span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Iwan Fals: Merangkai Kesuksesan melalui Pengalaman
Oleh : Ardito Ramadhan
05 Mei 2018

Highlight

Jelek-jelek yang penting lagu ciptaan sendiri.

Iwan Fals
Seorang musisi legendaris Indonesia yang dikenal lewat lirik-lirik lagunya yang bermuatan kritik sosial.
Sumber: viva.id

Namanya dikenal sebagai salah seorang penyanyi ‘jalanan’ yang paling melegenda sepanjang sejarah Indonesia. Lagu-lagunya yang berisi kritik sosial kerap membuat pemerintah kerepotan melarang ia manggung di berbagai tempat. Simak kisah Iwan Fals yang inspiratif bersama Kinibisa!



"Bisnisku menjagal, jagal apa saja. Yang penting aku senang, aku menang. Persetan orang susah, karena aku, yang penting asik, sekali lagi, asik!"

Kenal Musik sejak Cilik
 

Iwan Fals lahir di Jakarta pada 3 September 1961. Meski lahir di ibukota, laki-laki bernama lengkap Virgiawan Listanto ini justru banyak menghabiskan masa kecilnya di Kota Kembang, Bandung. Selain di Bandung, masa kecil Iwan juga sempat dihabiskan di Jeddah, Arab Saudi. Ia bersekolah di Jeddah dalam waktu delapan bulan.

Selain bersekolah, masa kecil Iwan juga banyak diisi dengan kegiatan bermusik. Meski terhitung sebagai salah seorang murid yang cerdas, Iwan kecil lebih suka mengembangkan bakat musiknya dengan bermain gitar, harmonika, dan piano. Di samping itu, sejak kecil Iwan juga telah mempunyai jiwa sosial dan sangat perhatian dengan sekitar. Buktinya, ia pernah memberikan pakaian dan sepatu barunya kepada temannya yang membutuhkan. Padahal, pakaian memiliki harga yang terbilang mahal.

menyukai musik sejak kecil
Iwan Fals telah menyukai musik sejak kecil.
Sumber: bp.blogspot.com

Ketika di Jeddah, Iwan semakin akrab dengan musik, khususnya instrumen gitar. Ia menganggap gitar sebagai teman yang tidak dapat terpisahkan. Bahkan, ketika orang-orang yang pulang haji dari Jeddah menenteng botol-botol air zamzam ia justru menenteng gitar kesayangannya. Saat itulah ada cerita unik yang mungkin merupakan momen di mana Iwan berkenalan dengan lagu-lagu balada ala Bob Dylan.

Ketika itu, Iwan sedang duduk bersama gitarnya di atas pesawat yang mengantarnya ke Jakarta dari Jeddah. Dalam perjalanan, seorang pramugari melihat gitar Iwan dan berniat meminjamnya untuk memainkan sebuah lagu. Namun, pramugari itu heran ketika mendengar suara gitar Iwan yang fals. Waktu itu Iwan memang belum dapat menyetem gitar.  Si pramugari akhirnya membetulkan gitar Iwan dan memainkan lagu Bob Dylan yang berjudul Blowing In The Wind.

Selain dunia musik, masa kecil Iwan juga diwarnai dengan kegiatan olahraga. Beberapa olahraga yang digeluti Iwan antara lain karate, judo, sepakbola, dan bola voli. Bahkan, Iwan mencatat prestasi yang mentereng di cabang karate yaitu juara II dan IV kejuaraan karate tingkat nasional saat ia remaja. Di samping itu, ia pun pernah melatih karate di Sekolah Tinggi Publisistik. Namun, Iwan memilih berkarir di bidang musik karena baginya seni adalah olah rasa di mana tidak ada filosofi menang-kalah.

Pengamen yang Sukses Rekaman
 

berawal dari ngamen
Iwan memulai karirnya di dunia musik dengan menjadi seorang pengamen.
Sumber: wordpress.com

Perjalanan karir musik Iwan dimulai ketika ia bersekolah di Bandung. Iwan Fals mulai ngamen di Bandung saat ia masih berseragam putih-biru. Berbeda dengan teman-temannya yang suka menyanyikan lagu Rolling Stone, Iwan justru menyanyikan lagu-lagu ciptaannya sendiri. Meski mempunyai lirik yang agak nyeleneh, Iwan tetap percaya diri membawakan lagunya. “Jelek-jelek yang penting lagu ciptaan sendiri,” kata Iwan dalam situs resminya[1].

Saat itu, Iwan sering diundang ke acara pernikahan, sunatan, dan hajatan lainnya untuk menjadi pengisi acara hiburan. Undangan-undangan itu ia dapat dari rekannya, Engkus, yang merupakan pekerja bengkel. Sebagai penjaga bengkel, Engkus mempunyai banyak informasi mengenai hajatan-hajatan dari para pelanggannya. Lambat laun, Iwan semakin sering manggung dari hajatan ke hajatan.

Kesibukannya tersebut dimanfaatkan Iwan dengan menambah teman serta memperluas pergaulan. Tak jarang, ia juga mesti bolos dari sekolahnya. Sebagai musisi ‘jalanan’, Iwan yang masih remaja sering diajak oleh mahasiswa ITB untuk berorasi dalam berbagai kegiatan demonstrasi. Lagu-lagu Iwan juga direkam dan disebar melalui Radio 8EH milik ITB yang kelak dibredel pemerintah.

Popularitas Iwan rupanya terdengar hingga Jakarta. Seorang produser musik bernama Bambang Bule pergi ke Bandung untuk menawari Iwan kesempatan rekaman di Jakarta. Ia tertarik mengajak Iwan setelah mendengar suara Iwan di radio. Bersama teman-temannya yang tergabung dalam grup Amburadul, Iwan akhirnya berangkat ke Jakarta untuk rekaman di Istana Music Records. Album perdana Iwan dirilis tahun 1975 ketika ia masih berusia 14 tahun.

Malang, album tersebut rupanya tidak laku di pasaran. Akibatnya, Iwan kembali menjalani kehidupannya sebagai pengamen sambil mengikuti beberapa festival dan kejuaraan musik. Beberapa festival dan kejuaraan yang ia ikuti antara lain festival musik country dan festival musik humor, dalam beberapa ajang itu Iwan kerap keluar menjadi juara.

Berkat predikat juara itu lomba humor itu, pada akhir 1970-an Iwan kembali masuk dapur rekaman. Namun, Iwan kembali menerima kegagalan yang pernah dialaminya. Meski telah dinikmatu oleh kalangan tertentu seperti anak-anak muda, album hasil kerjasama dengan Lembaga Humor Indonesia itu tetap tak sukses di pasaran.

baca juga: cara belajar gitar

Berbagai kegagalan yang ada tidak membuat Iwan menyerah, setelah 4-5 kali rekaman akhirnya album Iwan sukses di pasaran. Melalui albun Sarjana Muda yang direkam bersama Musica Studio berhasil membuat nama Iwan melejit. Namun, kebanyakan orang hanya mengetahui nama Iwan dan tidak mengenali wajah Iwan. Oleh sebab itu, Iwan pun melanjutkan pekerjaannya sebagai pengamen.

album sarjana muda
Album Sarjana Muda yang membuat nama Iwan Fals melejit di belantika musik Indonesia.
Sumber: bp.blogspot.com

Lambat laun, album Sarjana Muda yang dirilis pada 1981 rupanya semakin dinikmati oleh masyarakat dan membuat Iwan menerima berbagai tawaran untuk manggung. Berkat itu, Iwan memutuskan untuk berhenti mengamen pada 1985 ketia ia berusia 24 tahun. Alasan lain yang menyebabkan Iwan berhenti mengamen adalah kelahiran anak keduanya yang bernama Annisa Cikal Rambu Bassae.

Setelah itu, karir Iwan berkembang pesat. Pada 1987 misalnya ia pertama kali tampil di TVRI yang membuat orang-orang mulai mengenali wajah Iwan. Selanjutnya, nama Iwan semakin dikenal melalui lagu Oemar Bakri yang melegenda. Hingga tulisan ini dibuat, Iwan tercatat telah menelurkan lebih dari 40 buah album dengan lagu-lagu yang tak lekang oleh zaman. Beberapa lagu Iwan yang masih populer hingga saat ini adalah Bento, Pesawat Tempurku, Bongkar, dan Manusia Setengah Dewa.

Menggemakan Kritik Sosial Lewat Lagu
 

lirik yang mengkritik
Iwan Fals dikenal sebagai musisi yang kerap menyelipkan kritikan dalam lirik lagu-lagunya.
Sumber: iwanfals.co.id

Sepanjang karirnya dalam bermusik, Iwan Fals dikenal sebagai satu dari sedikit musisi yang kerap menyuarakan kritik sosial melalui lagu-lagunya. Hal ini tercermin dari beberapa lagu seperti Bento, Surat untuk Wakil Rakyat, dan Manusia Setengah Dewa. Akibat keberaniannya dalam mengkritik pemerintah, tak jarang Iwan harus berhadapan dengan para aparat.  Bahkan, ia sempat mencicipi hotel prodeo untuk beberapa waktu karena karya-karyanya.

Ya, Iwan sempat mendekam dipenjara karena lagu Bento yang dipopulerkannya dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintahan Orde Baru. Lagu yang berbunyi “Bisnisku menjagal, jagal apa saja. Yang penting aku senang, aku menang. Persetan orang susah, karena aku, yang penting asik, sekali lagi, asik!” dinilai sebagai bentuk kritik atas penindasan orang-orang lemah yang dilakukan pemerintah.

Sementara, dalam lagu Surat untuk Wakil Rakyat Iwan menyampaikan kritiknya kepada para anggota DPR yang dianggap tidak mampu mewakili rakyat. Secara khusus, Iwan mengkritik kebiasaan para wakil rakyat yang suka tertidur saat sidang. “Wakil rakyat seharusnya merakyat. Jangan tidur waktu sidang soal rakyat. Wakil rakyat bukan paduan suara. Hanya tahu nyanyian lagu ‘setuju…’” tulis Iwan dalam lagu tersebut.

Lagu Iwan lainnya, Manusia Setengah Dewa, memiliki pesan yang berbeda. Lagu yang dirilis pada musim Pemilu 2004 ini mengisahkan harapan Iwan akan presiden yang baru. Dalam lagu itu, Iwan berharap agar presiden menegakkan hukum seadil-adilnya. “Tegakkan hukum setegak-tegaknya, adil dan tegas tak pandang bulu.Pasti kuangkat engkau menjadi manusia setengah dewa ,” tulis Iwan dalam lagu tersebut.

Selain ketiga lagu di atas, masih ada segudang lagu yang diciptakan Iwan sebagai bentuk kritik sosial. Lagu Galang Rambu Anarki misalnya mengisahkan kesulitan orang tua dalam membesarkan anaknya. Sementara lagu Guru Oemar Bakri menceritakan kisah perjuangan seorang guru yang hidupnya tidak sejahtera.

Bagi Iwan, musik dapat menjadi sebuah wadah untuk menyampaikan kritik. Sedangkan, kritik adalah sebuah hal penting bagi sebuah bangsa agar dapat maju. “Saya yakin lahirnya Indonesia dari kritik juga. Tanpa kritik, Jepang dan Belanda mungkin masih di sini,” kata Iwan dalam sebuah wawancara bersama NET.[2]

Iwan mempunyai cerita tersendiri tentang bagaimana membuat lagu yang berisi kritik sosial. Menurutnya, lagu-lagu itu muncul dari ketidaksukaan Iwan terhadap situasi yang terjadi di sekitarnya. “Saya ga mau lihat tentara yang menyiksa orang lain, saya bikin lagu. Saya ga suka lihat wakil rakyat, saya bikin lagu wakil rakyat,” kata Iwan.

Akibat keberaniannya, karir Iwan sempat ‘diganggu’ oleh aparat di era Orde Baru karena dianggap terlalu frontal dalam mengkritik pemerintah. Contohnya, beberapa jadwal konser Iwan Fals pernah dilarang dan dibatalkan karena lirik lagunya dapat mengakibatkan perlawanan masif. Selain itu, perizinan tur 100 kota yang direncanakannya juga dibatalkan secara tiba-tiba oleh polisi.

Tekanan yang didapat dari penguasa tidak meyulitkan Iwan dalam berkarya. Selain tetap menelurkan karya-karya yang kritis, Iwan juga mengeluarkan lagu-lagu yang tidak mengandung kritik sosial. Beberapa lagu tersebut antara lain Mata Indah Bola Pingpong, Aku Bukan Pilihan, dan Ijinkan Aku Menyayangimu.

Sebagai penulis lagu, Iwan Fals memang mampu menelurkan syair-syair yang beragam. Selain kritis, lagu-lagu yang ditulis Iwan juga humanis, patriotis, romantis, humoris, hingga agamis. Tak heran, sosok Iwan Fals sangat diidolai oleh bebagai lapisan masyarakat. Baik orang tua maupun anak muda, laki-laki atau perempuan, semua pasti mengenal Iwan Fals dan karya-karyanya.

Banyaknya orang-orang yang mengagumi sosok Iwan Fals dapat dibuktikan dengan besarnya fanbase Iwan Fals yang bernama Orang Indonesia (OI). Fanbase yang berbentuk organisasi masyarakat ini sudah memiliki anggota hingga 17,000 orang dan tersebar di seluruh penjuru Indonesia. “Begitu cepat OI berdiri secara nasional, sudah menyeluruh di tiap daerah. Saya pikir bisa melebihi partai lah,” kata Ashmansyah Timutiah, salah seorang pengurus OI.

Uniknya, OI bukan sekedar sebuah fanbase biasa. Ormas yang dipimpin oleh istri Iwan, Rosanna Listanto, memiliki segudang agenda yang bertujuan pada pemberdayaan masyarakat. Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan OI antara lain diskusi, penghijauan, dan aksi sosial. “Banyak kegiatan-kegiatan sosial yang positif, dari seni, olahraga, pendidikan, akhlak, dan niaga,” kata Fikri Ahmad, salah satu anggota OI.

baca juga: kisah inspiratif Isyana Sarasvati

Malang-melintang di dunia musik selama lebih dari 40 tahun, Iwan Fals telah memperoleh berbagai penghargaan atas karya-karyanya yang inspiratif. Laki-laki yang disebut Asian Heroes versi majalah TIME ini juga didaulat sebagai salah satu dari 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa versi Rolling Stone Indonesia  tahun 2015. Selain itu, enam album Iwan termasuk dalam 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa versi majalah yang sama.

Pengahargaan-penghargaan lain yang pernah diterima oleh ayah tiga anak ini antara lain

  • Penyanyi Solo Terbaik Country/Balada, Anugrah Musik Indonesia 1999
  • Triple Platinum Award, Album Best of The Best Iwan Fals, PT Musica Studio, 2002
  • Legend Awards, 7th AMI Award 2003
  • Satyalancana Kebudayaan 2010 karena dinilai berjasa dalam mengembangkan dan melestarikan budaya.
  • Lifetime Achievement Awards, Indonesia Choice Awards 2014

Di luar itu, tentu masih ada segudang prestasi yang telah diraih oleh Iwan sepanjang karirnya di dunia musik. Misalnya konser dengan jumlah penonton terbesar sepanjang masa pada 1991. Saat itu, ia sukses menggelar konser di Gelora Bung Karno yang dihadiri lebih dari 150,000 penonton.

Iwan Fals telah membuktikan bahwa seorang musisi tidak selalu bergelimang harta dan popularitas. Namun, ada pula musisi yang menggunakan musik sebagai alat kritik terhadap penguasa hingga mesti mencicipi jeruji penjara. Semoga kisah Iwan dapat menginspirasi kamu untuk mempunyai jiwa kritis dan rasa seni yang baik ya! Ayo bergabung dengan Kinibisa untuk mewujudkan #GenerasiKompeten!


[1] http://www.iwanfals.co.id/article/our-story/53-biografi-iwan-fals
[2] https://www.youtube.com/watch?v=ynJ-H0i4iJM