span 1 span 2 span 2

Inspirasi

Sarah Gadrie: Antara Karier Dokter Gigi dan Mengejar Passion
Oleh : Halimah Nusyirwan
30 September 2019

Highlight

Pokoknya apapun yang menurut kamu, kamu suka, tekunin aja karena kita sudah punya basic yang penting banget ketika kita suka sama suatu hal.

sarah gadrie
Sosok Sarah Gadrie
Sumber: instagram.com

Sukses meniti karier sebagai dokter gigi dan mengejar passion di bidang public speaking menjadikan sosok Sarah Gadrie sebagai salah satu contoh perempuan yang sukses sejak usia muda. Perjalanannya sebagai dokter gigi yang juga menjalani passionnya di bidang penyiaran dan MC tentu melalui berbagai rintangan yang membuatnya bisa sesukses sekarang. Tidak banyak orang yang bisa menjalani semua yang ia suka secara bersamaan, namun Sarah sudah membuktikan bahwa perempuan bisa melakukan apa yang mereka sukai tanpa mengesampingkan tanggung jawabnya. Seperti apa kisah seorang Sarah Gadrie? Simak kisah inspiratifnya bersama Kinibisa!



"Pastikan ketika kamu bisa memilih apa yang kamu suka, master it. Kamu harus jadi yang paling jago disitu karena kamu udah pilih itu. Tanggung jawab sama pilihan yang diambil."

Perjalanan Sebagai Mahasiswa FKG dan Penyiar
 

sarah gadrie
Sarah saat menjadi penyiar radio
Sumber: instagram.com

Sarah merupakan siswi yang aktif dan masuk dalam kategori talkative ketika masih duduk di bangku sekolah dulu. Sifatnya tersebut membuatnya menyadari bahwa ia memiliki passion di bidang penyiaran dan MC. ketika SMA dulu, Sarah pernah mengikuti siaran radio yang diadakan oleh radio Prambors  yang membuatnya ingin berkuliah di bidang yang terkait dengan dunia tersebut. Namun, keinginan orang tuanya untuk menjadikannya seorang dokter akhirnya membuatnya mengambil sekolah Kedokteran Gigi di Universitas Moestopo kala itu.

“Dulu sempet bilang sama almarhum bapakku  gamau masuk IPA. Dulu cuma dikasih dua pilihan, mau jadi dokter atau dokter gigi. Tadinya aku mau ambil bagian di bidang bahasa atau public speaking yang ke sanalah, tapi nggak dikasih dan pilihannya cuma dua. Terus aku bilang aku mau siaran, pengen MC, pokoknya apapun yang di bidang public speaking. Terus kata almarhum bapak aku boleh tapi nanti les aja.” kenang Sarah.

Meskipun begitu, orang tua Sarah tidak menahannya untuk melakukan apa yang ia suka. Mereka mengizinkan Sarah untuk beraktivitas dan mengejar passionnya di bidang public speaking selama ia bisa bertanggung jawab dan menyelesaikan kuliahnya. Dengan mengantongi izin dan restu dari orang tuanya, Sarah mulai gencar menekuni passionnya hingga ia mengambil les presenter yang semakin membuka peluangnya sebagai MC dan host acara TV. Selain itu, Sarah juga menjadi penyiar radio OZ dalam kurun waktu yang cukup lama.

“Jadi waktu aku masih kuliah, aku ambil les. Aku les selama 3 bulan. Setelah dari sana, banyak ada casting, udah gitu juga mulai nge-MC, dan mulailah aku nge-host untuk acara TV dan MC. Jadi radionya sempet ketunda dulu karena belum ada tawaran waktu itu.” ujar dokter gigi yang sempat menjadi MC untuk grand opening mobil Yaris yang kala itu baru pertama kali ada di Indonesia.

Menjalani karier sebagai mahasiswa kedokteran gigi dan juga penyiar serta MC kala itu tentu menghadirkan tantangan yang harus dihadapi. Sarah mengaku bahwa ia harus berbagi waktu antara sekolah dan pekerjaannya kala itu. Selain itu, ia juga harus bisa menangani dan menghadapi klien-kliennya yang bermacam-macam sebagai MC karena ia harus bisa memenuhi ekspektasi dari klien dan penontonnya. Dengan komitmennya tersebut, Sarah rupanya sudah mencicipi kesuksesan sejak muda sebab semanjak semester 3, ia sudah bisa membiayai kuliahnya sendiri dan bahkan membayar cicilan mobilnya tanpa harus menyusahkan orang tuanya.

Perjuangan Membangun Klinik dan Berkarier Sebagai Dokter Gigi
 

sarah gadrie
Sarah juga berprofesi sebagai dokter gigi
Sumber: instagram.com

Mencicipi kesuksesan di usia muda tidak membuat Sarah lupa akan kewajibannya. Ia tetap berusaha menyelesaikan kuliahnya hingga tuntas dan membuktikan kepada kedua orang tuanya agar ia bisa terus berkarya di bidang yang ia sukai.

Meskipun pada awalnya ia terjun ke dunia kedokteran gigi karena dorongan orang tua dan tidak punya pilihan lain, Sarah merasa bersyukur karena ia menikmati pekerjaannya dengan karier yang stabil sebagai dokter gigi. Ia juga merasa pekerjaannya ini menguntungkannya karena ia bisa mengatur jadwalnya sendiri, terlebih lagi ketika ia sudah menikah dan memiliki tanggung jawab sebagai seorang istri.

Perjalanannya membangun klinik berawal dari impian sang almarhum ayah yang ingin membangun klinik untuk masyarakat menengah ke bawah. Keinginannya tersebutlah yang membuat sang ayah mendorong anak-anaknya untuk menjadi dokter hingga saat ini. Namun, sang ayah dipanggil oleh Tuhan ketika klinik tersebut belum sepenuhnya selesai. Sarah sebagai anak tertua pun memiliki tanggung jawab untuk meneruskan impian ayahnya walaupun harus melewati proses yang melelahkan, bahkan terbilang cukup berat.

“Lagi proses persiapan, lalu papaku meninggal. Nah lumayan down tuh karena ‘ wah gila gue gak ngerti apa-apa nih’. Sementara adek aku..ya masih adek ya. Maksudnya meskipun udah jadi dokter umum tapi jadi ‘ya udah gimana kita harus gimana?’. Klinik belum dibuka  jadi ya mau gimana itu kan kepengennya bokap. Jadi kami (sama adek) usaha, aku usaha, klinik itu dijadikan lalu kami praktek disana.jadi kesulitannya adalah dmana kita udah gak punya contoh lagi dan gak tahu harus bagaimana, tapi yaudah. Karena emang udah disitu ya belajarnya learning by doing.” ujarnya.

Sebagai dokter pun ia juga harus menghadapi berbagai tantangan, seperti menghadapi pasien yang tidak kooperatif. Namun, Sarah berhasil menghadapi semua tantangan tersebut dengan komitmen yang ia punya serta dengan sifatnya yang selalu mau belajar.

Menjadi Perempuan yang Sukses dan Harapan Untuk Generasi Mendatang
 

sarah gadrie
Sarah menyampaikan harapannya untuk perempuan dan generasi Indonesia
Sumber: instagram.com

Banyak orang yang menganggap bahwa perempuan tidak bisa menjalani semua yang ia mau, apalagi ketika sudah berstatus istri. Sarah menganggap bahwa membagi waktu bukanlah hal yang susah karena ia bukan menyukai banyak hal. Ketika ia jenuh, ia bisa melakukan aktivitas lain yang ia suka tanpa memberikan kesan tidak bertanggung jawab. Dengan begitu, ia bisa melakukan semua yang ia suka secara berbarengan. Begitu pula ketika ia sudah menikah. Meskipun harus mengurangi aktivitas ketika sudah berstatus istri, Sarah masih bisa mengejar karier dan passionnya tanpa meninggalkan tanggung jawabnya utamanya yang baru.

“Sebenernya sebelumnya gak susah ngatur waktunya karena bisa dibilang aku gak bagusnya itu aku orangnya serakah. Mau ini mau itu yaudah dikerjain bareng. Jadi kalau misalnya aku bosen di satu bidang, aku bisa ngerjain yang lain. Jadi kamu bisa kok jadi apapun yang kamu mau. Intinya maximize it.” ujar penyiar yang punya impian untuk membuat acara talkshownya sendiri.

Sarah juga berbagi pandangannya mengenai pendidikan. Ia merasa bahwa pendidikan merupakan aspek penting, terlebih lagi untuk perempuan. Ia menganggap bahwa perempuan tidak boleh berhenti belajar, bukan hanya dalam akademik, namun juga dalam pendidikan moral karena hal-hal tersebut sangat penting mengingat perkembangan zaman yang selalu berubah setiap tahunnya.

“Pendidikan itu penting banget ya. Apalagi buat perempuan segitu pentingnya jangan sampe berhenti belajar. Nggak ada waktu buat berhenti belajar karena belajar itu bukan hanya dari bangku kuliah aja, tapi dari semua hal kita harus belajar. Jadi jangan buang-buang waktu karena hal akan berbeda ketika nanti sudah menikah, lo punya anak, udah gitu harus membesarkan anak. Apalagi kalau misalnya gak punya pendidikan, sekarang aja kita melihat gimana di era sosial media sekarang. Jadi tugas kita sebagai manusia adalah kita harus belajar. Belajar itu juga bukan cuma belajar akademis, tapi belajar moral. Jadi belajar juga hal-hal yang bisa bikin empati kita lebih tinggi karena di era sosial media sekarang, semakin kita tergantung sama gadget,  semakin minim kontaknya dengan dunia sekitar.” kata Sarah.

Ia juga berharap bahwa generasi kedepan bisa semakin pintar, terutama dalam pendidikan manner dan moral yang ia lihat semakin menghilang digerus era modern dan perkembangan teknologi yang membuat orang-orang menjadi apatis dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

“Makin pinter. Bukan handphonenya aja yang smartphone, tapi juga kata-katanya, otaknya, isi kepalanya, dan mannernya. Karena aku ngelihat banyak banget orang-orang yang mannernya kurang banget. Mau sama guru, mau sama orang lain, yang harus kita hormati bukan orang tua aja, tapi semua yang lebih tua. Jadi kamu itu sukses bukan dengan menjatuhkan orang lain, tapi dengan bisa sukses sendiri dan ngajak orang lain.” tutupnya.


Banyak hal yang bisa dipelajari dari sosok Sarah Gadrie. Ketekunan dan komitmennya dalam mengejar apa yang ia suka dan tetap melakukan tanggung jawabnya, membuat ia berhasil meraih kesuksesan yang tidak semua orang bisa raih dalam usia muda dan dengan statusnya sebagai mahasiswa kedokteran. Ia juga mengajarkan bahwa menjadi perempuan yang sukses di berbagai bidang kehidupan bukanlah yang mustahil lagi, tentunya dengan tetap mengingat tanggung jawab dan perannya. Selain itu, belajar merupakan hal yang harus tetap dilakukan karena belajar adalah hal yang penting dalam menghadapi perubahan dunia yang ada. Simak kisah tokoh inspiratif lainnya bersama Kinibisa!