat ke Mesir untuk melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar. Ia dapat bersekolah di Mesir karena mendapat beasiswa dari Kementerian Agama untuk belajar Studi Islam di sana. Ketika menginjakkan kaki di Mesir untuk pertama kalinya, Gus Dur merasa kecewa karena tidak dapat langsung masuk dalam Universitas Al Azhar karena belum memiliki sertifikasi fasih berbahasa Arab meski ia sebenarnya telah mahir berbahasa Arab.

Akibatnya, ia mesti mengikuti kelas remedial terlebih dahulu. Di sana, ia merasa bosan karena harus mengulang mata pelajaran yang telah dipelajari di Indonesia. Untuk mengatasi kebosanannya, Gus Dur menyibukkan diri dengan mengunjungi perpustakaan dan pusat layanan informasi Amerika serta berbagai toko buku di mana ia dapat memperoleh buku yang diinginkannya. Gus Dur juga tergabung  dalam Asosiasi Pelajar Indonesia dan menjadi reporter majalah organisasi tersebut.

Pada akhir 1964, Gus Dur akhirnya menyelesaikan kelas remedialnya dan dapat memulai studi Islam dan Bahasa Arabnya pada 1965. Namun, lagi-lagi Gus Dur mesti kecewa. Sebab, ia merasa telah lebih dahulu mempelajari materi kuliahnya serta tidak menyukai metode belajar yang diterapkan. Apalagi, pada waktu yang sama ia telah bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia dan ditugaskan untuk menginvestigasi pelajar Indonesia di Mesir yang terkait kasus G30S. Akibatnya, ia terpaksa mengulang kuliahnya.

Pada 1966, Gus Dur memutuskan pergi dari Mesir dan melanjutkan pendidikannya di Departement of Religion di Universitas Baghdad, Irak. Selama di sana, Gus Dur mendapatkan pengalaman belajar yang tidak ia dapatkan di Mesir. Di Irak, ia kembali bersentuhan dengan buku-buku besar karya sarjaa orientalis barat dan melahap hampir semua buku yang ada di di universitas.

Di sana pula Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya. Sebab, ia kerap mengunjungi makam para wali apabila tidak ada jadwal kuliah. Selain itu, pemikiran politik Gus Dur juga berkembang selama berkuliah di Irak. Di sana ia amat mengagumi kekukatan nasionalisme Arab, terutama pada sosok Saddam Hussein meski kelak ia tidak mengangguminya lagi.

Gus Dur menyelesaikan pendidikannya di Irak ada 1970. Setelahnya, ia berencana melanjutkan kuliah di Universitas Leiden, Belanda, namun tidak tercapai karena masalah bahasa. Pada akhirnya ia menetap di Belanda selama enam bulan dan mendirikan Perkumpulan Pelajar Muslim Indonesia dan Malaysia yang tinggal di Eropa. Pada 1971, Gus Dur kembali ke Tanah Air karena tertarik dengan perkembangan dunia pesantren.

Kisah Gus Dur Mereformasi NU
 

menghadiri acara
Saat menghadiri acara World Economic Forum.
Sumber: assets.rappler.com

Ketika kembali di Jakarta, Gus Dur tergabung dalam Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), sebuah organisasi yang terdiri dari kaum muslim intelektual dan sosial demokrat.  Di sana, Gus Dur menjadi salah satu kontributor utama majalah Prisma, yaitu majalah yang didirikan oleh LP3ES. Hal itu membuat dirinya sering mendapat undangan untuk mengisi berbagai seminar.

Selain menjadi kontributor LP3ES, Gus Dur juga berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Dalam perjalanan itu, Gus Dur merasa prihatin dengan kemiskinan pesantren yang ia lihat. Ia juga merasa prihatin dengan nilai-nilai tradisional pesantren yang semakin luntur. Karena perjalanan itu, Gus Dur akhirnya memilih untuk mengembangkan pesantren. Pada 1974, ia bekerja di Jombang sebagai guru di Pesantren Tambakberas.

Pada 1979, Gus Dur diminta untuk bergabung dalam Dewan Penasihat Agama NU. Awalnya, ia menolak tawaran tersebut karena ingin menjadi intelektual publik. Namun, akhirnya ia bergabung dalam dewan tersebut setelah menerima tawaran ketiga dari kakeknya, Bisri Syansuri. Pada saat itulah petualangan politik Gus Dur dimulai dengan mencalonkan diri sebagai anggota DPR pada Pemilihan Umum 1982 dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Setahun berikutnya, Suharto mengambil langkah untuk menjadikan Pancasila sebagai ideologi negara. Gus Dur pun ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu tersebut. Setelah memperhatikan Quran dan Sunah sebgai pembenaran, ia menyimpulkan bahwa NU harus menerima Pancasila sebagai ideologi negara.

Demi menghidupkan kembali NU, Gus Dur memutuskan untuk mengundurkan diri dari PPP. Hal ini ia lakukan agar NU dapat fokus dalam masalah sosial daripada terlibat dalam politik. Reformasi yang dilakukan Gus Dur mendapat sambutan positif dari kalangan NU. Pada 1984, ia pun terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar NU menggantikan Idham Chalid.

Terpilihnya Gus Dur dilihat positif oleh Suharto dan rezim Orde Baru. Penerimaan Gus Dur terhadap Pancasila bersamaan dengan citra moderatnya menjadikannya disukai oleh pejabat pemerintahan. Meski begitu, ia mengkritik proyek Waduk Kedung Ombo yang didanai oleh Bank Dunia. Hal ini merenggangkan hubungan antara Gus Dur dan Pemerintahan Orde Baru meski Suharto masih memperoleh dukungan politik dari NU.

Gus Dur kembali terpilih sebagai Ketua PBNU pada 1989, kali ini Gus Dur semakin vokal mengkritik Pemerintahan Orde Baru yang terlihat membutuhkan dukungan kalangan Muslim. Gus Dur, misalnya, menolak bergabung dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dibentuk pemerintah. Selama masa jabatan keduanya, Gus Dur terus mendorong dialog antar agama dan bahkan menerima undangan mengunjungi Israel pada Oktober 1994. Hal ini membuat beberapa pendukung mulai berpaling darinya.

Reformasi dan Menjadi Presiden
 

pelantikan
Pelantikan sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia.
Sumber: interaktif.kompas.id

Pada 1994, Gus Dur kembali mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga. Hal itu membuat pemerintah bergerak untuk menghadang kemenangan Gus Dur. Beberapa pendukung Suharto seperti Habibie dan Harmoko berkampanye menolak terpilih kembalinya Gus Dur. Sementara, tempat pemilihan Ketua PBNU dijaga ketat tentara dalam suasana intimidatif. Usaha suap-menyuap tak ketinggalan untuk dilancarkan. Meski begitu, Gus Dur kembali terpilih untuk masa jabatan ketiga.

Dalam masa ini, Gus Dur membangun aliansi bersama Megawati Soekarnoputri dari Partai Demokrasi Indonesia dan Amien Rais, anggota ICMI yang kerap mengkritisi pemerintah. Seiring waktu berjalan, desakan masyarakat terhadap pemerintah semakin kuat. Hal ini didorong pula oleh adanya krisis financial Asia pada 1997-1998. Pada Mei 1998, Presiden Suharto akhirnya mengundurkan diri dan digantikan oleh wakilnya, Habibie.

Memasuki era reformasi, partai-partai politik baru mulai terbentuk, antara lain Partai Amanat Nasional bentukan Amien Rais dan Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan yang didirikan Megawati Soekarnoputri. Pada Juni 1998, banyak orang dari NU yang meminta Gus Dur untuk membentuk partai politik. Awalnya, ia tidak setuju. Namun, akhirnya ia membentuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) setelah menyadari satu-satunya cara mengalahkan Golkar adalah dengan membentuk partai politik.

Pada 1999, PKB mengikuti Pemilu dan memperoleh sekitar 12 persen suara di bawah PDIP, Golkar, dan PPP. Atas hasil ini, Megawati dari PDIP diprediksi bakal memenangkan pemilihan presiden yang diselenggarakan oleh MPR. Namun, ternyata justru Gus Dur yang terpilih sebagai presiden sementara Megawati yang menjadi wakil presidennya. Hal ini terjadi karena PKB berkoalisi bersama partai-partai muslim lainnya untuk memenangkan pemilihan presiden.

Selama menjadi presiden, Gus Dur mengeluarkan beberapa kebijakan antara lain pembubaran Departemen Penerangan karena dianggap sebagai corong rezim Suharto dan Departemen Sosial karena  dinilai korup. Selain itu, Gus Dur pula yang pertama kali menetapkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional serta mencabut larangan penggunaan huruf Cina. Gus Dur juga mengusulkan agar TAP MPRS No. XXIX/MPR/1966 yang melarang Marxisme-Leninisme dicabut.

Ketika masa kepresidenannya, Gus Dur juga kerap mengeluarkan pendapat dan rencana kebijakan yang cukup eksentrik. Misalnya, membolehkan pengibaran bendera kejora milik Operasi Papua Merdeka (OPM) asal di bawah Bendera Indonesia. Gus Dur juga mempunyai rencana untuk membangun hubungan diplomatik dengan Israel yang dikecam oleh berbagai pihak. Pada akhir masa jabatannya, Gus Dur bahkan sempat mengeluarkan kebijakan untuk membubarkan Golkar dan DPR.

Masa kepresidenan Gus Dur sendiri berakhir ketika Amien Rais selaku Ketua MPR memakzulkan Gus Dur dari kursi presiden. Sebelumnya, masa kepresidenan Gus Dur memang diwarnai oleh berbagai peristiwa politik dan keamanan. Misalnya aksi pemboman gereja pada malam Natal 2000, kerusuhan antaragama di Maluku hingga kasus korupsi Buloggate dan Bruneigate yang tidak dapat dipertanggungjawabkan Gus Dur.

Pasca Masa Kepresidenan
 

pasca kepresidenan
Saat pasca masa kepresidenan.
Sumber: satujam.com

Setelah turun dari jabatan presiden, Gus Dur kembali mencalonkan diri sebagai presiden pada Pemilu 2004 meski tidak lolos karena masalah kesehatan. Setelah itu, nama Gus Dur praktis tidak terdengar lagi dalam pentas politik nasional hingga ia meninggal dunia pada 2009. Ia meninggal di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta dan dimakamkan di tempat ia menghabiskan masa kecilnya, Jombang.

baca juga: kisah inspiratif Triawan Munaf

Meski telah lama tiada, nama Gus Dur masih sering diperbincangkan oleh masyarakat. Ia dinilai sebagai tokoh pluralisme Indonesia karena sikapnya yang terbuka terhadap berbagai etnis dan agama yang ada di Indonesia. Tak heran, Gus Dur diganjar berbagai penghargaan dari banyak pihak, antara lain:

Tsarif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan pers 2006

Ramon Magsaysay Award for Community Leadership, Ramon Magsaysay Award Foundation, Filipina, tahun 1991

Islamic Missionary Award from the Government of Egypt, tahun 1991

Medals of Valor, sebuah penghargaan bagi personal yang gigih memperjuangkan pluralisme dan multikulturalisme, diberikan oleh Simon Wieshenthal Center, New York, 5 Maret 2009.

Penghargaan Kepemimpinan Global (The Global Leadership Award) dari Columbia University, September 2000

 

Melalui kisah di atas, Gus Dur mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah dalam belajar serta berani untuk menyuarakan kebenaran. Bagaimana dengan kamu? Ayo menjadi #GenerasiKompeten bersama Kinibisa!


[1] http://www.gusdur.net/id/biografi