span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Guruh Soekarno Putra: Bakat Seni Putra Proklamator Indonesia
Oleh : Ardito Ramadhan
04 Mei 2018

Highlight

Panutan bagi saya, seluruh warga Indonesia harus dibentuk menjadi nasionalis.

Muhammad Guruh
Seorang seniman legendaris Indonesia yang juga merupakan anak kandung Presiden Soekarno. Ia dikenal lewat karya-karyanya bersama Swara Mahardhika dan Guruh Gypsy.
Sumber: republika.co.id

Meski berstatus sebagai anak proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, Guruh Soekarno Putra tidak mau mengikuti jejak ayahnya sebagai politisi. Sebaliknya, ia memilih untuk berkarya di dunia seni yang ia sukai. Namun, akhirnya Guruh pun terjun di dunia politik atas keprihatinannya dengan anak muda Indonesia.



"Budayawan dan seniman harus melek politik. Kalau budayawan dan seniman atau profesi lainnya tidak melek politik, serasa ada yang kurang dan akan dibodohi politikus."

Masa Kecil Guruh
 

Guruh Soekarno Putra yang lahir pada 13 Januari 1953 di Jakarta merupakan anak bungsu dari pasangan Soekarno dan Fatmawati. Laki-laki bernama lengkap Muhammad Guruh Irianto Sukarnoputra ini pun berstatus sebagai adik kandung Pesiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri. Sejak kecil, ia sudah menyukai dunia seni seperti ayahnya. Ayahnya, Soekarno, memang terkenal sebagai sosok yang menyukai dunia seni. Bahkan, Proklamator Kemerdekaan Indonesia itu juga sempat menciptakan beberapa lagu.

Guruh menghabiskan waktu kecilnya di Jakarta, mengingat ayahnya berkantor di sana. Sejak berusia sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, ia mengenyam pendidikan di Jakarta. Ia baru pindah dari Jakarta ketika melanjutkan studinya ke University of Amsterdam. Di sana ia mengambil jurusan Arkeologi dan lulus pada 1976. Tak seperti kakaknya, Megawati, yang mengambil jalur politik, Guruh memilih untuk berkarya di dunia seni, hal yang ia sukai sejak kecil.

ketika muda
Sosok Guruh ketika muda.
Sumber: bigkingscience.biz

Sejak kecil, Guruh memang sudah dikenalkan pada dunia seni. Ia sudah belajar menari Jawa, Sunda, dan Bali, serta mementaskannya di atas panggung. Guruh kecil juga mahir bermain piano dan membentuk band. Pada 1965, ketika ia beranjak remaja, Guruh membentuk band bernama The Beat-G. Sepuluh tahun kemudia, ia merilis album perdananya bersama musisi-musisi ternama pada saat itu seperti Chrisye, Keenan Nasution, dan Abadi Oesman. Album itu memiliki musik yang berirama dengan paduan gamelan Bali.

Karier Seni Guruh
 

Sepulang dari Amsterdam, Guruh semakin semangat dalam menciptakan karya dan mulai melebarkan sayapnya ke dunia seni tari dengan mendirikan sanggar tari Swara Mahardhika pada 1977. Selanjutnya, pada 1979 Guruh menggelar Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra I sebagai bukti kepiawaian Guruh dalam mengekspresikan seni. Pagelaran ini berjalan sukses dan menjadi modal utamanya untuk kembali membuat Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekano Putra II yang mengambil tajuk Untukmu Indonesiaku.

baca juga: kisah inspiratif Griselda Sastrawinata

Pagelaran kedua tersebut nantinya difilmkan dalam bentuk film dokumenter yang disebar pada 1980. Setelah itu, ia kembali membuat pagelaran seni hingga dua kali lagi. Pada 1984, Pagelaran  Karya Cipta Guruh Soekarno Putra III digelar hingga ke Singapura dengan mengusung tema Cinta Indonesia Pagelaran Jakarta Week. Sedangkan, Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarno IV diadakan pada 1986 dengan tajuk Gilang Indonesia Gemilang.

Dalam pagelaran-pagelaran di atas, Guruh menciptakan berbagai lagu yang masih akrab di telinga hingga saat ini. Misalnya lagu berjudul ‘Cinta Indonesia’, ‘Lenggang Puspita’, dan ‘Damai’.  Melalui pagelaran ini pula Guruh berkolaborasi dengan berbagai musisi untuk menyanyikan lagu ciptaannya. Misalnya Ahmad Albar dari band God Bless yang menyanyikan ‘Lenggang Puspita’ dan Vina Panduwinata yang menyanyikan ‘Cinta Indonesia’.

Selain melalui Pagelaran Cipta Karya Seni, nama Guruh Soekarno Putra juga terkenal setelah ia mengeluarkan album bertajuk Guruh Gipsy berkolaborasi dengan grup Gipsy yang beranggotakan musisi legendaries seperti Keenan Nasution dan Chrisye. Album yang berisi lagu-lagu dengan alunan musik khas Bali ini awalnya tidak mendapat sambuatan meriah dari masyarakat. Namun, 30 tahun kemudian album ini baru dicari-cari oleh banyak orang.

musik legendaris
Guruh Soekarno Putra berkolaborasi dengan musisi legendaris seperti Chrisye dan Keenan Nasution dalam Guruh Gipsy.
Sumber: bp.blogspot.com

Album ini pun menjadi bahan pembicaraan penggemar musik rock progresif dari Eropa, Jepang, dan Amerika karena kelangkaannya. Bahkan beberapa radio dari Swiss, Belgia, dan Kanada yang kerap memutar musik rock progresif ikut memutar dan mengulas album Guruh Gipsy. Meski tidak terlalu sukses dari segi penjualan, album Guruh Gipsy dianggap menjadi inspirasi untuk generasi selanjutnya. Album ini pun disamakan dengan album The Beatles yang legendaris, Sgt. Pepper's Lonely Hearts Club Band.

Selain itu, grup Swara Mahardhika yang dibentuk Guruh juga sempat mengeluarkan album pada 1978 yang memuat beberapa lagu, salah satunya aransemen ulang dari lagu tradisional Bali berjudul ‘Janger’. Guruh juga banyak membuat pagelaran seni lainnya seperti pertunjukan kolosal ‘JakJakJakJak Jakarta’ demi memperingati hari kelahiran ke-462 Jakarta serta Gempita Swara Mahardhika dalam rangka 10 tahun Swara Mahardika pad a1987.

Di luar itu, Guruh juga berkarya dalam dunia layar lebar dengan menjadi illustrator musik pada film Ali Topan Anak Jalanan. Tak puas dengan posisi di balik layar, Guruh pun  mempertontonkan keahlian aktingnya pada film Sembilan Wali pada tahun 1983 dan berperan sebagai Sunan Muria.

Berkat kreativitasnya dalam bidang seni, Guruh diganjar berbagai penghargaan atas kontribusinya bagi dunia seni, baik dalam negeri maupun luar negeri. Penghargaan yang ia raih antara lain[1]

  • Festival Lagu Populer Tingkat Nasional (1976)
  • Mewakili Indonesia di World Popular Song Festival di Tokyo Jepang (1987)
  • Kawakami Award dan Audience Selection Award
  • Penghargaan ilustrasi musik dalam Festival Film Indonesia (1978)
  • Memenangkan 4 Penghargaan di The April Song Friendship Festival , Pyongyang, 2007[2]
  • Penghargaan Nugraha Bhakti Musik Indonesia (NBMI) dari Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI), 2010.[3]

Pada 2011, Guruh kembali menyelenggarakan pagelaran akbar yang kali ini dinamakan ‘Beta Cinta Indonesia’. Acara ini menampilkan belasan lagu ciptaan Guruh sepanjang kariernya selama empat dekade. "Saya merasa senang bisa melihat apresiasi dan ekspresi dari penonton dan ini yang membuat saya malam ini gembira. Panutan bagi saya, seluruh warga Indonesia harus dibentuk menjadi nasionalis," kata Guruh dikutip dari Tokoh Indonesia.[4]

Terjun ke Dunia Politik
 

terjun dunia politik
Guruh mengikuti jejak kedua kakaknya untuk terjun ke dunia Politik.
Sumber: metrotvnews.com

Sepanjang kariernya di dunia seni, Guruh memang selalu menekankan nasionalisme dalam setiap karya-karyanya. Buktinya, hampir di setiap musik yang dibuat ia memasukkan unsur-unsur kebudayaan nusantara, terutama irama musik Bali yang ada di album Guruh Gipsy. Guruh juga gencar dalam mengobarkan  semangat cinta bangsa dan negara bagi generasi muda. Menurutnya,anak Indonesia sejak era Orde Baru hingga kini tidak mengenal Indonesia secara utuh.

Mungkin dengan alasan itulah Guruh akhirnya terjun ke dunia politik, mengikuti jejak kedua kakaknya, Megawati dan Rachmawati. Pada 1992, ia memulai kiprahnya dalam dunia politik dengan mencalonkan diri sebagai anggota DPR. Bagi Guruh, setiap profesi mesti mesti melek politik agar tidak ditipu politisi. "Budayawan dan seniman harus melek politik. Kalau budayawan dan seniman atau profesi lainnya tidak melek politik, serasa ada yang kurang dan akan dibodohi politikus," katanya dikutip dari Tokoh Indonesia[5].

Sejak 1992, Guruh pun terus duduk di DPR hingga saat ini. Sesuai dengan latar belakangnya sebagai seniman, Guruh biasanya bertugas di Komisi X, komisi yang mengurus masalah olahraga, pendidikan, pariwisata, dan kebudayaan.

baca juga: kisah inspiratif Giring Ganesha

Sebagai seorang politisi, nyali Guruh dapat terbilang cukup tinggi. Pada 2010 misalnya ia berani mengikuti pemilihan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) melawan kakaknya yang juga pendiri PDI-P, Megawati Soekarnoputri. Guruh juga mengkritik kepemimpinan Megawati yang dinilai seperti masa Orde Baru.

"Ini kan mirip zaman Pak Harto saat akan diajukan sebagai presiden tahun 1997 yang akhirnya lengser di tengah jalan. Lebih baik Mba Mega istirahat, saya sebagai adik biologis dan ideologis siap menggantikan posisi beliau," kata Guruh saat itu, dikutip dari Tokoh Indonesia.  Namun, Guruh akhirnya tidak terpilih karena kekurangan suara. Selain itu, ia juga mengkritisi penunjukkan Puan Maharani, anak Megawati, sebagai Wakil Ketua Umum. Bagi Guruh, hal itu merupakan salah satu bentuk nepotisme.

Guruh Soekarno Putra dapat membuktikan kalau karya seni dapat menjadi salah satu cara untuk menunjukkan rasa cinta terhadap negeri ini. Bagaimana dengan kamu? Ayo bergabung dengan Kinibisa untuk menjadi #GenerasiKompeten


[1]http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/3824-maestro-seni-bersemangat-nasionalisme
[2]http://showbiz.liputan6.com/read/225629/guruh-sukarnoputra-memboyong-empat-penghargaan
[3]https://id.wikipedia.org/wiki/Guruh_Soekarnoputra
[4]http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/3824-maestro-seni-bersemangat-nasionalisme
[5]http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/3824-maestro-seni-bersemangat-nasionalisme